Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 3




Happy Reading


.


.


.


 


 


 


 


“Earl! Earl Grayii, bangunlah!”


“P-Panacea?! Bagaimana bisa kau bisa disini? Ini nyata bukan, kau bukan ilusi?”Tangan lebar itu meraih wajah gadis manis berjubah hitam itu. Dia menggapainya kemudian membelai wajah manis itu dengan lembut.


Panacea, gadis berjubah hitam. Seseorang yang dikenal sebagai iblis legendaris yang keberadaannya sudah ribuan tahun menjadi misteri, kini melihat sang tuan yang memiliki kondisi memprihatinkan “Iya, aku nyata. Kau tak berhalusinasi lagi Earl Grayii.”Gadis itu meraih tangannya “Kita harus melarikan diri terlebih dahulu, Puteri Primavera dan Pangeran  Frederitch berhasil memasuki dunia ini. Mereka memburumu...”Ah, kedua iris mata violet yang kosong itu sangat dirindukannya. Biasanya akan berbinar, tapi kali ini hanya violet dengan kehampaan.


“Ayo, Earl Grayii...”


“Kita mau kemana, Pana?”


Gadis berjubah hitam itu, sudah sejak lama menyembunyikan wajahnya dengan tudung hitam dari jubahnya. Namun, raut wajah cemas itu tak bisa dibohongi. Sambil berlari di sepanjang koridor rumah sakit jiwa yang tampak sepi, tanpa seorang pun yang beraktivitas. Dia menggengam erat tangan pria muda itu “Jangan lepaskan tanganku, Earl Grayii...”Nafasnya memburu, perasaannya was-was.


“Hai tikus hitam. Mau kemana?”


“Sial! Aku terlambat.”Gadis berjubah hitam itu terpaksa, merubah arah koridor itu dengan sihirnya “Earl Grayii, apa kau tid—“Melototlah kedua mata hazel gadis berjubah putih itu, menatap dengan nanar sampai-sampai tudungnya ikut terbuka.


“Akhhh...”Meringis menahan sakit “P-Panacea...”Lirihnya tertatih, terduduk dengan tatapan menunduk. Sebelah kaki kanannya tiada lantaran sudah ditebas tanpa ia sendiri sadari “La-lari! Tinggalkan aku disini!”Sisa tenaganya dia ucapkan untuk gadis berjubah hitam itu.


“Haha... Lihatlah sang Avicenna peliharaan kerajaan DustBones. Menyedihkan, sungguh menyedihkan dirimu Earl Grayii.”Sambil mengacungkan pedangnya yang sudah dilumuri darah menunjukkan wajah anarkis itu kepada pria yang kehilangan darah cukup banyak itu.


Gadis berpedang itu tampak menjilati ujung bibirnya sendiri, kedua mata merahnya berkilat dengan puas “Ah~ aroma darah kaum manusia memang paling harum, rasanya pasti paling nikmat dari semua tikus rendahan...”


“Jurus Dancing Blind Maiden, apapun yang kutebas. Tak akan ada satupun yang menyadarinya. Sekarang, bagian mana yang akan kita potong nah Frederitch?”


“Hentikan itu Prim. Dia sudah sekarat.”Sang Raven Blue, datang dari kegelapan lorong koridor itu. Tatapannya tak teralihkan dari pria muda yang terduduk dengan nafas tersenggal itu, tatapan yang sulit diartikan oleh kata-kata.


“Haha...”Pria sekarat itu masih sempat terkekeh pelan, sejak tadi dia menggunakan darahnya sendiri untuk menggambar sebuah pola dilantai rumah sakit itu “Kau sudah kalah, Primavera. Ambisiku masih tetap akan ada yang menggantikannya...”


Menyalang tatapan gadis berpedang itu “Apa maksudmu Earl Grayii!”


“Atas nama asliku, Valerin Darly Kinaru. Keturunan asli Grayii, kepala keluarga Diphylleia Grayii! Avicenna ke enam puluh dua kepada segel iblis Avaritia, Panacea!”Pria muda itu menoleh kearah gadis berjubah hitam itu.


Dia mengucapkan keinginannya dengan kata-kata samar yang hanya mereka berdua bisa dengar. Hanya mereka berdua yang tahu perjanjian semacam apa yang kedua ras mahluk berbeda ini buat. Diakhir hayat kehidupannya, pria muda bermata violet itu masih sempat memberi pesan terakhir dari perjanjian mereka “Jaga adikku, untuk melanjutkan rencana ini.”Kemudian, dia tersenyum kepadanya dengan gerakan bibir satu demi persatu huruf yang diucapkannya. Tanpa bersuara.


“S e l a m a t  t i n g g a l”


Gadis berjubah hitam itu sempat tertegun, membulatkan kedua netra matanya. Kemudian dia menatap pria yang sudah tewas dengan pola darah bercahaya keunguan itu “Baiklah, jika itu permintaanmu.”Gadis berjubah hitam itu pun menghilang dengan cepat. Keinginan pria muda itu sudah tertunai, hanya tinggal soal waktu yang bergerak.


“Tak berguna!”Gadis berpedang itu pun meraih raga tak berjiwa pria muda itu dengan mudahnya, dia melemparnya dari jendela kaca lorong koridor rumah sakit. Kaca itu pecah sementara raga malang itu sudah terlempar dari ketinggian gedung rumah sakit, begitu saja.


“Sia-sia saja! Kau sama payahnya dengan mahluk rendahan itu,  Frederitch! Kita tak mendapatkan buku Candlestine dan tak juga kemampuan mahluk rendahan itu. Tch!”Gadis itu berlalu lebih dulu, dengan perasaan amarahnya.


Melalui iris raven bluenya, dia melihat kearah tubuh sahabat baik yang amat berharga untuknya. Kedua tangannya mengepal, dia tak dapat melakukan hal apapun. Jika membantu sahabatnya, maka loyalitasnya sebagai seorang pangeran ketiga kerajaan yang berlainan itu akan terancam “Valerin... kau bodoh sekali.”Ucapnya dengan pelan, menatap jasad itu dari ketinggian tempatnya berpandang “Maafkan aku, maafkan aku Valerin.”Katanya lagi.


“Bergegas!  Frederitch apa telingamu tuli!”Suara lantang gadis itu terdengar “Dasar saudara yang payah, akan kulaporkan ketidakbecusanmu ini kepada kakak sulung! Biarkan kakak menentukan hukuman yang pantas untukmu.”Ketusnya dengan culas.


“Baik, Tuan Puteri Primavera...”Dia berucap sambil berlari menyusul langkah gadis itu.


Plakkk. Tamparan keras terasa panas pada pipi tirusnya “Kau menjijikkan, untuk keluarga terpandang Kerajaan CraveRose!”


Ditampar sekeras itu sampai pipinya memerah, tak membuat pria bermata raven blue itu berpaling. Dia tetap diam pada posisinya dengan raut dan wajah dinginnya.


“Tch...”Gadis itu mendecih, dia pun melangkah meninggalkan sang raven blue yang menatap dengan datarnya itu.


.


.


.


Kusir kuda itu memberhentikan kereta yang dikendarainya, seorang pria bertubuh tegap atletis itu keluar dari kereta kuda. Sepasang iris raven bluenya menatap sebuah kediaman, Manor Grayii yang tampak sepi itu. Semenjak sang kepala keluarga satu-satu tewas. Mansion yang sempat rutin dikunjunginya ini, terasa kosong biarpun masih terawat dengan baik.


“Selamat datang, Yang Mulia  Frederitch...”Gerbang pagar itu dibuka oleh seorang gadis yang mengenakan pakaian maid.


Tanpa berkata apapun lagi, pria itu hanya menatapnya “Kau sekarang bekerja menjadi pelayan disini, Panacea?”


“Benar, sembari menanti kembalinya kepala keluarga Grayii. Seluruh kediaman ini hanya Panacea dan tuan Odolf yang mengurusnya.”Panacea, gadis bersurai merah terang dengan sepasang iris hazel membungkuk dengan sopan.


Menerima jamuan tuan rumah, sudah menjadi tugas pelayan disetiap kediaman. Dia hanya menatap Panacea menyajikan teh hangat itu “Kau belum begitu lama menyeduhnya, jika seperti itu aroma tehnya tak akan keluar dan juga... Kau menuangkan gula terlalu banyak.”


“Baik, Yang Mulia...”Panacea, kembali mengulangi seduhan tehnya itu.


Pria muda yang duduk dengan tenang disofa itu, ia hanya memandangi ruang tamu yang dirasanya begitu sepi. Mungkin, sebagian besar orang tak tahu jika Earl Grayii sudah tiada. Dia yang sudah akrab dengan sang Earl itu tentu mengingat setiap pelayan yang ada disini “Kepala koki, Tuan Odoflt.”Panggil pria beriris raven blue itu kepada pria tua yang kebetulan datang dengan troli makanannya “Kemana pelayan lainnya?”Ujarnya, dia memang tahu. Pria tua ini berasal dari keluarga yang turun temurun mengabdi terhadap keluarga Grayii.


“Yang Mulia  Frederitch... Mereka mengundurkan diri sebab tuan muda Valerin tak kunjung kembali.”


Panacea berhasil menyajikan tehnya terhadap Pangeran ketiga itu “Pelayan, bekerja dengan upah Yang Mulia. Mungkin itu yang menjadi pertimbangannya.”Ujar Panacea sambil meletakkan secangkir teh harum chamomile itu.


“Begitu... Kapan Earl akan pulang dari tugas lamanya. Panacea.”Seraya meraih cangkir itu, sepasang iris raven bluenya melirik maid muda ini.


Panacea tahu, hal itu yang ingin diketahui pemuda clan vampir elit ini “Tak lama lagi Yang Mulia... Saya permisi.”Panacea mengangguk dengan hormat, sambil mengangkat rok hitamnya sedikit.


Dia keluar dari ruang tamu itu, menghindari vampir muda dari clan keluarga royal Crave Rose adala pilihannya “Sudah waktunya, semoga Earl Grayii baik-baik saja.”Ujar Panacea bergegas sambil melepas apron putih renda yang sebelumnya melekat digaun hitamnya.


.


.


.