Because Baby

Because Baby
Part 86



*


*


🌴🌴🌴


*


Devan memutar roda kemudinya di sebuah pom bensin, ia ingin istirahat sebentar, matanya yang terasa berat sudah tidak bisa di tahan lagi semalaman ia tidak tidur, Jefri memberinya 6 alamat rumah dan 3 alamat apartemen. Dan Devan baru mendatangi 4 alamat rumah dan 2 apartemen masih ada 2 alamat rumah dan 1 apartemen yang belum ia datangi, ternyata Jericho berasal dari keluarga kaya.


Tubuh Devan juga sangat letih, semalaman ia menyetir mobil mendatangi alamat yang satu dan berlanjut ke alamat yang lainnya.


Devan menunduk, menyilangkan kedua tangannya di atas roda kemudian meletakkan kepalanya di atas tangannya, perlahan matanya yang terasa berat mulai tertutup.


Baru beberapa menit matanya tertutup namun getaran handphone di saku celananya mengagetkan Devan, ia merogoh handphonenya kemudian segera menggeser icon hijau pada layar handphonenya.


"Hallo mih..." sahutnya.


"Daddyyyyy....." suara tangis Delvin langsung terdengar di telinga Devan dan suara tangis itu pula membuat rasa kantuk dan rasa letih Devan menguap begitu saja, suara tangisnya Delvin terdengar sangat pilu di telinga Devan, ia tahu bocah gembulnya pasti sedang sedih mencari ibunya.


"Mommy manaaa....?" Delvin kembali menanyakan keberadaan ibunya.


"Sayaang.... jangan nangis! Dengerin daddy! Daddy pasti secepatnya menemukan mommy. Kamu doakan daddy supaya cepat menemukan mommy okey?!"


"Delvin sekolahnya gimana dad?"


"Delvin sekolah sama oma lagi ya, sama seperti dulu."


Devan memejamkan matanya sesaat, ia membayangkan bagaimana perasaan anaknya saat ini, bocah gembulnya pasti sedang sedih karena tidak ada ibunya di sampingnya padahal bocah itu ingin sekali tampil di atas panggung dan di saksikan oleh kedua orangtuanya.


"Delvin nggak mau sekolah!!!"


"Delvin harus sekolah kalau Delvin tidak sekolah nanti mommy sedih, katanya Delvin mau bacain puisi buat daddy sama mommy?" rayu Devan, meskipun istrinya belum ketemu namun Devan ingin anaknya tetap membacakan puisi untuk ibunya, istrinya pasti akan sangat bangga ketika nantinya melihat video Delvin yang sedang membacakan puisi untuk kedua orangtuanya.


"Delvin mau sekolah tapi cepet bawa mommy pulang ya dad!"


"Iya sayang... daddy pasti bawa mommy pulang secepatnya."


"Dah daddy...."


"Dah Delvin... sekolah yang pinter!"


"Iya dad."


Sambungan telepon sudah terputus, Devan langsung menghubungi Alvin dan Leo untuk membantunya mencari Delisha, tidak mungkin ia akan meneruskan pencariannya sendirian ia butuh seseorang yang membantunya dalam mencari keberadaan istrinya.


*


🌴🌴🌴


*


Aleza dan Ezra yang menemani Delvin, mereka saling lirik saat melihat Delvin yang murung, bocah itu terlihat murung saat melihat teman-temannya di temani oleh orangtua mereka masing-masing hanya Delvin yang di temani oleh kakek neneknya.


Ezra mengangkat tubuh Delvin kemudian memangkunya di kursi urutan kedua dari depan. "Cucu opa kenapa masih murung sih? Kan tadi Delvin udah denger sendiri kalau daddy akan bawa mommy pulang secepatnya." rayunya supaya cucunya kembali ceria.


Ezra rela mengosongkan waktunya demi menemani cucunya.


"Nanti kalau Delvin sedang baca puisi oma dan opa akan merekam Delvin, jadi nanti kalau mommy pulang dia bisa melihatnya ya sayang?!" Aleza juga ikut merayu cucunya.


Sebenarnya Aleza juga sedih dengan kejadian ini, bagaimana tidak sedih Delisha di culik beserta cucunya yang masih di kandungan Delisha.


Tangan Ezra terangkat untuk mengelus rambut Delvin. "Delvin memang anak pinter."


Waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga saat ini giliran Delvin yang naik ke atas panggung meskipun masih terlihat sedikit murung namun bocah gembul itu bersemangat naik ke atas panggung ia akan membaca puisi, kakek dan neneknya yang akan menyaksikan sambil merakam dirinya dan akan ia perlihatkan kepada ibunya ketika pulang nantinya.


Delvin naik ke atas panggung dan di sambut tepuk tangan riuh dari semua yang hadir di acara tersebut setelah itu 'hening' hanya dentingan piano yang mengiringi Delvin dalam membaca puisi, Delvin membaca puisi untuk ayah terlebih dahulu setelah itu barulah puisi untuk ibu.


Entah siapa yang mengajari Delvin setelah ia membaca puisi yang di ajarkan gurunya, bocah itu membaca puisi tambahan untuk mommynya yang hilang.


Delvin membaca puisi itu sambil menangis membuat Aleza juga tidak bisa menahan air matanya.


Β 


MOMMY


Β 


Mommy...


Dadaku sesak


rindu ini menghujam hati


air mata terus berderai


aku hanya ingin bertemu


memelukmu sepajang waktu.


Mommy...


Hadir mu selalu ku nanti


meskipun lewat mimpi


aku hanya ingin bercerita


setelah kau pergi aku tak lagi ceria.


Setelah selesai membaca puisi untuk ibunya Delvin menuruni panggung, Aleza langsung berjalan cepat untuk menjemput cucunya.


Aleza melangkah dari pinggir panggung menuju kursi, ia terus mengusap punggung Delvin untuk menenangkan cucunya yang masih menangisi kepergian ibunya yang sampai saat ini belum ketemu.


"Kita langsung pulang aja ya sayang?" rayu Aleza setelah sampai di tempatnya semula.


"Iya mih kita pulang sekarang aja, kasian Delvin." Ezra menimpali, ia setuju dengan keputusan istrinya.


Ezra dan Aleza berpamitan pada guru Delvin, meminta izin bahwa mereka tidak bisa menghadiri acara tersebut hingga selesai karena cucunya masih terus terisak.


Setelah berpamitan mereka langsung pulang ke rumah.


*


*


Delvin, maafin Author yang jahat ini... 😭😭😭


Mommy kamu pasti ketemu kok, sabar ya.