
*
*
π΄π΄π΄
Sudah jadi kebiasaan Alvin sebelum berangkat kerja selalu mampir dulu ke rumah Delisha, Alvin selalu mengantar susu murni untuk Delvin karena bocah gembul itu tidak suka minum susu formula.
"Ayah..." Teriak Delvin ketika melihat Alvin sudah sampai di teras rumahnya.
Alvin berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah itu. "Hai boy."
Delvin mengalungkan kedua tangannya lalu mengecup pipi Alvin.
"Mau minum susu?" Tanya Alvin sembari memperlihatkan susu yang di bawanya tadi.
Delvin mengangguk antusias lalu menarik tangan Alvin supaya mengikuti langkahnya masuk rumah.
"Bundaa.." Teriak bocah itu.
Delisha telah selesai memasak dia sedang menata sarapan di meja makan.
"Bundaa..." Teriak bocah itu lagi karena tak kunjung ada jawaban dari Bundanya.
Alvin membopong Delvin menuju dapur karena dia sudah bisa menebak keberadaan Delisha di pagi hari.
Delisha menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Alvin. "Pagi Vin."
Alvin menurunkan Delvin di kursi dan dirinya juga ikut duduk di sebelahnya sembari menatap Delisha yang sedang sibuk menata sarapan di atas meja beserta celemek yang masih terpasang di tubuhnya, membuat Delisha semakin cantik.
"Pagi." jawab Alvin. "Hari ini aku tidak ikut sarapan."
Delisha mengernyit. "Tumben?"
"Tadi sudah sarapan di rumah, lagian aku juga buru-buru."
Delisha menuang teh hangat dari teko ke dalam cangkir lalu menggesernya ke arah Alvin "Sebelum berangkat minum dulu."
Alvin menyeruputnya hingga sisa separuh lalu meletakkannya di atas meja lagi. "Aku berangkat sekarang."
Alvin beranjak dari kursi serta mencium pipi Delisha dan Delvin bergantian.
"Hati-hati."
Alvin mengacak puncak kepala Delvin. "Ayah kerja dulu boy."
Delvin mengangguk lalu tersenyum.
Alvin berangkat dan Delisha segera menyuapi Delvin, setelah Delvin selesai sarapan barulah dirinya yang sarapan.
Seperti biasa, setelah sarapan Delisha akan berangkat ke butiknya beserta anaknya, Delisha memang selalu mengajak Delvin ke butik karena di rumah tidak ada siapa-siapa jadi kalau di ajak ke butik Delisha bisa mengawasinya.
*
*
π΄π΄π΄
Proyek Devan di luar kota telah usai kini Devan kembali seperti dulu, ngurus kantor bersama Papinya. Berangkat pagi pulang petang.
Hari sudah mulai gelap Devan membereskan meja kerjanya, dia sudah siap pulang ke rumahnya.
Deringan handphone menghentikan kegiatannya. "Mami?" Gumamnya saat melihat si pemanggil lalu menggeser icon hijau.
"Iya Mih." Jawab Devan.
"Kamu jemput Mami sekarang bisa tidak?"
"Bisa Mih, ini Devan juga sedang siap-siap pulang. Mami dimana?"
"Di rumah Delvin."
"Setelah beres Devan akan jemput Mami disana."
Devan menutup panggilannya lalu meneruskan kegiatannya yang tertunda.
Setelah semua sudah beres Devan keluar dari ruangan berjalan sebentar menuju lift menunggu beberapa saat hingga pintu lift terbuka. Devan menekan angka paling dasar. 'Ting' pintu lift terbuka kembali dan Devan berjalan keluar dari lift menuju basement tempat mobilnya terparkir disana.
Devan memasuki Mobilnya lalu melajukannya menuju rumah bocah gembul itu.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya Devan sampai di gang dekat rumah Delisha. Devan memeriksa share lok yang di kirim Maminya tadi.
Devan berjalan kaki sebentar dan sudah menemukan lokasinya, Devan meneliti rumah kecil itu, memang kecil namun cukup nyaman banyak tanaman di halaman rumah tersebut.
Devan mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat hingga pintu itu terbuka.
"Kamu sudah sampai, Ayo masuk dulu." Ujar Aleza sembari membuka pintu lebar-lebar.
Devan melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya melihat-lihat isi rumah itu, pandangannya tertuju pada foto Delima yang sedang menggendong Delvin.
Devan membulatkan matanya dan memeriksa satu persatu foto yang terpajang di tembok rumah itu untuk memastikan bahwa yang di lihatnya tidak salah.
"Benar, ini Delima." Gumamnya.
"Delimaaaa!!!" Teriak Devan sembari berjalan mengelilingi rumah itu mencari keberadaan Delima.
Devan membuka ruangan demi ruangan sambil terus teriak.
"Delimaaaa!!! Dimana kamu??" Devan terus mencari Delima.
"Devan. Hentikan!!!! Kamu tidak sopan di rumah orang kamu teriak-teriak begitu. Ini rumah Delisha bukan Delima!!!" Aleza mencoba menarik anaknya kembali ke sofa supaya lebih tenang.
Namun Devan tidak bergeming dia terus mencari keberadaan Delima seperti orang gila berjalan mondar-mandir dan memeriksa seluruh ruangan yang ada di rumah itu.
Delisha baru pulang dari butik, dia berjalan santai namun ketika terdengar suara kegaduhan dari dalam rumahnya, Delisha langsung lari. "Ada apa ini?" tanyanya setelah memasuki rumahnya.
Terdengar suara wanita yang ia rindukan Devan langsung menoleh dan benar wanita yang di carinya selama ini berada di hadapannya.
"Delima?" Devan langsung menerjang tubuh Delisha hingga mereka berdua terjatuh di sofa, Devan menangkup wajah Delisha dengan kedua tangannya kemudian menghujani wajah Delisha dengan kecupan dan bibirnya menyerang bibir Delisha.
Delisha tidak mampu memberontak di bawah Devan, tenaganya tidak sebanding dengan tubuh kekar Devan. Delisha sudah memukul bahu Devan karena dirinya bisa kehabisan napas namun tidak di hiraukan oleh Devan pukulan Delisha tidak berasa bagi Devan.
Delisha beralih menggigit bibir Devan hingga berdarah namun Devan tetap tidak bergeming dia terus menyerang bibir Delisha mungkin kalau saat ini mereka sedang berada di kamar, Devan sudah pasti akan melucuti pakaian Delisha.
"Devan!! Hentikan!!!! Delisha bisa kehabisan nafas." Aleza mencoba menarik kemeja yang di kenakan Devan, namun tetap nihil. Devan masih melanjutkan aksinya menyerang bibir Delisha tanpa ampun.
"Om jahatt!!! Om jahat sama Bunda!" Teriakan Delvin akhirnya mampu menghentikan kebrutalan Devan.
Devan melepaskan Delisha dan Delisha segera menghirup udara banyak-banyak pasokan oksigen dalam paru-parunya hampir habis karena ulah Devan.
Delisha belum sempat mengatur napasnya Devan kembali memeluknya erat sangat erat hingga Delisha kembali kesulitan bernapas lagi.
Delvin sampai menangis saat melihat Bundanya seperti di siksa. Bocah itu menarik-narik kemeja Devan. "Om, hentikan!! nanti Bunda bisa sakit."
Devan mengernyit bingung. "Bunda?"
Begitu melihat Devan lengah Delisha segera menjauh dari Devan.
"Dia anak kamu Delima?"
"Namanya Delisha bukan Delima!" Sahut Aleza.
Devan menjadi bingung. "Bunda? Delisha? Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Devan.
*
*
Aaaaaaaaa...... Devan gila!!! πππ
Mungkin itu adalah cara Devan meluapkan rasa rindunya terhadap Delima.
Tuh, sudah Author kasih biar seneng readersnya.π€£π€£π€£
Author juga minta dari para readers untuk vote, like, komentar yang buanyakkkk, kalau buanyak Author akan rajin update dehπ€£π€£π€£