Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2: Episode 50




"Aku akan selalu ada bersamamu, Charles."


"Hm, benar... Aku juga menyukainya, b-bagaimana ini Earl Grayii?"


"Charles... Ya! Ya aku mau."


"Charles... lihat, ada tendangan kecil, itu terasa.Oh, Tuhan... Malaikat kecil kita..."


"Charles, aku mencintaimu..."


Valerin Grayii, ia dengar semua suara-suara Emelie Rovana dari sebuah kediaman di pinggir pesisir pantai. Tepat di ujung kota Clematis. Setibanya Valerin dan Frederitch di kediaman yang sudah lama ditinggalkan itu. Sebuah rumah manis yang usang dengan kehangatan.


Frederitch meraih tangan Valerin, ia sudah turun dari kuda lebih dahulu “Perlahan...” Ucap Frederitch.


Valerin berpegang pada tangan lebar Frederitch, sepasang mata violetnya menatap iris merah crimson milik pria itu “Bagaimana rasanya, hidup tanpa jantung?” Tanya Valerin menyentuh dada Frederitch saat itu, tatapannya tiba-tiba saja sedu.


Tanpa alasan, Frederitch juga heran dengan sikap Valerin. Selain suaranya yang terucap dengan lemah lembut, Valerin juga tampak lebih tenang. Memang selama ini dia tenang, tapi tenangnya Valerin penuh dengan kewaspadaan “Val, kenapa? Apa yang terjadi padamu?” Sentuh kedua pundak kecil itu. Tubuh Valerin terasa mendekapnya dengan erat, sontak Frederitch menunduk untuk menatap wajah sang Grayii bungsu ini.


“Charles... apa kau mencintaiku?” Tanya Valerin, dengan bukan raut wajahnya.


“Seperti yang kuduga, kau Emelie Rovana sama-sama terpengaruh dengan sumber Obscure.” Frederitch mendorong pelan tubuh Valerin Grayii, dia tahu. Kekasihnya bukan seperti itu bersikap kepadanya.


Wajah sendu murung Valerin menatap Frederitch “Kau, bukan Charles...” Ucapnya “Tapi, kau... penuh dengan perasaan cinta. Nah, katakan padaku. Apakah aku bisa merubah Charles menjadi vampir agar dia dapat hidup lama bersamaku...” Violet, yang seharusnya binar dari Valerin Grayii kini terasa begitu kosong.


Frederitch menggeleng “Tidak, caramu salah Lady Rovana... Kau salah merubah Charles menjadi Vampir. Kau sadar? Yang kau berikan kepadanya adalah virus Obscure.” Ucap Frederitch “Vampir, kami sama sepertimu. Kau hanya keliru.” Lanjut Frederitch lagi.


“Aku ingin bersama Charles...”


“Aku tahu, aku pun demikian.”


“Apakah kau tahu arti mencintai? Ah, Charles... dia hanya milikku.” Ucap Valerin berjalan masuk kedalam kediaman itu.


Rahang Frederitch mengeras “Gawat, kenapa Valerin malah dirasuki Emelie.” Ujar Frederitch berlari masuk menyusul Valerin Grayii.


“VAL!”


“Lihatlah...Kenapa mereka tidak pernah bangun?”


Frederitch merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kediaman Emelie Rovana penuh akan tabung-tabung kaca berisi tubuh manusia terinfeksi obscure dengan campuran vampir. Parahnya, ada tubuh bayi-bayi hasil dari campuran kedua hal tabu itu “Kau gila, kau benar-benar tidak waras!” Sergah Frederitch. Jika dia ingat, tubuh Valerin yang digunakannya. Maka di tak segan menghajar Emelie Rovana, jika itu harus dilakukan.


“Kenapa, mereka tidak pernah bangun?” Valerin Grayii berucap dengan nada dinginnya, dia menyentuh tabung kaca itu dengan pelan “Oh, aku lupa... Charles yang hanya bisa bangun... kami pindah dari Clematis ke desa Utara agar Yang Mulia Alphonse dan Earl Grayii tidak tahu, kami saling mencintai. Oh, Charles... Dimana dia?” Valerin Grayii beralih menoleh Frederitch.


“Emelie Rovana...” Panggil Frederitch “Apa yang sudah kau lakukan?” Kedua tangan Frederitch mengepal keras.


“Charles, terinfeksi Obscure dan aku merubahnya menjadi vampir. Tapi Charles...” Valerin Grayii menunduk “Tidak pernah bangun lagi...” Lanjut Valerin Grayii sambil mengayunkan sebuah pisau kecil ke arah Frederitch, menancapkan pisau itu tepat didada Frederitch “Kau! Kau Yang Mulia Demetrich! Kau membunuh kedua orang tua kami!” Ucap Valerin.


Tubuh Frederitch terjatuh menghantam lantai kayu kediaman itu, dia ditindih dengan Valerin yang semakin menekan pisau itu kedadanya “S-sial... dia menyangka aku adalah ayahku.” Ucap Frederitch membatin.


“V-val... Aku tahu kau disana...” Frederitch berucap dengan susah payah, biarpun vampir. Pisau kecil berbahan perak itu lumayan menyakitkan baginya. Apalagi tanpa ada jantung, proses regenerasi luka akan lebih lama.


“Kau! Kau membunuh kedua orang tuaku! Kalian para petinggi Crave Rose dan Dust Bones sama rakusnya. Charles mati diculik Yang Mulia Alphonse! Kau tahu... kami berjanji hidup bersama di desa selatan bersama kak William, apa yang kudapatkan? Aku hanya melihat mayat berjalan Charles! Mereka membuat Charles induk dari tubuh vampir dan manusia terinfeksi Obscure!” Kedua iris mata violet Valerin menatap tajam, menatap dengan keinginan membunuhnya. Dia bahkan tak ingin melepaskan pegangan pisau itu pada dada Frederitch.


“Kau!”


“Kenapa kau menyalahkan orang lain, tanpa berpikir kaulah yang salah.” Ujar Frederitch menahan nyeri di dada. Dia hanya berharap Valerin Grayii lekas kembali mengambil alih tubuhnya lagi “Kau orang pertama yang membuat gagasan itu, memang keinginanmu tidak salah. Kau hanya ingin menyelamatkan Charles, tapi kumohon. Kau sudah mati, kau dan Charles sudah mati.” Ujar Frederitch sambil menyentuh permukaan wajah Valerin “Kembalilah Val, kembali padaku...” Ucap Frederitch lagi.


Valerin membulatkan kedua matanya, dia berkedip-kedip berulang kali “Frederitch?! Oh, Ya Tuhan.... Frederitch!” Histeris Valerin saat sadar dengan pisau yang tertancap didadanya. Valerin lekas melempar sembarang pisau itu “Maafkan aku... maafkan aku.” Ucap Valerin berulang kali.


“Tidak apa, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat hingga luka ini menutup sendiri.” Ucap Frederitch menghela nafas.


Valerin sadar masih duduk diatas tubuh Frederitch, ia pun lekas menggeser ke sampingnya “Apa aku aneh? Apa aku bersikap aneh? Aku tidak ingat apapun, hanya melihat kenangan-kenangan Emelie Rovana bersama pria bernama Charles.” Ucap Valerin.


“B-bagaimana bisa aku melukaimu...” Ucap Valerin lagi.


“Sttss...” Frederitch mendesis “Aku baik-baik saja, yah... kau aneh, kau dirasuki Emelie Rovana. Kau benar-benar klan Gandaria dengan kemampuan yang menyeramkan...” Ucap Frederitch sambil menatap langit-langit kediaman itu.


“Maaf...” Valerin Grayii kembali mendekati Frederitch, dia membuka kancing kemeja putih Frederitch yang sudah berlumuran darah “Aku tidak tahu, jika aku bisa menjadi seperti itu.” Lanjutnya lagi sambil memeriksa luka Frederitch “Minum darahku, agar regenerasimu cepat pulih.” Ucap Valerin kali ini sambil memiringkan lehernya.


Frederitch menggeleng “Aku hanya ingin istirahat sejenak, kau bukan hewan ternakku. Biarkan saja, luka ini akan sembuh dengan sendirinya.” Frederitch meraih tangan Valerin “Kemarilah... istirahat juga, kau pasti kelelahan.”


Valerin pun dengan wajah malunya mendekat, dia berbaring diatas lengan kekar Frederitch sebagai alas kepalanya “Bodoh... Aku baik-baik saja, tidak ada luka satupun.” Cicit Valerin.


“Aku tahu...” Frederitch mengusap puncap kepala Valerin “Buku Coalesce, buku itu harus musnah. Sama halnya dengan Clandestine...” Ucap Frederitch.


“Tidak, aku ingin kau menyimpannya.” Gumam Valerin “Atas semua kesalahan yang dia lakukan... menyeramkan...” Lirih Valerin sambil menyembunyikan wajahnya pada lengan kekar Frederitch.


“Aku tahu, dunia memang payah.” Kata Frederitch masih menatap langit-langit kediaman ini, tatapannya sangat tenang. Sejujurnya Frederitch masih tak menyangka akan hal yang sudah dilihatnya saat ini, tragedi Emelie Rovana mengubah pemikirannya “Ternyata, ambisi ayah dan kakakku sama-sama kejam.” Ujar Frederitch membatin.


“Nama ayahku Demetrich Raymond dan ibuku Nalani. Aku punya saudara laki-laki dan perempuan, kau sudah bertemu dengan mereka. Sejak kecil hingga remaja, aku tinggal terpisah dari kerajaan. Aku hidup bersama kakek dan nenekku, di desa Black Ash. Disana aku dilatih oleh seorang jenderal tertinggi Crave Rose, aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Namanya Tobias Cross.”


“Kenapa kau malah mengatakan hal itu kepadaku? M-maksudku, kenapa kau malah menceritakan tentangmu.”


“Tidak masalah, sekarang giliranmu. Ceritakan tentangmu...”


“Baiklah, yang kutahu ayahku menikah dengan ibuku saat mereka bertemu di Amsterdam. Ayahku itu pria yang lembut sebaliknya ibuku lumayan cerewet, sejak kecil aku dan kakakku sering membuat ibu marah” Valerin Grayii terkekeh pelan “Sementara, ayah pasti membela kami berdua. Tapi kami mencintai ayah dan ibu... Oh iya, ayah memang memiliki surai perak sepertiku dan kedua mata kami pun sama, jika tak tahu identitas asli ayahku. Pasti kukira jika ayah memiliki kelainan genetik.” Valerin Grayii sekali lagi tertawa.


“Apa kau lupa... Kita pernah bertemu waktu kecil.” Frederitch berucap dengan datar tanpa sudi memalingkan tatapannya dari langit-langit rumah ini “Kau dan Valerin, Earl Grayii. Kita pernah bertemu di desa Black Ash.” Ujarnya lagi.


“M-mana mungkin! Aku bahkan baru tahu dunia ini...”


“Paman Tobi dan Earl Grayii, mereka berteman. Kau masih kecil saat itu, kakek dan nenekku membantumu yang hilang kendali. Kaulah yang menunjukkan bakat alamiahmu sebagai ras gandaria, itulah mengapa Valerin Darly Kinaru berpesan padamu tentang hanya aku yang bisa mengajarimu mengendalikan kekuatan itu.” Kali ini Frederitch menoleh kearah Valerin, kemudian menatapnya lekat “Karena... kita pernah bertemu. Hanya kau yang melupakannya... Valyria...” Ujar Frederitch lagi.


“Tidak mungkin...”


“Seharusnya kau menyadarinya, tidak ada vampir yang juga bisa mengendalikan sihir alchemist. Karena kakek dan nenekku seorang alchemist mereka mengajariku banyak hal, aku... setengah manusia.” Ungkap Frederitch menyentuh permukaan wajah Valerin “Ingatanmu, masih jauh terkunci didalam sana.” Frederitch, secara perlahan merubah kedua mata crimsonya menjadi raven blue kembali.