
Secarik kertas pemberian Friday dipegang erat ole Ellis, pamitnya Ellis kepada sang jenderal tingkat dua untuk mencari udara cuman bohongan. Nyatanya Ellis menelusuri puing bangunan Earl Grayii seorang diri, parahnya Ellis tak merasa takut sedikit pun melainkan merasa kembali ke ‘rumah’ yang seharusnya.
Perasanya familiar ketika menelusuri puing bangunan yang ditelan oleh tumbuh-tumbuhan liar itu “Aku yakin Earl Grayii memiliki alasan yang kuat, itu pasti.” Ucap Ellis.
Wanita bersurai selayaknya lelaki itu duduk diantara puing, untuk membuka secarik kertas pemberian Friday.
Isinya hanya berupa peta lokasi kemudian pesan kecil dari balik kertas itu.
“Dearl Ellis Francieli,
Aku sudah mengamatimu sejak lama, tapi tenang saja, aku tidak memiliki niat jahat kepadamu. Aku ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa kukatakan secara lisan, jika Valerin Grayii itu luar biasa, Valerin yang dulu temanku dan Valerin yang sekarang kekasihku. Mereka dua orang berbeda dengan nama dan tanggung jawab yang sama, jika kau penasaran dengan Valerin. Aku tahu pasti kau mendatangi rumahnya, disana perasamu terasa familiar bukan? Nah, Ellis buka matamu, lihat sesuatu yang nyata bukan sesuatu yang semu.
Note: Penyusup di pesta ulang tahun putera mahkota bukan ulahku, percayalah, rekayasa itu ulah sang ratu.
Sampai jumpa kembali, Ellis”
Simpul senyum Ellis merekah sendiri, berkat tulisan dari Friday “Pesan yang terlalu panjang untuk seukuran peta.” Kekeh Ellis.
Ellis menghela nafas kemudian beranjak berdiri “Memang bukan hal yang tak mungkin jika ratu melakukannya, mengingat betapa bencinya dia kepadaku. Hehe...” Saat Ellis ingin melangkah, dia menginjak sebuah papan kayu yang rapuh.
Kriet... Brukhhh!
Lantai papan itu ambruk membuat sang empunya tubuh terjatuh kedalam, bokong Ellis mendarat tak elegan pada lantai berbatu yang dingin itu.
“A-aduh...” Keluh Ellis sambil memengangi dinding berbatu untuk membantunya berdiri.
Ellis berada disebuah ruang bawah tanah yang gelap, tapi Ellis segera menemukan sebuah obor yang sengaja digantung pada salah satu dinding. Dengan percikan dari gesekan pedangnya sendiri, Ellis berhasil membuat obor itu berapi untuk meneranginya berjalan memasuki lorong ruang bawah tanah.
Walaupun ruang bawah tanah itu tampak gelap dan dingin, Ellis tetap familiar sampai menemukan sebuah pintu yang dibuka tanpa terkunci.
“Hm?” Ellis memasuki ruangan itu, kedua mata emasnya berpedar memperhatikan ruangan ini.
Ruangan yang tampak begitu rapi, seperti ruangan bersantai dan isinya banyak formula obat-obatan, bahkan ada beberapa alat medis seperti stetoskop, senter, tabung-tabung kaca yang kosong, dan rak buku.
“Ruang kerja seseorang? Sepertinya ruangan ini masih digunakan.” Ellis mengamati ruangan itu, dari secangkir gelas dan pena yang tergeletak disalah satu meja selayaknya menggambarkan seseorang yang sudah berada disini.
Ellis mendekati stetoskop yang tergeletak diatas meja, kemudian menyentuhnya “Rasanya tidak asing...” Gumam Ellis.
Sebuah kenangan kembali terlintas dibenaknya, Ellis mengingat sesuatu.
“Masih ada satu ruangan lagi disudut kanan, ruangan penyimpanan wine...”
“Aku tak tahu, tapi apakah senjata ini semuanya milik Valerin?”
“Benar tuan muda, anda mahir menggunakannya terutama ini...” Friday mengembil dua buah revolver kembar berlapis perak “Beberapa peluru anda campurkan dengan cairan khusus yang bisa melumpuhkan obscure, tidakkah anda begitu hebat tuan muda.” Ucap Friday memberikan dua buah pistol itu.
“Ah, i-iya... lebih baik kita kembali.” “Ini dia!” “Tak salah lagi, pasti ini.”
“Kenapa tuan muda?”
“O-obat pereda demam, kenapa kau tak memberikannya kepadaku kemarin?”
“Oh iya, Friday ini lupa.” Ucap pelayan itu dengan cengiran lebarnya.
Memasang raut masam, jelas-jelas jika Friday sedang menjahilinya “Aku akan membungkusnya menjadi beberapa bagian, tak kusangka beberapa obat lain juga ada disini. Bantu aku membungkusnya.”
“Baik tuan muda.”
Ellis kembali dari potongan ingatannya, kedua mata emas itu melebar kemudian segera melangkah menuju sebuah rak dan menggesernya “Tidak mungkin, bagaimana aku bisa mengingat hal yang kuketahui? Ingatan siapa itu?” Gumam Ellis tak percaya menatap dari balik rak-rak itu terdapat lemari penyimpanan senjata, dan dua buah revolver kembar berlapis perak itu persis dengan ingatannya.
Ellis berdiri dengan kedua lutut yang lemas, dia segera terduduk disana sambil memandangi sepasang revolver berlapis emas itu. Bukan tanpa alasan, terdapat ukiran kecil pada gagang revolver perak itu “Grayii, the Knight.” Begitulah ukiran tulisan kecil pada gagang revolver itu “A-apakah, Valerin Grayii itu aku?” Tanya Ellis pada dirinya sendiri.
Berkat Ellis yang masih terkejut memandangi sepasang revolver itu, diambang pintu tak ia sadari sepasang pria dan wanita menatapnya dengan kedua mata yang sama-sama membelalak tak percaya.
“T-tuan muda...” Suara seorang wanita.
“Val...” Suara lain seorang pria.
Dikala Ellis menoleh dengan kedua mata sembabnya, sepasang wanita dan pria itu mengeryit heran “Rambut pirang, mata emas dan mengenakan seragam prajurit pangkat tinggi Dust Bones.” Ujar mereka bersamaan.
“Kalian siapa?” Tanya Ellis yang beranjak berdiri. Sambil mengacungkan pedangnya.
“Tenanglah... Kami tidak membawa senjata dan tak mengancammu.” Pria bersurai cokelat terang itu melangkah maju “P-perkenalkan, namaku William dan ini Panacea.” Ucap pria itu.
Pria itu mengangguk ramah “Pantas saja tuan ksatria ini ada disini, selamat datang dikediaman Grayii, kami hanya teman jauh Earl Grayii yang masih menjaga tempat ini sebagai penghormatan kami kepada kebaikan Earl Grayii.” Ucap pria itu.
“Benar sekali, tampaknya aku bertindak begitu jauh memasuki tempat ini tanpa izin.” Ellis tersenyum kaku, tindakannya memang nekat dan tak sopan “...Maaf.” Cicit Ellis lagi.
Benar juga, Ellis tak sengaja melirik wanita yang berada disamping pria bernama William itu. Tatapannya datar dengan bibir yang terkatup, Ellis menjadi menatap ragu cemas jika ia membuat kesalahan.
“Telingamu tuan...” Ucap wanita itu tiba-tiba.
“Eh? Telingaku?” Sontak Ellis memengangi sebelah daun telinga kanannya yang terdapat anting permata hitam “Kenapa nona Panacea?” Tanya Ellis lagi.
Wanita itu menggeleng seraya tersenyum “Anting yang cantik...”
Ellis terkekeh sekenananya, ketika suara seorang pemuda berteriak dari atas lubang rapuh lantai papan itu “Tuan Francieli... Tuan apakah anda didalam?!” Itu suara Mario yang memanggil nama Ellis.
Ellis terperangah “Ah, itu juniorku, kalau begitu permisi, maaf menganggu...” Ellis nyaris beranjak jika saja wanita itu tak mencegahnya.
“Tuan, jika tak keberatan ambillah sepasang senjata ini, sebagai ucapan perkenalan kami.” Wanita itu menyodorkan sepasang Revolver perak itu kepada Ellis.
“Tak perlu nona, terimakasih banyak.”
“Tidak tuan, tempat ini juga akan diratakan oleh Dust Bones, kami kemari hanya mengambil beberapa barang peninggalan Earl yang bisa kami selamatkan. Tapi benda ini begitu cocok untukmu tuan.” Paksa wanita itu.
Ellis sempat memperhatikannya, kemudian mengambil sepasang revolver itu “Terimakasih... Sungguh kehormatan untukku.” Ellis mengulum senyuman “Kalian lebih baik juga pergi dari sini, sebenarnya wilayah ini terlarang unuk penduduk sipil.”
Sang wanita mengangguk “Kami akan bergegas pergi tuan.”
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa.” Menurut Ellis yang melihat wanita bersurai merah bata itu, dia tak merasa terancam. Ellis berjalan menuju lubang itu lagi disana ia melihat Mario yang sudah mengulurkan sebuah tali.
Mario langsung ceria menatap Ellis yang baru tiba “Syukurlah... Jenderal Cyprus panik saat tahu kau menghilang tuan Francieli...” Ujar Mario.
Ellis menggeleng sambil memanjat tali itu dengan mudah, diatas tak hanya Mario tapi juga Noah Cyprus dan Remington yang sudah menanti Ellis kembali.
“Kau tak apa Ellis?” Remington mengulurkan tangannya membantu Ellis berdiri.
Ellis segera meraih tangan besar itu kemudian mengangguk “Ayah, Ellis baik-baik saja.” Ucap Ellis sambil tersenyum.
“Kau terjatuh? Apa yang kau temukan didalam sana?”
Pertanyaan Noah Cyprus digelengi oleh Ellis “Tidak ada apa-apa, hanya terowongan berbatuan.” Ucap Ellis berdusta.
“Baguslah, kami pikir antek-antek Earl Grayii menaruh terror dibawah sana.”Ujar Noah Cyprus.
Ellis langsung menggeleng “Kediaman yang sudah menjadi puing? Lantai rapuh, tumbuhan semak ditumbuhi lumut? Haha, Paman bercanda, tidak ada apapun disini.” Ujar Ellis seraya meregangkan tubuhnya “Omong-omong kenapa kalian berdua sampai kemari, bukankah cukup Mario saja yang mencariku.” Ellis merangkul prajurit muda itu seraya berbisik “Ada dua orang warga biasa disana, aku akan alihkan paman Cyprus dan ayahku kembali ke tenda, saat itu bantu mereka keluar dari sini dengan selamat. Mengerti?” Bisik Ellis dengan cepat pada Mario.
“...Ba-baik, tuan.”
Ellis langsung melangkah seraya menggandeng Noah Cyprus dan Remington secara bersamaan “Nah, nah paman... Lyn membuat menu baru di penginapan, tak salah namanya sup labu. Apa kau mau mencobanya?” Ujar Ellis seraya melambaikan tangannya untuk meminta Mario melakukan perintah sebelumnya.
“Oh serius? Boleh juga.”
“Ayah bolehkan paman mampir ke penginapan?”
“Tentu, kita bisa kesana makan malam sebelum kau kembali lagi ke istana Ellis.”
“Asik...”
Mario mengamati ketiga prajurit berpangkat tinggi itu yang sudah memasuki tenda markas yang terletak agak jauh darinya. Disana Mario mengulurkan kembali talinya, membuat William dan Panacea menaiki lubang itu.
“Tuan Rovana dan Nona Eerie, apakah kalian baik-baik saja?” Tanya Mario.
William mengangguk “Terimakasih Mario, ternyata ucapanmu benar Valerin seperti sosok baru yang melupakan kita semua. Bagaimana menurutmu Panacea?” Tanya William yang mengulurkan tangannya membantu Panacea naik dari lubang itu.
“Benar, sosok tuan muda yang seperti ini naif, polos dan terlalu baik hati. Seseorang sudah mereka kembali ingatannya kemudian mengunci ingatan itu dengan benda bermantra ditelinga kanannya.” Jelas Panacea.
“Terlebih dari itu, tuan Valerin tetap memiliki naluri yang baik dengan menyembunyikan pertemuan dengan kalian berdua.” Timpal Mario menatap dengan sedih.
William memengang pundak pemuda remaja itu “Kau sudah dewasa, keberadaanmu membantu mengawasi Valerin selama di Istana dan kami semua tak bisa menjangkau itu. Mario...”
Mario mengangguk “Kalau begitu kalian harus bergegas, tuan Rovana dan Nona Eerie...”
William dan Panacea mengangguk “Jaga dirimu baik-baik Mario.”