
*
*
🌴🌴🌴
*
Devan dan Delisha sudah berada di dalam acara resepsi pernikahan Aisyah, mereka sedang antre untuk mengucapkan selamat pada mempelai, tidak heran kalau hanya untuk memberi ucapan selamat saja harus antre panjang, karena yang menikah adalah seorang dokter dan pengusaha, sudah pasti banyak teman, saudara dan rekan kerja yang datang.
"Capek?" tanya Devan, ia berdiri di belakang istrinya.
Delisha menoleh ke belakang. "Dikit." jawabnya di sertai senyum tipis.
"Kamu duduk aja, biar aku yang antre, nanti kalau sudah sampai depan aku panggil kamu." bujuk Devan, ia melihat istrinya yang kelelahan sedari tadi berdiri lumayan lama. Mengingat kondisi istrinya yang masih menjalani pengobatan dan kondisinya yang kurang fit.
"Nggak usah, ini udah deket kok."
"Tapi kalau sudah capek bilang aku ya!"
"Iya."
Setelah menanti antrean yang cukup melelahkan akhirnya mereka telah mendapat giliran untuk menyalami kedua mempelai dan sekarang mereka sedang duduk di kursi setelah selesai memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
Delisha duduk bersandar di punggung kursi, tidak bisa di pungkiri ia memang kelelahan setelah berdiri lumayan lama.
Devan menarik kepala Delisha supaya bersandar di pundaknya. "Capek kan? Tadi aku suruh duduk nggak mau sih."
"Capek dikit kok." jawab Delisha, tidak mau membuat suaminya khawatir.
"Mau minum? Atau mau makan apa?" tanya Devan sembari mengedarkan pandangannya mencari pelayan.
"Minum aj--" kalimat Delisha terpotong saat melihat Alvin dan Lestari sedang antre untuk memberi selamat pada pengantinnya. Delisha mengangkat kepalanya serta menegakkan tubuhnya. "Dev, itu Alvin dan Tari kan?" tanyanya pada sang suami tanpa menoleh.
Devan mengikuti arah pandangnya Delisha lalu matanya membulat sempurna saat melihat Alvin dan Lestari serta jemari mereka yang saling bertautan. Devan menoleh untuk menatap istrinya. "Iya, itu Alvin dan Tari. Mereka punya punya hubungan?"
Delisha mengedikkan bahunya. "Entah. Tari belum cerita apa-apa sama aku."
"Syukurlah kalau memang benar, berarti Alvin sudah bisa move on dari kamu, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah lagi."
"Tapi kalau om Reza tidak setuju seperti padaku dulu bagaimana? Kan kasihan Tari."
Devan kembali menatap Alvin dan Lestari. "Semoga saja itu tidak terjadi."
Delisha beranjak dari kursi. "Aku ke toilet dulu Dev."
Devan pun melakukan hal yang sama. "Aku anter."
"Tidak usah." tolak Delisha lalu melangkah menuju toilet.
Devan kembali duduk lalu mengeluarkan handphonenya, memeriksa beberapa chat yang masuk.
"Pak Devan?"
Devan mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Pak Jericho?"
"Boleh gabung?"
"Silahkan."
Jericho duduk di tempat duduk Delisha barusan. "Anda disini juga pak?"
"Iya, dokter Aisyah adalah dokter yang menangani istri saya." jawab Devan. "Anda juga kenal dokter Aisyah atau suaminya?"
Jericho terkekeh. "Mempelai pria nya adalah kakak saya pak."
"Oya?!" Devan sedikit terkejut karena wajah pengantin pria dengan wajah Jericho tidak mirip.
"Berarti istrinya anda--?" tanya Jericho tanpa menyebut penyakit istri Devan karena ia tidak mau menyinggung perasaan rekan kerjanya.
Devan mengangguk. "Benar, istri saya sakit kanker."
Jericho menepuk bahu Devan. "Yang kuat pak, pasti istri anda bisa sembuh asalkan dia punya keyakinan yang kuat dan dukungan penuh dari orang terdekatnya."
"Terima kasih pak. Oya, anda sudah punya pasangan?" tanya Devan mengalihkan pembicaraan.
Jericho menggeleng lalu tatapannya lurus kedepan. "Saya belum menemukan wanita yang cocok pak."
"Anda masih muda, perjalanan masih panjang." Devan menyemangati Jericho.
"Sebenarnya dulu ada wanita yang cocok di hati saya, tapi dia menghilang entah kemana dan saya sudah mencarinya namun sampai sekarang belum menemukannya."
"Maksud anda hilang?"
"Dia--"
Drttt... Drttt... getaran handphone dari dalam saku celana Jericho membuat ia menghentikan kalimatnya lalu beranjak dari kursi. "Maaf pak, saya angkat telfon dulu."
"Silahkan."
Setelah kepergian Jericho Devan kembali fokus ke layar handphonenya, ia sedang chat Alvin menyuruhnya bergabung setelah menyalami sang pengantin.
Benar saja tak berselang waktu lama Alvin datang bersama Lestari dan tautan tangan mereka belum terlepas.
"Lo sendirian Dev?" tanya Alvin yang sudah berdiri di depan Devan.
Devan berpindah ke kursi sebelahnya untuk memberi tempat pada Alvin dan Lestari. "Delima sedang ke toilet."
Alvin duduk di sebelah Devan dan Lestari duduk di sebelah Alvin.
Devan menggerakkan sikunya untuk menyenggol lengan Alvin. "Lo pacaran sama Tari?" bisik Devan.
"Seperti yang lo lihat." jawab Alvin juga berbisik.
"Sepertinya ada yang mau nyusul Aisyah nih." goda Devan.
"Nggak buru-buru sih gue, biarlah mengalir dengan sendirinya."
"Inget umur lo! Dasar perjaka tua!"
"Daripada lo, perjakanya ilang sebelum waktunya."
"Kenapa Tari lo kacangin??!"
"Gara-gara Elo!!" dengus Alvin lalu ia menoleh ke samping dimana Lestari berada. "Maaf, kamu jadi terabaikan."
"Nggak apa-apa."
"Dev, ayo pulang." Delisha datang dengan wajah pucatnya seperti orang ketakutan dan napas terengah-engah seperti habis lari maraton.
"Ada apa Delima? Ada yang sakit?" tanya Devan panik.
Alvin dan Lestari juga beranjak dari kursi.
Lestari melangkah mendekati Delisha. "Ada apa mbak?"
"Kita pulang sekarang." rengeknya sembari menarik tangan Devan tanpa menjawab pertanyaan dari Lestari.
"Acaranya belum selesai sayang."
Delisha menyetak kasar tangan Devan. "Aku mau pulang sekarang!!" kata terakhir Delisha lalu melangkah meninggalkan Devan, Alvin dan Lestari yang masih di ruangan itu.
"Gue pulang duluan." pamit Devan pada Alvin sebelum berjalan menyusul sang istri yang berjalan lebih dulu.
Alvin dan Lestari saling pandang, mereka tidak tahu menahu apa yang telah terjadi pada Delisha, sampai Delisha seperti itu.
Devan berlari kecil untuk mengejar istrinya sampai ia berhasil meraih tangan Delisha. "Tunggu Delima."
Delisha menghentikan langkahnya dan menyentak tangan Devan lagi. "JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU LAGI!!!" teriaknya lalu melanjutkan lagi langkahnya dengan tergesa-gesa.
Devan diam, ia memilih mengikuti langkah istrinya menuju basement tanpa bertanya lagi karena Devan tahu saat ini istrinya sedang menahan emosi.
"Ada apa mom?" tanya Devan dengan lembut untuk meredam emosi istrinya.
Mereka telah memasuki mobil namun Devan belum menyalakan mesin mobilnya.
"Aku bertemu dengan pelangganku yang dulu Dev, jadi tolong jangan panggil aku dengan nama itu lagi."
Tangan Devan terangkat untuk menyentuh pipi istrinya. "Jadi kamu ketakutan kayak tadi gara-gara dia?"
Delisha mengangguk.
"Kamu tadi bertemu dia dimana?"
"Di toilet."
Devan menarik tubuh Delisha ke dalam pelukannya. "Seharusnya kamu bilang dari tadi, jadi aku tidak bingung kamu kenapa."
"Maafin aku Dev."
Devan melepas pelukannya. "Tidak apa-apa, kita bahas nanti sekarang kita pulang dulu?"
Delisha mengangguk lalu tersenyum tipis. "Iya."
Devan menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya membelah jalan menuju rumahnya.
*
*
Gimana puasanya?? Lancar?? Alhamdulillah...