
Valerin Grayii mengelap bibirnya dengan serbet putih “Iya, aku tahu...” Ucap Valerin Grayii beranjak berdiri “Anak-anak lanjutkan sarapannya.” Valerin tersenyum kepada anak-anak yang memasang raut takut itu, lantaran melihat sosok dibelakang Valerin yang berdiri dengan tegap.
“Ah, Yang Mulia dan aku berteman. Jangan khawatir...” Jelas saja Valerin berbohong “Ayo Yang Mulia, ruang kerjaku kosong. Kurasa Friday perlu ikut, kaki prostetikku sedikit bermasalah.” Diraih lengan kekar Friday, Valerin Grayii seraya tersenyum menarik pria vampir itu untuk ikut serta dengannya.
“Waktuku sedikit, bergegas Valerin...” Alphonse, menatap Valerin dengan sinis.
Sebaliknya, Valerin Grayii tersenyum lebar “Rileks... wajah tegangmu membuat takut anak-anak.” Ucap Valerin Grayii dengan nada meledeknya.
Nyaris saja Friday ingin tertawa, namun ia segera menahan “Kau diluar ekspektasi, Val...” Dengan kedua mata berair, Friday masih berusaha menahan tawanya.
Valerin Grayii hanya sudah tahu, menatap wajah tegas dan super marah seorang Alphonse pasti karena ulahnya. Mereka berjalan memasuki ruang kerja Valerin “Ops... Maaf ruanganku memang berantakan.” Valerin Grayii menepikan salah satu canvas, dia bahkan menutup sebuah lukisan dengan selimutnya.
“Serius? Val...” Alphonse mengeryitkan dahinya, dia tak pernah tahu jika Valerin gemar melukis. Dia juga menatap Friday.
“Apa aku? Jelas aku tak tahu dia suka melukis.” Kedua bahu Friday menaik dengan acuh.
Alphonse menghela nafas “Baiklah, aku kemari bukan untuk mengomentari dan berkunjung ke galerimu. Val... kurasa kau tahu alasanku kemari?” Pria dengan jubah berbulu itu duduk di sofa ruangan Valerin.
“Ya... aku tahu.” Valerin Grayii tersenyum “Tapi aku menolaknya.” Katanya lagi.
“Apa?!” Sang raja muda itu menggeleng “Val serius?! Kau satu-satunya harapan Dust Bones.”
“Ya aku tahu, bahkan tujuan kami lahir.” Valerin Grayii duduk di meja kerjanya, tak secara teknis duduk. Hanya menyandarkan tubuh kecilnya saja “Ugh... aku butuh kopi.” Keluh Valerin dengan teramat santai.
“Dengar...” Alphonse menatap Valerin “Mereka, kapan saja bisa menghancurkan Dust Bones. Rakyat, temanmu, atau siapapun tinggal disini.”
Valerin menatap Friday “Aku belum bisa melakukannya bukan?”
“Ya, nol persen belum bisa.” Friday mengangguk.
“Kapan? Menunggu Crave Rose membunuh anak-anakmu? Temanmu? Semua orang tak bersalah? Jelas pertahanan kita tak sebanding Val.”
“Aku tahu...”
Valerin menyanggah dagunya dengan tangan kanan “Hey, Al... Kau tak masalah sama sekali jika Frederitch berkeliaran disekitarku?”
“Apa masalahnya? Ayolah, aku tak menarik hubungan itu dengan wilayahku.”
“Yup tepat sekali!” Valerin Grayii menjentikkan kedua jemarinya.
Friday menatap Valerin dengan senyum lebar bersama tawa renyahnya “Ayolah my Lady, kau semakin menarik seperti itu. Apa maksudmu, Val?” Friday tak tahan. Ia berjalan mendekati Valerin dan mengecup pipinya.
“Ugh...” Alphonse menghela nafas.
“Kurasa, Crave Rose tak mau wilayah. Maksudku Dust Bones. Mereka hanya ingin aku dan seluruh isi kepala Valerin Grayii.”
“Val, kau meracau.”
“Aku tidak!” Valerin mengepalkan kedua tangannya “Aku tak meracau, Cerise merupakan robot yang Crave Rose atur ulang. Frederitch... Cerise satu dari banyaknya karya kakakku yang bercampur dengan ilmu sihir, mereka hanya ingin aku.” Valerin Grayii perlahan menatap Friday.
“Friday, apakah kau mengkhianati Crave Rose? Setidaknya saat kakakku tidak, tapi saat ini?”
Friday tersenyum, dia tangkup wajah manis Valerin “Sempurna, kau tahu semuanya. Hanya dengan melihat, Benar Val. Mereka ingin kau dan semua yang kakakmu buat. Tapi aku tak ingin membiarkanmu.”
“Clandestine, lebih dari yang kau kira.”
“Buku yang diciptakan dari rasa keingintahuan manusia dan iblis, buku tentang isi otak jenius Valerin Daryl Kinaru dan iblis yang mengikat kontrak dengannya, Panacea Eerie...”
“Maaf?” Valerin sampai harus mengeryit heran.
“Ah, kau dan kekasih vampirmu itu harus mencegah Crave Rose setidaknya jika itu tak terjadi, pembelaanmu masih bisa diterima oleh Dust Bones.”
Valerin Grayii berjalan mendekati Alphonse “Al, Al... tunggu. Aku juga termaksud dari pengkhianat di Dust Bones?”
“Yah, tepat sekali.”
Valerin menghela nafas, tujuannya tak seperti ini. Namun ia tersenyum sambil menatap Friday dengan manis “Hey, tak masalah bukan? Kita trouble double couple...” Kekeh Valerin dengan renyah.
“Tak masalah sama sekali, my lady...” Demikian halnya Friday, ia menatap sang Valerin dengan tatapan tulusnya.
“Okay, aku tak mau berlama-lama melihat kasmaran kalian berdua. Lekas kerja, dan selesaikan.” Alphonse, langsung keluar dari ruangan Valerin Grayii. Ia mendengkus kesal, seraya berjalan keluar dari mansion itu.
Seharusnya Valerin sudah mantap dengan pilihannya, Valerin kini merenung di halaman belakang mansionnya. Menatap anak-anak yang belajar menanam kentang bersama dengan tuan Odolf. Valerin memandangi mereka dari jauh, namun pikirannya sedang memikirkan bermacam-macam hal.
“...Aku terjebak, ntah kapan bisa kembali?” Ucap Valerin saat Panacea menghampirinya.
“Tuan muda, anda tidak apa-apa?”
“Aku terlihat baik-baik saja?” Valerin menatap maidnya itu, jelas kedua violet yang berkaca-kaca dengan raut wajah kesalnya. Berlawanan bukan? Itulah kebingungan seorang Valerin Grayii.
“Aku tak baik-baik saja, Pana... Friday bilang buku itu adalah perjanjian antara kau dan kakakku? Katakan padaku, apakah kak Darly meninggal karena ulahmu?”
Panacea Eerie dengan kedua iris kenarinya menatap Valerin Grayii dengan sulit diartikan. Pertama kalinya, Panacea memilih duduk disebalah Valerin Grayii. Pada bangku taman menghadap anak-anak yang tertawa suka cita itu.
“Aku... tak pernah merasakan apa yang manusia rasakan. Sedih, marah, berduka, senang, kecewa dan jatuh cinta.” Ia tatap Valerin Grayii yang ada disebelahnya, senyumannya merekah manis “Beribu tahun hidup dengan alasan yang tak jelas, aku bertemu pria itu. Dia memberikan alasanku untuk hidup.” Panacea Eerie mengalihkan tatapannya kepada anak-anak dikebun, mereka saling tertawa saat tuan Odolf berusaha menjelaskan tumbuhan-tumbuhan itu.
“Kau tak melakukannya?” Ucap Valerin Grayii.
“Aku tak pernah ingin membunuh kakakmu, manusia yang kukasihi. Sangat kucintai. Bahkan sampai kematiannya pun tak sempat kuberitahu soal perasaanku, Val...” Panacea mengulum senyuman “Aku memang iblis, aku mengikat kontrak manusia untuk jiwa mereka yang tersesat. Itu keinginan kakakmu, sesuatu yang harus ia wujudkan... Maafkan aku Valyria.” Panacea Eerie beranjak berdiri, ia hendak menangis. Sayang seorang iblis tak bisa mengeluarkan air matanya, Panacea pun meninggalkan Valerin Grayii seorang diri.
“Bagus... Sekarang trend pacaran beda dimensi juga sudah kakakku lakukan. Ugh... Sungguh?” Valerin Grayii mengerang kecil seraya memengangi kepalanya yang berdenyut pening.
Valerin menatap langit hangat, pikirannya melayang "Jika saja, aku bisa berpikir sepertimu kak. Apakah aku bisa menghadapi semuanya?" Valerin Grayii menyandarkan kepalanya pada sandaran bangku.
"Sedang apa?" Itu Friday, pria itu tiba dengan raut tampan yang berekspresi heran.
"Sedang menatap langit." Valerin masih duduk menanggahkan kepalanya menatap langit cerah membiru itu.
Friday mengangguk, ia mengikuti gerakan Valerin. Menanggah menatap langit "Aku tak tahu manusia hobi bersikap aneh. Hey apa terjadi sesuatu?" Ucap Friday.
"Yah, kau itu sesuatu."
"Kau ingin aku bersikap seperti Friday atau Frederitch?" Friday terkekeh kecil disela-sela ucapannya.
"Aku ingin kau bersikap seperti dirimu sendiri."
Friday menoleh kearah Valerin Grayii yang ada disebelahnya "Aku pun begitu, aku ingin kau menjadi dirimu sendiri Val. Bukan sebagai Valerin kakakmu, tapi sebagai kau." Ucap Friday.
.
.
.