Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 36




“Aku tak mengerti masalahmu, sungguh.”


“Kalau begitu kau bisa memikirkannya bukan. Apa masalahmu denganku Frederitch?”


Friday memandang wanita itu dengan seksama, ia mengusap wajahnya dengan frustasi “Kau membebaskanku, menolongku, dan membantuku bukan percuma?” Ucapnya pada wanita yang duduk disebelahnya itu.


Wanita dengan perangai yang elegan, duduk dengan menegak segelas cairan merah “Kau cerdas, Fredericth. Kita tunangan bukan?” Kata wanita itu menatap Friday aka Frederitch Drew Raymond dengan mendelik lucu. Ia bahkan sedikit tertawa.


“Rhea!”


“Ups... rendahkan nada bicaramu terhadap keponakan manisku, Frederitch.” Pria paruh baya itu berdiri tepat disebelah Friday, meremat pundak pemuda itu dengan keras.


Sang pangeran saat itu hanya bisa menghela nafas “Baik, Professor Dawn. Katakan apa yang keponakanmu ini inginkan?”


“Sederhana, Pernikahan bersamamu. Setelah itu kubantu semua rencanamu Frederitch.” Wanita itu tersenyum dengan lebar.


Friday tertawa “Tentu tak bisa, kau tahu. Aku hanya menganggapmu teman kecilku, Rhea jangan gila.”


Wanita itu memicingkan matanya “Aku tak perduli Frederitch, aku menyukaimu dan aku tunanganmu.” Wanita itu beranjak berdiri. Dia meninggalkan Frederitch di bar itu seorang diri.


“Sial!” Friday meremat surai pirangnya dengan frustasi.


****


Valerin Grayii, ia tengah berada di halaman pelatihan kerajaan Dust Bones. Sudah lima jam berada dihalaman berrumput halus itu, kini ia sudah berhasil memanah.


“Kau berbakat, itu yang ke 53 anak panah.” Komentar Leon Sirius, atas perintah sang raja. Pengasuh Alexander ini dengan senang hati menemani Earl of Hortensiaburg latihan.


Valerin Grayii meletakkan busur dan anak panahnya “Aku bosan, sungguh bosan sekali.” Ucap Valerin Grayii sambil duduk ditepian kolam air mancur itu “Hey, apa kau ingin mengunjungi pabrikku? Kau pasti tahu tuan Sirius.” Valerin menyeka keringat didahinya.


“Kau tak diizinkan pergi, tuan muda.”


Valerin Grayii menghela nafas, ia segera beranjak berdiri “Baiklah, Al dimana?”


“Kau tak bisa.”


“Aku bisa tuan Sirius, katakan saja Al dimana?” Ucap Valerin menaikkan kedua bahunya acuh.


Leon Sirius lebih memilih menghantarkan gadis itu ke Raja mudanya. Mereka sampai didepan ruangan kerja sang raja, bahkan saat Valerin baru mengetuk pintunya. Alphonse sudah membukakan pintu “Kebetulan, Val...” Si pria bermata hijau itu tersenyum lebar.


“Oke langsung saja, kau membawaku dari kediamanku secara tiba-tiba dan tak mengizinkan satupun pelayanku ikut. Sekarang aku bosan, maukah kau menemaniku ke pabrik keluarga Grayii?” Valerin berucap diambang pintu, saat keduanya saling bertatapan.


Baik itu Leon Sirius dan beberapa pelayan yang berlalu atau bahkan pengawal yang berjaga didepan pintu, mereka semua sama-sama menatap heran.


“Kau orang bersejarah yang berani mengajak seorang raja seperti mengajak temanmu membeli cemilan.” UcapAlphonse diiringi kekehan.


“Aku tak keberatan jika melakukan keduanya.” Valerin membalas dengan kekehan “Apa kau ikut?” Tanyanya lagi.


Alphonse mengangguk “Asal kau merahasiakannya dari Alex, dengar aku tak ingin dia ikut.” Ucap Alphonse sambil menatap Leon dengan tatapan memerintahnya.


“Baik Yang Mulia.”


Valerin tersenyum puas “Kau orang yang paling tepat untuk hal ini.”


“Kenapa denganku?” Alphonse berkata dengan bingung.


Sebaliknya, bahkan saat mereka berdua berjalan keluar dari istana hingga menaiki kereta kuda. Valerin hanya tersenyum lebar menatap Alphonse.


“Kenapa kau menyuruhku ke istana? Apa kau raja yang kesepian?” Valerin menuding Alphonse, ia dengan acuhnya seraya membuka secarik kertas. Bagian dari dokumen pabrik berisi denah pabrik itu sendiri.


Alphonse hendak menjawab “Ah- itu karena...”


“Sssttt... Aku ingin tanya sesuatu, pabrik keluargaku? Bagaimana bisa aku tak tahu soal itu?”


Alphonse tampak berpikir “Itu urusan Ratu Alexandria terdahulu, jika sekarang aku pun tak tahu...”


“Benar, aku curiga jika pabrik itu sudah lama tak bekerja.”


“Aku pun mengira begitu...” Sang Raja, melirik wajah Valerin yang sedang serius berpikir itu. Ia terkekeh kecil “Pelayan vampirmu itu kemana?” Goda Alphonse.


“Aku pun tak tahu, dia menghilang saja sejak pagi.” Valerin dengan wajahnya yang kecewa menatap Alphonse “Apakah kau tahu siapa Rhea Berthan?” Sepasang mata violet Valerin berbinar terang, seolah menghipnotis siapapun yang menatapnya.


Alphonse dirudung rasa yang beragam, ia juga menyukai sepasang mata Valerin itu dan pemiliknya “...Kenapa kau mencintainya?”


Valerin menghindari sepasang iris hijau emerald yang menatapnya itu “Aku menghormatinya.” Ucap Valerin.


“Kau berbohong, seharusnya kau bisa menilai siapa yang sangat mencintaimu. Val...”


Valerin beralih menatap luar jendela, ia melihat desa asri dengan kebun aprikot yang tumbuh rimbun disekitar jalan yang kereta kuda mereka lintasi “Aku tidak bisa, Al.” Kata Valerin.


Alphonse menghela nafas, memilih mengikuti Valerin yang menatap luar jendela “Kau benar...” Ucapnya dengan tenang.


Sebuah Pabrik, tampaknya sudah lama terbengkalai. Kereta kuda itu berhenti didepannya, sebuah papan nama ‘Pabrik Produk Obat Grayii’ tampak usang menempel di sebuah gerbang pintu itu.


“Yang Mulia...” Sang kusir membukakan pintu kereta kuda.


Valerin turun setelah Alphonse, pria itu memengangi tangan Valerin. Khawatir jika gadis berkaki prostetik ini akan jatuh “Aku tak apa, sudah terbiasa.” Ucap Valerin dengan senyum manisnya.


“Wah, benar katamu. Lihat pabrik usang ini...” Ucap Valerin mendorong gerbang itu dengan mudah, tanpa gembok dan tanpa kunci.


“Aku akan melihat-lihat kedalam.” Ucap Valerin lagi.


Alphonse menganggap ini waktu yang bagus antara dia dan Valerin saja. Pria bergelar raja itu langsung berlari mengekori Valerin yang sudah berjalan lebih dulu.


“Wajar saja sudah lama terbengkalai, kurasa hanya ayah dan ibuku yang tahu soal pabrik ini.” Ucap Valerin seraya menggeser pintu kayu memasuki pabrik itu, dia tak takut dan tak gentar memasuki gedung yang jelas-jelas tampak angker dengan lumut disekitarnya.


Alphonse berjalan disebelah Valerin “Kau benar seorang Lady bukan?”


Valerin mengangguk “Rasa penasaranku lebih besar dari pada rasa takut seorang wanita, maklumi saja.” Ujar Valerin dengan tenang berjalan menuju kontak listrik dan menurunkan pedal itu.


Seluruh ruangan pun terang akibat tenaga listrik yang hidup dengan sempurna, walaupun beberapa lampu sudah pecah dan mati “Waw bekerja.” Valerin bersorak riang saat menatap ruangan luas dengan alat-alat mesin pembuat obat yang sudah usang ini.


Ada sebuah logo diphylleia grayi pada tengah-tengah ruangan itu “Jika saja ada pilihan selain menjadi seorang Earl, aku lebih memilih mengolah pabrik ini dibandingkan belajar menjadi seorang pengendali Obscure.” Kekeh Valerin.


“Valerin Grayii. Kau kah itu?”


Valerin segera menoleh saat mendengar suara itu. Tatapannya bercampur antara heran dan bingung, Valerin berusaha tenang dengan memasang wajah datarnya "Kau siapa?" Ujar Valerin Grayii setidaknya mundur beberapa langkah mendekati Alphonse yang juga bersiaga dengan waspada.


"Val mundur..." Ucap Alponse kepada Valerin.