Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 8




 


Happy reading


.


.


.


“Nah, Friday...”


“Iya, tuan muda.”


Disela-sela kesibukan Valerin dengan kaki prostetik itu, dia masih penasaran dengan pelayan prianya ini. Perkara tak tahu menahu tentang dunia yang ditinggalinya, Friday malah jauh lebih misterius “Gigimu itu, apakah kau vampir?”Valerin berucap namun kedua tangannya sibuk memperbaiki baut-baut dari kaki prostetik itu, kedua iris mata violetnya pun tak memperhatikan gelagat Friday.


Pria muda dengan surai keemasan dan iris raven blue itu, hanya berdiri dipojok ruangan. Jikalau Valerin memanggilnya untuk bantuan, dia sigap membantu “Ini? Yah, begitulah tuan muda. Vampir memang ada didunia ini, penyihir bahkan iblis pun ada.”


Valerin, tak terkejut atau karena sudah terlalu pasrah saja “Oh begitu, apakah mereka hidup diwilayah yang sama dengan kita sekarang?”Valerin membuka beberapa baut kaki prostetik itu, dia duduk diatas kursi akasia. Diatas meja sudah berserakan buku-buku yang terbuka, tampak lepas dibaca olehnya.


“Tidak tuan muda, disini Hortensia Yard merupakan salah satu wilayah dari Dust Bones kerajaan para manusia.”


“Kalau salib dan bawang, apakah kalian takut?”


Friday mengeryit, dia menahan kekehan tawanya. Sungguh tuan mudanya sangat lucu “Itu hanya kesengajaan rumor yang disebar para manusia untuk citra kami para vampir, cerita seperti itu hanya dongeng di ribuan tahun lalu.”Ujar Friday menatap Valerin, melihat raut wajah manis yang serius, pipi gempal yang bersemu alami, dan leher jenjang yang putih. Bahkan Friday bisa melihat aliran darah dari nadi karotisnya. Menggiurkan.


“Friday, memangnya kita ada ditahun berapa?”


“Pada tahun penanggalan Celestial tahun 3033, tuan muda.”


“3033... katanya?!”Valerin membulatkan kedua matanya “Kau tidak bercanda bukan Friday?”Valerin sampai lupa dengan kondisinya, dia sampai berdiri dengan tak seimbang.


Brukhh—Tubuhnya ditangkap dengan mudah, kedua tangan dengan sarung tangan putih itu tampak pada lipatan siku dan punggungnya “Oh tuan muda, berhati-hatilah. Anda begitu ceroboh.”Friday mengerutkan kedua alis tebalnya.


Valerin merasa deru nafasnya memburu, kepalanya pusing dihadapkan kenyataan lain lagi. Nyatanya ia berada melompat jauh ke tahun-tahun dimasa depan. Memang masa ini terjadi atau cuman mimpinya, Valerin tak tahu.


“Awww! Aduh.”Valerin mencubit lengannya sendiri.


Sontak, Friday berseru dengan heran “Kenapa tuan muda?”Ujarnya panik. Tuan muda didalam gendongannya ini malah bersikap aneh.


“Aku tak bermimpi? Berarti aku benar-benar ada di tahun 3033. Apa yang terjadi? Kemana teknologi dan masa dijaman itu? Handphone, televisi, gedung modern dan semuanya. Kenapa malah seperti kembali diabad eropa pertengahan. Tunggu—“Valerin menatap Friday dengan frustasi.


Friday menatap sendu, dia tak tahan melihatnya “Tuan muda, memang benar. Menurut dokumentasi milik Dust Bones, semua kehidupan itu sudah berlalu-lalu lama karena perang, wabah dan konflik.”Friday meraih kedua tangan Valerin. Amat paham dengan kebingungannya, tampak dari paras manis yang memasang raut frustasi itu.


“J-jadi kembali ke awal?”


Kedua tangan Valerin diusap-usap pelan oleh Friday “Tenanglah tuan muda, hal itu sudah cerita menjadi bagian lama dunia ini tuan muda, sangat lama... sampai bagi sebagian orang dimasa ini menganggap hanya dongeng kuno. Teknologi yang anda sebutkan hampir dikatakan mustahil. Tapi kedua tangan anda, dan jika itu masih diri anda Earl Grayii tidak ada yang mustahil.”


“Aku?”


Friday tersenyum, digenggamnya kedua tangan kecil itu tanpa ragu “Benar, tuan muda. Ini sudah jam makan siang”


Bisa-bisanya Valerin tersipu malu. Dia sampai harus membuang muka, jelas jika dibiarkan lebih lanjut kondisi degupan jantung Valerin makin tak karuan “A-apa bisa makan siang disini saja? Aku tak mau merepotkanmu untuk menggendongku.”


“Baik, Tuan muda.”


.


.


.


Valerin membuka mantel jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan dasi pita yang manis. Valerin duduk sendiri diruangan besar ini, dia memperhatikan seluruh rak buku yang nyaris menjadi bagian dari dinding. Meja kerja yang besar terbuat dari kayu akasia, sepasang sofa panjang ada disana. Jendela besar menghadap kebun bunga hortensia ungu.


Sepasang mata violet Valerin mengarah pandangan pada bingkai foto kecil diatas meja “Ah, kenapa aku baru sadar ada foto ini?”Valerin melihat, bingkai foto sang kakak saat masih kecil dengan kedua orang tuanya ditambah seorang bayi kecil yang digendong sang ibu. Bedanya foto hitam putih tak berwarna ini, menampaki mereka yang berpakaian seperti bangsawan era eropa kuno.


“Ini cukup menyakinkan semuanya, bisa dianggap jika ayah dan ibu memang pernah ada dimasa ini. Kenapa, kalian tak mengatakannya?”


“Tuan muda, makan siang terlebih dahulu.”Ucap Friday yang tiba dengan trolly makanan. Mungkin dalam beberapa menit, seluruh makan siang dihidangkan diatas meja yang ada didepan sofa panjang itu.


“Wuah~”Valerin menatap takjub, hidangan makanan mewah yang jarang dimakannya sudah tersaji dengan begitu menggiurkan. Valerin sampai lupa akan kondisi kakinya, dia beranjak dari bangku meja kerja dengan gopoh.


Brukh—Tubuhnya jatuh, menghantam lantai keramik dengan tak elit “Aduh...duh, bodoh sekali aku ini.”Ucap Valerin meruntuki diri sekaligus meringis kesakitan memengang bokongnya.


“Tuan muda!”Friday menghampiri tuannya. Dia membantu Valerin untuk duduk disofa panjang dengan cara menggendong Valerin.


“Berhati-hatilah tuan muda.”


Valerin mengangguk “Memang benar, kondisi seperti ini menyulitkanku.”Ujar Valerin namun sambil semangkuk sup dengan tak sabaran, hobi baru Valerin yang ia dapatkan disini yaitu penyuka makanan.


Friday menggeleng, tak habis fikir dengan tuan mudanya “Tuan muda... Tuan muda...”Katanya sambil memasangkan serbet putih pada kerah kemeja Valerin, agar makanan tak menodai pakaian tuan mudanya.


Pintu ruang kerjanya diketuk, Panacea Eerie sang maid muda berdiri diambang pintu dengan membuka sedikit pintunya “Tuan muda, anda kedatangan tamu.”Bisik Panacea dengan pelan.


“Hai! Hai! Va-le-rin!”Seru seorang pemuda menerobos masuk kedalam ruang kerja Valerin Grayii, bahkan tak perduli harus menggeser Panacea dengan sembrono.


“Ah! Tunggu Yang Mulia! Yang Mulia...”


“Ish kau ini Leon, memangnya kenapa? Aku kan hanya mau bertemu Valerin!”


“Maafkan tingkah laku Yang Mulia Alexander, Earl Grayi... Sifatnya seperti yang anda tahu memang tak dewasa.”


Valerin, melongo. Sesendok sup yang akan disuapnya, nyaris tumpah. Jika tidak berkat Friday yang langsung mengambil sendok itu.


“Eh?!”Valerin memandang heran dua pria muda ini. Satu seorang pria bersurai hitam dengan pakaian mewah, dan satu lagi seorang pelayannya. Tampak dari pakaian butler yang ia kenakan.


Friday lekas mendekati Valerin, dia berbisik pelan pada cuping telinga Valerin “Yang Mulia, pangeran kedua kerajaan Dustbones Alexander Caleum. Kedekatan anda hanya sebelah tangan, Yang Mulia Alexander memang selalu berusaha akrab dengan anda tuan muda.”Friday tersenyum sambil menengakkan badannya lagi.


“Ah kau membantu Friday.”Batin Valerin bergumam, tak mungkin ia berkata ‘siapa kau?’ atau ‘aku tak mengenalmu’ kepada orang yang dihormati dikerajaan ini.


“Uhm... Selamat siang.”Sapa Valerin dengan manis.


Alexander Caleum menaikkan sebelah alisnya “Kau menyusut lebih kecil Valerin, apakah karena masa pulihmu itu?”Pria itu dengan tak sabarannya duduk disofa panjang, tepat disebelah Valerin Grayii.


“Apa kau juga memanjangkan rambutmu?”


“Ah... itu karena, aku ingin berpenampilan lebih berbeda Yang Mulia.”


“Pfffttt... Ayolah Val! Kita satu akademi dulu, kau jangan sungkan memanggilku Alexander seperti biasa. Oh, maaf... Kudengar kabarmu kecelakaan begitu parah sampai lupa ingatan ya?”


“Yang Mulia Alexander, jangan mendesak Earl Grayii”Interupsi seorang pelayan pria bersurai cokelat terang itu “Maafkan atas sikap Yang Mulia Alexander, Earl Grayii...”Pelayan itu bahkan sedikit membungkuk.


“Ah~ Leon! Jangan begitu...”Rengek pemuda itu.


“Tidak masalah, memang benar kok... Aku kecelakaan dan hilang ingatan. Jadi sedikit lupa denganmu. Alexander? Begitukah aku memanggilmu biasanya?”


“Benar! Kau memanggilku begitu, ah sayang sekali... tapi tidak apa-apa. Semoga lekas pulih ya, oh iya iya”Pria itu sang pangeran kedua berseru dengan riang “Ini kakak menyampaikan sebuah pesan kepadamu, seharusnya pengawal yang memberikan tapi aku ingin bertemu denganmu juga Valerin.”


“Terlalu banyak bicara, pria ini bersikap begitu riang”Valerin mendeham, ia mengambil sepucuk surat itu “Terimakasih Alexander...”


.


.


.