
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan memasuki apartemen beserta Alvin dan Leo, mereka tinggal di apartemen bertiga itu pun mereka hanya menyewanya karena mereka hanya tinggal sementara disana.
Mereka langsung menuju kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri.
Devan keluar dari kamar mandi kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian namun langkahnya terhenti saat melihat handphonenya berdering kemudian meraih handphone tersebut, begitu melihat nama Delima yang tertera di layar handphonenya Devan segera menaiki ranjang kemudian duduk bersandar kepala ranjang tersebut barulah menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan video tersebut.
"Daddy...." wajah Delvin langsung muncul di layar handphonenya.
"Hai ganteng." jawab Devan.
"Mobil-mobilan Apin mana?"
Devan langsung tergelak.
"Daddy belum beli sayang, nanti aja kalau sudah mau pulang."
"Yang banyak ya." pinta Delvin.
"Kalau Delvin minta mobilnya banyak, Daddy di kasih cium dulu." Devan mengarahkan pipinya di depan layar handphone.
Delvin dari seberang sana memajukan bibirnya di depan layar handphone untuk mencium Daddy-nya.
"Bunda mana?" tanya Devan setelah Delvin selesai menciumnya.
Delvin mengarahkan layar handphonenya ke arah Bundanya yang berada di sebelahnya sedang tiduran.
"Hai daddy." jawab Delisha lalu tersenyum.
"Mommy sakit? Kok pucet gitu." tanya Devan saat melihat wajah istrinya pucat dan lesu.
"Enggak, hanya kecapekan aja tadi habis main bersama Delvin." jawab Delisha kemudian mengambil alih handphonenya dari tangan Delvin lalu menarik tubuh Delvin supaya Devan bisa melihat dirinya dan Delvin sekaligus.
"Nggak usah capek-capek!" pesan Devan. "Makan dan istirahat yang teratur." lanjutnya.
"Iyaa, kamu masih lama nggak disana?"
"Mungkin satu bulan lagi." jawab Devan.
"Kok masih lama sih..." rajuk Delisha dari seberang membuat Devan terkekeh.
"Kangen?"
"Tau ah!"
"Kangen aku atau kangen si emprit?"
Delisha langsung tersenyum masam. "Issh... ada Delvin jangan ngomongin itu!"
Devan tergelak. "Aku bercanda, paling satu minggu lagi aku sudah pulang."
"Satu minggu itu kapan bunda?" tanya Delvin.
"Masih lama." jawab Devan.
Delvin langsung cemberut bibirnya mencebik maju.
"Mobil-mobilannya beli dulu sama bunda." kata Devan supaya anaknya tidak merajuk.
Delvin langsung menarik lengan Delisha. "Ayo bunda kita beli sekarang."
"Besok Vin, sekarang sudah malam." rayu Delisha namun Delvin malah menangis. "Nggak mau! Maunya sekarang!"
Bibir Delisha ikut mencebik kemudian menatap Devan dengan tatapan tajamnya. "Tuh gara-gara kamu Delvin nangis."
"Kok gara-gara aku?"
"Ya kamulah, gara-gara kamu nyuruh beli sama aku! Udah, aku tutup telfonnya sekarang, aku mau nenangin Delvin dulu." kata terakhir Delisha kemudian dia mematikan panggilannya.
Devan menatap layar handphonenya yang sudah mati. "Kenapa jadi ngambek semua?" gumamnya, kemudian beranjak dari ranjang menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
Alvin memasuki kamar Devan serta membawa laptopnya, mereka memang akan melanjutkan pekerjaan mereka lagi supaya cepat selesai dan mereka bisa segera pulang.
Alvin duduk berselonjor di sebelah Devan kemudian mulai mengerjakan pekerjaannya. "Pusing juga ya kerja kayak gini." keluh Alvin.
Devan menghentikan kegiatannya namun belum menanggapi keluh Alvin, dia hanya melirik sesaat ke arah Alvin kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Kalau ini sudah selesai gue mau jadi dokter lagi." ujar Alvin membuat Devan tergelak.
"Gue kan udah bilang kalau pekerjaan ini bukan bidang lo. Elo sih kepala batu." omel Devan dan di balas dengusan oleh Alvin kemudian mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
*
π΄π΄π΄
*
Delisha sedang tiduran di kamarnya, dia merasa kelelahan setelah menemani Delvin bermain di taman samping rumah di tambah rasa mual yang menderanya.
Delisha membekap mulutnya lalu berlari ke wastafel. "Huekk... huekk..." namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya hanya cairan bening yang keluar, Delisha menunduk tangan kirinya berpegangan di tepi wastafel sedangkan tangan kanannya menyeka keringat dingin di dahinya kemudian Delisha merasakan pijatan lembut di tengkuknya, Delisha menegakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang memijat tengkuknya lewat pantulan cermin di depannya. "Mami?"
Tangan kanan Aleza memijat tengkuk Delisha dan tangan kirinya menyerahkan beberapa lembar tisu pada Delisha. "Kamu sedang hamil Sha?" tanya Aleza membuat Delisha merasa tidak enak hati.
Delisha menggeleng lesu. "Delisha tidak sedang hamil mih, sekarang aja Delisha sedang datang bulan."
"Oh, kirain kamu hamil lagi."
"Maaf mih, Delisha sudah bikin mami kecewa."
Aleza mengehentikan pijatannya lalu memapah Delisha kembali lagi ke ranjangnya. "Tidak apa-apa." jawab Aleza sembari terus melangkah menuju ranjang.
Aleza membaringkan tubuh Delisha di ranjang. "Kita ke dokter aja ya Sha? Atau mau di panggilkan dokternya kesini aja?"
"Tidak usah mih." tolak Delisha.
"Mami panggilkan dokter keluarga kesini aja dan kamu tidak boleh menolak, sudah beberapa hari ini kesehatan kamu semakin menurun dan kamu selalu menolak jika di ajak periksa ke dokter."
Delisha mengangguk samar.
Aleza keluar dari kamar Delisha kemudian menelepon dokter pribadi keluarga mereka.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit akhirnya Dokter tersebut sampai dirumahnya.
"Dokter? Mari masuk." kata Aleza pada dokter kemudian dirinya berjalan menaiki tangga menuju kamar Delisha dan dokter mengikuti langkahnya hingga sampai di depan pintu berwarna putih itu. Aleza membuka pintu pelan-pelan lalu memasuki kamar Delisha beserta dokter yang masih setia mengikuti langkahnya.
"Silahkan dok." kata Aleza kemudian dirinya sedikit mundur untuk memberi tempat bagi dokter supaya lebih leluasa memeriksa Delisha.
Aleza terus menunggu dokter selama dokter memeriksanya hingga selesai. "Bagaimana dok?" tanyanya pada dokter setelah selesai memeriksa Delisha.
Dokter menghela napas pelan. "Bisa kita bicara di tempat lain bu Leza?"
"Baik dok." jawab Aleza lalu dirinya kembali mendekati ranjang. "Mami bicara sama dokter sebentar ya."
"Iya mih." jawab Delisha kemudian menahan tangan Aleza. "Tolong jangan bilang Devan kalau Delisha sakit ya mih, Delisha tidak mau membuat Devan menjadi khawatir dan membuat pekerjaannya menjadi kacau nantinya."
"Iya.." jawab Aleza kemudian keluar dari kamar Delisha menuju ruang tamu untuk membicarakan masalah sakitnya Delisha bersama dokter.
"Silahkan duduk Dok."
Dokternya duduk di ikuti oleh Aleza yang juga duduk di seberang dokter. "Apa ada yang serius dok? Sakit apa menantu saya dok?"
"Sebaiknya anda membawa menantu anda kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, dari gejalanya saya menyimpulkan kalau menantu anda terkena kanker serviks."
Aleza menutup mulutnya. "Ya Tuhan Delisha..."
"Secepatnya bu, semakin cepat semakin baik dan semakin cepat penyakit itu di ketahui maka semakin besar kemungkinannya untuk sembuh. Semoga dugaan saya salah." imbuh dokter.
Aleza tak mampu berkata apa-apa lagi, lidahnya tiba-tiba kelu, membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
*
*
Semoga dugaan dokternya salah.