
“...Nghh” Ellis membuka kedua matanya dengan berat, dia terbangun dari tidurnya. Tahu-tahu sudah berada di ranjang besar milik sang raja.
Alphonse, mengenakan kemeja putih dengan celana cokelatnya. Dia menatap jendela dengan secangkir kopi panas yang masih mengepul “Ellis, katakan dengan jujur siapa yang kau temui tadi malam.” Tanya sang raja kepada Ellis.
“Y-yang Mulia, maafkan Ellis yang melalaikan tugas serta malah tidur disini.” Ellis menundukkan tatapannya “A-aku bertemu seorang vampire...” Ujar Ellis dengan pelan.
Alphonse meletakkan cangkir kopi panas itu, dia beralih jalan mendekati Ellis. Kemudian duduk ditepian ranjang, melihat Ellis yang setengah duduk di ranjang kasur itu “Ellis, apa kau merasa mengenali pria itu?” Tanya sang raja.
Ellis menggeleng “Tidak Yang Mulia...”
“Ellis, tatap aku saat kita bicara.” Sang raja meraih dagu kecil Ellis dengan tangan kanannya. Dia menatap wajah manis yang tampak sangat takut itu, Ellis yang sungkan dengan rona merah pada wajahnya belum lagi bibir plum yang bergetar itu “Ellis, jangan menggodaku.” Ujar Alphonse sambil mendekati Ellis.
“Uhm...” Ellis memejamkan kedua matanya. Seolah siap untuk dikecup.
Alphonse menyeringai kecil, dia malah menekan ujung bibir plum itu dengan pelan “Kenyal... apakah kau ingin kucoba?”
“Eh?!” Ellis langsung menepis tangan sang Raja “M-mohon ampun Yang Mulia!” Jerit Ellis.
Alphonse tertawa, baginya Ellis sangat lucu dan menggemaskan “Ellis, jika hari ini kau masih merasa sakit. Kau boleh istirahat, terimakasih sudah bekerja dengan baik.”Ucap Alphonse pada puncak kepala Ellis.
“Yang Mulia...” Ellis tidak tahu harus menjawab apa, baginya Alphonse sangat baik dan toleransi. Ellis memang tak sengaja merasakan pusing, tapi bukan halangan Ellis untuk tetap bekerja sebagai ajudan sang raja “Terimakasih sudah mengkhawatirkan orang yang berasal dari kasta rendah ini Yang Mulia, Ellis akan tetap menjaga Yang Mulia...” Ujar Ellis sambil beranjak berdiri. Tak lupa dia merapikan selimut ranjang kasur Alphonse.
“Ellis...” Alphonse meraih pergelangan tangan Ellis, untuk mencegahnya “Biarkan pelayan yang membereskan. Kau bersiap saja...” Perintah Alphonse.
“Baik, Yang Mulia!”
.
.
.
Ellis mengenakan seragam ksatria resmi dari Istana Dust Bones. Mantel putih bersih, rompi dalam putih, dan pin emas berbentuk bunga bakung melekat pada kerah kemeja putihnya. Ellis memasang sarung tangan putih, kemudian mengaitkan ujung sarung pedang pada pinggang rampingnya.
“Selamat pagi tuan Francieli...” Sapa seorang pelayan yang akan memasuki kamar Ellis, benar. Ellis diberi ruangan pribadi di istana. Mulai saat ini, dia akan tinggal disini, untuk memastikan keamanan dan ketertiban sang raja.
“Ah, pagi...”
“Permisi tuan Francieli, aku akan membereskan ruangan ini.” Pelayan wanita itu bersemu kemerahan bahkan tatapannya pun menunduk malu.
Ellis merogoh jam rantai yang ada disaku jas putihnya “Ah, sudah waktunya...” Ellis berucap sendiri sambil setengah berlari.
“A-ah... tampannya...” Kata pelayan itu menatap Ellis yang sudah bergegas pergi itu.
.
.
.
Ellis berjejer bersama para ksatria lain di aula istana, dia berdiri dengan posisi tegap yang gagah. Sang raja bersama Mathias berada dipodium aula istana. Bedanya Yang Mulia Alphonse kini sangat tampan dengan pakaian resmi kerajaan, balutan setelan jas putih bercampur emas. Surai panjangnya pun diikat kebelakang.
“Crave Rose, sekali lagi menebar terror, saat ini Dust Bones akan menjalankan protokol kewaspadaan terhadap ancaman dari Crave Rose. Para ksatria dan prajurit yang gagah, kalian akan diberi tugas mulia untuk melindungi Dust Bones.”Ujar sang raja dengan tegas.
“Jenderal tingkat satu, Mathias bersama tim pasukan ksatria Flair-nya akan berjaga di istana, sementara tim pasukan ksatria oleh jenderal tingkat dua, Remington akan berpatroli di kota, jenderal tingkat tiga akan berjaga di perbatasan antara Dust Bones dan Crave Rose.” Alphose berucap dengan semangat, tatapannya yang menyalang tidak sengaja menubruk tatapan dengan Ellis yang berdiri diantara pasukan ksatria yang lain.
Ellis sempat tersentak dengan memalingkan wajahnya, sebenarnya Ellis sudah memerah sempurna “Y-yang Mulia... kenapa malah lihat kemari.” Ucap Ellis dalam batinnya.
Sorak semangat para prajurit dan ksatria membara, beda halnya Ellis. Dalam sorak riuh itu, dia hanya diam dengan memanas. Sejujurnya jantung Ellis berdegup amat kencang hanya dengan tatapan sang raja.
Bruk. Ellis sampai tak sengaja ditabrak oleh lalu lalang ksatria lain.
“Hey, gunakan matamu bung.” Ucap ksatria itu, dia melotot saat melihat Ellis dan pin Dust Bones yang ada dikerah bajunya “A-ajudan Yang Mulia? Berarti dia setara dengan Jenderal tingkat tiga, Jenderal Noah Cyprus!” Ksatria itu menunjuk Ellis.
Ellis, mendadak cemas “A-ah... iya...” Kata Ellis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Kau pasti tidak memiliki bakat, kau hanya meminta bantuan keluargamu bukan? Katakan siapa namamu?! Bangsawan dari mana kau?” Ksatria itu bertanya setengah membentak.
“Hey!” Ellis ingin menghajar ksatria itu, jika saja tangan Mathias tidak menahan bahunya yang bergerak maju.
“Ellis, Yang Mulia menunggumu di ruangan.” Ujar Mathias dengan senyum lembutnya.
Ellis mengangguk “Baik, Mathias...” Bahkan tanpa embel-embel gelar dari sang jenderal tertinggi Dust Bones, Ellis bahkan ditatap puluhan pasang mata ksatria yang melihatnya pergi meninggalkan aula.
“Robin Dante dari desa Briar Stone. Kau berada di pasukan kstaria kelas tiga dibawah pimpinan Remington bukan?” Tanya Mathias.
Ksatria yang sudah menabrak Ellis sekaligus memojokkan Ellis mendadak diam “Benar, Jenderal.” Ucapnya sambil memberi hormat.
“Seharusnya kau tahu kemampuan anak Remington, bukan?” Mathias yang tersenyum pun berjalan dengan santai melaluinya. Diikuti hormat pada setiap ksatria dan prajurit.
.
.
.
Ellis menghela nafas, sepanjang langkahnya di koridor utama istana Dust Bones, Ellis menunduk “Ah... aku sudah menduga hal seperti tadi.” Kata Ellis lagi.
Brukk...
Ellis menabrak tubuh besar seseorang “M-maaf!” Ellis pun membungkukkan tubuhnya.
“Anak muda, tidak mengapa...” Ujar pria itu.
Ellis menanggahkan tatapannya, dia lihat pria dewasa seumuran sang ayah angkat. Wajahnya memang tampak menyeramkan dengan bekas luka di pipi dan pelipisnya, belum lagi penutup mata kanannya. Tapi setelah tersenyum pada Ellis “Yah... lama tidak berjumpa, Paman Noah!” Ucap Ellis dengan senyum lebarnya.
“Wah! Ellis?! Kau sudah besar... Setinggi ini? Terakhir aku melihatmu hanya anak pendiam yang murung...” Pria itu mengusap-usap puncak kepala Ellis.
“Hehe, paman berlebihan...” Ellis terkekeh, memang dia mengenali Jenderal tingkat tiga yang merupakan sahabat dari Remington “Bagaimana kabar Poppy? Apakah dia sudah bisa berjalan, ah...Poppy lucu sekali, pasti giginya sudah tumbuh...” Ujar Ellis gemas saat membicarakan puteri kecil sang jenderal.
“Haha... Poppy baru bisa berdiri, usianya baru satu tahun Ellis...”
Saat keduanya berbincang di koridor istana. Bocah lelaki kecil sedang berlari mengejar seekor anak kucing di koridor itu juga, sayangnya anak kucing itu lolos setelah melintas Ellis sementara bocah kecil itu terjatuh akibat tidak memperhatikan langkahnya.
Ellis menengok kearah bocah kecil itu “Yang Mulia Victorine, ya?” Ujar Ellis sambil berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan bocah lelaki itu.
“...K-kucing.” Ucapannya ditahan oleh linangan air mata, bocah kecil itu sudah berkaca-kaca namun cukup gengsi untuk menangis dihadapan Ellis.
“Anak kucing itu kabur Yang Mulia, mau mencarinya bersama?” Tawar Ellis.
Bocah kecil itu hanya mengangguk.
“Baiklah, cup... cup... anak yang baik.” Ellis pun menggendong tubuh bocah kecil itu dengan mudah, dia bahkan mengusap-usap punggung kecil bocah itu.
Noah Cyprus, mengamati gelagat Ellis yang mudah akrab dengan pangeran mahkota dari Dust Bones ini “Ellis, kau ingin bertemu Yang Mulia Alphonse bukan?”
“Oh iya...” Ellis menepuk dahinya dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya menggendong tubuh Victorine sang putera mahkota.
“Tenang saja Ellis, antar Yang Mulia Victorine mencari anak kucing itu, keterlambatanmu akan kujelaskan pada Yang Mulia Alphonse karena aku juga akan menemuinya.”
“Tolong ya paman... Terimakasih banyak...”
“Tentu Ellis.”