
*
*
π΄π΄π΄
*
Aleza sudah menunggu cukup lama namun Delisha belum datang juga, ia mencoba menghubungi handphonenya namun handphone Delisha tidak aktif. "Delisha kemana?" gumamnya. "Apa Delvin belum selesai latihan? Tapi kenapa Delisha tidak menghubungi aku?" lanjutnya.
Aleza mencoba menelpon pembantu di rumah, namun pembantunya bilang kalau Delisha belum sampai rumah semenjak mengantar Delvin ke sekolah.
Tak lama kemudian handphonenya bergetar, Aleza melihat si pemanggil, namun bukan Delisha yang menelponnya melainkan gurunya Delvin.
"Hallo..." sahut Aleza.
"Hallo bu Aleza... ini Delvin belum ada yang jemput."
"Baik bu, saya akan segera kesana sekarang terima kasih bu."
"Baik bu, saya tunggu."
Aleze memutus sambungan teleponnya lalu memasukkannya ke dalam tas, ia segera memesan taxi online kalau menunggu supirnya dari rumah pasti kelamaan, kasihan Delvin bocah itu pasti sudah menunggu ibunya.
Hanya butuh beberapa menit taxi yang di pesan Aleza sudah datang, ia segera memasuki mobil lalu menuju sekolahnya Delvin.
Selama perjalanan menuju sekolah, Aleza menghubungi Devan, ia merasa hatinya tidak enak takut terjadi sesuatu dengan Delisha.
Setelah menghubungi Devan, Aleza telah sampai di sekolahnya Delvin. "Tunggu sebentar ya pak." ucapnya pada sang supir sebelum ia turun dari mobil tersebut.
Aleza langsung mencari keberadaan cucunya yang saat ini sedang berada di pos satpam di sekolahan tersebut.
"Delvin...."
Delvin yang tadinya duduk menunduk kini mendongak. "Oma..."
Aleza melangkah sampai di depan Delvin kemudian mengangkat tubuhnya. "Ayo kita pulang sekarang."
"Mommy mana oma?" tanya Delvin.
"Mommy di rumah." jawab Aleza sekenanya.
"Kok tidak jemput Delvin? Tadi pagi bilang kalau Delvin harus nunggu mommy pulangnya."
"Mommy sedang tidak enak badan." jawab Aleza sekenanya lagi.
"Ayo pulang sekarang oma..!" rengek Delvin, bocah itu ingin melihat kondisi ibunya.
"Iyaa..." sebelum melangkah, Aleza menyempatkan diri untuk berterima kasih pada gurunya Delvin yang telah menjaga Delvin selama dirinya belum sampai dan sekalian pamit.
Setelah itu Aleza dan Delvin memasuki taxi yang masih menunggu di depan gerbang.
*
π΄π΄π΄
*
Setelah menerima kabar bahwa istrinya menghilang, Devan langsung menyuruh Leo memasuki ruang kerjanya.
"Selamat siang tuan." sapa ramah Leo yang baru saja memasuki ruang kerja atasannya.
"Cari tahu keberadaan mobil itu, plat nomornya sudah aku kirim ke handphone kamu."
Beberapa menit kemudian Leo sudah memasuki ruangan atasannya lagi. "Mobilnya sudah terdeteksi tuan." ujarnya.
Devan beranjak dari kursinya kemudian melangkah sampai di depan Leo. "Dimana?" tanyanya tidak sabaran.
"Di depan hotel yang tidak jauh dari rumah anda."
Tanpa menanti kelanjutan informasi yang di berikan Leo, Devan langsung meninggalkan kantornya dan langsung menuju hotel yang di maksud Leo.
Benar saja, Mini Cooper milik istrinya terparkir di pinggir jalan depan hotel tersebut.
Devan bergegas turun dari mobilnya, ia langsung ke pos satpam untuk menanyakan kamera cctv yang terletak tidak jauh dari posisi mobil sang istri.
Satpam tersebut membawa Devan ke ruangan Manager hotel, untuk meminta rekaman cctv yang di inginkan Devan.
Dan Managernya pun mengiyakan permintaan Devan, ia bersedia membantu Devan dalam mencari keberadaan istrinya.
Jemari sang Manager bergerak di atas keyboard laptopnya, ia sedang memutar waktu yang di sebut Devan.
"Itu pak." kata Devan saat ia menemukan rekaman cctv yang tepat.
Jemari sang Manager berhenti bergerak dan membiarkan Devan memperhatikan secara seksama kejadian yang telah terjadi di depan hotelnya.
"Kenapa tidak lapor langsung ke pihak yang berwajib pak?" tanya sang Manager hotel.
"Saya mau mencari tahu dulu dimana keberadaan istri saya pak, takutnya kalau langsung menghubungi pihak yang berwajib akan mengancam keselamatan istri saya." jawab Devan kemudian ia membulatkan matanya saat melihat istrinya di bekap dari belakang. Devan mengeraskan rahangnya serta mengepalkan tangannya kuat.
"Tolong di zoom nomor plat mobil hitam itu pak." pinta Devan.
Sang Manager langsung menuruti kemauan Devan.
"Boleh saya minta duplikat rekaman cctv ini pak?"
"Tentu." jawab sang Manager, biar bagaimanapun ia ingin kasus ini cepat terselesaikan karena ini menyangkut hotel yang di kelolanya.
Setelah mendapatkan apa yang di butuhkan, Devan keluar dari hotel tersebut, ia memasuki mobilnya namun belum menjalankannya. Devan mengeluarkan handphonenya ia mencari kontak Leo kemudian menekan icon hijau.
"Hallo tuan..." jawab Leo dari seberang telepon.
"Cari tau siapa pemilik plat nomor yang sudah aku kirimkan barusan!"
"Baik tuan."
Devan memutuskan panggilannya dan menunggu beberapa saat setelah itu handphonenya bergetar tanda ada pesan yang masuk, tentu itu dari Leo yang memberitahukan siapa pemilik plat nomor itu. Tak hanya itu, Leo juga memberitahu dimana alamat sang pemilik nomor plat tersebut. Leo memang selalu bisa di andalkan.
Devan memukul roda kemudinya saat mengetahui siapa yang menculik istrinya. "Awas lo Jer!!!" geramnya sembari menggeretakkan giginya.
Devan menyalakan mesin mobilnya, ia akan mendatangi rumah Aisyah, kemungkinan Aisyah atau suaminya mengetahui dimana keberadaan Jericho saat ini, tidak mungkin saat ini Jericho berada di alamat yang di kirimkan Leo.
Devan memang memiliki kekurangan, ia suka bermain-main dengan wanita.
Namun ia juga memiliki kelebihan, otak yang cerdas, otaknya bisa bekerja dengan cepat dalam menangani setiap masalah.
Tidak sulit baginya dalam mencari siapa di balik semua itu.
*
*
Segampang itu Dev??? Kayaknya enggak deh. π€£π€£π€£