
*
*
π΄π΄π΄
Setelah dari rumah Delisha, Alvin langsung pulang ke rumahnya untuk menemui Papanya.
Kali ini Papanya sudah keterlaluan, Papanya sudah merendahkan Delisha serta membawa Aisyah untuk menemui Delisha.
Meskipun banyak pertanyaan yang di simpan Alvin untuk Devan, namun menemui Papanya saat ini lebih penting.
Alvin memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya lalu memasuki rumahnya langsung menuju ruang kerja Papanya, Reza memang sering menghabiskan waktunya di ruang kerja.
"Pah."
Reza mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas beralih menatap Alvin. "Ada apa Vin?"
Alvin melangkah hingga di hadapan Reza. "Papa keterlaluan!"
Reza mengernyit. "Maksud kamu apa Vin?"
"Papa tadi menemui Delisha lalu menghina dia, sampai kapan Papa seperti ini? Sebentar lagi Delisha akan menjadi istri Alvin, menantu Papa."
Reza beranjak dari tempat duduknya lalu menggebrak meja kerjanya. "Sampai kapanpun Papa tidak akan sudi menerima menantu seperti dia! Mantan wanita malam, punya anak har---."
"Papa cukup!!!" potong Alvin.
Reza tersenyum miring. "Memang itu kenyataannya."
"Papa setuju atau tidak Alvin akan tetap menikahi Delisha, asal Papa tau Alvin sudah mengurus semua persyaratannya kita tinggal menunggu waktuny--."
'PLAKK' "Kamu sudah tidak menganggap Papa lagi?!!"
"Keputusan Alvin tidak akan berubah!!" ujar Alvin, lalu melangkah menuju pintu.
"Besok malam pertemuan keluarga kita dan keluarga Aisyah, Papa tidak mau tau kamu harus datang!"
"Papa saja yang datang! Alvin tidak akan datang."
"Papa tidak akan mewariskan harta Papa untuk kamu!"
Ancaman Reza menghentikan langkah Alvin lalu ia kembali menoleh ke arah Reza. "Alvin tidak butuh!"
Alvin kembali melangkah meninggalkan ruang kerja Reza, kepalanya berdenyut nyeri, Alvin pusing memikirkan sifat kepala batu Papanya. Alvin berjalan menuju kamarnya Alvin butuh istirahat, kejadian tadi sore dan malam ini membuat Alvin stress. Istirahat sejenak mungkin akan sedikit membantu merilekskan fikirannya.
*
*
π΄π΄π΄
Devan keluar dari lift beserta Leo asisten pribadinya. Devan berjalan menuju ruang kerjanya, wajah Devan yang tegas dan dingin membuat para karyawan yang sedang bekerja lalu menunduk.
Leo membuka pintu ruang kerja atasannya. "Silahkan."
Devan melangkah memasuki ruang kerjanya lalu duduk di kursi putarnya. "Leo, sebutkan jadwal saya hari ini?"
Leo membuka layar tap nya lalu memperlihatkannya pada Devan. "Hari ini jadwal anda masih padat Tuan."
Devan membuang napas kasar, sudah beberapa hari ini Devan tidak bertemu anaknya karena padatnya jadwal kerjanya, Devan berangkat pagi dan pulang sudah larut malam. Devan sudah sangat merindukan bocah gembulnya.
Devan mengembalikan tap Leo. "Kosongkan jam makan siang sampai sore! Saya ada acara."
Leo meraih tap nya lalu memperlihatkannya pada Devan lagi. "Tapi Tuan, setelah jam makan siang anda ada meeting penting dengan kolega kita dari Singapura."
"Saya tidak mau tau! Harus di undur, cari alasan yang masuk akal itu tugas kamu!"
Leo menunduk. "Baik Tuan."
Devan meraih beberapa berkas di atas meja kerjanya untuk mempersiapkannya sebelum meeting dengan koleganya di mulai.
*
*
Devan berhenti berjalan membuat Leo juga berhenti. "Kamu urus semuanya! Saya berangkat sekarang."
"Baik Tuan." jawab Leo.
Devan melanjutkan langkahnya menuju lobby, tak butuh waktu lama mobil Devan sudah sampai di depan pintu lobby di kendarai oleh supir. Devan melanjutkannya langkahnya menuju pintu lobby.
Mobil berhenti tepat di depan Devan, sang supir lalu keluar sembari menyerahkan kunci mobil Devan. "Silahkan Tuan."
"Terima kasih." ujar Devan sembari menerima kunci mobilnya.
Devan segera memasuki mobilnya, dia sudah tidak sabar mau bertemu dengan Delvin, persetan dengan pekerjaan yang tiada habisnya.
Devan menoleh ke samping lalu tersenyum tipis saat menatap beberapa paper bag di atas kursi samping kemudi. Ada beberapa barang untuk Delvin dan juga Delisha yang sudah di persiapkannya beberapa hari yang lalu.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya Devan sampai di rumah Delisha.
Tok tok "Delvin."
Delisha membuka pintunya. "Devan." lalu Delisha membuka pintu lebar-lebar.
Devan memasuki rumah Delisha lalu mengedarkan pandangannya namun Devan tidak menemukan bocah gembulnya. "Delvin dimana?"
"Sedang bobo siang." jawab Delisha sembari duduk di sofa.
"Yaaah.." Devan mendesah kecewa, Devan sangat merindukan Delvin dia rela mengosongkan jadwalnya hanya demi Delvin namun bocah gembulnya malah sedang tidur Devan tidak jadi bermain bersama anaknya.
Delisha terkekeh. "Kok gitu mukanya?"
Devan merengut. "Aku sudah bela-belain mengosongkan jadwal kerjaku demi Delvin, malah Delvin bobo aku tidak bisa bermain dengannya. Tapi aku boleh masuk ke kamar kan?"
Delisha kembali terkekeh. "Kenapa tidak boleh? Masuk saja tapi jangan di ganggu Delvinya nanti dia bisa rewel kalau boboknya terganggu."
Devan meletakkan paper bag yang ia bawa tadi di atas meja lalu berjalan menuju kamar menyusul Delvin.
Perlahan Devan berjalan mendekati ranjang lalu menaiki ranjang dan ikut berbaring di sebelah Delvin. "Hai anak Daddy, kamu kangen nggak sih sama Daddy? Daddy kangen banget loh sama Delvin." tangan Devan terangkat untuk merapikan rambut Delvin yang berantakan lalu menciumi pipi gembulnya berulang-ulang hingga membuat Delvin menggeliat kecil, mungkin karena geli dengan bulu halus milik Devan. Setelah puas menciumi Delvin, Devan beralih memeluk tubuh mungil Delvin untuk mengobati rasa rindunya. Cukup lama Devan berada di kamar Delvin.
Devan beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju sofa menyusul Delisha yang sedang duduk disana.
"Kamu makan apa?" tanya Devan sembari duduk di sebelah Delisha.
Delisha memperlihatkan makanan yang dia makan.
"Emang enak?" tanya Devan lagi.
Delisha menyodorkan permen jelly pada Devan. "Mau coba?"
Devan menggeleng, dia tidak terlalu suka dengan makanan yang manis-manis apalagi itu permen, Devan jarang sekali memakannya.
"Enak loh." ujar Delisha sembari memasukkan potongan permen ke dalam mulutnya.
"Aku mau."
Delisha kembali menyodorkan permen jelly pada Devan. "Nih."
Devan kembali menggeleng.
Delisha mengernyit. "Katanya tadi mau?"
"Aku maunya yang ada di mulut kamu"
*
*
Dasar Devan!!! Otak mesum! Alvin saja tidak pernah meminta itu.
Hmm... ini kapan terungkapnya sih???