
*
*
Devan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Delisha namun tangannya tidak tinggal diam, tangan kekar itu membelai lembut perut Delisha lalu merambat naik mencari sesuatu yang menggemaskan disana. Sesuatu yang sudah lama ia rindukan bahkan sampai terbawa mimpi.
Delisha segera mencekal tangan tersebut. "Devan!!! Bisa diem nggak!!"
Tangan Devan berhenti bergerak namun kini mulutnya yang bekerja, dia mencium tengkuk Delisha serta menggigitnya pelan.
Delisha menggeliat antara geli dan nikmat, namun Delisha tidak mau hanyut dalam permainan itu dia segera membalikkan tubuhnya. "Diem atau aku teriak nih?!!"
Devan menarik tubuh Delisha ke dalam pelukannya lagi. "Kok galak sih??"
"Kamu kalau nggak di galakin pasti semakin nekat." dengus Delisha.
Devan mengecup kening Delisha lalu mengeratkan pelukannya. "Maaf, aku memang selalu tidak bisa menahan diriku jika bersama kamu, tapi se nekat-nekatnya aku, aku tidak mungkin menerjang lampu merah."
Delisha menenggelamkan wajahnya di dada Devan serta membalas pelukanku. "Sekarang kita tidur, sudah larut malam." ujar Delisha dan di angguki oleh Devan.
Mata Devan hampir terpejam namun kembali terbuka sempurna saat dia teringat sesuatu yang tertinggal di kamarnya. Devan menegakkan tubuhnya lalu mengecup pipi Delisha. "Aku mau ambil sesuatu di kamarku sebentar."
Delisha mendongak untuk menatap Devan. "Ambil apa? Tapi sekalian kamu tidur di kamarmu tidak usah kembali kesini lagi."
Devan beringsut duduk. "Aku akan kembali lagi kesini, kamu jangan tidur dulu!" pintanya dan di angguki oleh Delisha, lalu Devan berjalan keluar dari kamar Delisha menuju kamarnya.
Tak butuh waktu lama Devan sudah kembali dengan menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.
Delisha beringsut duduk di tepi ranjang, dahinya berkerut. "Kamu ambil apa sih?"
Devan menyamakan tinggi badannya dengan Delisha yang duduk di tepi ranjang, dia berdiri dengan lutut sebagai tumpuan di depan Delisha. "Sebelum kita ke Jogja aku ingin melamarmu secara pribadi." ujar Devan sembari memperlihatkan sesuatu yang ia sembunyikan tadi. "Will you marry me?"
Delisha menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca cairan bening menggenang di pelupuk matanya ia terharu, pria yang di cintainya selama ini melamar dirinya. Kedua tangan Delisha terangkat untuk menangkup wajah Devan lalu mengecup singkat bibirnya. "Tanpa kamu memintanya pun aku pasti mau menikah denganmu. Tidak ada alasan bagiku untuk menolakmu, kamu adalah pria yang kucintai dan kamu juga Ayah dari anakku." jawab Delisha disertai cairan bening luruh dari pelupuk matanya.
Senyum Devan langsung mengembang, dia menghapus air mata di pipi Delisha kemudian mengecup kedua kelopak mata yang tadi mengeluarkan cairannya, lalu Devan mengambil cincin di dalam kotak beludru berwarna merah. "Aku sudah lama membeli cincin ini namun baru menyerahkannya padamu sekarang karena aku nunggu Papi pulang barulah aku akan melamar kamu dan aku tidak tau apakah cincin ini pas di jari kamu atau tidak, aku hanya memperhatikan jari manismu lebih kecil sedikit dari jari kelingkingku, jadi aku pesan cincin ini dengan menggunakan ukuran jari kelingkingku lebih kecil sedikit. Tapi kalau kurang pas kita bisa memperbaikinya." ujar Devan lalu meraih tangan kiri Delisha kemudian memasangkan cincin tersebut di jari manisnya. "Yaahh agak kebesaran."
"Kita coba yang kanan." ucap Delisha.
Devan melepas cincin dari jari manis tangan kiri Delisha lalu meraih tangan kanannya. "Pas." seru Devan dengan mata berbinar membuat Delisha tersenyum.
"I love you too." jawab Delisha juga berbisik.
"Boleh cium ini lagi kan?." tanya Devan berbisik sembari menyentuh bibir Delisha dan di jawab senyuman oleh Delisha, seperti mendapat lampu hijau Devan segera memagut bibir Delisha melanjutkan permainan mereka yang tertunda.
*
*
π΄π΄π΄
*
"Delvin nggak usah di ajak biar dia disini bersama kita, kalian berdua aja yang ke Jogja." pinta Ezra, karena dia merasa belum puas bersama cucunya baru kemarin bertemu cucunya dan sekarang harus berpisah lagi.
"Maaf, tapi nanti kalau Delvin rewel gimana?" tolak Delisha halus.
"Iya Pih, kalau sampai kayak tadi malam gimana?" Devan menimpali.
Aleza memicingkan matanya. "Darimana kamu tau kalau tadi malam Delvin rewel?"
Devan merutuki dirinya sendiri kenapa dirinya harus bicara seperti itu. Otak Devan langsung bekerja lebih cepat untuk mencari alasan yang tepat, tidak mungkin kan kalau dirinya bilang sama Maminya semalam tidur di kamar tamu. "Tadi Mommynya Delvin sudah cerita."
"Oh." Aleza mengangguk samar.
Mereka saat ini sudah di Bandara, seperti yang di katakan Devan tadi malam mereka akan ke Jogja secepatnya agar pernikahan mereka secepatnya terlaksana dan Devan juga secepatnya mendapatkan jatah. π€£π€£π€£
*
Sopo seng arep melu neng Jogja??
"Siapa yang mau ikut ke Jogja??" π π
*
macam-macam readers, ada yang ngasih banyak komentar, ada yang ngasih banyak vote, ada yang ngasih banyak like. Tapi apapun itu terima kasih banyak atas dukungannya πππ