
*
*
Devan telah mengirim salah satu anak buahnya untuk mengantar persyaratan nikahnya ke Jogja. Sekarang tinggal menunggu hari itu tiba.
Hari-hari yang terasa begitu lama bagi Devan saat ini, satu atau dua hari sekali biasanya Devan akan mengunjungi anaknya tapi saat ini Devan hanya bisa berinteraksi dengan anaknya lewat video call.
Devan menaruh handphonenya di atas nakas, dia baru saja selesai video call dengan bocah gembulnya.
Drtttt... drtttt...
Handphone Devan kembali bergetar tanda ada pesan masuk, tangan Devan terulur untuk meraih handphonenya lagi lalu membuka pesan yang masuk tersebut.
Alvin : Gue nggak usah pulang di pernikahan lo ya?
Me : Gue nggak mau tau pokoknya lo harus dateng!!!!!
Alvin : Masa lo tega sih? Gue belum ada satu bulan disini udah lo suruh pulang.
Me : Nggak usah pulang dulu langsung ke Jogja aja! Gue kirim alamatnya. Tenang aja Leo bisa di andalkan, selama lo tinggal pulang semua pasti baik-baik aja.
Alvin : Iya ya gue dateng.
Me : Thanks.
Devan mematikan layar handphonenya lalu meletakkannya lagi di tempat semula kemudian menatap langit-langit menunggu rasa kantuk menyerang.
*
*
π΄π΄π΄
*
"Dah Daddy..." kata terakhir Delvin pada Devan lewat video call, lalu Delisha mematikan layar handphonenya kemudian menaruhnya di atas meja.
"Kok panggilnya Daddy mbak? Bukannya Delvin manggil mbak Delisha Bunda."
Pertanyaan dari Lestari membuat Delisha terkekeh. "Devan tidak mau di panggil Ayah, nggak keren katanya." jawab Delisha.
"Oh." Lestari hanya mengangguk samar.
Mereka saat ini sedang berada di kamar Lestari, karena memang di rumah Bambang hanya ada dua kamar saja, jadi Delisha dan Delvin tidur di kamar dengan Lestari, untungnya ranjang Lestari ukuran king size jadi muat untuk mereka bertiga.
Tangan Delvin mulai memainkan rambut Bundanya, tanda bocah gembul itu sudah terserang kantuk lalu Delisha menepuk-nepuk pelan bokong bocah itu supaya cepat masuk ke alam mimpi.
"Kamu belum punya pacar Tari?" tanya Delisha pelan membuat Lestari menoleh ke arah Delisha lalu menggeleng.
"Belum ada yang cocok?" tanya Delisha lagi.
Lestari membuang napas berat. "Dari mana mau punya pacar mbak, Bapak tidak mengijinkan Tari pacaran."
Delisha menaikkan satu alisnya. "Dosa?"
Lestari mengangguk membenarkan tebakan dari Delisha. "Padahal aku ini sudah sering di katakan perawan tua disini." keluh Lestari.
Delisha masih terus menepuk bokong anaknya. "Tua dari mana umur kamu masih dua puluh enam tahun."
"Tapi kalau disini sudah di katakan perawan tua mbak."
Lestari meletakkan handphonenya lalu membaringkan tubuhnya. "Iya mbak, aku percaya jodoh akan datang tepat waktunya. Eh mbak kok panggilnya Devan aja nggak mas gitu? Atau abang? Atau yang lainnya, bukankah umur kalian terpaut cukup jauh?" tanya Lestari, karena Lestari memang ketinggalan banyak hal tentang Delisha karena mereka tidak bertemu bertahun-tahun.
Pertanyaan dari Lestari lagi-lagi membuat Delisha terkekeh, dia teringat ucapan Devan waktu itu. "Devan tidak mau aku panggil mas."
Lestari mengernyit. "Ada ya seorang pria tidak mau di panggil mas?"
"Ada, Devan buktinya." jawab Delisha sambil terkikik.
"Emang umur calon suami mbak Delisha berapa sih?" tanya Lestari. Ternyata tingkat kekepoan Lestari cukup tinggi.
"Tiga puluh empat tahun." jawab Delisha.
Lestari terbelalak kaget. "Masa sih mbak? Kirain masih sekitar umur tiga puluh tahun."
Delisha menarik selimut hingga pinggang. "Sudah ah, aku sudah ngantuk Tari."
Lestari pun melakukan hal yang sama dia menarik selimut lalu mulai memejamkan matanya.
*
*
π΄π΄π΄
*
Ezra tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya selama hampir satu minggu.
"Semua Sudah selesai Pih?"
Ezra menoleh lalu mengangguk. "Sudah, cucu kita pasti suka Mih."
"Pastinya." jawab Aleza.
Ezra merangkul pundak istrinya. "Yang mau di bawa ke Jogja juga sudah beres kan Mih?"
"Sudah dong." jawab Aleza sembari menuruni tangga bersama suaminya.
"Kita kesananya nanti sore aja Mih, jadi besok pagi kita sudah stay disana." ujar Ezra dan di setujui oleh Aleza.
"Pih, Mih."
Suara Devan menghentikan langkah Aleza dan Ezra lalu kompak menoleh ke belakang.
Devan menuruni tangga dengan cepat menyusul kedua orang tuanya yang sudah setengah jalan. "Mami sudah boking hotel kan buat kita semua?" tanya Devan pada Maminya setelah dia sampai di belakang Maminya.
"Sudah." jawab Aleza, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Sudah siap semua kan Dev?" tanya Ezra sembari mengikuti langkah istrinya.
"Sudah Pih, nanti sore tinggal berangkat." jawab Devan.
*
*
Ini kapan nikahnya sih? Authornya ngulur-ulur waktu terus??
Sabarrr, orang sabar mulutnya lebar. π€£π€£π€£ βοΈβοΈβοΈ