
~ AVICENNA EST PANACEA~
.
.
.
“Valyria... Valyria...”
Panggilan seseorang akan namanya, membuat pria tampan bertubuh ramping, mengenakan setelan jas cokelat dipadupadankan dengan dasi merah marun tersentak kaget. Kedua mata iris merah crimsonnya menatap dengan kaget, membulat dengan wajah melongo manisnya.
“Riasanmu sudah selesai, cepat kau sudah ditunggu pemotertannya.”
Mengangguklah pria berwajah campuran maskulin dan feminim ini, cantik dan indah. Dia pun sempat membenahi surai pirangnya yang berantakan “Aku benci pemotretan...”Ujarnya dengan bibir ranum yang dikerucutkan.
Tubuh berpostur ramping itu duduk disebuah studio, berpose sambil memengangi sebuah apel merah yang sedang dikecupnya. Tatapannya kearah kamera sengaja dibuat tajam mengintimidasi.
Crek... crek...crek..
Beberapa staf wanita yang ada di studio itu juga tampak senyum-senyum malu, pasalnya kesempurnaan sosok yang menjadi model kali ini begitu indah, rupawan, dan tampan. Hingga pemotertan selesai...
“Ha~ aku lelah cosplay jika mengenakan wig pria!” Dengan santainya dia membuka wig pirang itu, menampaki surai hitam panjang yang berkilau dengan indah. Katanya, mengenal seseorang lebih baik untuk tahu luar dan dalamnya jika tidak maka kau akan mudah ditipu.
“Ayo-ayo, Valyria. Seperti biasa kau akan membuat para gadis menjerit dengan Photobook serimu kali ini.”
Menatap dengan jengah melalui iris mata merah tipuannya, dia menggeleng “Asal bayaranku pemotretan ini tidak telat, karena aku perlu untuk bayar sewa rumah kontrakanku dan biaya obat kakakku.” Tangan lentiknya mulai mencopoti seluruh aksesorisnya, dimulai dari anting perak, menghapus riasan wajah, melepas contact lens merah crimson itu dan yang terakhir melepas dua kancing atas lehernya pada kemeja putih, tak lagi mengenakan jas cokelat.
Sosok asli yang mengenakan kostum ‘pria tampan’ ini hanyalah seorang gadis biasa. Gadis bersurai hitam panjang, berkulit putih dan beriris mata violet. Tanpa menggunakan riasan wajah pun sebenarnya, sosok aslinya jauh lebih cantik dan manis.
Hari menjelang sore, dia berjalan keluar dari gedung pencakar langit ini. Kedua matanya menatap langit yang dominan citrus petang itu, ada pun awan menggulung namun tak seberapa. Tatapannya sendu tanpa gairah kehidupan, dipasangnya earphone yang menyumbat kedua telinganya. Tangan rampingnya tampak menekan tombol pada ponselnya untuk memilih alunan musik yang akan menemani perjalanannya.
“Ini saja.” Pilihannya jatuh pada musik Ludovico Einaudi – Life, alunan musik kegemarannya. Kemudian sepasang kaki jenjang itu berjalan lebih laju untuk halte bus, duduk disana bersama beberapa orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sibuk dengan handphonenya, atau ada pula yang sibuk berbincang dengan temannya. Sepasang iris violet itu tak lepas menatap hiruk pikuk kehidupan kota sibuk ini, kepadatan akan kisah kehidupan semua orang berbeda-beda. Kini, dirinya hanya bisa melamuni teringat akan masa lampau yang kebetulan menyedihkan.
“Valyria, ingat jangan berpisah dari kakakmu.”
“...Valerin, jaga adikmu baik-baik.”
Valyria Soga Kinaru, masih begitu kecil untuk mengerti ucapan orang tuanya dikala itu. Semua kemalangan yang menimpanya bersama kakak laki-lakinya. Valerin Darly Kinaru.
“Kakak... Apa Ayah dan ibu harus pergi bekerja?”
“Iya, Valyria segera tidur ya. Sudah larut malam” Tapi untuk kakak laki-lakinya yang mengenggam tangan kecilnya itu, dia tampak begitu tegar dan mengerti. Kedua orang tuanya pergi pada malam hari, tepat saat diluar sana tengah digemuruhi oleh badai hujan. Kedua orang tuanya meninggalkan rumah ini tanpa mengatakan alasannya. Perpisahan singkat dengan pesan singkat itu pula, hal yang terakhir mereka dengar.
Seorang gadis kecil yang tak tahu apa-apa itu, hanya bisa menggengam tangan sang kakak. Dia baru berusia tujuh tahun, seharusnya masih bersekolah dan bermain dengan bebas. Sang kakak baru berusia dua belas tahun, harus dewasa untuk menjaga adik satu-satunya itu.
Valyria begitu sedih, semenjak itu dia tak mau jauh-jauh dari sang kakak. Valerin Darly Kinaru. Bahkan, dia enggan memanggil sang kakak dengan nama pertamanya. Itu hanya mengingatkannya kepada kedua orang tuanya, ayah dan ibunya tercinta.
Keluarga Kinaru meninggalkan dua kakak beradik dengan kekayaan yang mereka warisi. Usia mereka yang masih anak-anak, diharuskan untuk menetap bersama sang wali. Wali mereka satu-satunya hanya paman beserta isterinya, sementara paman mereka yang lain berada di Negara yang berbeda. Paman dan isterinya ini dinilai paling cocok untuk Valyria dan Valerin. Walaupun sebenarnya bertolak belakang. Mereka bahkan tak begitu akrab dengannya.
“Gadis bodoh! Berkeras kepala, bukankah kubilang untuk mengganti taplak meja makan dengan warna emas, kenapa kuning gading yang jelek ini!” Sudah, berlalu tahun demi tahun lamanya. Gadis yang tumbuh semakin besar itu, hanya bisa menatap dengan datar melalui sepasang iris mata violetnya. Tak melawan dan tak pula menolak, dia hanya berdiri diujung sudut ruangan.
“Apa kau bisu?!” Sepasang suami istri itu sama saja, memperlakukan Valyria Soga Kinaru lebih tinggi dari pelayan namun lebih rendah dari keluarga. Tubuhnya yang kurus, kurang makan kurang berbahagia pula “Bicara! Kenapa kau diam.” Wanita itu mencengkeram dagu Valyria amat keras. Baik wanita itu pun tahu, Valyria Soga Kinaru memiliki paras yang cantik. Mirip seperti mendiang sang ibu, iparnya itu “Kedua iris mata anehmu itu berani menatapku, hah?!” Anak-anak Kinaru, dianugerahi sepasang iris mata violet yang langkah, berwajah rupawan, berkulit seputih susu dan lembut. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan sehat, harus bersusah hati dengan kegiatan kesehariannya yang berat mengurusi rumah mereka sendiri.
Valyria Soga Kinaru, cukup lelah dengan kehidupan ini. Dia tahu, walinya ini tak tulus mengasihi mereka berdua. Tidak lebih untuk kekayaan yang kedua orang tuanya tinggalkan “Aku cukup, jangan sentuh aku lebih keras lagi. Singkirkan tanganmu yang menjijikkan itu!” Ujarnya terdengar dingin, untuk remaja seusianya. Dia terbilang keras kepala dari pada sang kakak, Valerin Darly Kinaru yang lemah lembut.
“Valyria! Ya Tuhan, maafkan dia bibi... Valyria hanya sedang kelelahan.” Sang kakak, masih mengenakan seragam putih abu-abunya itu baru pulang akibat kelas tambahan tuk’ menghadapi ujian kelulusan. Terbilang telat, terlalu berbanding berbeda untuk seorang Valyria yang tak diizinkan bersekolah. Mungkin karena bukan anak sulung, pewaris yang lebih berhak atas kekayaan itu seolah hanya tertuju pada sang kakak. Tapi Valyria, tak membencinya. Dia berlari menggapai tubuh sang kakak, kemudian memeluknya “Maafkan aku, tidak mau lagi berada dirumah kita.” Ungkap Valyria penuh kejujuran.
Keinginan Valyria Soga Kinaru, hanya sang kakak yang menyanggupi. Tahun kelulusannya, mereka pindah ke rumah kontrakan yang sangat sederhana. Sang kakak, Valerin Darly Kinaru menyekolahkan adiknya, membiayainya dan mengayominya. Bekerja apapun untuk sang adik, tak sulit bagi anak-anak Kinaru yang memang jenius. Valyria bahkan dapat menyusul ketertinggalan pendidikannya, sementara Valerin berkuliah dengan beasiswanya dan pekerjaannya di kantor penerbitan mendiam kedua orang tuanya. Hidup mereka, mulanya baik-baik saja. Hingga pada bulan maret di hari yang baru henti akan guyuran hujan, Valyria Soga Kinaru mendapatkan kabar baik dari sang kakak yang akan melanjutkan studinya diluar Negeri. Bersuka hatinya kedua kakak beradik Kinaru ini, Valyria menyanggupi hidup seorang diri diusianya yang mulai beranjak dewasa beserta meridhai sang kakak akan studi lanjutannya itu.
Tidak setelah bertahun-tahun lamanya tak bersua dengan sang kakak, dia malah mendapati kakaknya pulang dengan kondisi tak karuan dan mulai menjadi gila itu. Hari-hari Valyria berubah semenjak saat itu, dia yang menggantikan peran sang kakak. Dia akan rutin mengunjungi sang kakak yang ada di Rumah Sakit Jiwa. Biarpun sang kakak sering meracau akan hal yang tak pernah dia pahami, dia tetap menyayangi sang kakak sepenuh hatinya.
“Kak Darly, buka mulutmu. Aku beli soto sore tadi sepulang pemotretan.”
Tabahnya Valyria, menyuapi sang kakak. Turut memandangi sore hari dari teras rumah sakit, sambil menemani sang kakak makan. Perih hati seorang Valyria memandangi saudaranya yang memprihatinkan itu, dia sering melamun bahkan sesekali mengamuk dengan ucapan yang Valyria tak tahu.
Kedua tangan kecilnya, mengelap ujung bibir sang kakak yang belepotan dengan sapu tangannya “Syukurlah, kakak lebih tenang dan mau makan sampai habis.” Kedua iris violet itu menatap sendu, pria yang sedang melamun itu.
“...L’Histoire se Répète” Valerin Darly Kinaru, menggengam tangan sang adik. Dia mengguman kalimat itu dengan jelas. Kemudian tertawa dengan nyaring, biarpun tertawa sepasang iris violetnya juga berkaca-kaca. Menangis dengan tersedu-sedu, akan ekspresi wajah yang bertabrakan itu.
Valyria Soga Kinaru menatap dengan sendu sang kakak, dia pun menarik tubuh yang jauh lebih tinggi daripada dirinya itu. Memeluk tubuh itu dengan erat. Menyalurkan perasaannya terhadap sang kakak “Je comprends ton ressenti...” Valyria mengusap-usap puncak kepala sang kakak, dia mengatakan turut mengerti akan perasaannya. Berdusta kecil, agar sang kakak menjadi tenang.
“Kalau bukan dik Valyria, kami tak akan mengerti ucapan kakakmu ini.” Histerisnya sang kakak, membuat dua orang perawat menghampiri mereka “Kami tak perlu memberi obat penenang, kami kira dia akan mengamuk lagi.” Ungkap salah satu dari mereka.
Valyria menggeleng “Kami memang bisa menggunakan beberapa bahasa kakak perawat, kebiasaan bagi kami sewaktu kecil bersama orang tua kami. Semoga kakakku tak menyulitkan kalian.” Valyria, hanya membesuk sang kakak sampai mentari seutuhnya tenggelam. Dia menghantar sang kakak kekamar perawatannya. Hari ini, Valyria merasa berat untuk berpisah dengan sang kakak. Namun dia harus tetap pulang, sang kakak masih harus dirawat di Rumah Sakit ini. Sebelum pulang, dia menyelimuti sang kakak “Cerita yang berulang ya?” Valyria mengguman perkataannya tadi, mengenai L’Histoire se Répète yaitu sejarah atau cerita yang berulang. Lagi-lagi kakaknya bergumam hal yang tak dapat dipahaminya.
Valyria, mengusap puncak kepala pria muda itu “Aku akan kembali lagi besok.” Valyria berbisik kepada sang kakak yang sudah pulas tertidur. Dia pun pergi meninggalkan sang kakak
.
.
.