
Agenda hari kedua, Ellis akan memastikan semua perlengkapan sang raja yang akan dikenakan untuk pesta ulang tahun Pangeran Victorine lusa, maka dari itu kerajaan Brunia sebagai kerajaan tetangga diundang ke Dust Bones.
Di dalam ruangan dengan seorang pembuat pakaian, Ellis memeriksa semua bahan pakaian agar terbebas dari bahaya untuk sang Raja.
“Ellis Francieli, berapa kali kau akan memeriksa jubah itu?” Tanya pria dengan pakaian busana necis yang nyentrik.
“Ayolah tuan Antoine, aku harus memastikan semua untuk raja aman dan baik.” Celetuk Ellis sambil terus mengamati jubah itu, terutama sebuah permata berwarna merah. Ellis semakin mengamatinya.
“Antoine, kenapa mengenakan batu ini?”
“Apa? Batu yang cantik bukan? Brunia memberikan batu ini melalui suruhannya, tentu saja Yang Mulia Alphonse akan menyukai pakaian indah dengan permata merah ini.” Antoine sang pembuat pakaian malah berkata dengan bangga.
Tapi Ellis berbeda, benda itu tidak asing baginya “Jangan pakai batu itu untuk jubah raja.” Ucap Ellis mengenakan dua lapis sapu tangan dengan menutupi mulut dan wajahnya dengan sapu tangan. Ia mencabut batu itu, memasukkannya kedalam guci vas bunga kemudian menutupnya dengan rapat.
Antoine dan beberapa pelayannya tercengang, batu mahal yang Ellis copot sesuka hatinya itu merusak sebagian jahitan “Kau! Akan kulaporkan dengan Yang Mulia!” Celetuk Antoine sambil keluar ruangan.
“Aku harus ke perpustkaan...” Gumam Ellis yang tidak menghiraukan reaksi Antoine.
.
.
.
“Yang Mulia...”
“Antoine...” Sang raja yang sedang berbincang dengan raja Harold di beranda istana sedikit heran menatap sang pembuat pakaian istana yang menghadapnya.
“Yang Mulia, ampun... Jubah Yang Mulia dirusak oleh Ellis, dia menyabut batu permata merah di jubah itu.”
“Ellis seperti itu?” Remington yang tiba tak jauh turut menyela, kemudian membungkuk hormat “Maaf atas perilaku putera hamba Yang Mulia...”
“Batu permata merah? Bukankah seharusnya putih?” Tanya Sang Raja.
“Benar Yang Mulia, itu hadiah terhormat dari Yang Mulia Harold...”
“Batu itu memang hasil pertambangan Brunia, tapi batu itu tidak digunakan sebagai perhiasan Alphonse... Tindakan ajudan cantikmu itu berani juga Haha...” Sang Raja Brunia menepuk-nepuk pundak sang raja Dust Bones.
“Harold, kau berbicara setengah-setengah.”
“Begini Alphonse, batu sinabar memiliki kandungan berbahaya, begitulah kata tabib. Ah... Felix bisa menjelaskannya.” Sang raja gempal itu hanya tertawa sambil mengunyal cemilan di atas meja. Mau tak mau sang ajudan yang berdiri disampingnya menjelaskan sesuai permitaan sang raja.
“Sinabar, batu permata merah Yang Mulia Alphonse, batu indah itu bisa menyebabkan penyakit...”
“Karena batu itu memiliki unsur merkuri...” Sela seorang wanita dengan seragam serba putihnya itu “Membuat orang sakit, kehilangan fungsi tubuh dan meninggal, batu itu amat beracun. Memalukan untuk diakui, tapi pembuktian itu sudah dikatakan oleh seorang Avicenna legendaris dari Dust Bones, Valerin Grayii...” Sang wanita membungkuk hormat.
“Yang Mulia, hamba datang atas perintahmu...” Lanjutnya lagi.
“Wah, Louisa, kau mengangkat dokter kerajaan sebagai penasehatmu Alphonse?” Tanya raja Harold.
Alphonse mengangguk “Siapa yang memberikan permata itu Antoine?”
“Seorang yang mengaku sebagai suruhan Raja Harold...”
“Yang Mulia Alphonse, tampaknya ******* kembali diam-diam menyeludup ke Dust Bones, izinkan hamba mencari tahu...”
“Lakukan Louisa...”
“Oh iya Yang Mulia, ajudan penggantimu itu tampaknya menarik...”
.
.
.
Ellis dengan tumpukan buku yang dibawanya, berjalan menuju lorong. Dia menghabiskan sebagian hari di perpustakaan untuk membaca batu familiar itu. Ternyata dugaannya benar, seolah sangat tahu akan bahaya batu itu, Ellis ingin memberitahukannya kepada sang raja.
“...Jika benar, seseorang sudah sengaja menyeludup untuk membahayakan Yang Mulia.” Ucap Ellis.
“Ellis, kau seperti tumpukan buku yang berjalan.”
“Eh, Ayah! Aku tak bisa melihatmu...”
Remington menggeleng, dia membawa sebagian buku yang dibawa oleh Ellis “Yang Mulia membicarakanmu, karena kau tahu soal permata berbahaya itu...” Ucap Remington.
Ellis mengangguk dengan semangat “Batu itu berbahaya, jika sampai dikenakan Yang Mulia...” Kedua mata emasnya ikut berbinar dengan bara yang cerah.
Louisa, berpas-pasan dengan mereka berdua.
“Penasehat Louisa...” Remington menyapa wanita itu.
“Hai, Remington... apakah ini Ellis Francieli?”
“B-benar Penasehat Louisa.” Ellis mendadak gugup dengan tatapan menelisik dari Louisa.
“Ellis, apa kau tahu Clandestine?”
Ellis menggeleng dengan polos.
“Okay, kalau begitu Frederitch Drew Raymond?”
Ellis kembali menggeleng.
“William Rovana? Leon Sirius? Edward Sirius?”
Semua pertanyaan Louisa hanya digelengi dengan Ellis, dia sungguh tidak tahu.
“Ellis, ini yang terakhir, cara menangani luka seorang pejuang di medan perang. Setelah luka itu busuk disebagian daerah apa yang dilakukan seorang dokter?”
Ellis tampak berpikir sejenak “...Medan perang? Kurasa dia akan mati jika bagian yang membusuk tidak dibuang, jika cara itu memang ada. Kurasa bagian tubuhnya yang busuk harus dibuang, kasihan juga jika itu kaki atau tangan. Ah tapi...” Ellis menatap dengan binar matanya “Apakah ada namanya kaki atau tangan palsu penasehat Louisa?” Tanya Ellis dengan penasaran.
Louisa tersentak, polos dan riang bukanlah sikap dari Valerin Grayii “Jawabanmu memang benar Ellis, kau berbakat untuk melindungi raja.” Ucap Louisa sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Ellis, apa-apaan jawaban menyeramkan itu?” Remington bergidik.
“Ayah... Ellis hanya berpikir jika itu yang masuk akal.”
“Nah ayah...” Ellis tiba-tiba saja tenang “Kenapa Penasehat Louisa bertanya nama-nama orang yang tidak kukenal?” Tanya Ellis dengan heran.
“Hm, benar juga. Nama-nama itu orang yang membelot pada Dust Bones tiga tahun lalu, mereka dikenal dengan kaki tangan Valerin Grayii...”
“Nah, ayah... siapa Valerin Grayii itu? Yang Mulia sempat mengenaliku sebagai Valerin Grayii saat pertama kali melihatku?”
Remington menggeleng “Tiga tahun lalu, aku ditugaskan ke perang daerah timur untuk melumpuhkan kerajaan tetangga lain. Dua tahun dipanggil oleh Yang Mulia, aku hanya tahu jika Earl Grayii seorang Earl luar biasa jeniusnya. Sayang sekali, dia membelot pada Dust Bones dengan wabah Obscure...”
“Aku tidak mengerti, ayah...” Gumam Ellis kepada Remington.
Pria itu langsung membelai puncak kepala Ellis “Itu tahun-tahun yang berat untukmu dan Lyn, bukan? Ayah mengerti, jangan terlalu dipikirkan Earl Grayii itu, mungkin kebetulan mereka keliru mengenalimu.” Remington sangat menyayangi Ellis seperti puteranya sendiri, dia pun hanya menatap sendu pria muda itu.
“Tuan Francieli, Yang Mulia menunggumu di taman halaman belakang.” Seorang prajurit menyampaikan pesannya.
Sontak, Ellis berlari dengan buku-buku yang dipegangnya itu “Ayah, sampai jumpa nanti...”
“Ellis hati-hati langkahmu! Dasar anak itu.”
.
.
.
Taman yang berada tepat di hamparan lily putih. Ellis dapat menatap sang raja yang berbaring diatas bangku taman pada sebuah gazebo ditengah-tengahnya.
Nafas tersenggal akibat berlari, Ellis segera menghampiri sang raja yang berbaring itu. Awalnya Ellis takut membangunkannya, kemudian Ellis memilih diam berdiri. Menunggu sang raja membuka kelopak matanya.
“Ellis, kau habis berlari bukan?” Sang raja berucap dengan kedua kelopak mata yang tertutup.
“B-benar Yang Mulia...”
“Ellis... tidak ada yang berani menyerangku, kau bisa berjalan dengan santai tanpa perlu berlari.”
“Baik Yang Mulia...”
Angin semilir bertiup dengan lembut, tidak ada pelayan ataupun para prajurit disini. Hanya Ellis yang memperhatikan Alphonse, bagi Ellis pria dengan satu anak ini menawan dimatanya. Garis tegas wajahnya, jenggot tipis dan surai cokelat yang sedikit panjang.
Ellis mendeham, risih dengan suasana hening ini “...Yang Mulia, maaf, aku hanya ingin memberikan buku-buku mengenai batu itu.” Ellis berkata tidak formal tanpa ia sadari.
“Ellis, aku yakin padamu, terimakasih sudah melindungiku.” Alphonse beranjak duduk, menatap langsung pria muda dengan postur ramping dan berwajah cantik itu “Ellis, apakah kau seorang pria?” Tanya Alphonse dengan raut datarnya.
Ellis tersentak, meremat buku-buku yang dipegangnya dengan gugup “A-aku...” Ellis menunduk sedikit, tapi tidak terlalu lama. Ketika instingnya menyadari anak panah seseorang nyaris melesat mengenai sang raja.
Brukkk...
Bunyi buku-buku yang jatuh, Ellis dengan sigap menangkis panah menggunakan pedangnya dengan tepat. Raut wajah Ellis mendadak waspada, serius dan tangguh “Yang Mulia, tidak apa-apa?” Ellis menoleh sedikit tanpa menurunkan kewaspadaannya.
Alphonse, menatap anak panah yang Ellis tangkis, memang benar Ellis seorang petarung yang mahir karena dari caranya memegang pedang sudah menyerupai teknik berpedang tempur para ksatria. Setidaknya kemampuan Ellis lebih tinggi dari Remington, karena postur tubuhnya yang ringan dan fleksibel.
“Ellis, arah jam dua belas...” Ucap Alphonse duduk bersandar dengan santai, ia ingin melihat Ellis mengatasi penyusup itu.
Ellis kembali menangkis anak-anak panah yang mengarah pada Alphonse yang ada dibelakangnya. Tubuh Ellis bergerak dengan ringan, Ellis sangat mahir kemudian dia melemparkan pedangnya selayaknya tombak pada penyusup itu. Tatapan iris emas Ellis sangat tegas kala itu. Akibatnya jubah sang penyusup sobek karena pedang Ellis.
Sang penyusup juga tak kalah mahir, ia menurunkan busur panahnya, perlahan menaikkan wajah yang tersembunyi dari balik jubah “...Kau?” Bibirnya bergerak berucap dengan jelas. Kemudian pria itu menghilang seperti bayangan.
“Gawat!” Ellis nyaris hendak mengejarnya. Tapi dicegah oleh Alphonse.
“Ellis, percuma, dia akan sulit kau tangkap.”
“Tapi Yang Mulia...”
“Ellis, dia vampire ras elit yang mengetahui ilmu para alchemist. Kau akan sulit mengejarnya...” Alphonse beranjak berdiri, tangan lebarnya menyentuh puncak kepala Ellis “Kau sempat menatap wajahnya bukan?” Tanya Alphonse.
Ellis mengangguk “Pria bersurai pirang dengan mata biru tua, bagaimana Yang Mulia tahu jika dia vampire?” Ellis balas menoleh sang raja.
“Dia, kenalan lama, kupikir dia pun sama terkejut menatapmu Ellis...”
“Aku?”
Alphonse tidak berkata lagi, dia hanya mengusap pelan puncak kepala Ellis, surai pirang yang terpotong pendek itu “Kau jenius menggunakan pedang...” Puji Alphonse.
“Terimakasih Yang Mulia! Tapi, apakah Yang Mulia baik-baik saja?”
“Selama kau melindungiku, semuanya baik-baik saja.”
“Syukurlah...” Ellis tersenyum lebar, ucapannya mengalun lembut, suara Ellis memang sangat manis.
Melalui mata emerald Alphonse, ia menatap si bunga matahari kecil yang cantik itu. Ellis yang terlalu cerah, amat berbeda untuk seorang Valerin Grayii sang diphylleia grayi yang kelam “Ellis, kau tahu aku tidak pernah mencintai Luciana?”
“Eh? uhm... T-tidak tahu Yang Mulia...”
Alphonse sedikit menundukkan dirinya untuk berbisik kepada Ellis “Ellis, kau sangat cantik...” Kemudian Alphonse dengan raut wajah datarnya menatap tak kalah dingin Ellis Francieli itu.
Wajah memerah Ellis bersemu amat manis, Ellis malu sekaligus takut “T-tidak mungkin Yang Mulia, aku ini laki-laki hehe...” Ellis tertawa sekenanya.
“Ellis, jangan pernah lenyap dariku. Janji?”
Walaupun tidak mengerti dengan ucapan Alphonse, Ellis mengangguk dengan mengacungkan jemari kelingkingnya “Ellis janji, Yang Mulia...”
“Kau ingin jariku bertautan dengan jarimu?”
Ellis hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya “Ini janji kelingking Yang Mulia, ah... Maaf...” Ellis nyaris menurunkan tangannya, namun jari Alphonse sudah bertautan dengan jarinya.
Tatapan Alphonse berubah sendu, seolah ia menemukan orang yang sangat dirindukannya itu. Tanpa tanggung, Alphonse meraih tubuh Ellis untuk didekapnya.
“Y-yang Mulia?” Ellis tercengang dalam dekapan Alphonse.
“Ellis, terimakasih sudah kembali dikehidupanku...”
.
.
.