
Happy Reading
.
.
.
“Katakan padaku! Kau tahu semuanya tentang kakakku bukan? Valerin Darly Kinaru...”Ujar gadis bermata violet.
Tuan muda, sebelum itu anda harus membersihkan diri dan berganti pakaian. Harap tuan muda akan menuruti ini.”
“Tapi kau harus janji menceritakannya!”
“Baik tuan muda, tapi ada beberapa hal yang harus ditunda untuk diketahui. Bersabarlah tuan muda, ini demi keamananmu juga...”
Mati dan hidup kembali pada dunia yang tak ia kenali, sebagai sosok sang kakak yang telah tiada. Hidup begitu sebercanda ini, disebuah dunia antah berantah. Valyria Soga Kinaru sudah menjadi Valerin Grayii sang Earl yang berkuasa disebuah wilayah Hortensiaburg. Sampai kapanpun didunia ini, dia akan tetap dikenal dengan Valerin Grayii walaupun seberapa besar usahanya menyangkal hal ini.
“Jadi aku ini adalah Valerin Grayii, begitu ya?”Dia menghela nafas dengan wajah lelahnya.
Dia hanya merasa begitu bingung, namun kini perasaannya sedikit lebih baik. Saat ini ia tengah duduk dipinggiran ranjang kasurnya, sudah mengenakan kemeja hitam dan celana hitam, dibalut rompi cokelat tua dengan kerah leher terpasang dasi pita merah marun. Mengenakan mantel panjang berwarna putih. Alih-alih menjadi wanita bergaun cantik, Valerin berpakaian seperti pria muda dengan paras cantiknya.
“Pa-pakaian ini?! Tenanglah... jika aku terus panik semua masalah ini tak akan bisa kuselesaikan.”Valerin mengguman dalam hati, dia tetap diam saat maid muda itu memasangkan sebuah pin dengan batu ametis pada pita merah marun yang ada dilehernya. Senada dengan warna kedua matanya.
“Siapa namamu?”Ujar Valerin, ketika maid itu mulai membenahi surai hitam panjang miliknya.
“Panacea Eerie, tuan muda.”
“Obat kesembuhan yang menyeramkan. Maaf jika aku salah menafsirkannya.”
Maid itu tersenyum lebar, dia menyisir surai hitam panjang Valerin dengan lembut kemudian mengikatnya ekor kuda dengan pita berwarna merah marun “Tidak tuan muda, memang itulah artinya. Takdir memang menciptakan nama itu untukku Tuan muda. Anda sendiri yang memberikan nama ini...”Ujar maid muda itu, dia pun selesai membenahi surai hitam panjang Valerin.
Valerin menghela nafas “Katamu akan mengatakannya bukan? Soal Valerin Grayii ini?”Valerin menatap maid yang mengemasi ranjang kasurnya itu.
“Anda itu, seorang Earl di wilayah Hortensiaburg selain itu anda seorang dokter yang menangani wabah Obscure dibawah perintah kerajaan Dust Bones...”
Valerin langsung menyahut “Terus terang saja, penjelasanmu sama sekali tak menjawab pertanyaanku.”
Seseorang menginterupsi perbincangan, sosok tampan berpakaian selayaknya butler “Tuan muda Valerin, mungkin bisa mendatangi perpustakaan kediaman ini. Disana berbagai arsip dan jurnal-jurnal yang tuan muda kerjakan ada. Bisa saja mengobati pelupamu itu tuan mudaku yang manis...”Pria muda berpakaian pelayan itu tiba dengan troli makanannya. Disana sudah terhidang set teh dan berbagai cemilan manis.
Valerin menatap pemuda itu dengan jengah “Oh, dia masih saja bersikap pecicilan terhadap wanita.”Valerin membatin. Namun ia hanya diam tanpa merespon, jujur saja dia masih merasa lelah dengan semua kejutan ini.
“Tuan muda, Panacea pamit untuk melakukan pekerjaan di manor ini.”Panacea sang maid muda itu turut menunduk sopan kepada Valerin. Dia meninggalkan kamar ini walau sempat menatap sinis pelayan pria itu.
“Biar kupikir, aku tak tahu namamu...”Valerin berucap sambil menatap taman bunga Hortensia dari jendela yang terbuka itu.
Pria muda itu menuangkan teh hangat kesebuah cangkir, kemudian memberikannya kepada Valerin “Tuan muda, masih muda tapi sudah pelupa ya? Ah~ kita saling berbagi tugas untuk semua misi tuan muda... Betapa sedihnya dilupakan.”Ujarnya bernada dramatis.
“Aku bertanya namamu, bukan menyuruhmu memainkan peran drama. Hm~ aroma tehnya wangi dan rasanya enak...”Valerin tanpa sadar mendeham dengan nikmat, sampai parasnya memerah manis.
Kedua iris mata raven pemuda itu membulat sempurna “Seseorang pernah berkata tehnya ini juga sangat enak dan mengataiku terampil menjadi seorang pelayan, tuan muda Valerin.”Ujar pemuda itu sambil tersenyum manis.
Valerin memperhatikannya. Badan tegap yang atletis, wajah rupawan dan begitu gentleman “Apakah dia tidak terlalu sempurna untuk seukuran seorang pelayan?”Valerin menelisik pria muda itu.
“Kali ini Lemon Meringue Pie mungkin tuan muda Valerin akan menyukainya.”Pria itu memberikan sepiring kecil berukir bunga berisi sepotong pie lemon.
Valerin menyendoki pie itu, memasukkannya kedalam mulutnya “Hm? Ewwwnak swwekali!”Ujar Valerin sambil mengunyah. Kedua iris mata Valerin berbinar, dia ingat kehidupan lalu yang susah akan segalanya. Sesekali makan enak, bahkan sisa roti pun disimpan untuk keesokan harinya tapi kali ini dia memakan makanan yang benar-benar enak. Ia pun memakan pie lemon itu dengan lahap, tak sampai berapa menit satu cetakan pie lemon itu habis dimakannya seorang diri.
“A-ah... Tuan muda, perlahan.”Pelayan muda itu segera mengambil sapu tangan putih dari saku jas hitamnya, dia mengelap sekitar bibir Valerin yang tertinggal banyak remahan pie “Anda bisa tersedak jika makan dengan ceroboh tuan muda.”Ujarnya dengan lembut sambil sedikit berlutut didepan Valerin yang masih duduk dipinggiran ranjang kasur, ditatap sedekat ini oleh sepasang raven blue yang indah. Sorot matanya pun sama melembutnya.
Valerin memalingkan wajahnya, dia tak sanggup menubruk tatapan oleh kedua iris raven blue itu lebih lama “T-terimakasih...”Valerin seharusnya tak begitu, tapi dia malah sudah terlena dengan kehidupan baru ini.
“Tuan muda...”Masih pada posisinya, pemuda rupawan itu menatap Valerin yang sudah memerah itu.
“Kaki anda, maaf semua itu atas kesalahanku yang gagal menjagamu. Tuan muda Valerin.”
Valerin aka Valyria, tentu mengingat kejadian cacatnya kaki kanannya ini, secara kebetulan nyaris mirip dengan tragedi sang kakak. Tapi penuturan pemuda itu menjadi pertimbangan tersendiri untuk Valerin “Aku tak tahu apa yang kau maksud.”
“Namamu... A-aku tak tahu namamu.”
“Eh?!Kenapa aku harus gugup berbicara padanya?”Seru Valerin membatin, kemudian buru-buru mendeham dengan raut yang dibuat serius “Ah Ehem... Kau bisa ceritakan semua yang kau tahu tentang Valerin Grayii ini setelah mengatakan namamu.”Biar bagaimana pun, Valerin harus bersabar untuk mencari tahu ketidakmasukakalan yang menimpa dirinya ini.
Tersenyumlah sang pelayan beriris raven blue itu “Namaku hanya Friday, tuan muda. Kau bisa memanggilku Friday.”Dengan tak sopannya, dia mengarahkan tangan besarnya itu untuk menyentuh ujung rambut Valerin“Tuan muda Valerin... Anda begitu cantik, sangat manis dan indah.”Ujarnya yang bahkan kini tangan kanannya itu menyentuh pipi kiri Valerin Grayii yang ada dihadapannya dengan lembut.
Tatapan itu bercampur gundah ada memuja sekaligus kepedihan disana. Valerin Grayii bisa melihat tatapan itu, sejak awal Valerin pun sudah sadar dengan keanehan perilaku manor kediaman ini. Mereka seolah-olah sengaja menganggap dirinya sebagai tuan muda Valerin Grayii “Friday... Aku tak akan marah karena kau sudah menyentuhku, aku tidak suka dan tak membencinya. Bisakah kau lepaskan tanganmu ini?”Ujarnya membalas tatapan. Ia berusaha untuk tak gegabah, ia pun memilih untuk sedikit lebih bersabar.
“Aku penasaran dengan sesuatu, mereka sengaja menganggapku sebagai Valerin Grayii walaupun tahu itu bukan aku.”Valerin memengangi ujung kaki kanannya yang hanya ada sampai sebagian paha, rasa menyakitkan itu masih bisa diingat dalam benaknya. Valerin tak sadar jika meremat ujung mantel putih panjangnya sendiri.
Pelayan itu menurunkan tangannya kemudian menunduk hormat, meletakkan sebelah tangan kanannya didada kiri “Tuan muda, akan sulit berjalan dengan satu kaki. Anda memiliki kaki prostetik yang sudah anda buat beberapa bulan lalu, apakah anda mau menggunakan temuan menakjubkan yang anda buat tuan mudaku?”Pelayan muda itu, sebut saja Friday. Dia memang menunduk namun gemar memperhatikan gerak gerik tuannya yang kecil dan manis ini, senyuman miringnya tampak dikala sang tuan mulai menggerutkan kedua alisnya dengan wajah seriusnya yang manis.
Sementara Valerin masih bergulat dengan pikirannya “Kak Darly pernah mengatakan kalau dia memang senang mempelajari alat bantu gerak prostetik, tak kusangka sudah sejauh ini...”Ujar Valerin dengan raut wajah yang sangat-sangat murung.
“Apakah tuan muda mengatakan sesuatu?”
“Ah tidak, Friday... Hanya saja bukankah kau merasa kita pernah bertemu disuatu tempat?”Valerin sengaja mengujinya, dia penasaran jika pria beriris raven blue ini juga turut berbohong.
“Tuan muda, Friday ini selalu berada disisi tuan muda. Bagaimana bisa kita tak pernah bertemu?”
“Ugh... hentikan itu.”Valerin cukup tak tahan dengan sifat penggodanya ini, paras rupawannya mendukung. Namun Valerin memilih untuk menyudahi “Yasudah, apa kau tahu diama kaki prosetik itu?”
“Uhm? Apakah tuan muda juga mulai melupakan segalanya? Semua itu ada di ruang kerja, tuan muda.”
Jelas saja Valerin tak tahu, dia belum pernah hidup di dunia ini sebelumnya. Valerin sebelumnya hanya seorang gadis biasa yang hidup serba kesulitan, akhirnya Valerin mengeryit tak suka “Bawa aku kesana!”Ujar Valerin dengan raut kesalnya.
Friday, sang pelayan terkekeh pelan “Baiklah, baiklah. Kalau begitu kita akan kesana.”Ujar pria muda itu sambil menggendong tubuh Valerin dengan ringannya. Punggungnya disanggah oleh lengan kanannya dan lipatan lutut disanggah oleh lengan kiri. Seperti, bridal style. Hanya itu yang cocok menggedong tuannya “Maaf atas ketidaksopanan ini, tuan muda Valerin.”Menatap Valerin dalam gendongannya adalah hal yang menyenangkan, lihat bahkan senyuman pria muda itu tak henti-henti menggembang.
Valerin memalingkan tatapannya, dia tak memberontak dan tak pula menginginkannya “Hentikan menatapku dengan wajah bodohmu itu, Friday!”Malu, tentu saja. Valerin baru pertama kali digendong dengan seseorang, yang bahkan tak pernah dikenalnya itu.
‘Ah... tuan muda memerah dengan manis’Friday menahan rasa gemasnya terhadap tuan muda yang berada dalam gendongannya ini. Dia terus berjalan menghantarkan Valerin Grayii menuju ruang kerjanya. Tubuh kecil Valerin Grayii memang pas dalam gendongannya, atau karena tubuh Friday yang teramat besar?
Berpas-pasan dengan koki di manor ini. Pria paruh baya yang baru keluar dari dapur “Tuan muda Valerin, apakah keadaan anda sudah lebih baik?”Sapa pria tua itu dengan senyuman hangatnya.
“A-ah... iya, mendingan...”Valerin tiba-tiba menatap dengan nanar, pasalnya koki tua itu memiliki senyuman hangat yang mirip seperti Pak Hasan. Tanpa sadar Valerin meremat kemeja hitamnya sendiri, tepat didadanya yang menderu perasaan perih tiba-tiba. Semuanya terlalu cepat terjadi, sedikit banyaknya Valerin masih terkejut dengan kehidupan ini. Dia pun menyembunyikan wajahnya kepada dada bidang Friday. Bahkan seolah tak sadar jika masih berada dalam gendongannya.
Pemandangan itu tak lepas dari tatapan Friday, dia melihat tangan Valerin yang meremat kemeja hitamnya hingga kusut “Tuan Odoflt, tampaknya Friday harus segera menghantarkan tuan muda keruangannya. Selamat kembali berkerja, Tuan Odoflt.”Friday, kembali berjalan dengan Valerin didalam gendongannya. Bahkan dia sudah merasa jika rompi hitam beserta setelan jas hitamnya basah akan tangisan Valerin.
“Tuan muda, anda bisa melepaskan tangisan anda. Tapi jangan menahannya, bibirmu bisa terluka.”Ujar Friday yang menatap Valerin mengigit bibir bawahnya dengan keras. Sampai-sampai memerah dengan ranum.
“Ungh...Hiks...”Isakan Valerin semakin keras “K-kau... hiks... apakah kau tak tahu jika aku bingung berada didunia ini? B-bahkan harus digendong oleh seorang vampir, hiks... K-kenapa aku kembali hiks... hidup dengan dunia yang tak kutahu sama sekali? Bahkan aku tak berada didalam tubuh kakakku... hiks.. aku masih aku... aku masih Valyria.”Semua kegundahan hatinya dicurahkan dengan asal. Kedua mata violetnya sembab, wajahnya merah dan bibirnya bergetar. Valerin menatap Friday dengan wajah seperti itu.
Friday menelan ludahnya sendiri, sebagai vampire dia pun bisa menghirup aroma manis dari Valerin. Ditambah wajah kacau Valerin yang menangis itu begitu indah tak tertandingi oleh wanita manapun yang pernah ditemuinya “Tuan muda, tenanglah...”Sebisa mungkin Friday menahan rasa hausnya menatap Valerin yang masih terisak itu.
Valerin mengangguk, dia merasa begitu cengeng “Hm, aku minta maaf...”Ujar Valerin menyeka air matanya sendiri “Well, menangis tak menyelesaikan masalah.”Katanya lagi.
Hal baru bagi Friday, dia mendengar Valerin meminta maaf bahkan Valerin bertindak tidak terlalu formal terhadapnya”Tuan muda, anda akan saya dudukkan disofa. Apakah tak masalah?”
“Tidak apa-apa, terimakasih Friday.”Valerin menggeleng. Benar apa adanya gadis manis berpakaian seorang pria dan dianggap pria pula, namun memiliki paras cantik dan manis.
Friday mencoba menyembunyikan kedua netra matanya yang sempat membulat akibat terkejut dengan sikap Valerin “T-tuan muda, ka-ki prostetik... Saya akan ambilkan.”Friday sampai harus membalikkan tubuhnya dengan cepat, pria bersurai keemasan itu memengang dahinya sendiri. Poni yang menutupi dahinya menjadi teracak-acak, sejujurnya Friday menjadi gugup akibat keberadaan Valerin.
Valerin yang memperhatikan Friday dari sofanya itu mulai menatap heran, hingga pelayannya itu datang kembali membawakan kaki prostetik buatan dari campuran keramik dan alumunium yang begitu cantik. Valerin membulatkan matanya “Menakjubkan! Bahan kaki ini sangat ringan untuk digunakan tapi ada yang kurang? Saraf! Ini belum sempurna, sensor sarafnya tak ada. Jika saja...”Dia tampak berpikir sejenak. Ingat sebelum ini sosoknya memang jenius dan pintar, bahkan ia lumayan familiar dengan keilmuan ini.
“Maaf Friday, bisa tolong aku untuk bawakan beberapa perkakas? Kurasa hari ini akan menyempurnakannya.”
“Baik, tuan muda...”
.
.
.