Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Epiosde 30




Kehampaan, nyaris yang terasa hanya kesepian. Valerin Grayii berjalan seorang diri menuju ruang bawah tanah. Memengang lentera ditangan kanannya, menuruni tangga, hingga membuka pintu itu dengan kuncinya sendiri. Kadang, terbesit kenangan didalam manor ini. Padahal baru tujuh hari, namun Valerin Grayii amat merindukannya.


Dia menghela nafas “Ha... Seperti remaja saja.” Keluh Valerin Grayii sambil menuju sebuah rak didalam sana.


“Tepat pada buku ketiga di rak kayu pertama, ada sebuah benda. Aku ingin kau melihatnya, sesuatu harus kau ketahui...”


Tangan kecil Valerin dengan perlahan memilah setiap rak pertama, ia mengambil sebuah buku ketiga dari rak tersebut. Satu-satunya rak bersampul putih perak dengan sebuah lubang ditengahnya. Bukan sembarang buku, ketika Valerin mengamati buku itu “...Oh, ini sebuah kotak.” Ucapnya tak menyangka kotak yang menyerupai buku sedemikian rupa ini, Valerin Grayii meraba lubang dibagian tengah buku itu “Seperti cocok dengan sesuatu.” Kedua matanya melebar ketika memengang pin batu amethyst di pita dasinya, buru-buru Valerin memasangnya kesana.


“Dear our beloved, Valyria...” Valerin membuka kotak menyerupai buku itu, dia melihat sendiri sebuah kartu didalamya dengan tulisan tangan sang kakak. Kemudian, dia melihat sebuah benda kotak kecil. Sangat kecil, dengan kepingan logam yang terukir disana “Chips? Flashdisk?” Valerin Grayii merengutkan dahinya.


“Oh disini kau rupanya, tuan muda.” Itu Panacea, dia tiba ruangan ini juga.


“Ah iya, seharusnya aku ke panti asuhan tapi sebentar lagi.”


Panacea menyadari benda yang dipegang oleh Valerin “Sepertinya ada sebuah alat untuk menayangkannya.” Ucap Panacea sambil berjalan menuju sudut ruangan yang terdapat sebuah peti kayu “Kurasa tuan muda bisa menggunakan ini.” Ucapnya lagi.


“Benar! Hehe...” Valerin Grayii mendadak sibuk. Dia membenahi sebuah projector tua itu “Wah benda ini diduniaku bisa begitu membantu, apalagi saat jam kelas perkuliahan.” Valerin Grayii dengan senyum sumringannya memasang beberapa kabel bahkan membenahi baut-baut yang mulai longgar.


“Anda nyaris dapat melakukan apapun tuan muda.”


Valerin Grayii menggeleng “Aku payah dalam memasak, biarpun aku perempuan hehe...” Valerin Grayi memasangkan benda kotak yang ditemukannya tadi ke Projector itu. Sebelumnya ia mengarahkan projector itu pada sebuah dinding.


Projector itu mulai hidup walaupun tidak dengan nyala yang baik, beberapa tampilan ikut bergetar namun video yang menampilkan sang kakak semasa hidupnya mulai berjalan “Kak Darly...” Gumam Valerin Grayii sambil merematkan kedua tangannya sendiri.


“Hai? Halo? Apakah ini merekam dengan baik, oh semoga saja...” Tampak seorang pria yang tengah membenahi letak kameranya, latar pria itu berada diruang kerja Valerin Grayii.


“Okay, hai Valyria jika kau bisa menemukan rekaman video ini berarti kau sudah bertemu dengan Frederitch bukan?” Pria berwajah tampan yang kalem itu tersenyum dengan lebar “Maaf ya Panacea, bukannya tak percaya padamu. Hanya saja aku ingin menyampaikan langsung dengan adikku, selamat datang didunia ini. Dunia yang kau sangka tidak ada tapi berdampingan dengan kehidupan kita. Aku Valerin Darly Kinaru, kakakmu yang tercinta.” Pria itu tampak menggaruk ujung pipinya yang tak gatal, dia tersenyum malu-malu.


“Maaf merepotkanmu Valyria, tapi bisa kuberikan satu penjelasan?”


Valerin Grayii seolah-olah berbincang dengannya, ia mengangguk “...apapun itu kak, aku akan rela melakukannya.” Valerin Grayii tersenyum sendu.


“Dunia ini masa depan dari dunia kita, kemunduruan jaman namun tak terlupakan. Kedua orang tua kita—tidak, hanya ayah kita berasal dari dunia ini. Bisa kau terka, apa posisinya? Tentu saja Earl Grayii, tugas kita sebagai Grayii adalah membasmi ulah dari leluhur kita. Obscure adalah virus yang leluhur kita temukan dijaman kita, ayah memiliki misi melintas waktu untuk mencegah hal itu.” Pria beriris violet itu terkekeh pelan “Alih-alih menyelesaikan tugas, ayah malah jatuh cinta dengan ibu. Jadilah kita berdua! Misinya dianggap gagal dan dibekukan dari posisinya sebagai leader paladin of Dustbones sekaligus Earl of Hortensiaburg. Aku dipanggil secara paksa oleh ratu Alexandria untuk masalah saat ini, yaitu mewabahnya Obscure di Dustbones.” Sepasang iris violet itu menatap dengan tajam seiring dengan wajahnya yang kembali serius “...Jika rekaman ini sampai kepadamu, berarti misiku sudah gagal. Aku menawarkan solusi, yaitu darah kita sebagai penawar. Namun butuh banyak clan Gandaria yang dikorbankan sementara saat ini Clan Gandaria hanya sisa kau dan aku. Maka dari itu aku sudah meneliti sesuatu, kurasa hanya kau yang bisa.”


Valerin Grayii menatap dengan getaran mata yang samar “Kak Darly apa yang coba kau katakan?”


“Kau bisa mengendalikan orang yang terinfeksi Obscure, karena kau memiliki kemampuan itu, aku tahu kau bisa melihat jiwa yang akan atau sudah mati, buatlah kesepakatan dengan mereka kemudian tundukkan mereka dalam perintahmu. Frederitch akan membantu menggali kemampuanmu, dia temanku kau bisa percaya dengannya selain Panacea.”


“Aku ingin kau mengakhiri wabah itu, membiarkan Dustbones menang dari Crave Rose kemudian pergilah sejauh mungkin.”


“...Hanya itu yang bisa kukatakan, selamat berjuang. Maaf aku menitipkan amanah yang besar kepadamu. Adik kecilku, Valyria”


Tayangan itu berakhir pada Valerin Darly Kinaru yang mengulum senyuman singkat untuk Valerin Grayii, pria berwajah rupawan dengan senyuman ramah itu menatap dengan teduh. Sungguh pancaran seorang yang berhati lembut.


Valerin Grayii hanya menatap dengan kedua iris mata yang melebar, kenyataan lain kembali dia ketahui “A-aku... mampu mengendalikan mereka?” Tanya Valerin pada dirinya sendiri.


“Tuan muda?” Panacea nyaris menyentuh pundak Valerin Grayii, namun gadis bergaya lelaki necis itu segera menghindar.


Valerin Grayii keluar dari ruangan itu lebih dulu, tanpa sekata apapun. Langkah kakinya tentu saja cepat dengan raut wajah yang mulai menatap serius.


“Ah, kau benar Earl... Adikmu sangat tangguh.” Gumam Panacea dengan raut sendunya.


_o0o_


Kedatangan sang Earl of Hortensiaburg, nyaris saat mentari tenggelam. Valerin Grayii menampaki sepasang sepatu kulitnya didepan sebuah panti asuhan, letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Mereka perlu berkendara dengan kereta kuda sekitar satu jam, diujung pusat kota dengan pemukiman yang jarang tepat pada hutan wilayah Dust Bones. Gedung itu berada.


“Selamat datang Earl Grayii.” Dia langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya “Namaku Dorothy Hugh, Yang Mulia menunjukku sebagai pengurus panti asuhan.” Ucapnya sambil mengangguk hormat.


“Wah! Tuan baik!” Seorang bocah lelaki berlari mendekati Valerin Grayii “Tuan! Tuan!” Serunya sambil menggengam tangan Valerin Grayii.


Hampir saja wanita paruh baya itu memukul bocah lelaki itu, jika Valerin Grayii tak langsung mencegahnya “Tidak masalah, kami saling kenal.” Ucap Valerin Grayii “Ah, kasar. Belum apa-apa sudah mencurigakan.” Kata Valerin Grayii dalam hati.


“Baik, Earl Grayii...”


Valerin Grayii menunduki tubuhnya, ia membelai puncak kepala bocah lelaki pirang itu “Namamu?” Ucap Valerin Grayii.


“Elmer, namaku Elmer Tuan baik.” Cengiran lebar dengan beberapa gigi ompong itu tersenyum menggemaskan “Tuan baik, apakah ingat aku?” Tanya bocah itu lagi.


Valerin tentu tidak lupa dengan anak-anak jalanan di pusat kota itu, dia bahkan turut sedih saat tahu anak-anak ini menghilang “Bagaimana bisa aku melupakan kalian?” Valerin Grayii yang tadi memasang raut serius langsung tersenyum, begitu cantik. Apalagi binar pada kedua iris violet terangnya.


“Hehe, Emil sudah menduga. Tuan baik sangat cantik.” Puji bocah itu dengan polos “Ayo, tuan baik kita lihat Mario, Garret, Eli, Julia dan Mai.” Tangan bocah kecil itu meraih tangan Valerin membawanya menuju halaman belakang gedung utama panti asuhan.


Panacea Eerie menghela nafas, ia menatap sang tuan yang sudah pergi bersama bocah kecil itu “Cerise, bisa kau ikut bersama tuan muda?” Pinta Panacea kepada Cerise.


“Baik, nona Panacea.” Kata Cerise dengan nada datarnya.


Panacea Eerie tersenyum kecil “Tuan muda pasti sibuk bermain dengan anak-anak, benar begitu Nyonya Hugh?” Senyum Panacea kepada pengurus panti asuhan itu.


“Ah, ah benar.”


“Nyaris jam makan malam, apakah nyonya Hugh keberatan jika pelayan ini ingin membantu?” Panacea Eerie tersenyum penuh arti.


Wanita paruh baya itu mengangguk kecil “Silahkan, nona...”


.


.


Sejam yang lalu...


.


.


Ketukan suara hentakan kuda terdengar disepanjang jalan, Valerin Grayii duduk berhadapan dengan dua pelayan wanitanya. Dia bahkan sambil membaca berkas-berkas mengenai panti asuhan itu, ia dapatkan dari Alphonse yang menitipkan berkas itu sebelum ia pulang.


“Ada yang aneh...” Ucap Valerin Grayii setengah bergumam.


“Kenapa tuan muda?”


Valerin Grayii memengang dagunya “Seharusnya panti asuhan ini dijalankan oleh kerajaan bukan? Tapi kenapa penanggung jawab panti asuhan ini seorang Count?” Ucap Valerin melototi cap lilin berlogo bunga jasmine itu “Bahkan dia tak menggunakan cap kerajaan?!” Serunya lagi.


“Kurasa Al, belum sempat membaca berkas ini. Kenapa tak mencantumkan nama kerajaan saja? Rasanya seperti ini dana biaya tanggungan anak-anak di panti asuhan harus melaluinya dia dulu bukan?” Ucap Valerin Grayii sambil menggulung kembali berkas itu “Semakin heran, bagaimana bisa Al mendapatkan anak-anak itu dengan cepat?” Valerin Grayii menghela nafas.


“Pana, awasi gerak gerik pengawas disana. Misalnya makanan didapur, penyajiannya, dan ruang-ruangannya apakah layak.” Valerin Grayii menatap dengan tatapan tajamnya “Sementara aku akan memastikannya sendiri melalui anak-anak, ah... kuharap masalah ini cepat selesai. Aku harus bergegas memeriksa pabrik keluarga Grayii.” Valerin Grayii memijat pelipisnya yang berdenyut sesekali menghela nafas.


“Baik tuan muda.” Ucap Panacea Eerie.


“Cerise, kau berada didekatku saja ya.” Pinta Valerin Grayii sambil menatap jalan melalui jendelanya.


“Baik, Master...”


“Kuharap semuanya cepat berakhir...” Tatap Valerin akan langit yang nyaris menggelap itu “Aku... ingin segera bertemu denganmu Frederitch.” Valerin membatin seorang diri.