Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 34




.


.


.


 


Kedua kelopak matanya terbuka dengan pelan, berkas cahaya yang membias dari jendela kamar terasa menyilaukan. Valerin Grayii bangun, mendudukkan dirinya. Kedua iris violet Valerin menatap seorang pria dengan kemeja putih polos membalut tubuh atletisnya dan celana hitamnya, berdiri tepat disamping ranjang kasur Valerin. Menyambut bangun tidurnya dengan senyuman rupawan dari vampir menawan itu.


“Selamat pagi...” Kata pria bersurai keemasan itu.


Bagaimana mungkin Valerin tak menyahut, dia hanya mengangguk kecil “Kurasa memang sudah pagi.” Valerin Grayii menduduki tubuhnya “Kau belum kupecat sebagai pelayanku bukan?” Ucap Valerin tersenyum jahil.


“Ayolah...” Friday terkekeh pelan, dia duduk ditepian ranjang kasur Valerin Grayii. Tangannya menyentuh leher kanan Valerin dengan tatapan sendunya “Maafkan aku, sungguh seharusnya bisa mengendalikan diri.” Ucap Friday lagi.


“Tidak masalah, itu bukan apapun.” Valerin Grayii menangkap tangan lebar Friday, ikut menggengamnya disana “Apa yang terjadi padamu, hm?” Tanya Valerin Grayii.


“Aku kembali ke Crave Rose, diduga sebagai pengkhianat, kemudian berakhir dikurung dengan jantung yang terpisah dari ragaku. Sekarang, aku benar-benar seorang monster yang kapan saja bisa kumat seperti kemarin...” Friday menghela nafas, ia tangkup wajah Valerin Grayii. Kemudian dikecup kening gadis bersurai pendek itu “Vampir tanpa jantung, tidak lebih dari monster... jantung itu inti dari energi yang bisa digunakan untuk sihir. Sekarang, jika aku mencoba menyakitimu. Jangan ragu untuk membun-“ Friday terlanjur dikecup oleh Valerin yang bergerak dengan tiba-tiba.


Valerin Grayii memejamkan kedua kelopak matanya, ia memegang wajah tegas Friday dengan lembut “Tidak akan terjadi.” Ucap Valerin setelah usai mengecup Friday.


“Untuk apa aku melakukan itu? Aku linkmu, aku juga menyukaimu...” Ucap Valerin sambil menyentuh bibir tipis Friday, kemudian menekannya disana “Terlepas kau monster atau bukan, Friday tetap Friday. Frederitch...” Valerin Grayii mengulum senyuman manisnya sambil melingkarkan kedua tangan ke leher tegap pria bersurai keemasan itu.


Iris raven blue-nya Friday melebar sempurna, ia terkejut. Sangat terkejut atas perlakuan Valerin Grayii “Aku ingin kau menjauhiku, tapi tetap melindungimu dengan caraku.” Ucap Friday menghirup aroma manis Valerin Grayii.


“Pembohong ulung...” Cibir Valerin Grayii “Kau memang senang berbohong ya?” ia melepaskan pelukan, Valerin Grayii menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Friday dengan tajam “Yah.. sudah kalau kau mau begitu...” Valerin Grayii mendengkus kesal sambil duduk menjauhi Friday, dia merajuk dengan menggembungkan sebelah pipinya.


Friday, gemetar karena gemas melihat Valerin Grayii “Dimana sosok tuan muda yang sombong itu? Ternyata kau bisa menggemaskan ya?” Friday menarik tangan Valerin Grayii, membawanya kedalam dekapan untuk memeluknya dengan erat “Setelah tanpa permisi menciumku, kau tak ingin berusaha lebih keras untuk mendekatiku ya? Tuan muda yang jahil.” Lanjutnya lagi.


Valerin Grayii menggeleng dalam dekapan Friday “...Kau saja yang terlalu bodoh, aku gila menunggumu berhari-hari...” Valerin menyadari sesuatu yang tak didapatkannya sebelum kehidupan ini, seseorang yang ingin dikasihinya. Ia meremat kemeja putih Friday dengan erat, kini dia tahu seseorang yang layak menerima perasaannya.


“Aku tahu... maafkan aku.” Sama halnya dengan Friday, ia membalas pelukan Valerin dengan erat. Merasa jika perasaan itu sudah dipastikannya untuk gadis kecil bersurai hitam legam ini.


Kriett...


Pintu kamar terbuka, sepasang kekasih itu tengah berpelukan mulai kikuk. Lantaran melihat Elmer dengan wajah kantuknya, mengusak sebelah mata dengan boneka kelinci yang dipeluknya. Bocah bersurai keemasan itu menatap kantuk sang Earl of Hortensiaburg dan Third Prince of Crave Rose tanpa merasa bersalah.


“Tuan baik... apakah Elmer boleh kemari?”


Friday menatap bocah itu “Siapa?”


“Ah, itu anak-anak di panti asuhan dan anak yang ada di pusat kota. Namanya Elmer...” Valerin menjelaskannya “Kemari Elmer, apakah kau masih mengantuk?” Ucap Valerin Grayii dengan ramah.


Bocah itu mengangguk, dengan santainya merangkak ke ranjang kasur Valerin Grayii kemudian merebahkan dirinya disana “...tuan baik memiliki papa yang tampan.” Ucap Elmer dengan polos.


“Papa? Ah, maksudmu mama dan papa ya? Semacam hubungan? Bukan, pria ini orang yang kusayangi jadi Elmer juga harus menurut dengan pria ini ya.” Valerin Grayii berucap dengan senyuman “Hihihi... lucu, Elmer dilihat darimana pun mirip sepertimu. Rambutnya pirang dan matanya biru, kalau kau biru tua tapi Elmer biru amat terang.” Valerin Grayii terkekeh kecil.


“Seperti anakmu tentu saja, kalau tak keberatan anakmu dan aku.” Valerin Grayii menatap Friday dengan menggoda.


Friday langsung beranjak berdiri “Ah, a-aku akan membawakan makanan untukmu!” Jelas-jelas Friday salah tingkah. Ia pun terburu-buru meninggalkan kamar Valerin dengan gelagat anehnya.


Valerin Grayii tertawa terbahak-bahak “Haha... Elmer kau jenius!”


“Tuan baik...” Panggil Elmer.


“Hm?” Valerin Grayii mengusap surai pirang bocah itu “Jangan panggil aku tuan, panggil saja Valerin.”


Elmer mengangguk, dia menggeser posisi berbaringnya mendekati Valerin kemudian memeluk pinggang Valerin dengan erat “Aku rindu, ibuku...” Bocah itu nyaris menangis.


Valerin langsung memandang pilu “Tidak apa-apa, sekarang kalian aman. Elmer...”


***


Meja makan kali ini ramai, sarapan yang biasanya hanya dirasakan oleh Valerin kini ditemani oleh anak-anak yang mulai tinggal bersamanya di manor Grayii ini.


“Tuan Odolf, terimakasih sudah repot-repot masak banyak untuk anak-anak.” Valerin Grayii baru saja duduk di kursi.


“Dengan senang hati tuan muda, senang rasanya melihat manor tak begitu sunyi.” Pria paruh baya itu tersenyum ramah.


“Tuan, kami tak perlu makan terlalu mewah seperti ini.” Mario berucap, dia tampak tak mendekati sup hangat yang baru dituangkan oleh Panacea ke mangkuknya “Kami juga tak perlu diperlakukan sebaik ini.” Ucapan Mario tampaknya mempengaruhi anak-anak lainnya, mereka berlima kompak menunduk dengan raut sedihnya. Ingat jika sang Earl of Hortensiaburg ini memperlakukan mereka dengan baik tanpa pamrih.


Valerin Grayii tersenyum “Selamat datang dikediaman Grayii. Disini aku hidup bersama Panacea Eerie yang membantu mengurus pekerjaan rumah, kemudian Friday yang membantu mengurus pekerjaanku, Cerise yang juga membantu memastikan keamanan dikediaman ini dan tuan Odolf dengan masakan luar biasa enaknya. Jika kalian sukar hati menerima kebaikanku, kalian bisa belajar menjadi anak-anak baik yang membantuku. Aku tak memperbudak kalian, bahkan semua yang bekerja di manor ini adalah bagian dari keluargaku sendiri. Aku tak menganggap mereka bekerja untukku, tapi akulah yang meminta mereka membantuku. Kalian paham?” Ucap Valerin Grayii sambil menatap anak-anak itu secara bergiliran “Jangan panggil aku tuan baik, cukup panggil namaku saja. Namaku Valerin Grayii, aku ini perempuan loh...” Valerin Grayii mengedipkan sebelah matanya.


Sontak, anak-anak langsung menatap Valerin Grayii dengan kagum terutama Mai, anak paling pemalu itu berbinar-binar menatap Valerin Grayii “Menakjubkan, tuan baik ternyata seorang Lady?” Tanya bocah perempuan itu.


Valerin Grayii mengangguk “Aku bekerja dibawah pemerintahan kerajaan untuk sebuah urusan lebih nyaman bergerak dengan memakai celana daripada rok.” Valerin Grayii terkekeh “Sekarang, ayo makan... tuan Odolf masak makanan yang enak.” Seru Valerin Grayii lagi.


“Master...” Cerise baru tiba dengan menjinjing sebuah keranjang anyaman berisi beberapa tangkai bunga-bunga “Cerise sedang mengambil bunga untuk vas di ruang tamu, seseorang diluar menunggu master...” Ucap gadis bersurai merah muda itu.


Panacea mendekati Valerin Grayii “Tuan muda, biar Panacea yang melihat tamunya.” Ucap Panacea Eerie berjalan lebih dulu.


Friday yang berdiri disebelah Valerin mulai menyentuh pundak kecilnya “Dugaanmu siapa?” Ucap pria itu berkata dengan raut seriusnya.


“Entahlah, Alphonse mungkin...” Ucap Valerin Grayii mengangkat kedua bahunya sambil menyuap sepotong pancake yang masih hangat itu.


Ketukan sepasang sepatu boots kulit, terdengar pada lantai keramik di kediaman Hortensiaburg itu. Suara yang turut berbunyi pada ruangan ini menyadarkan sarapan bagi Valerin dan anak-anak.


“Valerin...” Suara berat dengan nada dingin itu terucap.


.


.