Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 42




Saat Frederitch alias Friday keluar dari ruangan kabin tempat Valerin dan Panacea berada. Dia mendapati Leon Sirius yang tengah memijat tengkuk William Rovana sang bangsawan muda wilayah desa utara “Kenapa dia?” Tanya Frederitch lengkap dengan kerutan alis herannya.


Leon Sirius meringis pelan “Muntah dan mual.” Jawabnya singkat.


Frederitch mengangguk “Panacea ingin cepat kemari wajar jika dia bergegas dengan sihirnya.” Ucap Frederitch melipat kedua tangannya “Apa yang kau temukan disana Will?” Kata Frederitch sambil bersender di dinding kabin itu.


William Rovana menggeleng sambil menghela nafas “Jejak kaki, nyaris sama di enam wilayah itu. Pasti ada tepat didepan gerbang masuk. Apakah aneh?” William Rovana mengeluarkan sapu tangan dan mengelap bibirnya “Oh Tuhan, kepalaku berputar.” Keluhnya lagi.


“Benar aneh, sementara aku di Crave Rose tak menemukan apapun selain meriam yang sudah berjejer di perbatasan.” Ucap Frederitch memijit pelipis kepalanya “Aku tak sempat melihat-lihat lagi, saat sadar jika Valerin terluka. Leon, kau yang berada disana. Apa yang kau temukan?”


“Yang Mulia, beberapa penduduk mengatakan kebangkitan Yang Mulia Agung Oberon, festival purnama dan kalau tak salah anda juga.” Leon Sirius sambil mengangkat sebuah kardus kayu, meletakkannya didekat William Rovana “Silahkan Viscount, anda begitu pucat.” Ucapnya lagi.


“Ah... Pantas saja kau cocok mengasuh Alex.” Viscount Rovana duduk disana. Dia menatap Frederitch yang tak bergeming, dari raut wajahnya tampak terkejut maksimal “Hey, Frederitch. Apakah itu buruk?” Tanyanya.


Frederitch mengangguk “Ini soal Crave Rose, leluhurku dan keluargaku.” Frederitch mengela nafas juga, seolah menarik masalahnya bersamaan dengan hembusan nafas yang keluar. Kedua mata memerahnya tak lagi biru tua, perubahan ini terjadi sejak jantungnya tak ada bersamanya. Tanpa Frederitch sadari instingnya sebagai seorang vampir jauh lebih kuat, dia pun menutup mulutnya saat mengingat darah dari Valerin.


“Frederitch.” Kini William Rovana berseru. Tingkah Frederitch aneh secara tiba-tiba “Oh kawan kau harus sadar kekasihmu masih sakit.” Ucap William.


“Aku, haus, sekali...” Frederitch memengangi lehernya, darah manusia memang enak. Tapi hanya aroma manis khas seorang Valerin yang nyaman baginya.


Baru saja hendak bergegas mendatangi Valerin Grayii, gadis bersurai hitam pendek dengan pakaian gaun tidur putih kusam itu berdiri disana. Bersama Panacea yang memenganginya, bahkan Valerin berjalan dengan tongkat kayu. Wajahnya masih pucat pasi namun menatap Frederitch seorang.


“Aku tahu...” Ucap Valerin.


Frederitch tak buta menyadari lemasnya kondisi Valerin, dia terpaksa mengigit pergelangan tangannya sendiri “M-maaf...” Katanya lagi sambil berpaling. Keluar dari kabin dan melesat dengan cepat.


Valerin membiarkannya, dia tak berteriak mencegah kekasihnya itu. Kebalikan, raut wajah Valerin sangat tenang seolah sudah mengetahuinya.


“Kau, sengaja?” William Rovana heran. Biasanya dua sejoli ini tak sengan-sengan mengisap darah pasangannya, atau bersikap kasmaran tiba-tiba.


Valerin menggeleng “Dia butuh lebih banyak pasokan darah, dengan tubuhku yang kurus dan lemah ini. Kurasa kurang.” Valerin Grayii tersenyum nanar “Seharusnya dia mengikat link dengan sesama vampir yang kuat, seperti Rhea misalnya.” Nada bicara Valerin pun terdengar hambar.


Leon Sirius hanya diam memperhatikan sikap Valerin, dia berusaha memahami. Dia kalangan bangsawan berita pertunangan pangeran bungsu Crave Rose dengan anak tanah penguasa perbatasan sudah kental terdengar, sementara hubungan Valerin dan Fredericth amat baru “Bagaimana keadaanmu, Earl?” Tanya Leon dengan ramah. Berusaha mengalihkan.


“Butuh waktu seminggu bagi luka kakiku sembuh, dia infeksi dengan berat.” Valerin menatap Leon Sirius “Misi kita gagal, aku akan menyerahkan diri kepada Crave Rose agar mereka tak menyerang Dust Bones.” Ucap Valerin Grayii.


“Val!” William Rovana berdiri “Kau, tak boleh. Mereka menjebakmu...”


“Benar, kehadiran tuan muda mempermudah upacara mereka membangkitkan raja terdahulu. Tapi yang pasti, rencana mereka bukan hal yang baik.” Sela Panacea.


“Kau tahu?”Leon Sirius berseru.


Panacea Eerie mengangguk “Vampir memang terkadang membangkitkan lagi pemimpin yang dikira mereka sangat bijaksana dalam membantu masalah yang belum terpecahkan, setidaknya dulu. Aku pernah memimpin upacara itu, karena seorang penyihir atau alchemist tinggi dibutuhkan. Melihat hal yang menimpa Pangeran dan tuan muda, kalian salah satu syarat dari ucapara itu.” Panacea Eerie mengelus pundak Valerin dengan pelan “Sebagai wadah dan energi.” Lanjutnya lagi.


“Ya Tuhan...” William Rovana memengang wajahnya “Bagaimana jika malah pemimpin yang mereka bangkitkan memimpin jalan perang Crave Rose?”


“Ya, memang itulah yang mereka mau.” Celetuk Valerin “Aku tahu, aku menyadarinya.” Ucap Valerin Grayii.


“Alphonse, Al... Rencana Crave Rose sudah lama dia ketahui. Aku tahu dari ruang kerjanya, setidaknya...” Ucapan Valerin tertahan, dia menunduk sambil memengag bahunya yang ringkik. Perasaannya tidak baik, tadi ingin menemui Frederitch. Tapi pria bersurai keemasan itu tampak hilang kendali. Valerin mengigit bibir bawahnya, menahan isak tangisan tentu saja.


Baik Panacea, William dan Leon menghening. Dirasa mereka, Valerin yang seperti ini tak bisa diajak berbicara lagi.


William Rovana mengarahkan dagunya “Bawa Valerin istirahat, kami berdua akan berjaga didepan.” Ucap William Rovana pada Panacea.


Gadis bersurai merah bata itu mengangguk “Baik, Viscount Rovana.” Angguknya lagi dengan sopan.


“Cinta itu rumit.” Celetuk William Rovana menatap Valerin yang dibawa oleh Panacea menuju ruang beristirahat lagi “Kau paling muda diantara kami, atau mungkin usiamu yang sebaya dengan Valerin. Oh, Valerin adiknya Valerin, Valyria.” Ucap William Rovana kepada Leon Sirius yang masih berdiri didekatnya.


Pemuda itu mengangguk “Anda yang paling tua, diantara kami.”


“Eits...” William Rovana menggeleng “Usia vampir lebih tua dari manusia, tapi jauh lebih tua lagi iblis kuno diantara kita berlima.” Kekeh William Rovana.


“Aku, masih belum begitu kenal dengan anggota Paladin dari Dustbones ini. Hanya bekerja, mendapatkan uang untuk adik bungsu kami yang pesakit.” Ujar Leon Sirius “Selain aku dan nona Eerie, kalian bangsawan. Tapi didalam kelompok khusus ini, bukankah terasa bangsawan dan pelayan nyaris tidak ada?” Tanya Leon Sirius lagi.


William Rovana mengangguk “Berterimakasihlah kepada Valerin yang terdahulu, kita terbentuk atas keinginannya dengan persetujuan ratu Alexandria. Orang-orang Grayii memang sejak dulu tak memperhatikan dinding batas antara bangsawan dan rakyat biasa.” Ucap William Rovana menepuk-nepuk pundak Leon Sirius “Oh, Frederitch kau kembali?!” Seru William Rovana melihat Frederitch yang baru tiba dengan wajah pucatnya.


“Hey, bagaimana keadaanmu?”


Frederitch menggeleng sambil menggulung lengannya yang berlumuran darah “Tak baik, darah rusa liar tidak terlalu berpengaruh. Bagaimana Valerin?” Ucap pangeran ketiga dari Crave Rose itu.


“Lumayan, dan dia ingin menyerahkan diri kepada Crave Rose agar kampung halamanmu tidak mengamuk diperbatasan.” Cengir William Rovana dengan tak merasa bersalah “Hey bung, kurasa Valerin juga cemburu dengan tunanganmu.” Bisiknya lagi.


“Ya, itu akan kuatasi.” Ucap Frederitch sambil mendeham.


Terdengar suara ketukan langkah, Valerin kembali lagi “Frederitch. Kaukah?” Ucapnya berjalan sambil memengangi dinding kayu kabin ini, bahkan tampak Panacea yang kewalahan menuturinya.


“Val, istirahatlah.” Frederitch langsung meraih tubuh Valerin “Kau harus istirahat agar besok lebih pulih.” Nasehat Frederitch sesekali mengecup puncak kepalanya.


Valerin menggeleng “Kita harus pergi” Seru Valerin  “Kabin ini, sudah dikepung dengan para Obscure. A-aku... belum sanggup menghadapi mereka dengan jumlah yang banyak.” Ucap Valerin.


Kedua mata violet yang dilihat oleh Frederitch menyala dengan terang “Kau sudah bisa merasakannya?” Tanya Frederitch sambil memeluk Valerin untuk menenangkan gadis bersurai pendek ini.


Dalam pelukan Frederitch, Valerin mengangguk.


“Banyak... mereka akan kemari.” Ucap Valerin.


“Ya, kau benar Earl!” Seru Leon Sirius yang melihat beberapa meter gerombolan manusia yang terinfeksi Obscure mendekati kabin itu “Padahal desa ini tadinya bersih dari Obscure.” Leon Sirius menatap tak percaya.


“Kita harus bergegas.” Ucap Panacea sambil menggambar pola lingkaran dilantai kabin itu “Tuan muda harus diobati dan kalian pasti sudah lelah.” Ucap Panacea lagi.


William Rovana meringis ngeri “K-kau akan melakukan itu lagi?”


“Ya, tapi kita akan menuju kediaman lamaku. Oh, benar. Cerise, bisakah tuan Sirius membawa tubuhnya?” Ucap Panacea sambil menatap Cerise yang mati total di pojok kabin ini “Kita akan segera berangkat.” Lanjut Panacea.