Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3: Episode 83




“Apa maksud dari semua ini?!”


“Kau bertanya?”


“Jelas aku bertanya! Keparat sepertimu! Aku sudah membantumu Al untuk menghapus ingatan dan merubah kepribadian Valerin Grayii, kenapa sekarang kau menangkapku?! Merantaiku seperti pidana!”


“Kau berisik Lyn, seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, apakah kau pantas untuk mendekati kekasihku Valerin Grayii?”


Lyn yang mendengar penuturan Alphonse kala itu, menunduk. Bukannya takut, ia malah diam-diam tertawa kecil “Apa katamu Al?” Lyn tersenyum miring. Jelas meremahkan Alphonse yang berdiri dari luar jeruji besi ini.


“Kau bahkan gagal menjaga permaisurimu, sekarang kau mau Valerin juga? Lihat, kau raja yang serakah.”


“Tutup mulutmu, budak.”


Lyn menaikkan kedua bahunya “Aku memang tak berdaya saat ini, tapi kau harus ingat, orang yang membantu selama ini adalah aku! Aku yang membantu ide-ide gilamu, tanpa alchemist sepertiku kau tak mungkin bisa meracuni Dust Bones dengan virus Obscure itu, merubah adikmu sendiri, atau bahkan mencuci otak Valerin.” Lyn Sander, masih terus berucap.


Alphonse menggeleng, ia berjalan meninggalkan lorong penjara yang dingin itu. Dia tak mengubris perkataan Lyn didalam penjara, dengan tatapannya yang tajam. Pria itu keluar dari lorong penjara.


“Remington...” Panggil Alphonse, melihat dua prajurit tengah mengawal Remington yang terikat, tepat didepannya “Maaf, aku harus mengurungmu di tahanan rumah.” Ujar Alphonse.


“Yang Mulia Alphonse, sekalipun aku tidak tahu letak salahku, tapi anak-anak itu tidak bersalah.”


Alphonse mengangguki ucapan Remington “Terimakasih sudah menjaga, kekasihku selama ini Remington.” Ucap Alphonse sambil berlalu.


Remington membelalak kedua matanya, dia sejak dulu sering mendengar isu sang Raja yang menggilai Earl Grayii. Mendengar penuturan sang Raja, Remington terkejut “Ellis Francieli itu... sang Earl?” Gumam Remington sebelum kembali diseret oleh kedua prajurit.


* * *


“Engh...” Ellis merasa berbaring diatas lengan kekar sesorang. Tidurnya sangat lelap, sampai terasa benar-benar segar.


“Selamat pagi, Sunshine...” Ujar Frederitch yang berbaring menyamping menghadapnya, sementara lengan kanannya dipakai menjadi bantal oleh Ellis “T-tanganku sedikit keram.” Senyum kaku dari Frederitch.


Ellis buru-buru menggeser posisi tubuhnya, ia masih diam untuk mencerna situasi. Parahnya Ellis, tidak begitu ingat apa yang sudah terjadi kemari.


“Kenapa kau disini?” Tanya Ellis tampak bingung dan memerah.


“Kau masih bertanya? Semalam kau merengek tak ingin tidur sendiri karena takut.” Celetuk Frederitch.


Rambut, Ellis melirik helaian rambutnya yang menghitam. Panik, Ellis langsung beranjak dari ranjang kasur untuk menatap cerminan dirinya. Dari cermin dinding yang menggantung, rambut pirang Ellis dan mata emasnya berubah menjadi surai hitam dan mata violet “...ini Aku?” Ucap Ellis memengangi wajahnya.


Grep, Frederitch memeluk Ellis dari belakang kemudian menciumi ceruk lehernya “Saat menjadi Ellis kau menyebalkan, tapi kembali menjadi Valerin kau menjadi tenang. Katakan siapa padaku apa yang sudah terjadi sampai ingatanmu hilang?” Tanya Frederitch.


Ellis menggaruk tengkuknya yang gatal “Apa maksudnya?” Ellis bertanya dalam batin “K-kalau soal itu aku tak mengingatnya, aku hanya tahu bangun dipagi hari dengan luka diperut dan kepala kemudian tinggal bersama Remington dan Lyn.” Ujar Ellis yang merah menatap wajah Frederitch dari dekat ini.


Ellis menyadari sesuatu, dari pangkal lehernya terasa benda keras yang menempel. Ia memenganginya, melihat seperti permata berwarna violet yang menyatu dengan permukaan kulitnya “Aku tak ingat benda ini ada ditubuhku?” Tanya Ellis.


Frederitch menatap sendu, dia tahu, pengaruh Liriel sang Obscure membuat ingatan seorang Valerin Grayii bertabrakan dengan Ellis Francieli. Kemudian, ia raih kedua tangan Ellis untuk dikecupnya “Aku ingin bertanya, jawab sebisamu, apa kau mengenali Valyria Soga Kinaru?” Tatap Fredericth langsung pada kedua mata Ellis.


Seperti dugaan Frederitch, Ellis menggeleng. Tanda bahwa kemarin ingatannya kembali untuk sementara, sekarang hanya kepribadiannya saja yang bercampur “Baiklah aku mengerti...” Helaan nafas Frederitch.


Ellis tidak tahu, tapi melihat raut Frederitch yang tak puas itu membuatnya sedikit kecewa “Maafkan aku.” Gumam Ellis.


Frederitch mana mungkin tega membiarkan Ellis yang menjadi murung, segera ia peluk tubuh gadis yang senantiasa cantik itu “Ellis, Ellis, maaf aku tidak bermaksud begitu, mau siapapun ingatan yang ada didalam dirimu aku tetap mencintaimu, okay? Valyria, Valerin atau Ellis, aku tetap mencintaimu.” Frederitch mengeratkan pelukannya.


Bohong jika Frederitch tidak tergoda dengan darah harum dari Ellis, tiga tahun menahan meminum darah karena penyesalannya terhadap Valerin Grayii “Tidak, kau lelah... Aku baik-baik saja.” Ucap Frederitch seraya membenahi kerah kemeja putih Ellis.


Dalam benak Ellis, sosok Frederitch sellau muncul, hingga sebagian ingatannya kembali kemarin, jelas sekali jika dia hanya mencintai Frederitch. Bukan Alphonse.


“Frederitch...” Panggil Ellis dengan halus.


“Minumlah... tidak apa-apa.” Senyum Ellis menggembang manis.


Jiwa buas dari dalam diri Frederitch memacu kuat, selama ini ia berusaha menahannya, tapi Ellis malah meminta. Tanpa berpikir panjang kedua mata biru Frederitch berubah menjadi merah melolong yang lapar, bahkan taring kedua giginya sama-sama panjang. Ia segera mengigit ceruk leher Ellis, kemudian mengigit bagian leher lainnya, bahu, hingga ke telapak tangan Ellis “Maafkan aku...” Ucap Frederitch mengecup bekas gigitan di telapak tangan Ellis.


Rasanya memang sakit, namun Ellis tidak perduli “Kita bertemu kembali, bukannya sudah cukup, bukan?” Ujar Ellis.


Frederitch melihat luka bekas gigitannya yang tidak kunjung hilang dengan cepat seperti sebelumnya “Benar, dia belum ingat seutuhnya.” Batin Frederitch.


Frederitch mengangguk “Benar, kita sudah bertemu dan kau akan baik-baik saja.” Frederitch menyentuh surai hitam halus Ellis yang sangat ia rindukan itu.


Tok...tok...


“T-tuan muda, sarapan sudah siap.” Itu suara Panacea dari luar kamar.


“Hey! Kalian, apa kurang semalam?! Keluarlah vampire mesum, Ellis butuh makan bukan kau saja!” Diikuti celetuk William Rovana.


Sontak, Ellis memerah sempurna. Ia segera berbalik dan membuka pintu “Aku akan makan!” Pekik Ellis dengan wajah merahnya.


“Oh, terus gigitan-gigitan itu apa? Bukannya berarti Frederitch sudah memakanmu?” Goda William Rovana dengan wajah jahilnya.


Frederitch menyampirkan mantel cokelat karamel pada tubuh Ellis “Will, berhenti menggoda Ellis.” Ucap Frederitch.


“Benar, Viscount Rovana harus berhenti menggoda tuan muda.” Timpal Panacea.


“Pana...”Panggil Ellis kepada gadis bersurai merah bata itu, kedua mata Ellis berkaca-kaca “Pana!” Terus memeluk pelayan wanita itu dengan erat.


Panacea membalas pelukan Ellis “Selamat datang, tuan muda.” Balas Panacea sambil mengusap punggung Ellis dengan pelan “Anda menjadi cengeng ya sekarang?”Canda Panacea.


“Kau juga jadi mirip William yang suka mengejek.” Celetuk Ellis.


Beralih William yang mengusap puncak kepala Ellis “Bagaimana kabarmu, Ellis?”


Ellis mengangguk “Biarkan aku tetap memiliki nama Ellis Francielia ya, semoga kalian mengerti, sebagai tanda hormatku kepada ketulusan Wood Remington yang menjagaku seperti anaknya sendiri. Tanpa Remington, mungkin aku sudah mati. Biarpun tak ingat, tapi Lyn Sander mengobatiku dan Remington memberiku rumah selama tiga tahun ini.” Ucap panjang lebar Ellis sambil meremat ujung kemeja putihnya “Maka dari itu, aku berencana untuk membebaskan mereka.” Lanjutnya lagi.


“Benar bukan? Anda masih sama seperti Earl Grayii, pahlawan berhati besar.” Diantara Panacea dan William muncul Sabrina Sirius sambil menunduk hormat.


“Anda tetap berhati besar meskipun kepada musuhmu sendiri.”


“Sabrina!” Ellis menghampiri gadis itu sambil meremat tangannya “Oh, Sabrina! Aku baru ingat selama ini kau selalu didekatku. Di istana, bahkan saat penyerangan Felix Melian juga.” Ellis menyadari Sabrina yang terkadang menjadi pelayan di istana, dalam penyamaran apapun. Pasalnya, Ellis kala itu tidak mengingat.


Sabrina mengangguk “Dibawah pimpinan Pangeran Frederitch, aku dan Mario mengawasimu dari dalam kerajaan Dust Bones...” Ujar Sabrina.


Ellis menoleh kearah Frederitch, menatap si tampan bersurai pirang panjang itu “Aku tahu, ini ulahmu. Pantas saja, kau selalu tahu keberadaanku.” Kata Ellis sambil tersenyum.


Frederitch mengangguk, kenyataannya selama tiga tahun ini, dia sudah menjaga Ellis dari jauh “Benar, aku melakukannya.”