Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 16



 


 



“Tuan muda, tuan muda...”


Setidaknya Valerin Grayii sudah tertidur didalam kereta kuda sejak perjalanan mereka dari manor ke pusat kota “Tuan muda, kita sudah sampai didepan stasiun kereta api.” Friday sudah berada diluar kereta kuda.


Valerin mengusak kedua matanya, dia memang kurang tidur sejak malam tadi “Engh...” Valerin merentangkan kedua tangannya.


Saat menuruni tangga Panacea tergopoh-gopoh memasangi topi bundar dan mantel hitam Valerin Grayii. Gadis berpakaian nacis itu acuh sekali berjalan dengan tampang yang suntuk, Friday sempat menggeleng. Untung saja Panacea ikut dalam misi ini atas permintaan Valerin, ternyata Friday sendiri akan kewalahan mengurusi tuan kecilnya itu.


“Terimakasih, tuan.” Friday baru usai membayar kusir kuda dengan beberapa koin uang. Ia segera menyusul Valerin dengan beberapa koper bawaannya.


Mereka mendapat bangku vip tentu saja, Earl Grayii itu sudah masuk kedalam kereta api yang bergaya tua ini. Berbeda dengan kereta di dunia asalnya. Tentu banyak dijalankan oleh mesin dan listrik.


Valerin duduk dibangku ujung menghadap jendela, satu ruangan vip ini hanya diisi oleh mereka bertiga. Sang butler  dan maid dengan setia menemani Earl manis mereka.


“Tuan muda, ingin minum teh?”


Valerin yang semula hanya menyandar dengan bosan turut menegakkan posisi berdirinya “Tidak dulu, aku cukup kenyang memakan satu cetak cheese cake.” Memang benar. Porsi makan gadis kecil ini tak main-main, untuk dessert ia bisa menghabiskannya sendiri.


“Desa utara itu seperti apa?”


Friday tersenyum, ia membantu membuka mantel dan topi sang Earl. Kemudian menggantungnya tepat disamping pintu masuk ruangan mereka “Desa penghasil teh, salah satu desa favorite anda. Sahabat anda ada disana, Visscount Rovana.”


Valerin mengangguk, dia saja tak kenal. Maka dari itu ia hanya tenang, tujuan mereka hanya mengatasi masalah itu.


“Tunggu.” Valerin menatap Friday “Mengatasi masalah itu bukan? Terus apa hubungannya denganku? Aku ini Earl jadi kekuasaanku hanya mengurusi masalah di Hortensiaburg. Kenapa harus di desa utara?”


“Tuan muda, anda anggota Paladin of Dustbones. Mengatasi semua wabah Obscure wewenang istimewa anda dari Dustbones, melindungi dari penularan wabah serta menanggulangi obscure.”


“Akukah?!” Valerin melongo mendengar ucapan Panacea.


“Benar tuan muda, anda ketua Paladin of Dustbones. Kami berdua juga sama. Loyalitas kepada anda ketua Paladin of Dustbones.”


Valerin Grayii memang tahu soal ini, tapi dia kira semua itu berlaku hanya ketika sang kakak yang asli memengang posisinya ini. Tak disangka-sangka, posisi ini juga mengenainya. Valerin tahu dari buku Clandestine, identitas sang kakak dengan lima anggota lainnya “Anggota yang kelima? Sayangnya buku itu sobek pada bagian itu.” Jujur Valerin menatap polos kedua pelayannya.


“Itu...”


“Selamat pagi, tuan. Tiketnya akan kami periksa.” Seorang penjaga gerbong kereta api tampak tiba dengan alat pemotong tiketnya, ia tersenyum ramah.


Friday langsung memberikan tiket itu, ia tampak terdiam sejenak.


“Tuan, tiketnya...”


Friday memasang tubuh, ia tak segan-segan menendang tubuh pegawai itu sampai terpental keluar kemudian mengunci pintu itu “Kau bisa jaga tuan muda?” Ucapnya pada Panacea.


“Hey, hey kenapa?”


“Baik, Friday.”


Pria vampir itu langsung keluar dari ruangan kemudian menutupnya lagi dengan rapat. Ia bahkan menguncinya dari luar.


“Pana! Kenapa dia?!”


“Tuan muda, ini sudah dipertengahan jalan. Kita harus melompat, kemudian mencari kendaraan lain sampai tiba di desa utara.” Panacea tak mengubris, ia malah sibuk membuka jendela ruang kereta api ini.


Valerin Grayii tampak geram, ia tak dihiraukan tak pula digubris “Kalian berdua kenapa?!” Teriak Valerin, sampai Panacea terdiam sejenak.


Pelayan wanitanya itu sudah membuka jendela dengan lebar, angin turut masuk kedalam “Tuan muda, tujuan kami bersumpah untuk menjagamu dengan cara kami masing-masing. Beberapa vampir ada digerbong kereta api ini untuk mengincar anda, maka dari itu tuan muda. Harap untuk tenang.” Panacea menarik tangan Valerin, mereka melompat keluar dari jendela kereta api itu. Panacea yang tak terlihat gemulai seperti penampilannya dengan mudah menggendong tubuh Valerin Grayii, beruntungnya mereka saat melompat justru jatuh kedalam tumbukan jerami.


“Fyuhh...” Ucap Panacea sambil beranjak berdiri kemudian membersihkan beberapa jerami yang menempeli pakaian Valerin.


“Kita meninggalkan Friday?”


Panacea membawa Valerin masuk kedalam rumah penduduk yang ada didepan mereka, rumah ditengah-tengah padang gandum yang menguning itu. Panacea tetap memangang tangan tuan muda tanpa sudi dilepaskannya.


Sang maid mengetuk pintu, dengan tampang yang datar. Panacea memang jarang berekspresi “Permisi, kereta kuda kami sedang diperbaiki. Tuan kecil ini butuh segelas air, apakah tuan memperbolehkannya.” Ucap Panacea dengan suara pelannya memohon kepada petani tua itu.


“Masuklah nona.”


“Ayo tuan muda.” Ucap Panacea sebelum sempat merapalkan sebuah mantera yang terdengar begitu kecil.


Hal itu disadari oleh Valerin, dia masuk kedalam rumah kayu sederhana ini dengan menatap Panacea.


“Kenapa tuan muda?”


Valerin menggeleng “Sepertinya, aku memang haus.” Ucap Valerin dengan menaikkan topinya “Tuan yang dermawan ini, dimanakan kita sekarang?” Valerin memilih mengabaikan gelagat aneh Panacea, ia pun mendekati pria tua itu.


“Desa terujung, Wayne. Apakah tuan akan berpergian ke desa utara?”


Valerin mengangguk “Apakah masih jauh?”


“Tidak begitu jauh jika melintasi jalan bagian timur desa Wayne. Tapi jika melewati pusat kota timur dulu kalian masih begitu jauh.” Pria tua itu memberikan segelas air putih kepada Valerin “Apakah yang kalian lakukan ke desa mati itu? Tidak ada yang hidup selain manusia-manusia obscure.”


“Kami memang mencari yang masih terinfeksi.”


“Oh, apakah kalian utusan Rumah Sakit Kerajaan?”


“Benar.” Tanpa ragu, Valerin menjawab.


“Wilayah itu berbahaya tuan muda, selain mahluk mati. Mereka hanya akan membahayakanmu.”


Valerin Grayii meletakkan gelas yang sudah kosong itu diatas meja “Selain itu apalagi yang kau tahu tuan?” Valerin malah tertarik menanyainya.


“Tidak ada tuan muda, beberapa bandit juga pernah mencoba menjarah barang-barang disana namun mereka semua tak pernah kembali.”


“... Anak tertua kami pun begitu. Charles, terakhir pamit ingin menemui tunangannya di desa utara. Namun, ia tak pernah kembali.”


“Begitu, aku mengerti.”


“Tuan muda...”


Valerin beranjak berdiri dengan memasang kembali topi dan mantelnya “Terimakasih atas air minumnya serta informasinya.” Ucap Valerin sambil membuka pintu, disaat yang bersamaan tubuhnya menubruk dada bidang seseorang yang sudah berdiri disana “Ah, disini kau rupanya. Friday.” Ucap Valerin dengan santai.


“Selamat siang tuan muda.” Sapa Friday dengan senyuman tampannya yang merekah.


Valerin mengangguk “Kau lama sekali, ayo apakah kau sudah mendapatkan kendaraan? Kita harus bergegas.”


“Baik, tuan muda. Kuda sudah menunggu didepan. Tapi memasuki jalanan itu tanpa sebuah kereta akan sulit.”


“Terus kita harus bagaimana?”


“Tuan muda, tentu saja berkuda.” Friday tersenyum lebar seraya meraih tangan tuan manisnya itu.


“Tuan, terimakasih atas kebaikannya.” Ucap Panacea berpamitan dengan pria tua itu.


 


.


.


.