Because Baby

Because Baby
Part 43



*


*


"Kenapa Papi bisa berubah pikiran?" tanya Devan setelah berhasil merapatkan rahangnya dari keterkejutan tadi.


Ezra mendengkus. "Karena ada cucu Papi, Papi tidak mau kalau sampai ada orang yang bilang cucu Papi anak haram, seperti Papi barusan, maka dari itu kalian harus cepat menikah dan Papi bisa bersama cucu Papi dirumah ini. Papi juga tidak mau memisahkan antara Ayah dan anak, lagi pula Papi sudah lama menginginkan seorang cucu. Ayo Dev anter Papi ketemu cucu Papi."


"Nanti dong Pih, Papi istirahat dulu?" sahut Aleza.


"Bagaimana dengan Delisha Pih? Papi beneran setuju Devan sama Delisha?" Devan melayangkan pertanyaannya kembali, karena Devan masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya tadi.


"Kalau Papi menolaknya pun kamu pasti akan nekat kan? Papi sudah tau sifat kepala batu kamu! Tidak ada alasan untuk Papi menolaknya karena kalian saling mencintai dan sudah ada anak di antara kalian, lagi pula kalian sama-sama buruk ini."


Devan mendengkus sebal. Apa tadi? Sama-sama buruk? Dasar Ezra, kalau ngomong suka benar.


Ezra menyandarkan kepalanya di sofa beberapa saat, namun segera menegakkannya lagi karena dia teringat sesuatu. "DEVAN!!! Jangan-jangan anak kamu bertebaran diluar sana??" Ezra mengelus dadanya. "Ya Tuhan, Papi nggak bisa bayangin kalau anak kamu bertebaran dimana-mana."


Devan membulatkan matanya, sungguh dugaan Papinya itu sangat menyebalkan.


Aleza pun terbelalak kaget, dia terkejut dengan pernyataan suaminya lalu menoleh ke arah Devan menanti jawaban dari anaknya.


Devan memutar bola matanya malas. "Devan tidak sebodoh itu Pih. Devan selalu memakai pengaman!!" jawab Devan malas.


Ezra kembali mendengkus. "Nyatanya wanita itu bisa hamil anak kamu!!"


"Namanya Delisha Pih." sahut Aleza.


Devan ingin menenggelamkan dirinya ke lautan saat ini juga, Ezra benar-benar membuat Devan mati kutu. Devan malu kalau harus berterus terang mengapa dulu Delisha bisa hamil anaknya, hanya karena kecerobohannya.


Ezra dan Aleza masih menanti jawaban dari Devan, mereka terus menatap anak semata wayangnya.


"Itu--- karena Devan lupa memakai pengaman." jawab Devan sembari menggaruk tengkuknya.


Ezra dan Aleza merapatkan bibirnya menahan tawa. Antara geli dan jengkel sekaligus. Geli karena kecerobohan Devan ternyata menghasilkan cucu buat mereka. Dan jengkel dengan kelakuan anaknya. Menurut mereka itu konyol mereka mendapat cucu dengan cara yang tidak di sengaja, sebuah kecerobohan.


Devan melihat reaksi kedua orang tuanya yang menyebalkan, lalu dia beranjak dari sofa.


"Kamu mau kemana Dev?"


Pertanyaan dari Ezra membuat Devan duduk kembali. "Katanya Papi mau ketemu sama cucu Papi?"


Kini Ezra yang langsung berdiri. "Papi ikut." pintanya antusias.


Devan menghela nafas pelan. "Papi dirumah aja istirahat, biar Devan yang menjemput mereka kesini."


Ezra kembali duduk. "Ya sudah, tapi jangan lama-lama!"


"Iya." jawab Devan lalu dia beranjak dari sofa kemudian melangkah menuju garasi.


Ezra dan Aleza juga baranjak dari sofa lalu melangkah menuju kamar.


*


*


"Daddy..." teriak bocah gembul itu yang sedang bermain di teras butik lalu meninggalkan mainannya untuk menyambut kedatangan Daddy-nya.


Devan mempercepat langkahnya lalu mengangkat bocah gembulnya kemudian menciuminya sembari berjalan memasuki butik, mencari keberadaan Ibu dari anaknya.


Langkah Devan berhenti di belakang Delisha yang sedang merapikan beberapa baju. "Mommy."


Delisha menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke belakang. "Devan?"


Devan meraih tangan Delisha kemudian menuntunnya menuju sofa.


"Tumben jam segini kamu sudah pulang?" tanya Delisha sembari duduk di sofa dan di ikuti oleh Devan.


"Aku tidak ke kantor karena tadi menjemput Papi ke Bandara, sekarang Papi sudah dirumah dan ingin bertemu Delvin." jawab Devan, lalu dia membenarkan Delvin di pangkuannya.


"Ya udah, Delvin di ajak kesana aja. Tapi pulangnya jangan malam-malam!"


"Sama kamu dong."


Delisha menatap Devan lalu pandangannya berhenti di sudut bibir Devan kemudian menyentuhnya pelan. "Bibir kamu kenapa?"


"Tadi itu, eng-- tadi Papi marah terus mukul dikit."


Mendengar jawaban dari Devan membuat Delisha menjadi takut terhadap Papinya Devan lalu membayangkan kalau Papinya Devan akan bereaksi yang sama seperti Papanya Alvin dulu.


Devan sedikit memiringkan kepalanya menatap Delisha. "Kok diem?"


"Aku nggak usah ikut ya?"


"Kenapa? Takut? Nggak usah takut kan ada anak kita." ujar Devan sembari mengelus puncak kepala Delvin. "Dia yang akan menyatukan kita." lalu mengecup puncak kepala yang di elusnya tadi.


Delisha menatap Devan seolah sedang menimang antara mau atau tidak. "Ya udah aku dan Delvin mandi dulu terus siap-siap." ujar Delisha lalu beranjak dari sofa.


Devan segera menarik lengannya. "Nggak usah mandi juga sudah cantik."


"Gak usah gembel! Nggak mempan."


Devan terkekeh. "Papi tadi nyuruh secepatnya, 'sayaang'." ujar Devan dengan menekan kata 'sayang' membuat Delisha langsung melotot tajam takutnya terdengar oleh Indah.


"Iya ya kita berangkat sekarang." ujar Delisha pasrah kemudian dia berjalan menghampiri Indah. "Ndah aku pergi dulu, seperti biasa kuncinya kamu bawa aja."


"Siap." jawab Indah.


Devan, Delisha dan Delvin berjalan beriringan menuju mobil lalu mereka memasuki mobil dan Devan segera melajukan mobilnya membelah jalan menuju rumahnya.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai dirumah Devan.


Devan berjalan memasuki rumah beserta Delvin dalam gendongannya dan Delisha di belakangnya. Delisha melangkah di belakang Devan dengan ragu, jantungnya berdegup lebih kencang bahkan sampai berkeringat dingin. Delisha masih trauma dengan Reza, Delisha takut jika nanti reaksi Papinya Devan seperti Papanya Alvin dulu.


*


*


Nggak usah takut Sha! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜