Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3: Episode 66





3 Tahun Kemudian....


Kabar mengenai Earl Grayii dari Hortensiaburg yang mengkhianati Dust Bones sudah tersebar keseluruh kerajaan baik itu Crave Rose ataupun Dust Bones. Dust Bones memenangkan peperangan dari Crave Rose, kini kedamaian pada Dust Bones begitu terasa bahkan kerajaan ini sedang sibuk membersihkan wilayah-wilayah yang terinfeksi. Semua itu selalu dikaitkan oleh Earl Grayii yang sengaja menyebarkan wabah, latar belakangnya sebagai Avicenna mendukung rumor itu. Tanpa terasa, tiga tahun sudah berlalu. Pencarian Earl Grayii sang pengkhianat Dust Bones, bagai hilang ditelan bumi. Keberadaannya sirna begitu saja.


Di ruang kerja Paduka Alphonse Caleum


“Yang Mulia Alphonse.” Suara komandan pasukan dari luar pintu.


“Remington, masuk.”


Pria berbaju zirah itu berdiri dihadapan Alphonse “Siap, Yang Mulia! Wilayah desa Lotus adalah wilayah desa terakhir yang sudah usai dilakukan pembersihan. Penampungan para Obscure sebentar lagi akan dimusnahkan.”


Tampaklah seorang pria dewasa bersurai cokelat yang sedikit panjang dengan sedikit jenggot yang tumbuh di dagunya, kedua mata emerald milik sang Raja tampak lesu. Seolah lelah tetap menatap ruangan hampanya ini.


“Apa kau memiliki laporan lain?” Tanyanya tanpa menoleh seraya menatap tumpukan berkas diatas mejanya.


“Tidak, Yang Mulia.”


“Kalau begitu terimakasih kerja kerasmu Remington.”


“Tugas saya hanya melayani Dust Bones dengan kebanggaan.”


“Bagus-bagus, penyelidikanmu kepada Earl Grayii, bagaimana?”


“Tidak ada kemajuan atas pencariannya Yang Mulia, bahkan komandan kepolisian Sirius tidak mengetahuinya.”


Pria berstatus raja di kerajaan Dust Bones itu mengangguk “Remington, sejak posisimu berganti menjadi komandan pasukan. Rasanya repot jika tak memiliki ajundan untuk menggantikanmu.”


“Siap, Yang Mulia. Mengenai hal itu...”


Ketukan langkah suara sepasang boots hak terdengar dari lorong istana, baik itu prajurit ataupun pelayan kagum menatap paras pria muda itu. Langkah kakinya begitu elegan, porsi tubuh langsing yang tegap, surai pirang yang disisir sebagian kebelakang dengan sepasang mata emas yang menatap tajam. Lencana pin berbentuk simbol bunga bakung putih ada pada seragamnya yang sebagian besar berwarna putih bersih itu. Sebuah pedang terselempang pada pinggangnya.


Tangan berbalut sarung tangan putih itu mengetuk pintu mahoni ruang sang raja.


“Perkenalkan Yang Mulia, Ellis Francieli dari Desa Lotus.” Tunduk hormat pria muda itu kepada Alphonse.


“Ini dia Yang Mulia, anak didikku Ellis Francieli, kemampuan berpedangnya sangat hebat, Ellis bisa menjaga Yang Mulia.” Remington memengang pundak pria muda itu dengan pelan.


“Ellis bersumpah akan menjaga Yang Mulia dengan jiwa dan raga.” Paras pria muda itu rupawan, kulitnya putih bersih dan indah. Tatapan melalui kedua mata emasnya kepada iris emerald milik sang raja juga sangat sungguh-sungguh.


Brakk...


Tumpukan lembaran berkas itu terjatuh, akibat gebrakan meja dari sang raja yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.


“Ah, maafkan saya Yang Mulia!” Ujar Ellis mendekati meja Alphonse untuk memungut berkas-berkas itu.


Alphonse hanya membulatkan kedua matanya dengan tak percaya “Va...lerin.”


“Maaf Yang Mulia, bersikap lancang untuk mengemasi berkas ini.” Ucap Ellis meletakkan kertas-kertas itu diatas meja, namun pergelangan tangan kecil Ellis langsung disergap oleh Alphonse.


“Y-yang Mulia?” Gugup Ellis menatap sang raja.


“Kau Valerin Grayii bukan?!” Tanya sang raja meninggikan suaranya.


Pria muda itu menggeleng “Aku, tak mengerti atas ucapanmu Yang Mulia.” Dia menelan ludahnya sendiri, terlalu gugup dengan sikap sang raja.


“Yang Mulia!” Remington berusaha mendekati sang Raja.


Ellis Francieli memejamkan kedua matanya, tubuhnya bahkan bergetar samar. Alphonse kenal Valerin Grayii yang akan menatapnya menantang. Tapi Ellis, bahkan begitu takut untuk membuka kedua kelopak matanya demi menatap Alphonse.


“Maafkan aku, Ellis...” Ucap pelan Alphonse seraya melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Ellis.


“Bukan masalah, Yang Mulia.” Ellis menurunkan kedua tangannya, tapi Ellis tetap merasakan denyutan nyeri pada pergelangan tangannya itu.


Tak berselang lama, suara anak kecil terdengar dari lorong “Ayah! Ayah!” Celotehnya sambil berjalan memasuki ruangan Alphonse “Ayah, Victorine berhasil memanah kijang hehe...” Ujarnya dengan bangga.


“Kemari.” Ucap Alphonse terhadap bocah lelaki itu.


“Yang Mulia Pangeran Victorine!” Hormat Remington disusul oleh Ellis.


Putera mahkota Dust Bones itu berjalan melalui kedua orang dewasa lain, dia menghampiri sang ayah kemudian memeluk tubuh besar nan tegap itu “Ibu... Ingin Victorine dikirim ke akademi Lily, Victorine tidak mau.” Keluh bocah itu.


“Victorine, harus menjadi pangeran yang kuat.” Alphonse menggendong bocah berusia tiga tahun itu.


“Hm...” Gumam sang pangeran kecil sambil mengantuk, kemudian tidur dalam gendongan sang ayah.


Alphonse tersenyum amat tipis “Ellis... kau bisa menjadi ajundan pribadiku mulai besok, kuharap kemampuan bertarungmu tidak mengecewakan.” Ujar Alphonse sembari menggendong putera kecilnya.


“Baik, Yang Mulia!”


.


.


.


Sebuah penginapan di pusat kota. Yang ramai dikunjungi wisatawan dari luar kerajaan Dust Bones, Ellis Francieli memasuki penginapan itu dengan raut wajah sumringan.


“Lihat! Siapa yang akan menjadi ajudan pribadi Yang Mulia Alphonse!” Seru Ellis kepada pria bersurai hitam panjang yang tengah memasak didapur penginapan itu.


“Ellis, sebentar, aku tengah memasak. Kau ini...” Omelnya.


Ellis mencebikkan bibirnya, dia duduk dibangku pada dapur itu “Yah, kau tidak seru Lyn...” Ucap Ellis sambil mencomot tomat ceri yang ada diatas meja.


“Ayah, Ellis tidak merepotkanmu bukan?” Ucap pria bersurai hitam panjang itu kepada pria yang baru memasuki penginapan.


“Lyn! Kau menjaga penginapan dengan baik, tentu saja tidak. Ellis anak yang baik.” Sahut Remington yang juga duduk disebuah bangku, tepat didekat Ellis.


“Ellis, bagaimana luka-lukamu tiga tahun lalu? Apa kau masi sering pusing?”


“Oh..” Ellis sontak menyentuk pelipisnya yang ditutupi oleh poni pirangnya itu “Ini hanya bekas luka kok, aku baik-baik saja tuan Remington.”


“Ayah... Ellis panggil aku ayah, bahkan Ryn saja tidak sungkan untuk memanggilku ayah.”


Ellis mengangguk malu-malu mendengar ucapan Remington “Ayah...” Gumamnya dari bibir ramun mungil itu.


“Sup labu, roti gandum dan daging sapi panggang.” Pria bersurai hitam panjang itu meletakkan makanan diatas meja “Ellis, tuan Remington, maksudku ayah sudah menganggap kita sebagai keluarga. Kau tidak boleh begitu dan hormati ayah, berkat dia kau mahir berpedang.” Ucap Lyn juga duduk dihadapannya.


“Iya, aku tahu...”


“Wah, masakan Lyn selalu enak. Kau berbakat menjadi koki.” Puji Remington.


Lyn langsung beranjak berdiri “Oh, tuan Claus.” Ucap Lyn menghampiri pria itu “Kalian lanjut makan saja ya, itu tuan Claus dari peternakan sapi.”


Ellis mengangguk, melanjutkan makannya begitu juga dengan Remington.


“Tuan Lyn Sander...” Bisik pria berjubah hitam itu.


“Kukatakan jangan menemuiku siang hari, Claus bodoh!”


“Maaf tuan Lyn Sander, tapi sepasang suami isteri sudah mengaku tengah mencari seorang bernama Valerin Grayii saat aku mengembala kambing di padang East Bones.”


“Apa wanita itu memiliki rambut merah dan seorang pria tinggi tegap?”


“Benar, tuan Lyn... Demi keselamatanmu, kami takut mereka mantan pengikut Valerin Grayii yang melegenda itu.”


“Tch. Kau harus mengutus yang lain agar mengawasi mereka berdua.”


“Baik tuan Lyn Sander.”


Pria bertuduh hitam itu meninggalkan penginapan, Lyn Sander kembali menghampiri Ellis dan Remington yang sedang berbincang.


“Ellis, kau berjanji padaku untuk tidak meninggalkan saudaramu yang tak berguna ini bukan?”


“Lyn! Apa maksudmu?!” Ellis segera berdiri dan memeluk Lyn Sander “Biarpun kita saudara berbeda ayah, aku tetap menyayangimu Lyn, kau sudah merawatku saat terluka bahkan rela ikut kabur dari desa Lotus.” Ucap Ellis dengan lembut.


Lyn Sander mengusap puncak kepala Ellis “Benar Ellis, kau terluka parah, hanya aku yang memperdulikanku. Hanya aku yang kau butuhkan, Ellis.”


“Hey, kalian ini, jangan lupakan aku sebagai ayah pengganti kalian.” Remington langsung memeluk Lyn dan Ellis bersamaan “Kasihan anak-anak malang ini, ayah kalian kasar sampai harus kabur dari rumah, kini kalian aman bersamaku.” Ucap Remington lagi.


“Benar, kami hanya memiliki satu sama lain.” Iris violet Lyn Sander menerawang jauh, bahkan seulas seringai tipisnya tampak nyata disana.


.


.


.


Hari pertama Ellis Francieli sebagai ajudan sang raja Dust Bones dimulai, Pagi-pagi sekali agenda sang raja sarapan dengan keluarga kerajaan. Dia juga turut berdiri disamping sang raja, tegap dan gugup. Rona merah diwajahnya memang tampak.


“Oh, ya... Sayang, ini pertama kalinya kau merekrut seorang anak muda menjadi ajudan.” Sang ratu, memasuki ruang makan bersama para dayangnya.


“Luciana, duduk dan makan.”


“Ah, kau masih saja tidak bisa berbasa basi ya? Al...”


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”


“Ah, maaf-maaf, Yang Mulia tidak bisa bercanda...” Sang permaisuri tersenyum kaku.


Perbincangan kecil yang didengar oleh Ellis Francieli lumayan mengganjal, tapi setelah salah seorang prajurit mendekatinya sembari berbisik “Tuan Francieli, Rombongan Yang Mulia Harold dari Kerajaan Brunia sudah berada di pusat kota.” Bisik pelan sang prajurit.


Agenda dari sang raja juga merupakan tugas dari seorang ajudan untuk selalu menjaga dan membantu sang raja dalam agenda kesehariannya, maju satu langkah mendekati sang raja dengan sedikit membungkuk, bibir ranum Ellis Francieli mulai berbisik “Yang Mulia, rombongan Raja Harold sudah berada di pusat kota.” Ucap Ellis.


“Terimakasih Ellis, sekarang kita harus bersiap menyambut tamu.” Sang raja mengelap ujung bibirnya dengan sapu tangan.


Bangkit berdiri lebih dulu, diikuti Ellis yang senantiasa dibelakangnya “Ellis, kutugaskan kau menjaga Harold sampai ke kamar tamu ketika mereka sampai.” Ucap sang raja lagi.


“Baik, Yang Mulia...”


Sang permaisuri menatap Ellis Francieli dengan seksama dari tempat duduknya “Francieli, apakah kau sudah memiliki kekasih?”


Cengo, bingung dan mematung. Reaksi seorang Ellis Francieli “Ehem...” Dia mendeham “T-tentu saja belum Yang Mulia Luciana...”


“Sayang sekali, kau tampan dan menawan...”


“Ellis, ayo...” Sang raja beranjak beranjak berdiri.


Ellis Francieli memberi hormat kepada sang permaisuri, kemudian mengikuti langkah Alphonse Caleum dari belakang.


Tegapnya tubuh Alphonse Caleum, bisa Ellis Francieli lihat. Bekas luka pun tampak dari leher lebarnya “A-anu... Yang Mulia...” Panggil Ellis.


“Ellis, kau ajudanku. Berjalan disebelah, jangan selalu dibelakang sana.”


“B-baik Yang Mulia!” Segera Ellis berlari untuk menyusul langkah pria dewasa itu.


Samar, tapi Alphonse tersenyum tipis saat itu “Ellis, apakah kau melihat cinta dari Luciana kepadaku?” Tanya Alphonse.


“Yang Mulia Alphonse, ratu tentu menyayangimu...”


“Tapi... Ah, maaf Yang Mulia.”


“Tidak apa-apa, katakan saja Ellis.”


“Semoga hamba salah Yang Mulia, disini Yang Mulia yang sepertinya tidak memahami cinta Ratu Luciana kepadamu.” Ellis langsung menutup mulutnya “Maaf Yang Mulia! Aku sudah mengkritikmu, Ellis siap menerima hukuman!” Lantang ucapan Ellis.


Alphonse terkekeh kecil, kemudian mengusap puncak kepala yang lebih kecil itu “Ellis, tidak ada orang yang berani mengkritikku. Bukan tidak ada, tapi dia sudah lama hilang Ellis...” Ucap sang raja, menatap lurus jauh kedepan “Valerin Grayii, jika kau ingin tahu alasanku, satu orang yang kucintai hanya Valerin Grayii...” Jelas sang raja.


“Valerin Grayii...” Batin Ellis mengulang nama itu dalam benaknya.


“Earl Grayii... Earl yang sangat berbakat itu bukan?”


“Benar, dia indah, tangguh dan cerdik.”


“Maaf Yang Mulia, kita sudah tiba di aula, rombongan Yang Mulia Harold akan segera tiba.” Sembari melipatkan tangan kanannya didada, Ellis menunduk hormat kepada sang raja ini.


Dia juga yang pertama kali, menyambut rombongan dari Brunia melalui sang ajudan kerjaan Brunia.


“Selamat datang Yang Mulia Harold.” Ellis dengan sopan menyambutnya.


“Oh, Ksatria yang cantik, aku nyaris berpikir kau memperkerjakan seorang wanita Alphonse.” Pria bertubuh gempal itu merangkul sang raja dari Dust Bones “Kau tetap gagah seperti dulu Hahah!” Ujarnya lagi.


“Tuan Francieli, perkenalkan Felix Melian ajudan pribadi Yang Mulia Harold, maaf atas prilaku Yang Mulia...” Pria yang tak kalah muda itu juga menunduk hormat kepada Ellis Francieli.


“Eh, tidak apa-apa Tuan Melian, sungguh...” Ellis menggeleng dengan senyuman lebarnya.


Seseorang dalam rombongan Brunia mengenakan jubah hitam, menutupi sebagian besar wajahnya. Dia cukup menjadi perhatian Ellis Francieli, merasa ganjal. Ellis pun mencoba tetap tenang namun tetap waspada “Pria berjubah itu aneh...” Batin Ellis.


.


.


.