
*
*
π΄π΄π΄
Alvin mendekati Delisha yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. "Selamat Sha, si baby lahir dengan selamat tidak kekurangan suatu apapun, kamu telah resmi menjadi seorang ibu sekarang."
Aleza juga masuk beserta baby Delisha dalam gendongannya. "Duh, lucunya tante jadi pengen cepat-cepat punya cucu nih"
Delisha tersenyum lemah, dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Alvin dan Aleza yang bersedia menemaninya selama persalinan.
Alvin mengusap lengan Delisha. "Kok diem?"
Delisha kembali tersenyum. "Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi Dok, aku sangat-sangat bersyukur dengan kehadiran bayiku ini."
"Dia adalah Amanah dari Tuhan yang di titipkan kepada kamu, jaga dia dengan baik." Ujar Alvin sembari membaringkan si baby di samping Delisha.
"Kalian manis sekali, sudah seperti pasangan suami istri aja."
Suara Aleza mengagetkan keduanya dan kini mereka menoleh ke arah Aleza.
"Mau di kasih nama siapa si ganteng Sha?" Tanya Aleza.
Delisha menatap Aleza dan Alvin bergantian lalu menggeleng, Delisha memang belum menyiapkan nama untuk anaknya.
"Boleh aku yang kasih nama?" Tanya Alvin hati-hati.
Delisha mengangguk.
"Aku kasih nama 'Delvino' kamu setuju tidak?"
Tanya Alvin lagi.
Delisha dan Aleza kompak menatap Alvin, membuat Alvin salah tingkah. "Eh, emm, tidak bagus ya?"
"Bagus kok."Jawab Delisha.
"Sekarang tante yang ngasih nama belakangnya boleh tidak?" Aleza juga iri, Alvin aja boleh kasih nama si baby dirinya juga mau sekali-kali kasih nama buat bayi, dulu Devan yang ngasih nama adalah suaminya.
"Silahkan tante." Ujar Delisha, Delisha malah bahagia jika babynya banyak yang menyayanginya.
"Tante kasih tambahan 'Casanova' ya? jadi nama lengkap si baby 'Delvino Casanova'. Cocok kan?" Ujar Aleza antusias.
"Cocok sekali tante." Jawab Delisha.
"Kamu tau nggak kepanjangan nama Delvino?" Bisik Alvin di telinga Delisha.
Delisha menggeleng.
"Delisha dan Alvino." Bisik Alvin lagi sambil terkikik.
Delisha melotot tajam pada Alvin, yang benar saja masa nama anaknya perpaduan dari namanya sendiri dan nama Alvin, mereka kan tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas teman.
"Vin, Sha, tante pulang dulu sudah larut malam takutnya suami tante khawatir."
Aleza mendekati ranjang dan menciumi Delvin dengan gemas.
"Terima kasih banyak tante."
"Sama-sama, kamu cepat pulih ya, biar segera pulang dan menimang Delvin di rumah." Ujar Aleza.
"Alvin anterin tante, tadi pagi kan Alvin yang ajak tante."
"Tidak usah, kamu temenin Delisha aja disini, tante sudah di jemput supir."
"Ya udah, Hati-hati tante." Ujar Alvin pasrah.
Aleza keluar dari ruang rawat Delisha dan pulang kerumahnya, ini sudah larut malam suaminya pasti akan ngomel-ngomel.
*
*
π΄π΄π΄
*
Delvin sangat lengket dengan Alvin bahkan dia memanggil Alvin dengan sebutan Ayah.
Kemanapun Alvin pergi dia selalu mengajak Delvin, kecuali kerja dan pulang ke rumahnya.
Saat ini Alvin dan Delisha memang berstatus pacaran, sejak setahun yang lalu.
Alvin sudah sering mengajak Delisha ke jenjang lebih lanjut namun Delisha selalu menolak dengan alasan belum siap menjalin hubungan yang lebih serius.
Delvin juga dekat dengan Aleza karena Aleza sering datang ke rumah Delisha hanya untuk bermain dengan Delvin si bocah ganteng yang selalu bisa membuatnya tertawa dengan tingkah lucunya, membuat hari-hari Aleza penuh warna dan tidak kesepian seperti dulu.
*
π΄π΄π΄
*
Tepat hari ini rencananya Devan akan pulang ke rumahnya, sudah tiga tahun lebih dirinya tidak pulang, dirinya juga sudah sangat merindukan kedua orang tuanya.
Devan sampai di rumah sore hari sepanjang perjalanan dari Bandara sampai rumah Devan menggerutu karena tidak ada yang menjemputnya, Papinya masih meeting, Alvin yang katanya akan menjemput namun batal karena ada pasien mendadak.
"Mih...." Teriak Devan setelah memasuki rumahnya.
Aleza yang tadinya sedang di kamar kini keluar dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa, dia juga sudah sangat merindukan putranya.
Devan merentangkan kedua tangannya menyambut Maminya. Aleza berhambur ke pelukan anaknya dan memeluknya erat.
Devan juga membalas pelukan Maminya tak kalah erat. "Mami apa kabar? Sehat?"
Aleza mengangguk dalam pelukan anaknya.
Setelah beberapa saat memeluk Maminya, Devan melonggarkan pelukannya. "Mih, Devan mau mandi dulu, badan Devan sudah lengket."
Aleza melepas pelukannya dan membiarkan Devan membersihkan diri terlebih dahulu.
Devan ke kamarnya untuk mandi dan Aleza menyiapkan makanan, serta brownies buatannya, karena Alvin sebentar lagi juga mau kesini menyambut kepulangan Devan.
Aleza sedang sibuk di dapur, namun dia menghentikan kegiatannya saat mendengar bell rumahnya berbunyi. "Bi.. Tolong buka pintu!" Titahnya pada pembantu rumahnya.
"Omaa...."
Aleza baru saja melanjutkan kegiatannya namun lagi-lagi terhenti saat mendengar suara anak kecil memanggilnya dirinya. "Hai Delvin, kok kamu bisa sampai di rumah Oma?"
Delvin hanya menoleh ke arah Alvin dan Aleza sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi.
Aleza mengangkat tubuh gembul Delvin dan membawanya ke ruang makan. "Delvin mau kue?" Tanya Aleza sembari menyodorkan browniesnya yang baru saja selesai ia potong-potong.
"Mau." Jawab Delvin antusias.
Alvin duduk kemudian mencondongkan tubuhnya di dekat Delvin. "Ayah juga mau Vin."
Aleza menggeser piring berisi potongan kue pada Alvin. "Tuh di makan! Tante panggilkan Devan dulu."
"Siap tante." Ujar Alvin sembari meraih piring tersebut.
Aleza ke atas, beberapa menit kemudian Devan sudah turun dan menyusul Alvin di ruang makan. "Vin." panggilnya.
Kedua pria beda generasi itu kompak menoleh ke arah Devan karena nama panggilan mereka sama-sama 'Vin'
'Deg' Devan membeku di tempatnya. "Siapa anak itu? Kenapa wajahnya mirip sekali denganku." Batin Devan.
*
*
Hai-hai semua, Author cuma mau bilang selalu support Author yaππ makasih buat semua yang udah baca cerita iniπ makasih juga buat semua yang udah vote, like dan komentarnya ππ