
.
.
.
“Apa?! Ini kediamanmu?!” Valerin terkejut bukan main. Oh, ternyata tugasnya begitu berat.
Dilihat dari arah manapun manor ini seperti sudah lama ditinggalkan, selain debu dan usang tak ada kelayakan lainnya. Valerin menghela nafas, ternyata Viscount Rovana yang terlampau ramah itu cukup tak cocok bersama Friday. Mereka sejak tadi ribut bertengkar sejak kedatangan pelayan pangeran kedua dan Viscount wilayah desa utara itu.
Disini Valerin mengamati mereka berempat dari bangku sofa yang didudukinya, Friday, Viscount Rovana, Pelayan pangeran kedua Leon Sirius dan pelayan wanitanya Panacea Eerie. Mereka berempat tampak cukup mengenal satu sama lain dengan akrab.
Diamnya seorang Valerin Grayii menjadi rasa heran Friday, ia menghampiri tuannya dengan membungkuk hormat “Maafkan Friday tuan muda, apakah anda mau istirahat? Atau meminum sesuatu?”
Valerin memainkan ujung poninya, surai rambutnya sudah terpotong pendek selayaknya laki-laki bahkan pakaiannya pun sama “Tidak...” Valerin menggeleng saja dengan pelan.
Valerin itu pemikir dalam diam, dia mengingat-ingat beberapa buku yang dibacanya mengenai kehidupan dan wabah yang melanda negeri ini “Gandaria, apakah manusia percobaan untuk Obscure?”
Keempat dari mereka sama-sama langsung membungkam, suasana mendadak sepi mencengkam. Ucapan yang keluar dari Valerin bukanlah hal yang baik mereka dengar.
Valerim tersenyum kecil melihat reaksi keempatnya “Tidak perlu menggunakan darahku, masih ada cara lain.” Ucap Valerin sambil beranjak berdiri.
“Earl?! Apa yang kau maksud?” Viscount Rovana langsung menginterupsi seorang Valerin.
“Kita akan menjebak mereka semua kedalam mannor ini sebagai aku umpannya, kemudian kita ledakkan...”
Sekali lagi, ucapan dari seorang Valerin mendadak mengangetkan mereka semua. Sampai-sampai Leon Sirius mendeham dengan canggung “Tuan muda, anda sama sekali tak pernah mengusulkan hal seperti ini sebelumnya.”
Apalagi Friday, dialah yang paling melongo tak percaya “Val, kau tak pernah tega untuk mempermainkan nyawa seseorang” Gumam Friday dalam batin. Menatap gadis berwajah manis yang berdiri dengan raut kokoh akan keyakinan yang ia buat, gadis yang berubah-ubah tak mampu diterkanya “Ta-tapi kenapa tuan muda?” tanya Friday.
“Kenapa? Tentu saja karena aku sudah menjadi rantai makananmu Friday, darahku hanya milikmu lagipula tidak baik bukan jika kehabisan banyak darah dalam waktu yang sempit ini.” Valerin melipatkkan kedua tangannya “Ucapanku tadi, anggap saja bercanda. Lagipula kalian berdua, tuan Sirius dan Viscount Rovana tidakkah begitu egois meminta darahku untuk menyokong bertarung kalian? Jika bisa mengeluarkan sedikit tenaga dengan akal, kenapa harus bertarung mati-matian?”
Valerin Grayii menyibakkan sebelah tangannya, ia puas hati melihat seluruh wajah melongo para Paladin of Dustbones ini “Lagipula mereka, tak akan bisa kembali normal. Sudah terlambat...” Diakhiri kekehan yang pelan, Valerin hendak beranjak keluar.
Tidak setelah sebuah pedang nyaris menebasnya, jika saja Friday gagal menangkisnya dengan senapang laras panjang kepuanyaannya. Valerin bisa saja sudah tewas saat itu.
Viscount Rovana menatap murka Valerin Grayii “Kau, adik perempuanku ada ditengah-tengah mereka. Sungguh tak menyangka seorang Earl yang memiliki rasa patriot tinggi menyarankan hal yang bodoh, kenapa kau sebenarnya Val? Bagaimana bisa kau tega mengusulkan saran itu?!”
“Viscount Rovana, tenanglah...” Friday masih menghadangnya.
“Yang Mulia, anda yang seharusnya berhenti! Jelas-jelas jika dia sangat berbeda.”
“Cukup, Viscount. Tuan muda hanya belum mengerti.” Panacea juga ikut menghadang Viscount Rovana “Dia, hanya masih bingung. Tuan muda masih sama, dia masih baik seperti dulu.” Panacea berusaha melerai pertikaiannya ini.
Valerin yang enggan berbalik menatap dengan sendu, dia menatap kedua telapak tangannya sendiri “Adikmu ada disana?” Ulang Valerin menatap Viscount Rovana.
“Benar, kau pikir selama ini berada di Crave Rose untuk apa? Tentu mencari keberadaanmu, kau yang bisa menolongku Earl. Tapi kau kembali dengan semua sandiwara yang mereka buat, apakah kau dicuci otaknya oleh mereka berdua?”
Valerin tak mengerti ucapan Viscount Rovana, walaupun selama ini Valerin tahu diantara Friday dan Panacea memang janggal. Mengenai bagaimana mereka yang berusaha menganggap Valerin Grayii sebagai lelaki, bahkan asal-usul Friday dan Panacea yang sangat misterius tiba-tiba saja mendampingi kehidupan Valerin Grayii selama ini.
Mendengar ucapan Viscount Rovana, Valerin Grayii menatap dengan sendu Friday yang ada dihadapannya “Benarkah itu?” Perasaan Valerin menderu-deru, perih dan menghangat dikala ia menatap sepasang raven blue yang tenang itu dengan dalam.
“Benar...” Ujar Friday dengan merubah sepasang iris mata birunya menjadi merah crimson seperti saat ia haus menghisap darahnya, sepasang gigi runcing yang panjang pun tampak, dengan tatapan yang tak kala frustasi itu.
Valerin yang mengerti mengangguk “Baiklah, aku mengerti.”
“Tidak apa-apa Pana, aku tidak marah dengan kalian berdua. Hanya saja kenapa tidak katakan dari awal.” Valerin Grayii aka Valyria Soga Kinaru itu tersenyum dengan sendu “Aku pun ingin jujur, jika orang yang kalian anggap Earl Grayii itu sudah meninggal. Sementara yang ada didepan kalian ini hanyalah aku. Valyria Soga Kinaru, adik dari Valerin.” Valerin kecewa, seharusnya ia akui sejak awal kepada orang-orang. Ia pun terlalu terlena dengan kehidupan ini.
“Jadi...” Leon Sirius menatap ragu “Kau bukan Earl Grayii yang asli?”
Valerin mengangguk “Apakah kami terlihat mirip?”
Leon Sirius mengangguk pelan “Beberapa perbedaan hanya pada tinggi badan, selain itu kalian begitu seiras.” Tak diduga Leon Sirius tersenyum pada Valerin “Pantas saja cara berpikirmu berbeda dan mengejutkan, tapi saran tuan muda tidaklah salah.”
“Apa maksudmu Leon?” Viscoun Rovana menaikkan nada ucapannya.
“Selain nona muda Rovana, penduduk desa memang sudah harus pergi dengan semestinya. Dilihat dari kondisi tuan muda Grayii ini pun benar, ia masih pemulihan. Masih pucat bahkan kaki prostetik yang digunakannya sudah menjelaskan kondisi keadaan Earl Grayii dengan semestinya.” Leon Sirius membungkuk hormat “Perkenalkan sekali lagi Earl Grayii, namaku Leon Sirius pelayan dari Yang Mulia Alexander Caleum. Senang bertemu dengan penerus Earl Valerin Grayii.”
“Terimakasih, tuan Sirius. Maaf sudah membohongimu, semoga kelak bisa bertemu dengan Alexander untuk mengatakan hal yang sebenarnya.”
“Tidak perlu dipikirkan, tuan muda...”
Valerin sangat merasa bersalah dengan Viscount Rovana, ia memang berbeda dengan sang kakak. Dia yang sudah cukup lelah dengan kehidupan memang kerap kali tak segan-segan “Aku, memang berbeda dari Valerin Grayii. Maafkan aku Viscount Rovana... Mengenai ucapanku.” Valerin menundukkan sebagian tubuhnya.
“A-ah tuan muda, Earl... Earl... cukup-cukup.” Viscount Rovana gelagapan, ia buru-buru memengang kedua pundak kecil Valerin Grayii “Aku pun salah, tidak menyadari sejak awal. Tapi jelas, maaf mendengar atas hal yang sudah menimpa kakakmu...”
Valerin Grayii ditarik mendekat tubuh Friday “Tuan muda tidak boleh lama-lama didekatmu.” Ucap sarkas Friday dengan datar.
“Padahal aku masih kesal denganmu Friday.” Celetuk Valerin juga.
“Kesal? Kenapa harus kesal padaku?”
“Kau tak jujur, malah terkesan membohongiku.”
Viscount Rovana terkekeh jahil “Benar Earl, dia saja tak jujur dengan jati dirinya kepadamu.” Viscount Rovana mengompori Valerin Grayii.
“Baiklah, baiklah.” Friday menghela nafas, dia membalikkan tubuh Valerin untuk menghadap kearahnya “Namaku Frederitch Drew Raymond, pangeran ketiga dari kerajaan Crave Rose.” Ujar Friday menatap langsung sepasang iris violet indahnya Valerin.
“Apa katamu?! Bohong bukan?”
“Benar, Tuanku.”
“Jangan bilang jika Panacea malah ratu?”
“Bukan tuan muda” Panacea tersenyum simpul “Panacea Eerie dulunya penyihir, berbeda dari Yang Mulia Frederitch. Saya sudah lama mengabdi dengan anda...”
“Friday, kau apakah benar?”
“Benar, tidak berbohong...” Friday terkekeh pelan, dia menyukai reaksi terkejut Valerin Grayii yang menggemaskan ini.
.
.
.
Header baru, hihi... Valerin versi rambut pendekan.
Dukung selalu ^^ slow up beberapa hari