
*
*
π΄π΄π΄
Sejak keberangkatannya beberapa waktu yang lalu sampai sekarang Devan belum kembali, tujuannya ke luar kota bukan hanya sekedar pekerjaan namun dia juga mencari Delima. Devan berharap jika suatu saat nanti akan menemukan Delima di suatu kota yang ia datangi.
Semakin hari Butik Delisha semakin banyak pengunjung, kemajuannya begitu pesat, hingga dia mampu mengumpulkan uang untuk membeli sebuah rumah.
Hari ini Delisha pindahan, dia membeli sebuah Rumah kecil di dekat Butiknya, agar lebih nyaman dan tidak merepotkan Alvin lagi.
Saat ini Alvin sedang duduk di teras depan Rumah Delisha. "Rumah kamu nyaman ya Sha, sejuk."
"Iya Dok, makanya aku memilih Rumah ini, halamannya luas dan banyak tanaman." Jawab Delisha sembari meletakkan secangkir teh di atas meja untuk Alvin.
Alvin meraih teh tersebut dan menyeruputnya sedikit lalu meletakkannya lagi, ternyata tehnya masih panas.
"Seharusnya ada seseorang yang menemani kamu di rumah Sha." Ujar Alvin.
Delisha menatap Alvin.
"Maksudku seseorang yang bisa menolong kamu jika sewaktu-waktu kamu mau melahirkan, jarak kelahiranmu semakin hari semakin dekat Sha."
Delisha nampak berfikir. "Siapa Dok? Tapi di rumah sendiri juga tidak apa-apa Dok kan aku bisa pesan taxi online jika sewaktu-waktu aku mau melahirkan."
Alvin mengusap lengan Delisha. "Jika sewaktu-waktu kamu merasa mulas atau kontraksi kamu harus segera hubungi aku ya! kapanpun itu, tengah malam sekalipun."
"Iya Dok." Jawab Delisha.
Alvin meraih teh hangatnya tadi dan meminumnya hingga sisa sedikit. "Aku pulang dulu Sha, jangan lupa kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan hubungi aku, oke!"
"Iya Dokter Alvino Bimantara!" Jawab Delisha jengah, semakin hari Alvin semakin cerewet.
Alvin terkekeh dan beranjak dari kursinya sebelum melangkah dia mengusap perut buncit Delisha sesaat. "Hai baby, jangan nakal! Oke."
"Siap om Dokter." Jawab Delisha dengan menirukan suara seperti anak kecil.
Alvin tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar suara Delisha yang lucu.
Alvin gemas dan berakhir mengacak rambut Delisha. "Kenapa wanita ini selalu menggemaskan?" Batin Alvin.
"Tidak jadi pulang Dok?" Tanya Delisha, Alvin sudah pamit dari tadi namun sampai sekarang Alvin belum juga pulang.
"Kamu ngusir aku?"
"Bukan begitu Dok, kan Dokter sendiri yang bilang kalau mau pulang."
Alvin menghembuskan nafasnya berat. "Iya, ya, aku pulang."
Alvin hendak melangkah namun Delisha menahan pergelangan tangannya. "Makasih atas semuanya Dok." Ujar Delisha tulus.
Alvin membalasnya dengan senyuman dan dia melanjutkan langkahnya hingga masuk mobil dan kembali ke rumahnya.
Hari sudah mulai gelap Delisha segera masuk. Langkah Delisha terhenti di ruang tamu, pandangannya tertuju pada paper bag yang di bawa Alvin tadi, Delisha meraih paper bag itu dan membukanya. Air matanya kembali mengalir, sungguh dia belum merasa pantas memakai Mukenah, Delisha masih merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Mau sampai kapan kamu akan meninggalkan Tuhan Sha? Mendekatlah pada Tuhan untuk menghapus dosa-dosamu yang dulu. Hidupmu akan jauh lebih tenang jika kamu dekat dengan Tuhan dan hatimu juga akan terasa damai." Perkataan Alvin masih terngiang-ngiang di telinga Delisha.
Delisha terduduk di lantai dengan derai air mata dan memeluk Mukenah tersebut. "Aku harus memulainya sekarang juga." Ujar Delisha pada dirinya sendiri.
Delisha bangkit dan berjalan menuju ke belakang untuk wudhu, sehabis wudhu Delisha masuk ke kamarnya, menggelar sajadah dan memakai mukenanya.
Meskipun sudah bertahun-tahun Delisha tidak Sholat namun Delisha masih mengingat dengan jelas tentang tata cara Sholat.
Delisha mulai Sholat, dia bersimpuh setelah sekian lama meninggalkannya.
*
*
π΄π΄π΄
Alvin sudah tidak punya alasan lagi buat ketemu Delisha, biasanya sehari bisa bertemu dua kali, pagi dan malam, namun sekarang Delisha berangkat ke butiknya cukup dengan jalan kaki.
Alvin memutar otak untuk mencari alasan supaya bisa bertemu Delisha.
Akhirnya Alvin menemukan cara yang jitu, karena dia sudah tidak mempunyai Mama, kali ini Alvin mengajak Tante Aleza ke butik Delisha, biasanya para wanita akan senang jika di ajak berburu pakaian.
"Sudah sampai tante." Ujar Alvin pada Aleza setelah memarkirkan mobilnya di depan butik Delisha.
Aleza turun dari mobil Alvin, dia mengedarkan pandangannya di sekelilingnya dan matanya tertuju pada wanita cantik yang tengah hamil besar sedang merapikan beberapa pakaian di sebuah lemari.
"Wanita itu siapa Vin?" Tanya Aleza tanpa menoleh pada Alvin karena pandangan tertuju pada wanita hamil tadi.
Alvin mengikuti arah pandangan Aleza dan melihat Delisha. "Oh, dia Delisha pemilik butik ini tante."
Aleza manggut-manggut.
Alvin merangkul bahu Aleza dan berjalan masuk ke dalam butik milik Delisha.
"Hai Dokter." Sapa Delisha saat melihat kedatangan Alvin.
"Sha, kenalin ini tanteku."
Aleza mengulurkan tangannya. "Aleza."
Delisha menyambut uluran tangan Aleza. "Delisha tante, mari silahkan masuk."
Sebelum masuk Aleza mengelus perut buncitnya Delisha. Delisha hanya tersenyum kikuk takutnya nanti tantenya Alvin akan menanyakan statusnya, Delisha tidak ingin berbohong.
Aleza masuk dan langsung mengelilingi butik Delisha melihat koleksi pakaian buatan Delisha.
Sedangkan Alvin dan Delisha menunggunya sambil ngobrol, memang itulah tujuan Alvin sebenarnya, bisa berlama-lama bersama Delisha, semakin lama Aleza memilih itu semakin menyenangkan buat Alvin.
Aleza terus berkeliling hingga pandangannya tertuju pada dress selutut dan berlengan pendek warna coklat muda yang pastinya akan cocok jika dia kenakan.
Aleza masih berkeliling lagi dan menemukan yang cocok lagi gaun berwarna hitam dengan model elegan, dia akan memakainya jika ke pesta.
Aleza masih terus berkeliling hingga tanpa sadar dia sudah mengambil banyak baju.
Aleza mendekati Alvin yang sedang asik berbincang dengan Delisha. "Tante udah selesai Vin."
Alvin beranjak dari sofa dan berpamitan pada Delisha. "Tanteku sudah selesai Sha aku pulang dulu." Ujar Alvin.
Delisha berdiri untuk mengantar Alvin dan Aleza sampai depan, namun baru beberapa langkah perutnya kontraksi, Delisha meringis menahan rasa sakitnya.
Alvin yang melihat itu langsung mendekatinya dan memapah Delisha kembali ke sofa. "Sha, tarik nafas dalam dan hembuskan perlahan seperti waktu itu."
Delisha mengikuti perintah Alvin, dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, namun kali ini Delisha sudah melakukannya berulang-ulang tapi tak kunjung mereda malah tambah sering.
"Kita ke rumah sakit sekarang Sha, kamu mau melahirkan." Ujar Alvin.
Alvin membopong Delisha menuju mobil dan Aleza mengikutinya dari belakang serta membukakan pintu untuk Delisha.
*
*
Jangan lupa vote, like dan komentar ya agar Author makin semangat ngetiknya πππ