Because Baby

Because Baby
Part 31



*


*


Alvin, Delisha beserta Delvin turun ke bawah, Aleza memang menyuruh mereka untuk makan dulu, karena Aleza tau Delisha belum makan sejak pagi.


Aleza sudah menunggu di ruang makan. Setelah sampai di lantai dasar Alvin dan Delisha segera menyusul Aleza.


Aleza mengernyit. "Loh, Devan mana? Kok tidak bersama kalian?"


"Tidak tau Tante." jawab Alvin sembari menarik kursi untuk Delisha.


Aleza beranjak lalu berjalan menuju tangga. "DEVAN." Aleza berteriak dari bawah.


Devan segera keluar kamar saat mendengar suara teriakan Maminya lalu menuruni tangga dengan cepat.


"Kamu di atas ngapain sih Dev?" tanya Aleza saat Devan sudah sampai di anak tangga terakhir.


"Tidur Mih." jawab Devan sembari berjalan beriringan dengan Maminya menuju meja makan.


"Daddy." panggil Delvin antusias saat melihat Devan sedang menarik kursi di sebelahnya.


Alvin mengernyit. "Kok panggilnya Daddy?"


"Biar sama kayak lo." jawab Devan sembari mendudukkan bokongnya di kursi.


Alvin tak mau ambil pusing dia segera menyodorkan piring kosongnya pada Delisha.


Delisha meraih piring kosongnya Alvin lalu mengambilkan nasi beserta sayur dan lauknya, lalu menyerahkannya pada Alvin lagi.


Devan hanya mengamati gerak-gerik Delisha apapun yang dilakukan Delisha tak lepas dari tatapan matanya.


Delisha kembali mengisi piring kosong lalu menyuapi Delvin.


"Kok nggak makan?" tanya Devan pada Delisha.


"Nanti saja kalau Delvin sudah selesai." jawab Delisha.


Devan mengambil alih makanan Delvin dari tangan Delisha. "Biar aku saja yang nyuapin Delvin, perut kamu dari pagi belum di isi kan?"


Alvin yang tadinya sedang memakan makanannya kini menghentikan kegiatannya lalu memperhatikan Devan dan Delisha, Alvin menyadari ada yang aneh dengan sikap Devan terhadap Delisha dan Delvin.


Delisha meraih kembali makanan Delvin dari tangan Devan. "Biar aku saja, kamu sendiri juga belum makan kan dari tadi pagi?"


"Biar Mami saja yang nyuapin Delvin." sahut Aleza.


Aleza beranjak dari kursi lalu melangkah beberapa langkah menuju kursi Delvin, lalu meraih piring berisi makanan Delvin di tangan Delisha. Dengan cepat Delisha menjauhkannya dari jangkauan Aleza. "Tidak usah Tante biar Delisha saja yang menyuapi Delvin."


Aleza tetap mengambil alih makanan Delvin dari tangan Delisha. "Biar Tante saja, benar kata Devan dari pagi perut kamu belum terisi, kamu makan dulu!"


"Terima kasih Tante."


Alvin menggeser piring kosongnya lalu meminum air putih. "Kita pulang sekarang Sha?"


"Sebentar lagi Vin, masa iya kita habis makan langsung pulang, nggak enak sama yang punya rumah." jawab Delisha berbisik.


Alvin terkekeh. "Anggap saja kita sedang makan di restoran."


"Kalau makan di restoran biasanya kita juga ngobrol dulu setelah makan." sahut Devan.


Mereka akhirnya ngobrol sebentar sebelum pulang sembari menunggu Delvin yang masih asik bermain dengan Oma nya.


"Kita pulang sekarang yuk Vin, aku mau mandi dari tadi pagi aku belum mandi." ujar Delisha, dia sudah cukup lama dirumah Devan rasanya tidak enak juga jika terlalu lama.


"Kamu tidak mandi satu minggu juga masih cantik." goda Alvin.


"Gembel!!" cibir Delisha.


Delisha beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Delvin. "Delvin ayo kita pulang."


"Iya Bunda." Delvin meninggalkan mainannya lalu merentangkan kedua tangannya hendak meminta gendong Bundanya.


Dengan senang hati Delisha mengangkat tubuh gembul Delvin lalu menggendongnya. "Tante Leza, Devan kami pulang dulu, terima kasih untuk semuanya."


Aleza mengecup pipi gembul Delvin sebelum dia pulang bersama Bundanya. Devan pun juga melakukan hal yang sama, dia mengecup seluruh wajah Delvin lalu berakhir dengan mengacak rambutnya.


Delvin melambaikan tangan mungilnya pada Aleza dan Devan. "Dadah Oma, dah Daddy."


"Dadah sayang." balas Aleza juga melambaikan tangannya.


Devan hanya bisa mengamati kepergian Delisha dan Delvin walaupun sebenarnya berat untuk Devan.


Aleza mengusap bahu Devan. "Mami mengerti perasaan kamu Dev, tapi bagaimanapun juga Alvin adalah sahabat kamu dan Alvin juga yang merawat Delvin sejak masih di dalam kandungan Ibunya serta mencurahkan kasih sayangnya seperti layaknya ayah kandung Delvin."


"Devan ngerti Mih, tapi Devan juga ingin bersama anak Devan, layaknya sebuah keluarga ada Ayah Ibu dan Anak, utuh dalam keluarga kecil, tidak terpisah seperti saat ini." ujar Devan.


"Kamu bilang mau mengikuti alurnya Tuhan."


"Tapi ini berat Mih."


*


*


Mungkin hampir semua orang tua merasa berat jika berpisah dengan anaknya, termasuk Devan, apalagi Devan baru bertemu dengan anaknya pasti keinginannya untuk terus bersama anaknya sangatlah besar.


*


Devan atau Alvin nih???