Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3: Episode 86




Medan perang semakin tegang, kala Ellis menatap dengan kedua matanya sendiri. Sebagian besar obscure sudah menjangkit kedua kelompok pasukan Brunia maupun Dust Bones.


“Sekarang apa?” Angelise bertanya pada Ellis yang diam mematung itu.


Panacea mengerti dengan sikap keterkejutan dari Ellis “Tuan muda, bernafas.” Ujar Panacea.


Ellis menarik nafas dan menghembuskannya. Dia mengangguk.


“Aku harus melakukan sesuatu!” Seru Ellis sambil memacu kudanya memasuki lautan manusia yang sudah terjangkit oleh Obscure itu.


“Jika aku bisa mencegah mereka semua agar tak memasuki Dust Bones, orang lain bisa hidup lebih lama.”


“Ellis!” Teriak William “Sungguh? Panacea, jika dibiarkan Ellis sama saja bunuh diri.”


Panacea menggeleng “Kita tak bisa berbuat banyak selain menjaga jalan ini agar tidak diterobos oleh Obscure itu.” Ucap Panacea.


“Ha... jadi dimana vampire wanita itu? Aku memiliki dendam dengannya, kalau dia tidak ada disini aku dan Auguste tidak akan ikut dengan aksi patriotisme kalian ini.”Angelise menghela nafas.


Panacea mengangkat senapang yang ia pegang “Tampaknya doamu terkabul, nona...” Lirik Angelise kepada sekelebat bayangan yang melesat cepat itu.


“Apa ini? Kenapa para tikus ada disini? Hey kalian, Dimana Valerin Grayii itu?” Sosok Primavera muncul dengan dua orang anak buahnya.


Panacea tanpa berbasa-basi langsung menembakkan senapang itu pada Primavera dengan berani “Kau harus mengetahui asal-usul leluhurmu terlebih dahulu jika ingin berbicara denganku. Vampire...” Ujar Panacea dengan aura hitamnya.


Sayangnya, Primavera bisa mengelak tembakan itu biarpun sedikit melukai pipi kirinya “Hm, menarik, kau bukan manusia ya?” Ledek Primavera dengan angkuh.


“Benar, sebaiknya juga kau jangan mendekati tuanku.”


“Oh, para leluhurku lebih rendah diperbudak oleh manusia? Iblis.” Cibir Primavera.


Panacea memiringkan bibirnya “Kau harus belajar ribuan tahun lebih awal, Vampire...” Ucap Panacea.


***


Sudah tak terhitung berapa banyak prajurit yang sudah Ellis tebas, biarpun para prajurit yang terjangkit Obscure itu tidak menyerangnya. Tapi Ellis sendiri kebingungan, dia harus bertindak seperti apa?


“Tidak ada habis-habisnya!” Suara Mathias terdengar diantara lautan manusia obscure itu.


Ellis memacu kudanya, dia harus menyelamatkan Mathias dan Noah.


“Sebelah sini!” Ellis berteriak kala melihat Mathias dengan sisa prajuritnya menghadapi ganasnya orang terinfeksi Obscure itu.


Ellis memandu mereka pergi dari tempat yang lebih aman, bersamaan dengan itu batu keunguan yang ada di dada Ellis tak berhenti bersinar. Ellis kewalahan menutupinya dengan sebelah tangannya sendiri.


“Kau!” Mathias terkejut, Ellis berrambut hitam dan bermata violet. Mirip sang Earl Grayii.


“Mat! Kemari, lebih aman!” Teriak Ellis “Mat? Kenapa kau malah menyerangku?” Ellis menatap dengan terkejut usai mengelak satu kali serangan dari Mathias.


“Kau alasan ayahku dihukum mati! Grayii!” Mathias murka, memang kematian ayahnya karena keputusan sang raja. Ayah Mathias dihukum mati karena Valerin Grayii melarikan diri dari istana. Memang soal yang sepele, tapi hukuman mati yang diberikan dari sang raja Dust Bones berakibat dendam bagi pria bersurai merah mata ini “Kau! Harusnya mati!” Mathias yang memang kuat, tidak lagi ragu menebas Ellis.


Ellis menghadang dengan gagang pistolnya “Ini tak penting lagi Mat! Kau harus selamat!” Pinta Ellis setengah berteriak.


“Aku lebih memilih mati karena terinfeksi oleh Obscure daripada kabur dengan pengkhianat seperti kau! Kau pembunuh ayahku!”


Ellis tertegun, sungguh fatalkah sikapnya selama ini? Tak disangka, masalah yang Ellis buat hanya menyebabkan orang-orang tak bersalah turut menanggung bebannya.


“Maafkan aku...” Lirih Ellis yang menunduk, menurunkan kewaspadaannya seolah pasrah dengan pedang Mathias yang akan menebas lehernya itu.


Cipratan darah mengenai wajah Ellis, saat Ellis menanggah. Ia lihat tubuh seseorang yang sudi menjadi perisai hidupnya.


Mario, prajurit junior yang beberapa kali ia temui di istana. Tengah tertusuk pedang Mathias karena melindunginya.


“M... Mario?” Ellis bergetar dengan kedua mata yang membelalak.


Mario masih sempat menoleh ke arah Ellis “T-tuan... B-baik... Hati” Ucap Mario dengan senyum yang lebar.


Mario, namanya sangat familiar. Ellis mengingat jelas anak-anak dari jalanan pusat kota yang sudah menghabiskan waktu bersama Valerin Grayii, sosok Mario salah satu dari anak-anak yang sudah diangkatnya “Mario...” Ucap Ellis dengan tatapan berlinang. Tubuh Mario yang terjatuh dari kudanya segera Ellis tangkap.


“Mario... Mario!” Jerit Ellis disertai air matanya yang banjir.


Para terinfeksi obscure mulai mengepungnya, Ellis tak lagi perduli karena sakit hati menatap kematian anak yang sudah ia selamatkan. Sontak, Ellis melolong dengan teriakannya “Berhenti kalian semua!” Teriakan Ellis membuat seluruh yang terinfeksi Obscure mematung.


Ellis memengang wajah Mario yang sekarat “Mario... Kau selama ini bersamaku?” Isak Ellis.


Mario tersenyum dengan bibir bersimbah darahnya, luka pada dada Mario sudah pendarahan dengan deras. Mustahil ia selamat dengan waktu yang kecil ini.


“K-kami menunggumu, Tuan baik hati...” Ucap kecil dari Mario.


Ellis memangku tubuh Mario, dia menggengam tangan Mario dengan erat “Maafkan aku Mario.” Kata Ellis dengan pilu.


Kedua mata Mario yang masih terbuka berbeda dengan nafas dan detak jantungnya yang berhenti itu. Dia sudah mati dalam pelukan orang tua asuhnya, Ellis atau Valerin Grayii ini.


“Tidak!” Teriak Ellis.


Kala itu, tubuhnya Ellis bereaksi, salah satu kelebihan dari sang inang utama dari Obscure. Kepedihannya adalah bahan bakar Obscure berreaksi.


Teriakan Ellis dan cahaya dari batu yang ada didadanya bersinar, orang yang terinfeksi obscure mulai membatu. Kemudian mengabu dengan sendirinya.


“Selamat datang Valerin, kau sudah bekerja dengan baik.”


Ellis mematung, sosok Liriel muncul dengan senyum yang lebar.


“Tidurlah... biar kuceritakan dongeng dari seribu tahun lalu, Valerinku.” Ucap Liriel lagi.


~1000 Tahun Lalu~


Bagaimana dunia ini terbentuk? karena ulahnya.


“Bagaimana jika satu hari sampai seribu hari, akan kekal.”


“Gila? Mana ada manusia yang hidup selama itu?”


“Ada! Jika sesuatu diluar angkasa sana punya benda seperti itu”


“Hallo? Kau dengar aku, Liriel mana ada hal gila seperti itu. Apakah kepalamu terbentur karena terlalu jenius?”


“Siapa bilang? Tentu saja ada, asal kau tahu, dia sudah mengatakannya kok...”


“Untuk apa hidup seribu tahun?”


Tangan ramping itu kembali menekan tombol perekam suara dari percakapan telepon antara dia dan seorang pria. Wanita muda dengan perut besar itu terkekeh pelan, apalagi ketika rekaman suara dari perbincangan itu terdengar karena perutnya langsung bergerak dengan lincah. Bayi dalam kandungannya tahu suara sang ayah.


“Sttss... tenanglah Clandestine, ibu bisa kesakitan ketika kau terlalu gembira mendengar suara ayahmu.” Ujar wanita muda itu.


Ting... tong...


Suara bel rumah ini berbunyi. Sang wanita bersusah payah bangun untuk membukakan pintunya.


“Dokter Shanyi, bagaimana kabarmu?” Seorang pria berada di luar dengan melirik perut wanita bersurai hitam itu.


“Yuta! Kabar baik, bagaimana Albert? Apakah dia sudah kembali dari ekspedisi?”


Pria itu melirik ke kiri dan kanan, tampang bimbang “Kapten Whittfield... berada dalam karantina karena terpapar batu mineral yang kami temui dari ekspedisi, Dokter Shanyi maaf kabar ini sangat tidak baik untuk kau dengar.” Pria itu menunduk dengan perasaan bersalah.


“Yuta...” Panggil wanita bermata kenari itu “Tidak apa, ayo antar aku menemui Albert.” Pinta wanita bersurai hitam kemilau itu dengan senyum yang sendu.


Tatapannya bahkan amat sendu disepanjang jalan, pria muda yang sedang mengemudi bahkan menatap dengan sulit artian “Bagaimana kandunganmu dokter Shanyi?” Tanya sang pemuda basa-basi.


Wanita itu segera menyentuh perutnya “Albert pergi tanpa tahu aku hamil, bahkan saat itu kehamilanku baru berusia seminggu bahkan ketika Albert pulang apakah dia bisa menyentuh puteranya sendiri?”


Pria yang menyetir itu tersentak, perasaannya semakin terasa tak nyaman. Wanita hamil dengan paras cantik itu harus menanggung beban karena kekasihnya yang kecelakaan dalam misi “Kapten Whittfield begitu berani, dokter Shanyi... dia pasti kuat menghadapi penyakit ini.”


Wanita itu menggeleng “Aku tidak tahu jika belum melihatnya.”


“Benar, karena itu dokter Narendra memintaku membawamu.”


“Narendra ya?” Wanita itu terkekeh, sekelas temannya yang ahli dalam patologi penyakit pun sampai meminta dirinya bergabung “Aku penasaran, seberapa parah kondisi Albert.” Kata wanita itu dengan menerawang jauh.


Di depan gedung-gedung pencakar langit serba putih, ia turun dari mobil yang dikendarainya.


“Selamat datang di fasilitas pangkalan militer Boerhavia Dokter Liriel Shanyi” Ujar Yuta, segera meraih tangan wanita itu untuk membimbingnya berjalan. Apalagi kondisi hamil besar membuat wanita muda itu lebih rentan.


“Terimakasih Yuta...” Ucap wanita itu.


Baru tiba, wanita itu sudah disambut oleh seorang pria dengan jas putih “Liriel! Maaf membuatmu datang saat sedang hamil.” Pria itu menghampiri sang wanita.


“Ini tentang Albert, bagaimana mungkin aku tidak datang.”


“Bagaimana Albert? Apa dia separah itu?” Lanjut Liriel.


Pria itu terdiam, bukan menjawab, dia malah menuntun wanita itu mendatangi lorong dengan penjagaan yang ketat bahkan beberapa dokter begitu sibuk berlalu lalang disana “Albert terkena lapisan terluar dari batu mineral itu, memang jika sudah berhasil dalam tahap fillter batu itu malah menjadi masa depan yang menjanjikan untuk umat manusia. Batu itu bisa menyembuhkan semua penyakit, seperti temuanmu Liriel.” Ucap pria itu.


“Dimana Albert?”


“Kumohon, kau harus bisa kuat untuk melihatnya.” Sang pria menuntun Liriel berjalan didepan ruang berkaca tebal.


Disana seorang pria terduduk dengan kondisi memprihatinkan. Tubuhnya penuh dengan sel-sel kulit yang busuk, Albert kekasihnya hanya merintih kesakitan dengan mulut yang menganga.


“Albert...” Pelan, wanita itu memanggil kekasihnya dengan pelan.


Pria didalam ruangan kaca itu membenturkan dirinya tepat pada Liriel, kedua matanya menatap Liriel “L..iri..el” Erangnya, kemudian kembali menggila dengan agresif.


Pria yang berpakaian jas putih memengang pundak Liriel “Kau tak bisa mendekatinya, hanya aku yang bisa...” Ucap Narendra.


Liriel melirik Narendra, kedua iris mata pria itu berubah merah dengan tatapan yang waspada.


“Albert juga temanku, tapi aku tak ingin dia membahayakanmu.”


“Penawarnya dari batu itu sendiri, seperti hipotesa penelitianku.”Ujar Liriel.


Narendra mengangguk “Benar, tapi proses benda itu masih cukup lama. Ini kejadian baru selama 100 tahun aku hidup, kumohon bersabarlah Liriel...” Ucap Narendra dengan senyum yang sendu.


“Kau berbicara terlalu kuat, bagaimana jika orang tahu identitas aslimu, Narendra Marcel?”


Narendra terkekeh dengan ucapan Liriel “Haha, kau bercanda saja, vampire sepertiku sudah berpengalaman. Sebaiknya kau istirahat saja, Yuta bisa temani Liriel?”


Pria muda itu langsung mengangguk “Siap Dokter Marcel.”


“Anak buah Albert memang setia, jaga Liriel seperti kau menjaga kaptenmu okay?” Ucap Narendra seraya menepuk pundak pria itu.


“Siap Dokter Narendra!” Dalam pandangan Yuta, ia bisa melihat pandangan pilu dari wanita bersurai hitam itu.