Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 41




“Viscount Rovana...” Panggil Panacea terhadap pria yang tengah mengamati jejak kaki tepat di depan mereka ini.


Pria yang mengenakan jubah cokelat itu tampak berpikir dengan serius “Val, pernah mengatakan padamu tentang mungkin saja ada orang yang sengaja menyebarkan wabah ini?” Tanya Viscount Rovana kepada Panacea.


Panacea menggeleng, jubah hitam beserta gaun hitamnya menyapu tanah lembab itu “Tidak Viscount, jalan pikirannya teramat sulit diterka.” Panacea tersenyum simpul.


“Yah, Valerin yang dulu menyukai keributan dan dia nyaris selalu berisik, ceria dan periang.” Ucap Viscount Rovana “Aku dan Val, kami juga berteman. Fredericth yang selalu menempeli Valerin, selalu mencegahnya bersikap gegabah. Sekarang kurasa kau akan menjadi bride maid Valerin yang ini...” William Rovana mengeluarkan puntung rokok dari saku celananya “Terlambat, desa Ross seharusnya belum tercemar tapi sekarang mereka sudah terlambat di selamatkan.” Ucapnya lagi.


Panacea mengangguk setuju “Ini wilayah keenam yang seharusnya bersih dari Obscure.” Panacea Eerie menepikan surai merah batanya “Sesuatu menimpa tuan muda, Viscount Rovana... kurasa aku sangat senang mendampingi pernikahan tuan muda, ah maksudku nona muda dan Pangeran Frederitch... i-itu ide yang bagus.”


“Kau harus...” William Rovana menghembuskan asap rokoknya “Kau satu-satunya keluarga yang dimiliki Valerin saat ini, dia bersikap padamu seperti pada saudarinya.” William Rovana terkekeh pelan “Menjadi manusia, tidak begitu buruk bukan? Avaritia...”


Panacea Eerie membulatkan kedua matanya, dia melangkah mundur dengan waspada “Kau? Tahu...” Rasanya nafas Panacea Eerie memburu saat itu.


William Rovana menggeleng sambil tersenyum lebar “Nenek moyangku, seorang yang akrab dengan hal-hal ini. Aku hanya menurunkan salah satu berkah sebagai pemburu iblis, tapi itu cerita lama sebelum teknologi muktahir yang hancur kembali. Masa kembali menua, nona Eerie...” Pria itu berucap sambil mengulurkan tangannya “Satu-satunya orang yang harus kau waspadai adalah Alphonse. Aku melihatnya tatapannya kepada Valerin, tatapan itu yang harus kau waspadai nona Eerie... Kurasa Valerin sudah menyadarinya.” William Rovana berjalan mendekati Panacea Eerie.


“Aku berhutang pada Valerin, dia sama seperti Emelie. Nekat dan berani, kita memiliki orang yang sama untuk dilindungi.”


Panacea Eerie mengangguk “Ya, kau benar Viscount Rovana. Valyria Soga Kinaru nama aslinya, adik dari Valerin Grayii. Mungkin di masa yang mereka tinggali, namanya pun berbeda sebagai Valerin Darly Kinaru.” Panacea Eerie menundukkan tatapannya “Kupikir, iblis hanya mengikuti kontrak yang mereka inginkan. Tapi Valerin berbeda, dia pria yang luar biasa...” Panacea menatap William Rovana, wajahnya datar dengan tatapan yang nanar. Dia tak bisa menangis biarpun perasaannya sedih “...Manusia yang luar biasa hebat, dan aku... sudah memakan jiwanya.” Setetes air mata Panacea mengalir “Sangat hangat... Valerin begitu baik.” Isak Panacea.


William Rovana pun merangkul tubuh Panacea Eerie “Kau tak salah Panacea...” Ucap William Rovana.


“Aku salah karena mencintainya... Aku salah karena membunuhnya... Aku salah.” Ulang Panacea Eerie dengan isak tangisannya “Aku... ingin seperti kalian.” Ujar lirih Panacea Eerie.


“Aku tahu...” William Rovana mengeratkan pelukannya kepada Panacea Eerie.


Ada kehangatan disana, sebelum pada akhirnya Panacea membulatkan kedua matanya dengan lebar. Dia mendorong tubuh William Rovana menjauh “Tuan muda... Yah, aku terbiasa memanggil gadis kecil itu begitu! Astaga...” Panik Panacea.


“Kenapa nona Eerie?”


“Dia nekat, bodoh, gegabah dan terluka.” Ucap Panacea dengan cepat, bahkan menaiki kembali kudanya “Tch. Ini lama, begitu lama untuk sampai ke lokasinya.” Panacea menatap William Rovana.


“Kenapa?” William Rovana menatap keheranan.


“Kemari...” Panacea Eerie menarik tangan Viscount Rovana muda itu, dia kembali turun dari kudanya. Merapalkan mantera, untuk menembus teleportasi cepat kesana “Genggam erat tanganku Viscount, perjalanan ini akan sedikit tak nyaman.” Ucap Panacea.


“Ap—“ William Rovana tak sempat berkata lagi, sampai sebuah lorong ajaib muncul didepan mereka dan menyedot dengan cepat.


****


“Aku butuh lebih banyak perban lagi.” Leon Sirius, raut wajahnya panik. Didalam sebuah kabin ditengah hutan. Tentu tak siapapun memiliki kabin itu, dia amat sibuk dengan kaki Valerin yang terus mengeluarkan darah disertai cairan nanah.


“Sudah, itu kain terakhir yang kucuri dari rumah penduduk.” Frederitch juga menatap panik, dia baru tiba dengan segulung kain-kain yang didapatkannya “Kumohon Val...” Ucap Frederitch mendekati Valerin yang terbaring lemah, tak sadarkan diri, sesekali mengigau dengan suhu badan yang panas.


Pria itu menghela nafas “Aku sudah membersihkan lukanya, dia butuh dokter untuk dirawat Pangeran Frederitch.” Ucap Leon Sirius.


Frederitch mengecup puncak kepala Valerin yang panas, dia menggengam tangannya dengan erat “Aku bisa...” Ucapnya kepada Leon Sirius.


“Apa?” Ujar Leon Sirius bingung.


“Kami link! Saling berhubungan, luka kecil bisa kusembuhkan. Tapi luka ini terlalu besar... Apalagi cara penyembuhan link harus dengan meminum darah Valerin.”


“Tapi dia sangat lemah.” Potong Leon Sirius. Sang pengawal pribadi kerajaan dengan pekerjaan ganda dulu sebagai assasin Dust Bones yang membuatnya terpilih menjadi anggota Paladin of Dustbones “Didesaku dulu, banyak orang yang terluka berakhir dengan kematian. Kami miskin dan kekurangan pasokan obat...” Ucap Leon Sirius.


“Maaf...” Frederitch membiarkan kepala Valerin berbaring dipangkuannya “Maaf tuan Sirius, kejadian itu saat kakak tertuaku dilantik. Benar, saudaraku sangat licik dan kejam. Maafkan aku...” Ucap Frederitch sambil memperhatikan Valerin Grayii.


“Tidak apa, berkat Earl Grayii ucapannya menyadarkan sesuatu.” Leon Sirius beranjak berdiri “Aku akan mengambil air...” Leon Sirius pun berjalan keluar kabin. Saat membuka pintu, dia terkejut mendapati Panacea bersama Viscount Rovana yang menahan mulutnya ingin mengeluarkan sesuatu.


“Tuan muda?” Panik Panacea.


“A-aa... didalam bersama Pangeran Frederitch.”


Leon Sirius diacuhkan oleh Panacea yang berjalan masuk kedalam kabin. Dia terburu-buru.


“Hey, kau tidak apa Viscount Rovana?” Ucap Leon yang melihat Viscount Rovana memengangi ujung pintu dengan wajah pucatnya.


“A-aku...” Dia pun memuntahkan seluruh isi perutnya “Aku lebih baik berkuda dari pada sihir gila itu.” Keluh Viscount Rovana.


Panacea langsung bergerak cepat, dia membuka perban di kaki Valerin. Dari saku jubahnya, ia membuka sebuah kantung kain berisi serbuk obat-obatan “Bertahanlah Val, kau kuat... kau gadis yang kuat.” Ucap Panacea menaburkan obat-obatan itu ke luka Valerin.


“Aku butuh dia bangun sebentar untuk menelan obat ini.” Ucap Panacea kepada Frederitch.


Pria bersurai keemasan itu mengangguk, dia membantu membangunkan tubuh Valerin. Panacea yang membantu Valerin menegak pil obat.


“Dia infeksi, semoga besok pagi akan lebih baik.” Ucap Panacea “...dia butuh istirahat, Pangeran Frederitch.” Ucap Panacea lagi.


“A-aku akan berjaga diluar. Baik, titip Valerin untukku.”


“Aku akan melakukannya, dia juga saudariku.” Ucap Panacea tanpa ia sadari.


Frederitch tersenyum simpul, dia beranjak berdiri. Membiarkan Panacea mulai mengemasi Valerin dari pakaian, tempat tidur dan semuanya. Kini Frederitch tahu, semua orang menginginkan Valerin karena bakat dan kebaikannya.