
“Pangeran Frederitch, Yang Mulia semakin sekarat...”
Kedua mata biru dari frederitch membelalak, sulit dipercaya. Dalam sebuah koridor istana yang gelap sosok Frederitch yang semula melangkah dengan tenang berkharisma mendadak berlari dengan cepat.
“Frederitch...” Suara parau sang raja memanggil berulang kali.
Frederitch yang baru tiba di kamar raja dari Crave Rose mendekati ranjang kasur besar itu “Kak, aku disini...” Frederitch menatap sendu sang kakak yang seperti kulit dan tulang saja. Dia sampai lupa dengan sosok gagah sang kakak tiga tahun lalu, bagaimana penyakit langkah keturunan Raymond malah menyerang kakak tertuanya.
“Dust Bones...” Ujar sang raja “Ber...damai dengan Dust Bones...” Ucap sang kakak terbata-bata.
Frederitch menatap tak percaya, terutama ketika tangan kurus sang raja menggengam tangan Frederitch “Aku tahu, ayah kita berteman dengan mereka sejak muda.” Senyum dari bibir kusut itu terukir “...Kau, mencintai anak mendiam Earl Grayii bukan?” Tanyanya lagi.
Frederitch hanya mengangguk, tak kuasa berucap lagi “Benar, kak... sebaiknya kau istirahat saja.” Pinta Frederitch turut menggengam tangan Nikolai, sang raja.
“Dia... mirip dengan paman Elios, bukan?”
“Benar kak, dia mirip dengan paman Elios.”
“Kalau begitu, ambil tahta raja ini. Frederitch...”
Frederitch menunduk, ia tak percaya, disangka menghilang dari kerajaannya sendiri akan menjauhi posisi raja namun takdir berkata lain. Ia harus menuaikan permintaan kakaknya yang sekarat ini “Kak... kau harus istirahat.” Bujuk Frederitch seraya menaikkan selimut sang kakak.
Kala itu, Frederitch bisa melirik siluet dari puteri Primavera yang diam-diam menguping dari balik pintu. Frederitch pun hanya bisa melirik dengan tajam.
“...Keparat! Kenapa harus Frederitch, setelah bersusah payah!” Erang Primavera yang berjalan melewati lorong istana. Wajahnya kesal dan kusut.
“Bersusah payah apa, Yang Mulia?” Sosok Frederitch sudah melesat dihadapan Primavera dengan kedua mata merah yang memandang remeh itu.
“Jangan berlagak mentang-mentang bergaul dengan manusia, kau hanya beraliansi dengan para tikus asal kau tahu.”
“Benar, mereka aliansiku, para manusia... kau mau berapa lama lagi bertahan dengan perselisihan ini? Crave Rose sudah krisis, bahkan para vampire sudah banyak berkurang karena ulah pemaksaanmu.” Jawab Frederitch sambil melipatkan kedua tangannya didada.
“Kau! Berani menyela pembicaraan kakakmu? Kau memang pengkhianat Crave Rose!” Tunjuk Primavera.
Frederitch menggeleng seraya tersenyum miring “Vampire bisa hidup berdampingan dengan manusia, mereka bahkan bisa menyelamatkan kita. Hanya kau saja yang berpikir kuno, Prim.” Elak Frederitch sambil melangkah pergi.
“Aku tahu... kondisi kak Nik yang semakin memburuk itu.” Bisik Frederitch lagi.
***
Ellis tiba di istana Dust Bones, bercak darah juga terdapat pada wajahnya. Bahkan para prajurit mengerumuni kereta yang dinaiki Ellis.
“Al!” Pekik Ellis sambil membuka kereta kuda tersebut.
Alphonse masih hidup meski degup jantungnya melemah “Kumohon, bantu bawa Yang Mulia ke ruangannya.” Perintah Ellis pada prajurit itu.
Ellis berlari ke seluruh istana, mencari sosok Louisa. Ia temui wanita itu didalam perpustakaan kerajaan.
Brak! Bunyi pintu yang terbuka lebar, menampaki sosok Ellis dengan paras acak-acakannya “Tolong... Al, terkena panah...”
Kedua mata Louisa membelalak, ia segera berlari.
Sebelum Louisa masuk ke ruangan Alphonse, Ellis menghadangnya sejenak “Aku Valerin Grayii, aku sudah ingat semuanya, kau, Al dan Lyn bekerja sama untuk menghapus ingatanku demi menciptakan Ellis ini. Dengar, aku membenci Al tapi tolong selamatkan dia selagi aku pergi.” Ujar Ellis yang kala itu meremat pergelangan tangan Louisa dengan erat.
Louisa mengangguk “Baik, Earl...” Ujarnya sambil masuk kedalam ruangan Alphonse.
Sementara Ellis, beralih lagi berlari ke sepanjang koridor yang terhubung dengan menara pengasingan itu. Bahkan, Ellis yang masih mengenakan zirah besi itu tak perduli dengan para pelayan yang menatapnya dengan aneh.
“Lepaskan Remington! Ini perintah darurat!”
Kedua pengawal tak mengubris Ellis, dengan kesal Ellis melumpuhkan kedua penjaga itu membuat mereka pingsan.
“Remington!” Ellis berteriak usai membuka pintu ruang penyekapan ini.
Ellis mendatangi Remington yang dirantai, dalam sekejap ia memotong rantai itu dengan pedangnya “Kau baik-baik saja?” Tanya Ellis.
Remington langsung mendekap Ellis seraya mengecup puncak kepalanya “Anakku, Ellis, kau berperang dengan Brunia? Oh Tuhan, maaf... aku mengajarimu untuk mengotori tanganmu.” Ujar Remington.
Ellis menggeleng “Ayah, terimakasih sudah menjagaku selama ini, tapi aku ingin memberi pengakuan...” Detik itu pula, sihir yang menutupi Ellis pudar. Surai pirangnya berubah hitam dan kedua mata emasnya berubah violet “Aku Valerin Grayii, Earl Hortensiaburg, tiga tahun lalu ketika dalam perjalanan memenuhi panggilan Yang Mulia, mereka menyekapku dan menyiksaku agar meninggalkan trauma. Demi trauma, jiwaku akan rapuh yang memudahkan mereka menyisipkan kepribadian lain dengan menghapus ingatanku.” Ellis menunduk.
“Tapi, aku menyukai hari-hariku bersamamu, kau mengingatkanku dengan ayahku, Elios Grayii. Terimakasih Remington, dengan ini aku tetap memakai nama pemberianmu, Ellis Francieli seperti namamu Francieli Wood Remington.” Ellis tersenyum, ia tahu nama kecil Remington yang diberi kepadanya.
Remington tak kuasa menahan haru, ia menggengam tangan Ellis “Maafkan aku, maafkan aku Earl Grayii...”
“Remington! Kau penyelamatku, hentikan itu.” Ellis yang melutut tetap mengusap-usap pundak Remington “Aku ingin kau menolongku, Di medan perang sesuatu tak terduga terjadi, Alphonse terluka parah dan perang masih berlangsung. Aku ingin kau menjaga benteng di kota pusat, sementara aku akan kembali lagi ke medan perang. Brunia... bersekongkol dengan Crave Rose, dan tak ada yang tahu rencana licik apa yang direncanakan Primavera itu.” Ucap Ellis.
“Hey pendek, kau mengucapkan nama vampire tua itu?”
“Kami dengan senang hati turun dalam pesta itu...”
Diambang pintu penyekapan, tampak Angelise dan Auguste yang bersandar dengan menatap Ellis.
Angelise mendecih “Tch, aku sudah curiga jika ajudan itu kau pendek!”
“Maaf, tapi aku masih membenci kalian...” Ellis terkekeh pelan.
Remington beranjak berdiri “Hati-hati, nak...” Ujar Remington sambil memengang pundak Ellis.
Ellis mengangguk, ia memberikan pedang biru miliknya kepada Remington “Untuk menjaga pusat Dust Bones, kau membutuhkan ini.” Senyum Ellis.
Remington meraih pedang itu “Pria tua ini sebenarnya tak perlu pedang ini lagi.”
Ellis menggeleng “Aku punya senjata yang lebih bagus.” Kata Ellis sambil melebarkan senyumnya.
“Oh tentu, ini bukan?” Auguste memberikan sepasang pistol perak kepada Ellis “Maaf, kami menggeledah ruanganmu karena ingin mencari tahu siapa kau, jika sudah begini jelas jika kau sang Earl itu.” Ucap Auguste lagi.
Ellis segera meraih kedua pistol perak itu “Terimakasih...” Sempat ia belai senjata itu dengan penuh ingatan, sosok bayang-bayang sang kakak menggunakannya.
“Maaf kak, aku tak bisa menjadi Avicenna seperti dirimu. Aku... tak bisa melanjutkannya.” Selip senyuman Ellis tampak memilu kala itu. Kemudian, ia beralih menatap Remington berganti dengan tatapan tajamnya.
“jaga dirimu, ayah...” Ucap Ellis sebelum sepenuhnya pergi meninggalkan istana.
Terlalu banyak hal yang menjadi pertimbangan Ellis, apalagi dengan kembalinya ingatan Valerin Grayii dalam kepalanya usai menyaksikan Alphonse yang terpanah itu.
Kuda yang ia tunggangi tampak keluar dari gerbang istana, tentu diikuti oleh tatapan seorang wanita dari balik menara yang tinggi itu. Siapa lagi kalau bukan Luciana, ia menatap kepergian Ellis dengan tatapan yang picik “Wanita jadi-jadian... itu!” Sang ratu mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tentu ia sudah tahu akan jenis kelamin Ellis yang sesungguhnya, siapa lagi kalau bukan melalui Felix Melian aka Duke Melian dari Puteri Primavera. Luciana, yang terbakar cemburu memang sudah bersengkokol dengan Duke Melian.
Kembali pada Ellis, ia berkuda dengan cepat. Dibelakangnya, Auguste dan Angelise berada dalam satu kuda yang sama turut mengekori Ellis.
“Kalian... Kenapa malah ikut? Bukannya menjaga Yang Mulia lebih prioritas?” Pekik Ellis.
“Hey pendek, kami ini pemburu vampire bukan penjaga Yang Mulia. Kau pikir kenapa kami mau ikut kalau bukan karena mendengar nama nenek sihir itu darimu.” Ucap Angelise tak mau kalah berteriak.
Ellis mengangguk “Tapi, usahakan jangan menjadi beban!” Peringat Ellis, karena gadis berpenampilan pria itu sudah memiliki rencana sendiri.
“Ellis!” William Rovana menunganggi kudanya menuruni bukit yang baru dilintasi Ellis.
“Gawat, keadaan yang kutakutkan terjadi, Primavera memiliki rencana licik dengan senjaga menyebar obscure di pihak Alphonse! Aku tak yakin, dimedan perang sana sudah berapa yang tertular.” Jawab Ellis dengan raut wajah serius.
William Rovana mengangguk “Setidaknya bertahan, sampai bantuan dari Frederitch tiba.” Ucap William yang beriringan berkuda dengan Ellis.
“Pana?”
William menunjuk jarinya “Didepan sana.”
Ellis melihat kedepan, ia melihat Panacea yang menaiki kereta kuda pengangkut “Tidak banyak tuan muda, beberapa peralatan dari kediaman Grayii hanya ini yang tersisa untuk melawan virus Obscure.”
Ellis turun dari kudanya, dengan tak perduli melucuti seluruh baju zirahnya, menyisakan kemeja putih dan celana kain hitam beserta boots “Berikan aku belati.” Titah Ellis.
Panacea memberikan belati kepada Ellis, dengan begitu Ellis melukai telapak tangannya dan sengaja memercikkan seluruh senjata didalam kereta pengangkut itu dengan darahnya “Biarpun serangan kalian meleset, selama darahku mengenai mereka... semuanya akan kembali murni.” Ellis berucap sambil memengangi tangannya yang mengalir darah itu, dia melukai tangannya terlalu dalam. Tapi apalah rasa perih luka ini, sungguh tak lagi berarti.
Panacea meraih tangan Ellis, ia membuka membalut luka tersebut dengan sapu tangan dari saku gaun luarnya “Tubuh anda yang sekarang, sangat sulit kembali dikenai sihir, contohnya saja sihir perubah warna mata dan rambut... sihir apapun bisa gagal, maafkan aku tuan muda.” Panacea yang membalut luka Ellis berucap dengan sendu.
Ellis menggeleng “Ini bukan apapun, Pana...”
“Kita harus bergegas, sebelum keadaan semakin memburuk.” Lanjut Ellis.