Because Baby

Because Baby
Part 29



*


*


Dengan berat hati Devan melepas pelukannya pada Delimanya lalu mundur memberi tempat untuk Alvin bergantian memeluk Delisha.


Alvin memeluk erat tubuh Delisha. Delisha hanya diam di pelukan Alvin namun tatapan matanya tertuju pada mata Devan, tatapan yang saling bertemu namun tidak bisa berbuat apa-apa. parlahan air mata Delisha mengalir.


Alvin melepas pelukannya lalu menghapus air mata di pipi Delisha. "Kamu baik-baik saja kan Sha? Mana yang sakit?" tanya Alvin sembari memeriksa wajah dan badan delisha.


Devan hanya diam mematung melihat interaksi keduanya.


Pandangan Alvin tertuju pada pipi Delisha yang memerah bekas tamparan tadi, lalu menyentuhnya pelan. "Pipi kamu merah Sha, sekarang kita pulang aku obati pipi kamu di rumah."


"Delvin?" Delisha teringat dengan Delvin. "Kita pulang sekarang. Kasian Delvin dirumah sendirian."


"Delvin di rumah sama Mami." sahut Devan.


Delisha menarik lengan Alvin. "Kalau gitu kita kesana sekarang. Ayo Vin, cepat!"


"Kalian pulang duluan, gue mau ngurus mereka bertiga dan pihak kepolisian." ujar Devan dan di angguki Delisha dan Alvin.


Alvin dan Delisha berjalan menuju mobil. "Ayo masuk." titah Alvin pada Delisha setelah membuka pintu mobil.


Delisha masuk lalu Alvin menutup pintu mobilnya, kemudian Alvin melanjutkan langkahnya dan ikut memasuki mobil.


Sebelum Alvin melajukan mobilnya dia mencondongkan tubuhnya untuk memeriksa pipi Delisha lagi. "Ini pasti masih terasa panas?"


"Tidak apa-apa, ayo nyusul Delvin sekarang!"


Alvin mengelus pipi Delisha lalu membuang napas kasar. "Kenapa bisa seperti ini sih." ujar Alvin penuh penyesalan.


Delisha melepas tangan Alvin yang berada di pipinya. "Kita kapan berangkatnya? Aku sudah tidak sabar mau bertemu Delvin."


Alvin menegakkan tubuhnya lalu menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah Devan.


Delisha menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan Delvin dan memikirkan nasibnya yang akan di jual lagi.


"Kenapa Devan lebih tau tentang hilangnya kamu Sha?" tanya Alvin sembari tetap fokus menyetir.


Delisha membuka mata serta menegakkan tubuhnya. "Karena aku tidak berani mengganggu kebersamaanmu dan Papamu, sebenarnya aku sudah telepon kamu tapi aku mengurungkannya lalu aku telepon Devan untuk meminta bantuan tapi sayangnya handphone aku lowbat sebelum aku mengatakan kalau aku butuh bantuan."


Alvin menoleh. "Seharusnya kamu tetap telepon aku Sha. Ini sangat berbahaya, kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."


Delisha menoleh menatap Alvin. "Maafin aku Vin."


Tangan kiri Alvin terangkat untuk mengusap pipi Delisha lagi. "Istirahatlah, badan kamu pasti letih kan. Lain kali kita bahas lagi."


Delisha menyandarkan kepalanya lagi serta memejamkan matanya.


Alvin kembali fokus menyetir hanya sesekali dia menoleh ke samping untuk menatap wajah Delisha.


Alvin mematikan mesin mobilnya setelah sampai di rumah Devan, lalu menepuk-nepuk pelan pipi Delisha. "Sha bangun! Kita sudah sampai."


Delisha membuka mata perlahan lalu menegakkan tubuhnya. "Kita sudah sampai?"


Alvin mengangguk.


Delisha mengedarkan pandangannya di sekelilingnya, matanya membulat sempurna saat melihat rumah Devan. Bangunan yang megah dan mewah, beberapa mobil berjejer rapih di garasi.


Selama ini Delisha memang tidak pernah tau rumah Devan karena dirinya selalu menolak jika di ajak kesini bersama Delvin.


"Turun Sha!"


Suara Alvin membuyarkan rasa takjubnya. Lalu Delisha turun dari mobil Alvin dan mereka berjalan beriringan menuju pintu utama.


'Ting Tong'


"Tante Leza dimana bi?" tanya Alvin sembari berjalan memasuki rumah Devan.


"Di atas Den, dikamar bermain." jawab bi Sumi.


"Terima kasih bi." ujar Alvin, lalu Alvin menarik lengan Delisha agar mengikuti langkahnya menaiki tangga menuju kamar bermain.


Delisha tersenyum pada bi Sumi sebelum mengikuti langkah Alvin.


Alvin dan Delisha sudah sampai di depan pintu ber cat putih, perlahan Alvin membuka pintu tersebut 'ceklek' Aleza menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya agar Alvin dan Delisha tidak bersuara karena Delvin baru saja tidur.


Aleza beranjak lalu berjalan menuju pintu untuk memeluk Delisha yang sedang berdiri di ambang pintu. "Delisha, syukurlah kamu selamat."


Delisha membalas pelukan Aleza. "Iya Tante. Terima kasih Tante telah menjaga Delvin."


Aleza terkekeh. "Kamu ini ngomong apa Sha, memang sudah seharusnya kan Tante menjaga cu--" Aleza baru ingat kalau ada Alvin di sebelah Delisha. "Emm, maksudnya Delvin sudah Tante anggap seperti cucu Tante sendiri."


Delisha melepas pelukan Aleza. "Boleh Delisha masuk Tante?"


Aleza menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Delisha. "Tentu boleh, tapi jangan di ganggu dulu! Delvin baru saja bobo."


"Iya Tante." jawab Delisha, lalu Delisha melangkah menuju karpet berbulu tebal dimana Delvin sedang tertidur di atas karpet itu beserta banyak mainan di sisinya.


Delisha mengecup pipi gembul Delvin berulang-ulang, Delvin hanya menggeliat kecil ternyata dia sudah tertidur pulas.


"Sha, aku pergi sebentar, nanti aku balik lagi." bisik Alvin.


Delisha mengangguk, Alvin keluar dari kamar tersebut dan di ikuti Aleza di belakangnya.


Setelah kepergian Alvin dan Aleza, Delisha ikut berbaring di sebelah Delvin, matanya juga masih berat lalu perlahan mata Delisha juga ikut terpejam.


"Devan dimana Vin?" tanya Aleza sembari berjalan menuruni tangga bersama Alvin.


"Masih mengurus di kepolisian Tante, mungkin sebentar lagi pulang." jawab Alvin.


"Terus kamu mau kemana?" tanya Aleza lagi.


"Biasa Tante, ada pasien yang harus di operasi secepatnya, tapi aku tidak lama kok Tante habis operasi aku langsung kesini lagi."


Aleza mengusap bahu Alvin. "Ya sudah, hati-hati."


"Terima kasih Tante." ujar Alvin lalu membuka pintu dan keluar dari rumah Devan.


Aleza bejalan menuju dapur untuk membantu bi Sumi memasak dan membiarkan Delisha beristirahat sejenak bersama Delvin di atas.


"Mih." teriak Devan, sudah menjadi kebiasaan Devan kalau masuk rumah selalu berteriak mencari Maminya. Seharusnya mengucapkan salam.


Aleza langsung melotot tajam dari dapur lalu berjalan cepat mendekati Devan. "Bisa nggak sih kalau masuk rumah itu nggak usah teriak-teriak!"


"Maaf Mih, biasanya juga gitu kan?"


"Tapi kali ini beda! Di atas ada Delisha dan Delvin sedang tid--."


Kalimat Aleza terpotong karena Devan sudah meninggalkan dirinya, Aleza geleng-geleng melihat kelakuan anaknya.


Devan menaiki tangga dengan cepat lalu membuka pintu kamar masa kecilnya, rasa hangat mengalir di aliran darahnya saat melihat Delisha dan Delvin sedang tidur meringkuk di atas karpet bulu.


Perlahan Devan masuk serta mengunci pintu lalu menyusul kedua orang yang di sayanginya yang sedang tertidur.


*


*


Devan mau ngapain coba?? πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ