Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 : Episode 56




“Apa ada kabar dari, Earl?”


“Belum, mereka bahkan tidak menemukan Earl dimana pun.”


“Ya, Tuhan... Sebenarnya kau kemana Val?”


William Rovana harap-harap cemas dengan hilangnya Valerin Grayii sejak tiga hari yang lalu, tidak ada yang mengetaui keberadaaannya. Dia hilang bersama pelayannya, Panacea.


Malam yang kelam, kediaman Sirius terdengar derapan langkah seseorang dari luar. Suara ketukan pintu terdengar, William yang membukakan pintu.


“Will, aku butuh bantuanmu.” Frederitc membuka tudung hitam dari jubah luarnya, vampir bersurai perak itu memandang dengan serius “Valerin, ditangkap ole Alphonse.” Lanjutnya lagi.


“Val? Bagaimana bisa?” William Rovana tersentak.


Frederitch mengangguk “Seperti kau baru kenal Valerin kemarin saja, bukankah kakak beradik itu sama bodohnya?” Frederitch mengulum senyuman, tatapannya sirna akan keheningan, kemudian dia mengeluarkan buku Coalesce dari saku jubahnya.


“Coalesce?”


“Ah, benar. Sudah kubaca semua, Valerin ingin buku ini bersamaku. Tapi aku lebih suka buku ini bersamamu.”


William mengambil buku itu, dia mengulum senyuman “Kau ingin aku bantu apa? Jika itu tentang Valerin, tidak akan menolak.” William menggeleng diiringi tawa kecil “Benar katamu, kakak beradik itu sama bodohnya.” Lanjut William.


“Benar, jika mereka berdua senang bertindak sendiri agar melindungi rekannya. Mirip bukan?”


“Iya, mirip. Tak heran jika Al, ingin Valerin.”


Leon Sirius, sejak tadi berada di lantai dua dari kediamannya, melalui teropong. Dia melihat iring-iringan pasukan kerajaan. Buru-buru pemuda itu berjalan ke bawah, menemui sang kakak yang masih berkutat dengan dokumennya.


“Serahkan kami, jika pasukan kerajaan tiba!” ujar Leon dalam sekali hantaman pintu yang terbuka.


“Kenapa?” Sang kakak berujar dengan heran.


“Mereka datang...”


Kedua Sirius bersaudara itu gopoh berjalan keluar, mereka baru tiba di ambang pintu halaman terluar. Didapatnya hanya Frederitch sang pangeran ketiga dan William Rovana yang berdiri diatas puluhan pasukan kerajaan yang sudah dikalahkan.


“Pemanasan, eh?”


Frederitch tertawa kecil “Ya, pemanasan Will.”


“Pangeran, Viscount...” Edward Sirius melongo, sementara Leon Sirius hanya menghela nafas.


“Kalian sama bar-barnya. Terus, kenapa tidak disisakan satu untuk diinterogasi?” Leon Sirius berkata dengan tenang.


Frederitch membuka sarung tangan hitamnya, sebuah simbol mawar bersinar kemerahan disana “Alponse, tidak akan toleransi.” Jawabnya lagi “Valerin pernah bilang padamu bukan komandan? Menjaga anak-anak sementara waktu. Seharusnya kau paham kenapa seorang Earl Grayii berkata seperti itu.” Sepasang iris Frederitch memerah crimson. Menatap dengan kilau yang tajam.


“Earl Grayii?”


“Ya, kalian terpaksa terlibat. Agar tidak terlibat lebih jauh...” Frederitch merapalkan mantera, membuat selubung di seluruh penjuru kediaman Sirius “Dengan ini, siapapun akan terkecoh dengan letak rumah ini.” Ucap Frederitch.


“Kau tidak apa? Menggunakan sihir? Jantungmu?” William Rovana terkesima namun penasaran.


“Tak masalah, lagi pula jantungku sudah kembali.”


“Ah, kalau begitu kita jemput saja tuan puterimu, Pangeran Frederitch.” Goda William Rovana dengan tawa renyahnya.


“A-anu...” Suara lirih Alexander terdengar “Aku, sebaiknya aku kembali ke istana, sebelum kakak malah semakin membahayakan kalian.” Cicit Alexander yang berdiri di ambang pintu dengan raut bersalahnya “Maafkan aku...” Lanjutnya lagi.


“Alex...” Panggil William Rovana.


“Viscount Rovana.” Alexander Caleum dengan sebelah mata crimsonnya, seorang half  vampire hanya menatap dengan penyesalannya.


“Valerin, tidak akan menyalahkanmu, dia manusia paling baik kepada ras apapun asal kau tahu.” William Rovana mengulum senyuman “Kami akan menghantarmu kesana, sekaligus menjemput Valerin.” Lanjut William lagi “Ah, Crave Rose bagaimana?” Tanya William kepada Frederitch.


“Sungguh? Tapi, bagaimana?”


Frederitch menggeleng “Itu urusanku memperbaiki kekacuan yang kakakku buat, selagi Alphonse ingin mengahancurkannya itu tak masalah, aku akan memperbaiki Crave Rose dari awal.” Ucap Frederitch memengang pundak William “Aku masih memengang teguh perjanjianku dengan Valerin teman kita.”


William mengangguk “Benar, kalian berdua ingin tidak ada perbedaan bukan? Kalau begitu, biarkan aku membantumu.”


“Dimulai dari menjemput, kekasihku.”


“Haha, benar kekasihmu...”


Edward Sirius menatap keduanya “Sebenarnya, siapa Earl Grayii itu?”


Leon Sirius hanya menatap dengan tenang “Orang baik yang lebih memperdulikan orang lain dengan tindakan bodohnya.”


Edward Sirius mengangguk setuju “Benar, bahkan dia menemukan Sabrina dengan cepat. Memang bangsawan yang berbeda, rekan-rekan yang luar biasa, dan  tampaknya Pangeran dari Crave Rose itu sangat mencintainya.”


“Benar, tapi perlu diingat kak, Emelie Rovana sudah meninggal. Aku sudah mengatakannya padamu, sebelum itu kau belum memberi tahu hubunganmu dengan Viscount Rovana bersama Emelie Rovana.”


“Tidak perlu, bagiku membantu semua yang kalian butuhkan sudah cukup.”


“Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Sabrina dan anak-anak.” Ucap Leon Sirius memengang pundak sang kakak “Aku pergi dulu.” Ujarnya lagi.


“Wah, kau ikut dalam tim ini?” William antusias melihat Leon Sirius yang mendekati mereka.


Leon menarik Alexander mendekatinya “Aku masih pelayan pangeran bodoh ini.” Ucapnya dengan nada datar “...dan assasin kepercayaan, Yang Mulia Alphonse. Ingatanku terhadap semua ruangan istana kalian perlukan.”


“Ayo...” Frederitch naik keatas kursi kusir. Dia memang tiba dengan kereta kuda sebelumnya “William, biarkan Alex dan Leon didalam kereta.” Lanjut Frederitch lagi.


William mengangguk dan menaiki kursi disamping Fredetrich “...Ini akan menjadi malam yang panjang.” Kekeh William.


“Ah, benar...” Ucap Frederitch sambil memacu kudanya.


Sementara itu...


“Hey, hentikan tahanan itu!”


“Cih!”


Brak. Bugh. Valerin Grayii dalam sekali serangan melumpuhkan dua penjaga, dia pun kembali berlari. Valerin masih memiliki akal yang cerdik, berkat akal cerdiknya ia berhasil keluar dari kamar penahanan.


"Merepotkan!" Decak Valerin dengan sepasang violet yang berkilau tajam, ia kembali berlari dan sesekali bersembunyi jika berpas-pasan dengan penjaga kerajaan.


sampai tiba pada lorong yang akan menuju sebua penjara khusus, dijaga ole dua orang pengawal.


"Hoam..." Salah satu pengawal menguap.


Valerin tersenyum miring, dia menyentuh pundak sang pengawal. Kemudian menghajar keduanya sampai tak sadarkan diri "Tch." Decih Valerin sambil menyelinap masuk.


Kaki yang tak mengenakan alas apapun, menapaki tangga dingin menuju ruangan bawa tanah, bahkan hanya mengenakan gaun tidur berwarna putih yang sudah bernoda dengan kotoran. Sang surai perak itu tidak perduli.


“Panacea...” Bisik Valerin, memanggil Panacea yang tertunduk lemas didalam jeruji besi.


“Jangan mendekat tuan muda. Jeruji ini sudah diberi mantera khusus.” Peringat Panacea yang terikat rantai perak “Ah, sudah kuduga, anda pasti bisa melarikan diri.” Kata Panacea dengan senyum pelannya.


Valerin menggeleng “Ayo! Keluar dari sini.” Valerin mengulurkan tangannya.


“Kau pasti bisa! Ini perintah, kita masih terikat bukan Pana...” Lanjut Valerin lagi, menatap melalui sepasang violetnya yang berbinar terang “Kau, keluargaku yang berharga. Kakakku.” Lanjutnya lagi.