
*
*
"Maafin Papaku Sha, tolong buka pintunya kita bicara baik-baik, itu Delvin nangis kasian Sha."
Delisha tak bergeming dia masih di belakang pintu belum merubah posisinya.
Devan meraih tangan Alvin yang sedang mengetuk pintu. "Biar gue yang bujuk Mommynya Delvin, gue lebih tau permasalah ini."
Alvin mengernyit. "Kenapa lo tau semua tentang Delisha?"
"Gue akan menjawab pertanyaan lo, tapi tidak sekarang kapan-kapan kita bahas, yang terpenting saat ini adalah Mommynya Delvin dan Delvin. Okay!"
"Lo yakin bisa?" tanya Alvin seakan tidak percaya.
Devan mengangguk mantap. "Percaya sama gue."
"Okay, aku pergi Sha." Akhirnya Alvin pergi dari rumah Delisha.
Devan menatap Alvin yang sedang berjalan menjauh, setelah Alvin tidak terlihat Devan mengetuk pintu. "Delima buka pintunya!"
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU LAGI!!!" Delisha kembali berteriak.
"Okay, Delisha buka pintunya!"
"Kamu juga harus pergi Dev! Aku tidak pantas buat siapapun. Aku kotor aku hina." Delisha kembali terisak.
"Kalau kamu kotor terus aku apa?"
"....." Delisha terdiam membenarkan ucapan Devan.
"Bahkan aku lebih kotor dari kamu. Kamu melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa, sedangkan aku. Aku melakukan itu semata-mata hanya untuk kesenanganku sendiri, menuruti hawa nafsuku. Tolong buka pintunya kasian Delvin anak kita."
Delisha menegakkan tubuhnya lalu membuka pintu.
Begitu pintu terbuka Devan langsung masuk dia berdiri dengan lutut sebagai tumpuan lalu merengkuh tubuh Delisha dan Delvin sekaligus. "Siapa yang bikin kamu kayak gini, Hmm? Benar tadi kamu ketemu sama Om Reza?
Delisha mengangguk.
Devan berdiri lalu mengangkat tubuh Delvin serta menuntun Delisha menuju sofa. "Daddy bawa mainan buat Delvin, sekarang Delvin mainan dulu ya." ujar Devan sembari menyerahkan paper bag yang ia bawa tadi.
Delvin meraih paper bag dari tangan Daddy nya lalu duduk sendiri dan membuka mainan barunya dengan antusias.
Devan tersenyum lalu mengacak rambut Delvin.
Tak bisa dipungkiri kalau hati Delisha menghangat saat melihat interaksi antara ayah dan anak yang begitu manis.
Devan kembali membalikkan tubuhnya menghadap Delisha. "Kamu jangan pernah lagi merasa seperti itu, ada yang lebih buruk dari pada kamu. Contohnya aku."
Delisha menatap mata Devan. "Boleh aku peluk kamu?"
Tanpa menjawab dengan kata-kata Devan langsung memeluk erat tubuh Delisha serta mengusap punggungnya. "Kamu tau sejak kapan aku mengenal bercinta?"
Delisha menggeleng di dada Devan.
Devan tersenyum tipis sebelum memulai bercerita. "Aku mengenal bercinta sejak masa SMA bayangkan sudah berapa lama aku berbuat dosa? Tapi semenjak aku bertemu denganmu aku sudah tidak berbuat itu lagi, karena aku hanya mau bercinta denganmu."
Delisha mendongak lalu Devan mengecup kening Delisha. "Kamu hanya tiga tahun kerja seperti itu. Parah aku kan?"
Delisha ikut tersenyum. "Kok kamu tau kalau aku kerja seperti itu selama tiga tahun?"
Devan terkekeh lalu menoel hidung Delisha. "Jelas aku tau, aku kan yang membuka segel kamu, aku tidak akan lupa masa indah itu. Kamu yang masih polos dan kamu yang masih malu-malu."
Delisha tersenyum malu dia teringat masa itu, lalu dia menenggelamkan wajahnya di dada Devan serta mencubit pinggang Devan. "Devan! kamu ngomongin apaan sih!"
Devan melonggarkan pelukannya lalu menatap mata Delisha. "Nah gitu dong, kalau senyum kan cantik."
*
*
Itu si Delvin di jadiin obat nyamuk sama orang tuanya sendiri 🤣🤣
Sungguh kejamnya 😂
Awas loh si Alvin balik lagiðŸ¤ðŸ¤