
Deretan dari kuda-kuda yang ditunggangi oleh ribuan prajurit, masuk kedalam area padang luas tak berpenghuni.
Perbatasan antara Brunia dan Padang utara. Formasi dari para prajurit, tak lekat ditatap oleh sepasang mata hijau yang tajam, milik sang raja.
Seorang prajurit mendekatinya, menunduk untuk membisikkan sesuatu “...Yang Mulia, Ksatria Francieli tiba dalam kamp ini.”
Kedua mata Alphonse mendadak berbinar, senang mendengar nama sang pujaan hati “Ellis!” Ia berbalik, menemui Ellis dalam pakaian zirah serba putih yang terpasang sempurna di tubuh rampingnya.
“Yang Mulia...” Ellis melulut kemudian meraih tangan sang raja seraya mengecupnya.
Alphonse yang terlanjur jatuh cinta pada Ellis seakan lupa dengan kedudukannya, Raja dan ajudan. Ellis yang seharusnya hanya orang biasa.
Usai mengecup tangan sang raja, Ellis berdiri tegap seraya memberi hormat “Ellis Francieli akan melayani rajaku dengan segenap jiwa, raja... Tuhan menuntunmu dalam perang kali ini.” Ujar Ellis menatap tegap sang raja.
Didekat Alphonse, tidak hanya Ellis melainkan Matthias dan Noah turut memperhatikan sang raja dengan tatapan yang sulit diartikan, terutama Noah Cyprus, ia baru tahu jika sahabatnya Remington mendekap di penjara karena tuduhan sang raja.
“Yang Mulia... Pasukan Brunia sudah terlihat.” Ucap Mathias yang menoleh.
Ellis segera menaiki kudanya, dia menunggangi kuda tepat disebelah sang raja. Jangan dikira wajah Ellis sudah kembali ceria dan riang, sebaliknya selain raut wajah frustasi terselip raut kepedihan disana “Raja, tetaplah diposisi yang sudah Jenderal Lavandula.” Pinta Ellis.
Alphonse mengangguk, sebagai raja dia memimpin perang antara Brunia dan Dust Bones setelah Alphonse mengirimi surat perang kepada kerajaan Brunia. Pasukan yang dipimpin oleh Alphonse bersiap sejak beberapa bulan lalu “Wahai prajurit dan ksatria yang berani! Detik ini, Dust Bones akan berbangga dengan keberanian kalian.” Seru Alphonse dengan gagah berani.
Mathias menarik kuda yang ditungganginya tepat disebelah Ellis, sama seperti Ellis pria bermata rose stone itu mendekati Ellis untuk sekedar berbincang “...Ellis, kau baik-baik saja?” Tanya Mathias.
Ellis mengangguk kemudian menatap temannya itu, sejenak kali ini Ellis menatap Mathias dengan tatapan bingung “Cerise?” Tanya Ellis, berkat ingatan Valerin Grayii yang samar kembali. Sosok Mathias amat mirip dengan Cerise hanya dalam bentuk seorang pria.
“Ellis, kau mengingau, bersiaplah diposisi mereka datang, Brunia keparat itu.” Rahang pria muda itu mengeras, dia kembali pada posisinya.
Ellis membelalak, sulit mempercayai, sontak ia memengang liontin kalungnya. Dia ingat, chip program Cerise bersamaan dengan sihir bantuan Panacea berada dalam liontin ini, parahnya sosok Valerin dulu menganggap jika liontin ini berisi jiwa dari Cerise, boneka manusia yang mampu bertarung itu “Kenapa denganku?” Ellis segera menggeleng.
“Ellis...” Noah Cyprus memberi kode kepada Ellis, dia memang bertugas membawa kembali sang raja pada pasukan dengan formasi belakang, penjagaan cukup aman.
Ellis mengangguk, dia harus mengikuti rencana “Yang Mulia.” Ellis memanggil Alphonse.
Beriringan dengan sang raja, Ellis memandu Alphonse kembali ke kamp darurat yang berada di formasi belakang “Yang Mulia, sesuai strategi...”
“Ellis, menurutmu apakah yang Brunia inginkan dengan sang ratu?”
“Yang Mulia, perselisihan antara kerajaan memang sering terjadi dan tak disangkal, seorang pengkhianat akan tetap ada untuk tujuannya.” Jawab Ellis.
Alphonse tersentak, jawaban Ellis seperti bukan Ellis yang ia tahu. Bahkan beberapa hari Ellis kembali dari istriahat sakitnya, Ellis mendadak berubah datar dan menjawab sekedarnya saja. Ellis yang periang ceria seolah menjadi Valerin yang tenang dan kalem “Ellis!” Alphonse langsung menangkup wajah Ellis untuk ditatapnya, ia memperhatikan kedua iris mata Ellis.
“Y-yang Mulia...” Ellis tergugup ditatap sedekat ini.
Alphonse menghela nafas, kedua mata Ellis belum berubah “Syukurlah..”
“Apa yang kau harapkan dari sihir luarbiasa Panacea, Al...” Ellis membatin. Memang perubahan fisik luarnya masih seperti Ellis, berkat sihir dari Panacea jika tidak kedua iris mata violetnya pasti membuat Alphonse waspada. Sementara Ellis masih belum ingin Alphonse tahu perubahannya, setidaknya untuk rencana rahasia Ellis dan Paladin of Dust Bones berhasil.
Brunia memang bersengkokol dengan Crave Rose, hal itu Ellis ketahui dari Frederitch yang beberapa hari lalu menolongnya. Sayang sekali, tujuan Crave Rose bersengkokol dengan Brunia gagal untuk membunuh sang raja Dust Bones. Perang kali ini, tampaknya tidak ada campur tangan Crave Rose, Ellis tahu karena dari pasukan Brunia tidak terdapat prajurit dari vampire.
“Memang benar, tidak salah lagi.”
Ellis sempat terkejut, dia menduga sang raja tidak tahu melainkan dia sudah lebih dulu tahu, Alphonse memang tetap licik seperti sebelumnya “Baiklah Yang Mulia...” Ellis menunduk hormat.
Tangan Ellis digenggam oleh Alphonse, kedua matanya mendadak waspada dan serius “Ellis, aku tak pernah tahu jika Brunia memiliki assasin sendiri...” Bisik Alphonse.
“Eh?” Ellis terkejut bukan karena ucapan Alphonse, namun tangan lebar Alphonse yang memengangi pinggangnya untuk dekat kepada tubuh Alphonse “S-sial... Aku Valerin tahu! Kenapa perasaan Ellis ini menyusahkan!” Batin Ellis, memang ingatannya Ellis samar-samar kembali tapi melalui hari-hari bersama Alphonse membuat perasaan Ellis dilemma. Dia juga menyukai Alphonse, tapi juga dengan Frederitch ketika ingatannya kembali.
Ellis mendorong tubuh Alphonse, kala ia melihat bayangan seseorang melintas dari luar kamp tenda “Yang Mulia, mungkin itu lebih parah dari pada assasin.” Celetuk Ellis, dari kedua matanya tentu saja berhasil mengenali orang dengan obscure.
Ellis sontak menarik tangan Alphonse, keluar dari tenda. Setidaknya dua orang prajurit terinfeksi obscure sudah mengincarnya. Ellis mengayunkan pedang biru miliknya dengan cepat.
“Yang Mulia!” Ellis memanggil Alphonse, disangkanya dua orang prajurit yang terinfeksi malah lebih dari dua. Nyaris sebagian pasukan formasi terserang obscure. Ellis bimbang, ingin menghabisi para prajurit yang terinfeksi atau membuang darahnya sendiri sebagai penawar Obscure.
Gigi Ellis saling menghentak, tanda ia kesal “Aku memang tahu, jika aku penawarnya, tapi jika pasukan Alphonse menang, rencana akan gagal!” Ellis membatin. Bahkan rencana kotor Brunia yang akan menggunakan obscure dari bantuan Crave Rose sudah Ellis ketahui, semua itu berkat pangeran bungsu dari Crave Rose. Ellis hanya pura-pura tidak tahu.
Tanpa diduga. Alphonse menarik mundur Ellis, dialah yang maju menghadapi seluruh pasukannya sendiri dengan pedangnya sendiri “Diam dibelakangku! Ini perintah!” Titah sang raja.
“Eh? I-ini... tak mungkin.” Mata Ellis bergetar tak percaya, sesungguhnya situasi ini bagus, tapi Ellis tidak ingin Alphonse mati, dia hanya ingin Alphonse tetap hidup namun memenjarakannya kemudian menggantikan kedudukan Raja Dust Bones oleh Alexander. Itulah rencanaya dan para paladin.
Malah tak diduga, Alphonse melindungi Ellis “H..hentikan Yang Mulia, kau membuatku bimbang...” Genggaman tangan Ellis pada pedangnya juga demikian sama bergetar dengan suaranya sendiri.
Alphonse memang kuat, hanya sebagai manusia dengan keturunan kstaria suci. Ia memiliki tubuh dan kemampuan bertarung yang luar biasa, menebas obsucre bukan apa-apa baginya. Bahkan dalam sekejab sebagian pasukannya sendiri sudah habis tumbang menjadi lautan bercak darah.
“Ellis...” Alphonse menoleh kebelakang, ia segera menghampiri Ellis dan mendekap gadis itu dengan erat.
“Oh, Alphonse, Hentikan...” Pinta Ellis dengan riak air matanya.
Alphonse menggeleng “Maafkan aku, maafkan aku...” Alphonse bahkan membelai lembut surai pirang Ellis yang halus.
Jleb... Syartttt...
Mulut Alphonse mengeluarkan darah, saat kewaspadaannya menurun, sebuah panah berhasil mengenai punggungnya, sangking tajamnya anak panah itu sampai menembus zirah baju Alphonse “Hoak...” Alphonse mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Al!” Ellis yang panik meneriaki Alphonse.
“H-hai... V-val...” Alphonse berucap susah payah sambil membelai wajah Ellis dengan penuh cinta.
Ellis langsung melangkan pedangnya mengenai prajurit Brunia yang menyusup dengan panahnya itu sampai tergeletak tewas.
“Al... Bangun...” Ellis mendekap tubuh Alphonse yang mulai melemah dengan kedua kelopak matanya yang sama terpejamnya. Dia memang belum tewas, tapi diambang kematian.
Alphonse selama ini hanya ingin Valerin membalas perasaannya “Kita harus membawamu pergi ke tempat yang aman!” Ucap Ellis.
Dia susah payah membopong tubuh Alphonse masuk ke kereta kuda, kemudian Ellis sendiri yang menunggangi kuda dari kereta tersebut untuk menjauhi wilayah peperangan.
“Al... aku tak terima jika kau harus mati.” Ucap Ellis dibarengi isak tangisnya.