
Berkelana menjadi pribadi yang berbagai rupa. Kali ini Valerin menyaksikan langsung dunia yang kita tinggali kembali menjadi nol tahap.
"Jadi, kau adalah aku?" tanya Valerin menyaksikan masa ini. Masa seorang Liriel terdiam menatap satu-satunya kekasih yang menjadi terinfeksi pertama kali. Asal muasal Obscure di dunia Valerin terlempar.
"Bukan," sahut Liriel dengan cepat. "Kami melakukan hal yang jauh lebih fatal." Liriel berucap sambil bangkit berdiri menatap Valerin yang masih berupa jiwa mendatangi masa lalu kala ini.
"Kau itu lahir dari garis keturunanku," ungkap Liriel. "Bisa dikatakan aku sudah begitu lama mati."
Valerin menggeleng tak mengerti. "Katakan dengan ringkas! Kau menyeretku pada masalah sialanmu, bagaimana nasib teman-temaku saat ini?" erang Valerin sangat frustasi.
"Kau harus mengakhiri apa yang sudah kau mulai Valerin," jawab Liriel tersenyum pasi. "Kuberikan semua ini padamu, gunakan sebaik-baiknya," ucap Liriel.
"Dongeng 1000 tahun lalu sudah berakhir di tanganmu, Valerin."
****
Kedua mata Valerin terbuka. Dia terduduk di tengah-tengah kawah seperti bekas sebuah ledakan dahsyat yang sudah terjadi. "Apa yang sudah kulakukan?" tanya Valerin mematung.
Asap tipis membumbung ke angkasa. Menyisakan dirinya seorang yang menatap nanar sekitarnya.
"Valerin!" Pekik Frederitch yang berdiri di atas kawah itu. Pria itu langsung melompat masuk ke dalam sana. Dia raih tubuh Valerin dalam dekapannya itu.
"Apa yang sudah kulakukan? hey, Frederitch apakah aku memusnahkan semuanya?" tanya Valerin dengan bibir bergetarnya.
Frederitch yang memang dalam perjalanan kemari harus menyaksikan ledakan dahsyat dari sini. Dia tahu jika ledakan dengan warna violet itu berasal dari Valerin. Setelah tiba di sini, yang ia dapati hanya Valerin yang mematung dengan wajah yang syok.
"Tidak apa, semuanya sudah usai," ucap Frederitch mendekap Valerin.
Frederitch menyaksikan setengah bagian luar dari Dust Bones membentuk kawah. Kekuatan yang setara dengan bencana alam itu milik gadis mungil yang dia peluk sejak tadi.
"Kumohon tinggalkan Dust Bones bersamaku," ujar Frederitch setengah memelas. Dia tahu, Valerin terlanjur memusnahkan sebagian besar manusia-manusia yang terinfekasi obscure sekaligus seluruh pasukan dari kerajaan Brunia.
Anggukan kecil terasa dari Valerin yang ada dalam dekapannya. Begitu sadar, Frederitch segera menggendong tubuh Valerin untuk dia bawa serta.
Panacea muncul dihadapan Valerin dan Frederitch. “Semuanya sudah berakhir,” ujar Panacea. “Musuh sudah usai dan tuan muda mengakhiri sebagian besar terinfeksi,” ucap Panacea.
Frederitch mengangguk. “Valerin akan pergi bersamaku,” ucapnya.
Panacea menggeleng. “Kondisinya sangat lemah, paling lemah dari yang mulia kira,” ungkap Panacea.
“Tapi dia tak bisa berada di Dust Bones lagi!” Sergah Frederitch yang juga frustasi.
Panacea diam karena mengerti dengan kondisi ini. Valerin hanya akan tetap diburu usai menjadi peledak dahsyat ini. “Baiklah, biarkan aku ikut,” ucap Panacea yang masih setia pada Valerin.
Frederitch jalan tak perduli melintasi Panacea. “Dia akan dalam lindunganku,” ucap Frederitch lagi.
.
.
.
.
terima kasih dan mohon maaf, untuk pembaca yang baik hati ...
Dikarenakan beberapa hal dan sesuatu, saya memutuskan untuk hiatus dalam waktu yang tak ditentukan di NOVELTOON ini, tapi saya masih menulis karya yang lain
untuk informasi atau keluhan yang ingin disampaikan pada saya di ig @Arta_pradjinta
Terima kasih