
.
.
.
hii... im back, sorry so late post :(
Musim sakit ya? Sama saya juga, baru recovery buat lanjut up
Big Thanks :)
.
.
.
“Jangan ada yang menghidupkan pematik api! Apapun rencana kalian terhadap sang Raja, Dust Bones tidak akan kalah!”
Mendengar suara lantang Ellis, sontak Alphonse membulatkan kedua mata emeraldnya “Kenapa kita keluar jalur? Ellis?” Ujarnya.
“Maaf Yang Mulia, Ksatria Francieli meminta kita menjauh dari aliran cairan... tampaknya aliran cairan itu dari rombongan Brunia.”
“Ellis menghadangnya disana?”
“Benar Yang Mulia.”
Alphonse menggeraskan rahangnya “Berhenti.” Kereta kuda itu pun berhenti, Alphonse turun dari keretanya “Berikan aku kuda...”
“Kau raja Dust Bones, keselamatanmu nomor satu, Ellis melakukan hal yang benar. Dia ajudanmu. Alphonse!” Peringat Louisa.
Alphonse berwajah murka “Tapi, tidak dengan mengorbankan Ellis!” Bentaknya.
“Kau pikir siapa Remington? Siapa pula anak yang susah payah ia latih? Percayakan kepada itu Alphonse.”
Beralih pada Ellis Francieli, ia menghadang layaknya ksatria. Saat seorang pria keluar dari kereta kuda itu, Felix Melian menatap Ellis dengan puas.
“Ellis Francieli, senang bertemu langsung denganmu.”
“Felix Melian?”
“Uhm, aku perkenalkan lagi, Duke Of Melian...”
Ellis menegak ludahnya sendiri, sekarang semua potongan puzzle itu nyata terlihat, Felix Melian dan Permaisuri memang merencanakan semuanya dibelakang sang Raja. Terutama ketika Ellis melirik kereta kuda yang terdapat jasad dari Raja Harold yang sudah terbujur kaku dengan anak panah itu.
“Permaisuri dan kau, kalian semua dibalik penyerangan beberapa hari lalu?”
Felix Melian tertawa “Haha, tentu, aku pewaris sah dari Brunia, tapi ayahku begitu bodoh, sekarang ketika Dust Bones jatuh ketanganku. Anakku yang Luciana kandung menjadi kunci jatuhnya Dust Bones terhadap Brunia.” Ujarnya dengan senyum lebarnya “Ellis, aku butuh seseorang sepertimu untuk berada disampingku.”
Ellis mengepalkan tangannya, bibir bawahnya mengatup rapat “Aku tak bisa melakukannya.” Ellis setidaknya bernapas lega, karena kereta yang membawa sang raja sudah berjalan jauh dibelakangnya.
“Aku... tidak akan menyerah kepadamu.” Ucap Ellis.
Bagi Ellis Francieli, semuanya terasa hambar, tidak jelas alurnya bagaimana. Tapi Ellis, memejamkan kedua matanya sambil meremat gagang pedangnya. Seorang ksatria pantang mundur dalam peperangan. Benak Ellis.
Saat kedua kelopak mata emas itu terbuka, Ellis melesat amat cepat menebas seluruh rombongan Brunia.
“Tidak mungkin! Dia bergerak secepat itu?” Felix Melian dalam keretanya menatap takjub Ellis kala itu “Aku sudah lama tahu! Alphonse pasti menyembunyikan sesuatu, hahaha... lihatlah ksatria yang indah itu, dia monster yang indah!” Sorak Felix Melian kegirangan.
Brukh! Ellis mendarat tepat didepan kereta kuda yang dinaiki Felix Melian kala itu, ia menyeka darah yang menempel diujung bibirnya “Cih, menyebalkan.” Decih Ellis.
Felix Melian mengangkat kedua tangannya, melihat Ellis yang menodongkan pedangnya kala itu “...Tampaknya, aku kalah.”Ia menyeringai.
Ellis memasang waspada, merasa Felix Melian malah janggal. Benar saja, sebuah kuda melompat dari atas kereta kuda itu.
“Bernyali sekali, manusia.” Ungkap seorang wanita bersurai pirang itu. Ia menggunakan pakaian panjang serba silver, tatapannya menatap keji Ellis dikala itu.
“Untung kau datang tepat waktu! Tuan puteri Primavera!” Seru Felix Melian.
“Kau merepotkanku, Duke...” Wanita itu dengan ringan mengayunkan pedangnya kepada Ellis.
Ellis, merasa terpojokkan, biarpun ia mahir namun wanita ini tidak segan-segan. Kekuatannya menyeramkan, bahkan dia dengan mudah menghantam kepala Ellis. Berakhir Ellis yang tak sadarkan diri.
Tahu-tahu, ketika Ellis bangun. Mendapati dirinya berbaring diatas altar. Ia sudah berada didalam ruangan asing yang sebagian sudah rubuh.
“Engh...” Ellis melenguh, sebagian tenggorokannya terasa kering.
Biarpun asing, Ellis tampak familiar dengan ruangan itu. Setidaknya ia merasa pernah amat tersiksa disini, tak Ellis sadari ia malahan memengangi sebelah kakinya “...Masih, ada?” Tanya Ellis dengan wajah frustasinya.
Ellis cepat-cepat menggeleng, merasa jika ingatan samar dari kepalanya mulai keluar “Valyria... Soga Kinaru?” Gumam Ellis seorang diri.
Ruangan yang nyaris seperti puing bagunan runtuh ini, terang langsung oleh cahaya mentari bahkan beberapa dindingnya sudah ditempeli oleh lumut. Ellis melangkah keluar, ia melompat dari ruangan setengah itu.
Mendarat dijalan yang sepi, sudah seperti tak ditinggali siapapun, kecuali bangkai mobil dan spanduk-spanduk yang usang.
“Apa ada orang disini?”
Benar-benar seperti kota usang yang tidak ditinggali siapapun, kecuali beberapa simbol mawar dari kerajaan Crave Rose. Tahu jika berada dikerajaan musuh, Ellis waspada. Ia berusaha meraih pedangnya, tapi pedang miliknya itu tak ada dipinggangnya seperti biasanya bergantung disana.
“Mencari sesuatu, nona?” Friday muncul, entah dari mana. Ia melemparkan pedang milik Ellis.
“Kenapa kau bisa disini?” Ellis yang langsung meraih pedangnya sempat berpikir Nona? Oh, bahkan Friday tahu gender aslinya “Bagaimana kau bisa tahu?” Kilatan mata emas Ellis menatap dengan tajam.
Pria bersurai pirang panjang yang diikat itu hanya tersenyum “Karena aku sudah mengenalmu sejak lama, mau kau suka atau tidak.” Ujar Friday.
“Eh-hm...” Ellis mendeham.
Ellis memalingkan wajahnya, sebaliknya merasa bahaya, Ellis merasa aman bersama Friday ini “Kau, melihat wanita yang menyeramkan? Dia tak segan mengayunkan pedangnya...” Ellis ingat, sebelum tak sadarkan diri ia bertemu Primavera yang menyerangnya.
Friday mengangguk “Aku menculikmu dari rombongan Duke of Melian dan Puteri Kedua Crave Rose itu, lebih tepatnya menolongmu jadi berterimakasihlah...” Friday mengangguk angkuh.
Ellis menggeleng “Lebih dari pada itu, kota ini... wilayah ini... apa yang sudah terjadi?” Ellis memungut secarik koran yang tergeletak ditanah “Invansi wabah, perang nuklir antara negera” Headline tulisannya sekitar ratusan tahun lalu, kertas itu sangat usang termakan usia tulisannya sudah memudar.
“Ini wilayah tak bernama dari Crave Rose, banyak peninggalan ratusan tahun lalu disini, kupikir biarpun terkesan menyeramkan tapi wilayah ini susah dilacak oleh mereka.”
“Kenapa kau menolongku?”
“Haruskah kukatakan alasanku? Bagaimana jika kujawab, aku menolongmu karena aku sangat mencintaimu, Ellis?”
Sontak, Ellis memerah, bercanda Friday sungguh keterlaluan “B-bodoh!” Ellis mengumpat.
Friday menaikkan kedua bahunya acuh, pria tampan yang berpakaian seperti gelandangan itu tampak tak menghiraukan Ellis “Kita akan bermalam disini, besok pagi baru mencari cara keluar dari Crave Rose.” Kata Friday yang menuntun jalan.
Ellis pun menuturinya, ia berjalan ke sebuah ruko penginapan yang kosong, ada sofa usang dan perampian disana. Friday yang masuk lebih dulu, dengan santainya mulai menghidupkan perampian “Kau mau makan apa? Aku punya dua buah roti tapi bisa kutambahkan yang lain.” Ujar Friday yang mengeluarkan roti, kemudian memberikan salah satunya pada Ellis “Aku seorang alchemist, pegang seperti itu...” Ia mengeluarkan botol kecil dari tas selempang kulitnya, menuangkan cairan putih itu kepada roti yang diberikan pada Ellis. Roti itu berubah menjadi croissant dengan baluran tepung gula dan keju.
Ellis berbinar “Wah!” Ia yang kelaparan pun mengigit roti itu “Ewwnakk” Ujar Ellis dengan mulut penuhnya.
Friday tersenyum sendu, baginya sosok Valerin Grayii pun masih ada di sosok Ellis biarpun samar “Baguslah...” Pria itu duduk disofa sambil menyandarkan punggur lebarnya.
“Aku berkelana sepanjang Crave Rose dan Dust Bones demi bertemu seseorang yang hilang selama tiga tahun lalu.” Friday mulai bercerita “Berkelana jauh satu demi satu daerah, karena perasaan bersalahku kepadanya.”
“Apakah kau melakukan kesalahan?”
Friday mengangguk “Aku meragukan perasaanku sendiri, sekarang semuanya sudah kubuang, kehidupan dan keluargaku sendiri demi dia. Sayang, namanya penyesalan selalu terakhir saat dia hilang.” Ujar Friday yang menerawang jauh.
Ellis merasa paham dengan ucapan yang Friday katakan “Aku rasa, dia tak akan marah padamu.”
Friday beralih menatap Ellis, si emas yang sedang tersenyum lebar kepadanya itu, bagaimana Friday alias Frederitch Drew Raymond bisa meragukan sosok Ellis? Jelas tubuh itu milik Valerin hanya dipoles oleh sosok asing yang Friday tak tahu, hanya soal waktu untuk mengungkapkannya “...kau benar.”Jawab Friday dengan pelan.