
Tatapan tajam tanpa rasa yang tega, tubuhnya tegap melintasi koridor hening, hanya suara dari kedua sepatu boots kulitnya.
Sang Ajudan raja dari Dust Bones. Melewati malam yang sulit sejak kejadian kemarin, sulit menghadapi sikap asli sang raja.
Tiba didepan pintu kayu bergagang emas, sepasang prajurit disana memberi hormat kepada sang ajudan. Wajah Ellis Francieli mengeras, mendatar dan rumpang. Sikap riang manisnya sirna dalam semalam, ketika sang Raja berubah sikap malam itu.
“Yang Mulia... sudah pagi, harap anda segera bersiap untuk menemui para jenderal atas laporan.” Ellis berucap dengan datar, sepasang mata emasnya melirik dua orang wanita yang masih bergelayut manja didada sang raja.
“Ellis... kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Yang Mulia, ampuni sikap hamba.” Ellis segera menunduk hormat, tak banyak yang bisa ia lakukan.
Sang raja menegak satu botol alkoholnya, seraya beranjak berdiri sebelum itu ia mengusir dua wanita itu “Ellis... Kenapa kau marah padaku?” Setengah mabuk, sang raja mendekati Ellis kemudian meraba wajah manis sang ajudan.
“Val, kenapa kau cemberut?” bisik sang raja didaun telinganya.
Deg, Ellis membulatkan kedua mata emasnya. Selain bulu romanya yang meremang, aroma maskulin sang raja tercium cukup tajam “Hentikan.” Ellis mendorong tubuh sang raja, tanpa ia sadari.
“A-apa yang kau lakukan?” Ellis mencicit dengan kedua tangan gemetarnya.
Alphonse memang mabuk, tapi kesadarannya masih penuh, mungkin toleransi terhadap alkohol yang kuat. Ia datangi Ellis sambil menutup pintu kamarnya “Maaf, membuatmu takut.” Ujar Alphonse sambil menciumi ceruk leher Ellis.
“Ellis...” Sang raja menarik dagu Ellis menghadapnya, kemudian mencium gadis berdandan pria itu dengan cepat.
Sekuat tenaga Ellis mendorong tubuh sang raja “Mohon maaf Yang Mulia, hal ini tak pantas bagi seorang ajudan, ampuni aku...” Ellis berucap sambil memengang tangannya sendiri.
Satu hal yang Ellis sadari, sang raja mulai menggila “Saya akan menunggu diluar, silahkan bersiap-siap Yang Mulia.” Ellis kembali berucap dengan datar, langkah kaki rampingnya langsung menuju luar ruangan.
“Ellis, kau kenapa?” Tanya Mathias yang tak sengaja melintas.
Ellis menggeleng, dia masih bersandar didepan pintu itu dengan senyum yang dipaksakan “Tidak apa-apa, hanya mengingatkan Yang Mulia untuk pertemuan pagi ini.” Diiringi tawa nan hambar Ellis.
Mathias tidaklah orang kemarin yang baru bekerja di kawasan Dust Bones. Sikap sang raja sudah lama dikenalnya, sebagai salah satu yang memiliki hubungan kekerabatan dengan sang raja “Baguslah kalau begitu, aku akan pergi duluan ke ruang pertemuan.”
Ellis mengangguk sambil melambaikan tangannya “Okay sampai jumpa lagi Math.”
Perasa Ellis menggila, tubuhnya terasa panas dingin. Ellis malah berlari ke ruang pribadinya sejenak. Agar menstabilkan dirinya dulu.
Brakhhhhh?! Bunyi pintu ruangan yang Ellis banting dengan cepat. Ellis bersandar dipintu, tubuhnya merosot kemudian terduduk disana. Seraya meremat kerah lehernya sendiri, air mata Ellis sudah banjir membasahi pipinya.
“Kau pikir aku apa? Setelah menghabiskan malam bersama wanita-wanita itu kemudian kau menciumku dengan sesuka hati?” Ujar Ellis dengan lirih “Kau bahkan tak memandangku sebagai diriku, kau bahkan sudah memiliki satu anak, nah... katakan padaku? Kau pikir aku ini apa? Alphonse...” Menahan isak tangis yang hendak melolong, giginya mengatup erat hingga menimbulkan bunyi gemertak. Jangan tanya rasa sakit hati yang Ellis rasakan, sudah tak terbendung.
.
.
.
Cukup lama bagi Ellis tiba di ruang pertemuan, bahkan tampaknya para jenderal sudah memulai rapat itu sejak lama. Ellis menyelinap masuk dengan pelan, kemudian berdiri sedikit jauh dari singasana sang raja.
“...Dalam penelusuran kami, Yang Mulia, ditemukan beberapa bekas jejak para vampire diwilayah timur.” Mathias tampak melaporkan penemuannya beserta sebuah peta yang sudah diberikan petunjuk.
Ellis menyimak, tentu dalam heningnya sendiri. Hingga laporan itu usai, Ellis seperti patung hidup dengan raut wajah datarnya sembari mengekori langkah sang raja disampingnya.
“Ellis, kau bisa kembali kekamarmu.” Ujar sang raja.
Bukan tanpa alasan, tapi dihadapan mereka berdiri sang ratu yang berdiri dengan anggun. Tatapan sang ratu lurus kepada sang raja, tersenyum dengan penuh makna tersendiri.
“Baik Yang Mulia...” Ellis sambil menundukkan sejenak dengan hormat.
“Kurasa, hidupku yang paling miris, dicemburui sang ratu dan mencemburui sang raja.” Batin Ellis seraya berbalik menjauh dari sang raja.
Rasanya lelah, Ellis merasakan kepalanya yang pusing dan lelah. Ellis menuruti perintah sang raja dengan memasuki kamarnya sendiri, kemudian menguncinya dengan rapat disana.
Satu persatu pakaian luar dilucutinya, mulai dari jubah tebal, mantel, jas hingga rompi putih. Menyisakan kemeja putih polos dengan dua kancing yang sengaja dibuka. Ellis melemparkan sepasang sepatu bootsnya dengan asal. Kemudian yang terakhir, ia meletakkan pedang gagang putih itu disamping ranjang kasurnya.
Rambut Ellis memang pendek selayaknya seorang pria, namun surai pirang itu sangat lembut. Bahkan ketika sang empunya rambut berbaring diranjang kasur yang tak besar itu, tampak tergerai dengan lembut.
“Kepalaku pusing... Apa sebaiknya aku urungkan saja ya niatku menjadi seorang ajudan?” Ucap Ellis seorang diri.
“Lantas apa alasanku berlatih selama ini?” Helaan nafas Ellis dengan panjang.
Tok... tok...
Ellis segera menoleh dengan waspada, ia raih pedang putihnya dengan cepat. Kemudian berjalan pelan membuka jendela kamarnya.
“Hay, ksatria galak.” Sapa seorang pria dengan tudung jubah hitam menutupi surai pirang panjang dengan sepasang mata biru tuanya. Dia bertengger di ambang jendela dengan senyuman lebarnya.
Ellis mengingat wajah penyusup itu, segera ia todongkan pedangnya “Kau, penyusup dengan belati mawar itu?” Sergah Ellis.
Sementara pria itu tersenyum gugup sambil memalingkan ujung pedang Ellis dengan senyum yang canggung “E-eh... sepertinya kau ingat ya? Bolehkah aku berbicara didalam? Kau pasti penasaran bukan?” Bujuk penyusup itu.
Ellis tampak diam sejenak, kemudian menurunkan pedangnya “Cepat, sebelum aku berubah pikiran.” Ujar Ellis.
“Hehe, baiklah ksatria galak.” Pria itu melompat masuk kedalam ruangan kamar Ellis “Wah, apakah ini kamar seorang ajudan, tapi kenapa hari ini kau tak bersama Alphonse?” Pria itu banyak bertanya pada Ellis.
Hingga Ellis tak memperdulikannya “Apa tujuanmu kemari?” Tanya Ellis menelisik.
“Ingin menemuimu, ksatria galak.”
“Aku memiliki nama, namaku Ellis Francieli.” Sambar Ellis sedikit mendelik kesal.
“Oh, kalau begitu namaku Friday.”
“Kau sudah mengatakannya.”
Friday menyadari sesuatu dari Ellis, terkesan tak sopan namun tangan besar Friday menyentuh pipi kanan Ellis “Apa sudah terjadi sesuatu? Kau habis menangis ya, kedua matamu sembab...” Ujar Friday.
Ellis segera menepis tangan Friday “Ini bukan apapun.” Balas Ellis dengan jutek.
“Lagipula kenapa kau harus perduli?”
“Aku tentu saja perduli, semua hal tentangmu aku perduli.”
“Kau cuman senang bercanda bukan?”
Friday terkekeh kecil, dia sekarang seenaknya duduk dipinggiran ranjang Ellis “Ellis Francieli, apa kau ingin mengetahui soal Valerin Grayii?” Tanya Friday dengan seringai tipisnya.
Ellis menatap langsung sepasang iris biru itu “Katakan, siapa dia?” Kilat pada iris keemasan Ellis tampak.
“Ah, nostalgia rasanya...”
“Apa maksudmu?”
“Tidak, hanya kau...”
“Aku?”
“Baiklah, akan kuceritakan siapa Valerin Grayii ini.”
.
.
.