
.
.
.
“...Inikan?” Kedua iris mata violet itu memandang dengan sendu hamparan rumput yang menumbuh luas, dengan sebuah reruntuhan gedung yang sudah ditumbuhi oleh semak-semak diantaranya banyak bunga kencana ungu yang bermekaran.
Bocah kecil yang menggandeng tangan Valerin Grayii mengeratkan pengangannya “Tuan baik, kenapa?” Tanyanya khawatir.
Valerin Grayii menggeleng kecil “Bagaimana halaman belakang gedung panti asuhan ini mirip dengan mimpiku kemarin? Frederitch kau menemuiku juga disini. Apa maksudmu?” Valerin Grayii menatap gedung itu, ia berjalan mendekatinya. Mengamati lebih dekat reruntuhan gedung yang nyaris ditelan oleh tumbuh-tumbuhan.
“Tuan baik!”
Sekiranya lima anak-anak berhamburan menghampiri sang Grayii itu, tiga anak lelaki yang kira-kira berusia sepuluh tahun dengan dua anak perempuan dengan usia sekitar tujuh dan delapan tahun. Elmer yang paling kecil, maka dari itu dia lebih periang dari anak-anak lainnya.
“Anak-anak, bisakah kalian tak memanggilku dengan tuan baik?” Valerin terkekeh kecil sambil membuka topi dan mantel hitamnya. Valerin Grayii menduduki tubuhnya dihamparan padang rumput lembut itu yang menghadap langsung reruntuhan gedung “Menurut kalian, itu gedung apa?” Ucap Valerin Grayii.
Anak-anak mengikuti Valerin, mereka duduk berjejer didekat Valerin.
“Tidak tahu.”
Sekali lagi Valerin Grayii terkekeh “Gedung ini dulunya pasti dibangun begitu tinggi kemudian pasti nyaris menyentuh langit sangking tingginya.” Cerita Valerin Grayii “Semua orang didalam gedung itu pasti sibuk bekerja, beberapa menghadap laporannya, beberapa lagi mungkin tengah membicarakan proyek yang mereka buat. Kehidupan sesibuk itu, pergi pagi dan pulang saat mentari nyaris ditelan malam. Langit kesorean yang ribut bunyi kendaraan, rasanya aku nyaris lupa dengan kehidupan itu.” Lanjut Valerin Grayii “Bunyi klakson, deru kendaraan roda empat, bunyi iklan dipertokoan... hehe.” Kekehan diakhir ucapan Valerin mengenang kehidupan lamanya.
“Tuan, apakah yang anda maksud itu kendaraan di jaman kuno? Mobil dan sepeda?” Seorang anak laki-laki yang paling besar berucap dengan serius.
Valerin Grayii nyaris tertawa terbahak-bahak “Bagaimana mungkin mereka menganggap mobil lebih kuno daripada kereta kuda?” Valerin Grayii mengulum senyuman dengan kedua mata memandang sendu, dia duduk dengan menekuk kedua kaki berlainannya itu “Kehidupan itu memang ada, bukti dari kecerdasan manusia membangun peradaban. Ternyata bisa juga hancur karena manusia itu sendiri.” Ucap Valerin Grayii.
“Apakah kalian memang hidup di pusat kota?”
Mereka semua langsung terdiam, kecuali anak yang paling besar dan juga paling tua diantara mereka “Desa kami, tiga tahun yang lalu terkena wabah obscure. Orang tua kami semuanya tewas, kami dibawa oleh seorang pedagang kemudian berakhir hidup dipusat kota.” Dia yang paling dewasa untuk usia sekecilnya itu.
“Siapa namamu?”
“Tuan, namaku Mario.” Anak lelaki itu menatap Valerin Grayii “Terimakasih tuan, hanya bangsawan seperti tuan yang sejak tiga tahun lalu baik dengan kami.” Ucapnya malu menatap Valerin Grayii.
“B-bahkan kata polisi itu, Yang Mulia mengabulkan permintaan tuan untuk membuat panti asuhan demi kami. Sampai membebaskan kami dari tuan Berthan.”
“Tidak masalah, aku senang jika melihat kalian hidup lebih baik.” Valerin Grayii beranjak berdiri “Aku bahkan belum tahu nama kalian.” Ucap Valerin Grayii sambil menepuk-nepuk celananya.
Cerise tampak baru tiba “Master...” Ucap gadis itu mendekati Valerin Grayii.
“Wah... Tuan baik cantik, tapi tuan baik juga memiliki teman yang cantik. Rambutnya merah muda! Cantiknya...” Seorang bocah perempuan berseru.
Valerin Grayii tertawa hambar “Mana ada pria secantik aku?” Dia terkekeh dalam hati “Ah ini, Cerise. Dia juga bekerja bersamaku, kami juga berteman.” Ucap Valerin memperkenalkan Cerise.
“Tuan baik, kakimu bukan asli?” Elmer berceloteh dengan polos.
Mario segera menundukkan tubuhnya “Maaf tuan, Elmer memang tidak tahu.” Ia bahkan menarik Elmer ke samping tubuhnya “Elmer... jangan berkata seperti itu kepada tuan.” Ucapnya memarahi Elmer.
“Tidak apa-apa, kakiku memang diganti oleh kaki buatan karena sesuatu sudah terjadi...” Sebenarnya, Valerin juga tak suka mengingat-ingat perihal kaki kanannya ini. Rasa menyakitkan dan traumanya memang belum hilang, peristiwa akan dimalam saat ia berpindah kemari cukup menyakitkan.
“Dari pada itu bisakah kalian beritahu nama kalian masing-masing?”
Anak perempuan yang tadi berseru langsung mendekati Valerin “Namaku Julia tuan cantik, ini Mai... dia memang pemalu.” Ucap Julia dengan seorang anak perempuan bersurai hitam legam yang bersembunyi dibelakang tubuh Julia “Hai... tuan Grayii.” Sapanya kepada Valerin Grayii.
“Hai, kalian juga cantik, Julia... Mai...”
Terakhir anak lelaki yang paling pendiam “Namaku Garret, tuan... satu tahun dibawah Mario.” Ucapnya dengan suara yang kecil.
Valerin Grayii tersenyum puas “Kalau begitu... Apakah sekarang giliranku bertanya, menurut kalian bagaimana Nyonya Hugh itu?”
Tanya mereka jawabpun Valerin sudah mengerti, dilihat dari raut wajah mereka yang ketakutan. Ditambah tak ada yang mau berbicara “Ya sudah, jika terjadi sesuatu katakan padaku.” Valerin menghela nafas “Mungkin tak lama lagi aku juga akan mengajar disini” Valerin Grayii tersenyum kecil, dia ingin melindungi anak-anak ini.
“Wah!” Tidak ada kekecewaan, anak-anak itu menatap Valerin dengan senang. Berseru suka cita jika si gadis berpakaian necis ini akan menjadi pengajar disini.
“Oh, apakah saya tak salah dengar? Earl Grayii seorang bangsawan terhormat, sungguh rendah hati menjadi pengajar di Panti asuhan ini.” Nyonya Dorothy Hugh sudah berada didepan mereka dengan senyuman ramahnya “Ayo, anak-anak makan malam sudah siap.” Ucap wanita paruh baya itu.
Selain Elmer, mereka mengangguk dengan patuh. Elmer malah menggengam tangan Valerin Grayii sambil bersembunyi dibelakang tubuh ramping si Grayii bungsu ini “Tuan...” Dia menggeleng kecil.
Dari ambang pintu ruang belakang, Valerin menatap Panacea yang berdiri dengan raut seriusnya. Pelayan wanita itu juga mengangguk kecil, seolah tugas pemantauannya memang memiliki hasil yang sesuai dengan dugaan Valerin Grayii.
“Master...” Cerise menyentuh pundak Valerin Grayii “Detak jantung anak itu meningkat, deteksi ketakutan.” Bisik Cerise kepada Valerin Grayii.
“Ah kebetulan!” Valerin Grayii memengang perutnya “Aku juga lapar, apakah boleh mencicipi makanan disini?” Senyum lebar Valerin Grayii terpatri.
Oh, tuan muda kesayangan mereka menguji nyali “Master” / “Tuan muda!” Kedua pelayan wanitanya sama-sama berseru.
“Tidak apa-apa.” Valerin Grayii berucap sambil membalas genggaman Elmer yang terus melekat padanya “Ayo...” Valerin sendiri yang berjalan memasuki gedung lebih dulu.
Ruang makan yang luas, deretan meja kayu panjang dengan kursi kayu panjang pula. Sejauh ini masih tak tampak kecurigaan apapun. Valerin Grayii tersenyum sambil duduk diantara anak-anak itu, seorang bangsawan bertubuh kecil dengan wajah yang manis membaur dengan anak-anak.
“Wah... Bangsawan itu sangat baik.”
“Iya, lihat dia mau makan bersama kita.”
“Dia bangsawan yang tidak jahat.”
“Apakah dia bekerja untuk Yang Mulia? Kenapa baru sekarang aku melihat bangsawan sebaik itu?”
Valerin Grayii duduk dengan tenang mendengar anak-anak yang membicarakannya, dibelakangnya kedua pelayan wanitanya berdiri dengan tegap. Menjaga sang tuan dengan hati-hati. Baik Panacea yang sudah tahu dan Cerise yang terlalu patuh. Valerin Grayii sampai menoleh ke mereka berdua “Kalian tidak makan juga?” Tawar Valerin Grayii bernada santai.
Panacea menggeleng “Tuan muda, Panacea baik-baik saja tanpa makan.” Sahut Panacea dengan lembut.
“Cerise, tidak makan master.” Ucap Cerise dengan wajah datarnya.
Valerin Grayii mengangguk, diam-diam ia mengamati nyonya Hugh yang menyajikan setiap piring makanan. Ia tak sendiri, dibantu beberapa pelayan wanita yang bahkan baru Valerin Grayii tampak saat ini sejak kedatangannya “Hm?” Valerin Grayii mendeham, jauh dari kata manusia berperilaku. Beberapa pelayan itu cukup ‘tenang’untuk ukuran seorang pelayan.
“Selamat makan, Earl Grayii.” Bahkan nyonya Hugh sendiri yang memberikan senampan makanan untuk Valerin Grayii, cukup banyak dan lengkap. Berbeda dengan sajian makanan anak-anak berupa semangkuk sup dan roti gandum “Kalian mau?” Valerin Grayii menyodorkan nampan makanannya. Ia tak menyentuh makanannya sama sekali, mendadak tak ***** makan.
Saat Elmer hendak meraih roti dari atas nampan makanan Valerin Grayii “Tunggu anak kecil.” Panacea langsung menarik nampan itu “Tuan muda, perhatikan lagi.” Ucap Panacea menunjuk mangkuk berisi sup itu.
“Hm?” Tiba-tiba kedua mata Valerin Grayii membulat, dia melempar nampan itu sampai berserakan dilantai “Ya Tuhan! Oh Elmer, kau tak memakan apapun bukan?” Valerin Grayii meraba permukaan wajah bocah kecil itu “Kalian, kumohon jangan makan dulu!” Teriak Valerin Grayii. Namun, tampaknya terlambat. Amat sangat terlambat.
.
.
.