Because Baby

Because Baby
Part 73



*


*


🌴🌴🌴


*


Devan masih setia duduk di sebelah Delisha, ia memandang wajah lelah itu, ternyata menjalani radioterapi banyak menguras tenaganya terbukti dengan lamanya Delisha tertidur.


Tangan Devan bergerak untuk menyingkap baju seragam pasienya Delisha, Devan meringis seakan ikut merasakan sakit yang Delisha rasakan, perut Delisha bagian bawah memerah karena efek radioterapi yang ia jalani.


Devan menutup kembali baju Delisha lalu menarik selimut hingga sebatas pinggang, tangannya beralih menyingkirkan beberapa helai anak rambut Delisha yang menutupi dahinya. "Seharusnya kamu tidak perlu berkorban seperti ini Delima. Kita sudah punya Delvin. Itu sudah cukup bagiku." lirihnya lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup pipi Delisha yang mulai menirus.


Setelah mengecup pipi Delisha setelah itu Devan beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju sofa, ia membuka laptopnya.


Sementara menunggu Delisha istirahat, Devan akan membantu papinya mengerjakan tugas kantor.


Jemari Devan bergerak lincah di atas keyboard laptopnya, matanya menatap jeli di layar laptopnya.


Drtttt... drtttt... handphone Devan bergetar tanda panggilan masuk.


Devan membuka layar handphonenya lalu menggeser icon hijau untuk menerima panggilan tersebut. "Hallo.. Leo." sahut Devan.


"Tuan, maaf menggangu. Saya cuma mau menyampaikan kalau pak Jericho dari PT Angkasa Permana ingin bertemu langsung dengan anda."


"Kan ada papi, kenapa nggak papi aja?"


"Beliau bilang ingin bertemu dengan anda, sesama masih muda, kalau dengan pak Ezra katanya kurang nyaman untuk membicarakan kelanjutan kerja samanya dengan kita."


Devan berpikir sejenak, kalau dirinya menemui rekan kerjanya bagaimana dengan istrinya?


"Bisa, tapi bisanya sekarang."


"Baik tuan, saya akan segera menghubungi pak Jericho setelah ini."


Devan memutus panggilannya lalu mencari kontak Alvin kemudian menekan icon hijau.


Devan memutuskan menyetujui pertemuannya dengan pihak PT Angkasa Permana dengan syarat jam makan siang.


"Ada apa Dev?"


Devan menjauhkan handphone dari telinganya lalu menoleh ke arah pintu, ia terkekeh lalu memutuskan panggilannya.


Alvin berjalan ke arah sofa kemudian duduk di sebelah Devan. "Ada apa?" tanya Alvin lagi.


Devan menutup layar laptopnya kemudian menoleh ke samping dimana Alvin berada. "Sebentar lagi jam istirahat kan? Gue nitip Delima sebentar ya, gue mau menemui rekan kerja di restoran deket sini."


"Asal jangan lama-lama."


"Iya." jawab Devan sembari beranjak dari tempatnya. "Dan satu lagi, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue!"


Alvin mengangguk dan Devan segera melangkah menuju ranjang, menyempatkan diri untuk mengecup kening istrinya. "Aku pergi sebentar ya." ucapnya pelan tanpa ada balasan dari Delisha karena ia sedang istirahat.


Devan melangkah meninggalkan kamar VIP tersebut menuju restoran dekat rumah sakit.


Setelah kepergian Devan, Alvin beranjak dari sofa lalu melangkah menuju ranjang.


Alvin duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Delisha. Pipinya semakin tirus, bibir yang biasanya merah kini menjadi pucat pasi, tubuh yang biasanya padat berisi, sekarang agak kurus. "Berjuanglah Sha." lirihnya. "Delvin selalu menunggumu di rumah, ia merindukanmu. Sosok bundanya."


Tangan Alvin terangkat untuk mengusap lengan Delisha. "Because Baby kamu dulu bisa bebas dari tempat kotor itu dan aku berharap Because Baby juga, kamu berjuang melawan penyakit itu sampai berhasil." Alvin tersenyum tipis kemudian menjauhkan tangannya.


"Mas Alvin?"


Alvin tersentak kaget ketika mendengar suara Lestari kemudian menoleh. "Tari?"


Lestari melangkah menuju ranjang kemudian berdiri di sebelah Alvin. "Loh kok mas Alvin yang ada disini? Mas Devan kemana?"


"Dia sedang ada urusan sebentar, terus nyuruh aku yang jagain Delisha." jawab Alvin. "Kamu sendiri nggak ke butik?"


"Ini jam istirahat mas, aku menyempatkan diri sebentar buat jenguk mbak Delisha."


'Hening' keduanya seolah kehabisan pertanyaan.


"Kam--"


"Mas--"


Mereka sama-sama hendak mengajukan pertanyaan.


"Mas Alvin duluan."


"Kamu duluan."


"Aku baru mau nanya itu ke kamu."


"Pertanyaannya sama ya." ucap Lestari sambil meringis. "Sudah makan siang belum mas?" tanya Lestari lagi.


"Belum."


Lestari menunjuk paper bag di atas meja dekat sofa. "Kita makan siang bareng mas, kebetulan aku bawa makan siang."


"Boleh." jawab Alvin lalu beranjak dari tempatnya.


Alvin dan Lestari berjalan menuju sofa lalu duduk di sofa tersebut, mereka mulai memakan makanan yang di bawa Lestari.


*


🌴🌴🌴


*


Devan berjabat tangan bergantian dengan beberapa orang dari pihak PT Angkasa Permana, ia telah selesai dengan urusannya.


"Terima kasih pak Devan, selamat siang dan sampai bertemu lagi di lain kesempatan."


"Terima kasih banyak pak Jericho, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar."


"Sama-sama pak."


Devan melepas jabatan tanganya lalu berjalan meninggalkan beberapa orang rekan kerjanya yang masih duduk di kursi restoran tersebut, Devan memang tidak bisa berlama-lama mengingat ia telah menitipkan istrinya pada orang lain.


Devan memasuki mobilnya namun sebelum ia menyalakan mesin mobilnya handphonenya bergetar, Devan merogoh handphone dari saku celananya kemudian membuka chat yang masuk.


Alvin : Disini ada Lestari, kalau lo mau jenguk Delvin sebentar dirumah nggak apa-apa.


Me : Thanks.


Devan menutup layar handphonenya lalu mengembalikannya di tempat semula.


Devan menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukannya membelah jalan menuju rumahnya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan anaknya karena Devan sangat merindukan bocah gembulnya.


Jalanan tidak terlalu padat, jadi Devan bisa lebih cepat sampai rumah.


Devan turun dari mobil lalu berjalan cepat memasuki rumahnya. "Delvin...." panggilnya antusias setelah memasuki rumahnya.


Delvin langsung turun dari kursi saat mendengar suara daddynya, padahal ia sedang makan siang di suapi oleh omanya.


"Daddy..." teriak bocah gembul itu sembari berlari ke arah daddynya, rupanya Delvin juga merindukan daddynya.


Devan berjongkok untuk menangkap anaknya, setelah Delvin sudah dalam dekapannya, Devan langsung menciumi Delvin tanpa ampun. "Daddy kangen banget sama Delvin."


Delvin melepas pelukannya lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok bundanya. "Bunda mana?" tanyanya polos membuat hati Devan mencelos.


Sakit, sungguh sakit yang di rasakan Devan saat ini, ia merasa kasihan pada anaknya yang di tinggal oleh ibunya walau hanya sementara.


Devan menangkup wajah Delvin. "Bunda belum bisa pulang sayang, do'akan bunda cepat sembuh ya. Supaya bunda cepet pulang dan kita bisa bersama seperti dulu."


Delvin mengangguk dan Devan segera memeluk tubuh anaknya lagi.


"Dev, Delisha sama siapa di rumah sakit?" tanya Aleza sembari menyodorkan sendok berisi makanannya Delvin. "Delvin aak.. dulu!"


Devan melepas pelukannya, membiarkan anaknya memakan makanannya. "Di sana ada Alvin dan Lestari yang menemani Delima. Devan cuma sebentar kok mih, cuma mau bertemu dengan Delvin."


Aleza mengusap bahu anaknya. "Kamu harus kuat ya, kemoterapi memang menguras segalanya, jaga kesehatan jangan sampai kamu jadi drop, kalau kamu drop yang akan jagain Delisha siapa?"


"Iya mih." Devan kembali memeluk anaknya. "Daddy ke rumah sakit lagi ya, jangan nakal!"


Delvin hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan makanan.


Devan melepas pelukan pelukannya lalu mencium Delvin lagi.


"Devan berangkat mih."


"Hati-hati."


*


*


Jarang update jadi bingung mau ngomong apa hahaha....


Semoga selalu suka dan jangan lupa klik jempol setelah membaca.


Supaya Author jadi rajin update seperti dulu, makin banyak jempol kalian makin semangat juga jempol Authornya di ajak ngetik. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜