Because Baby

Because Baby
Part 37



*


*


Setelah kepulangan Alvin, Devan masih dirumah Delisha karena dia memang sudah mengosongkan jadwalnya hingga sore. Devan memutuskan untuk menunggu Delvin sampai bangun.


"Aduuhh... Pelan-pelan." Devan merintih saat Delisha mengompres pipinya yang lebam.


Delisha langsung meniup-niup pipi Devan yang sakit. "Masih sakit ya? Padahal ini sudah pelan."


"Kalau obatnya di ganti aja gimana?"


Delisha menyatukan alisnya. "Di ganti apa?"


Devan menyentuh bibir Delisha. "Pakai ini."


Delisha melotot tajam. "Jangan aneh-aneh!"


"Mumpung Delvin belum bang--." kalimat Devan terpotong saat Delisha menekan kompresnya. "--Aduuhh... sakit." rintih Devan lagi.


"Huaaa.. Bunda..." suara tangisan Delvin dari kamar.


Delisha hendak beranjak dari sofa namun Devan menahannya. "Biar aku aja."


Delisha duduk kembali dan membiarkan Devan yang menenangkan anaknya. Sebelum Devan menuju kamar, dengan cepat Devan meraup bibir Delisha serta menghisapnya sesaat lalu lari menuju kamar menyusul Delvin.


Delisha tersenyum kecil sambil geleng-geleng.


Devan keluar kamar beserta Delvin dalam gendongannya lalu duduk kembali di sebelah Delisha. "Delvin mau ini?" tanya Devan sembari memperlihatkan makanan yang dia bawa tadi.


Delvin mengangguk lalu Devan membuka makanannya, bocah gembulnya memakan makanannya dengan lahapn membuat Devan tersenyum kecil lalu mengusap puncak kepala Delvin.


Tangan kanan Devan merangkul pundak Delisha yang sedang memainkan handphone, sedangkan tangan kirinya memegangi Delvin yang berada di pangkuannya sambil makan. "Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu mencintai aku, hmm?"


Delisha mematikan layar handphonenya lalu menatap Devan. "Emang harus banget ya?"


Devan mengusap lembut pundak Delisha. "Tidak harus sih, tapi setidaknya kalau kamu bilang kan aku bisa tau perasaanmu padaku."


Delisha menyandarkan kepalanya di bahu Devan. "Masa kamu tidak merasakan? Kalau aku tidak memiliki perasaan padamu mana mungkin dulu aku melayanimu dengan sepenuh hati."


Devan menoleh lalu mengecup puncak kepala Delisha. "Aku kira dulu kamu hanya sekedar berusaha profesional dalam bekerja."


Delvin menarik lengan Delisha. "Bunda, Apin mau mimik."


Devan beranjak dari sofa beserta Delvin dalam gendongannya. "Yuk, ambil sama Daddy saja."


Delvin menurut saja dia mengalungkan kedua tangannya di leher Devan. Devan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum buat Delvin, setelah selesai mereka kembali lagi ke sofa lalu Devan mendudukkan Delvin di sofa.


Devan duduk di tengah-tengah Delvin dan Delisha lalu Devan menoleh ke arah Delisha. "Aku balik ke kantor sekarang ya."


"Emang tidak apa-apa kembali ke kantor dengan luka lebam kayak gitu?"


"Tidak apa-apa, kalau aku tidak segera kembali ke kantor yang ada kerjaan makin numpuk, Papi belum kembali jadi aku yang handle kantor sendirian, kalau Papi dirumah aku tidak akan sesibuk ini. Kamu sendiri nggak kembali ke butik?"


"Disana ada Indah yang bisa di andalkan." Delisha mengusap bahu Devan. "Ya sudah kalau mau kembali ke kantor, hati-hati."


Devan mencium pipi Delisha lalu beralih menciumi bocah gembulnya bertubi-tubi. "Daddy mau kerja lagi, jangan nakal!"


Delvin mengangguk lalu mengacungkan ibu jarinya membuat Devan terkekeh.


*


*


*


"Sudah lama lo?" tanya Devan pada Alvin sembari menarik kursi lalu duduk di seberang Alvin.


Alvin menggeser buku menu ke arah Devan. "Belum lama." jawab Alvin malas. "Baru satu setengah jam."


Devan terkekeh memang dirinya akhir-akhir ini selalu sibuk. "Mau ngomong apaan sih?" tanya Devan sembari membuka buku menu.


"Gue mau kita membuat proyek baru." ujar Alvin membuat Devan membulatkan matanya.


"Gue udah nggak mau keluar kota lagi Vin! Lagian kalau gue keluar kota yang ngurus perusahaan gue siapa? Papi masih di California belum balik." jawab Devan, lalu melambaikan tangan memanggil waitress untuk memesan minuman.


"Gue yang akan pergi." jawab Alvin.


Devan memicingkan matanya. "Jangan bilang kalau ini karena masalah kita bertiga?"


"Bukan, gue juga pengen punya pengalaman selain jadi Dokter."


"Terima kasih." ujar Devan pada waitress yang mengantar minumannya, lalu menatap Alvin lagi. "Siapa yang percaya dengan jawaban lo Vin, semua orang juga tau kalau cita-cita lo mau jadi Dokter dan gue tau elo happy banget dengan profesi lo saat ini."


"Gue pengen suasana baru."


Devan menyeruput minumannya lalu menaruhnya lagi di atas meja. "Lo juga nggak ada pengalaman di bidang ini Vin."


"Tapi bukan berarti gue nggak bisa belajar kan?" jawab Alvin.


Devan membuang napas kasar. "Tapi gue nggak mau tau ya, lo harus ngurus semua sampai selesai! Jangan sampai nanti sudah berjalan setengah jalan terus lo nyuruh gue meneruskannya."


"Iya, gue janji."


"Okey, gue akan suruh Leo asisten gue buat dampingi lo, dia sudah tau segalanya dan lo bisa belajar dari dia."


"Terus kapan gue bisa berangkat, besok?" tanya Alvin antusias.


Devan melempar kepalan tisu ke arah Alvin. "Kita nyusun rencana dulu kamfrett!! Lo kira kerjaan ini sama kayak pasien lo yang butuh operasi secepatnya?"


"Okey, sementara nunggu kalian nyusun rencana gue juga harus ngurus surat pengunduran diri gue."


Devan mencondongkan tubuhnya. "Lo yakin dengan keputusan lo ini? Jangan sampai lo nyesel di kemudian hari!"


Alvin mengedikkan bahu. "Yakin. Kalau gue gagal, suatu saat gue bisa jadi Dokter lagi atau meneruskan perusahaan Papa gue." jawab Alvin.


"Gue akan ngurus semuanya dan sementara waktu lo bisa belajar dikit-dikit." ujar Devan dan mendapat pelototan dari Alvin.


"Lo kira selama ini gue nggak tau apa-apa?! Gue selama ini juga bantu lo dikit-dikit."


"Iya ya." ujar Devan pasrah.


*


*


Sekedar informasi Cerita ini masih panjang ya, kemarin Author hanya bercanda ngetik end hehe, si Delvin aja belum di bikinin adek masa mau end.


Komentar yang banyak duoongg, Author tuh suka ngakak sendiri kalau baca komentar kalian yang lucu-lucu 🤣🤣🤣