
“Pana...” Valerin mengulurkan tangannya, kedua mata violet itu nyaris berkaca-kaca. Melihat Panacea dirantai tak berdaya dari balik jeruji itu “Maafkan aku, Panacea...” Gumam Valerin lagi.
Panacea bisa menatap kedua mata Valerin Grayii, tatapan seperi Valerin yang dulu. Tatapan seseorang yang dikasihinya, orang yang merubah benteng bekunya. Valerin Darly Kinaru, Sang Earl terdahulu. Sang Earl yang tak pernah lelah tersenyum baik kepadanya.
“Mundurlah, Valyria.” Ucap Panacea.
Valerin yang mendengar nama ‘asli’ nya. Tertegun dengan bingung “K-kau memanggilku Valyria?” Ulang Valerin.
Panacea mengangguk singkat “Benar, jeruji ini bisa mengenaimu jika dekat-dekat disana.” Kata Panacea lagi sambil bangkit berdiri “Ingatlah, aku ini iblis, tidak akan lemah dari manusia. Tuanku...” Dengan seringai tipis, Panacea menatap Valerin Grayii.
Valerin mengetahui raut dan seringai itu, sama seperti pertama kali dia dan Panacea mengikat kontrak “Ah, benar juga. Ditetap iblis.” Batin Valerin, gadis bersurai perak itu pun melangkah mundur “Aku sudah menjauh, kau bisa hancurkan tempat ini sekarang.” Ucap Valerin.
Panacea mengangguk, hanya dalam jentikan jemari. Sekitar beberapa detik, selain terdengar bunyi dentuman keras diikuti runtuhnya dinding penjara beserta hancurnya jeruji ini “Apa anda baik-baik saja? Nona Valyria?” Panacea berjalan mendekati Valerin, dia meraih kedua tangan Valerin membantu tuannya berdiri dengan tegap karena Valerin sempat terduduk akibat terkejut dengan dentuman tersebut.
“I-iya...” Valerin tampak masih linglung, kemudian mendeham dengan cepat “Okay, kita tertangkap oleh Alphonse.” Valerin menghela nafas.
Panacea mengangguk “Kita keluar dari sini, terlebih dahulu.” Kata Panacea lagi.
Kedua wanita itu keluar melalui lubang reruntuhan penjara, Valerin Grayii sempat terkesima “Hebat juga.” Katanya sambil melangkah keluar, langsung menuju taman halaman istana.
Valerin teringat dengan gelangnya “Sepertinya gelangku terjatuh disuatu tempat, kemungkinan buruk Pana. Aku tak bisa melawan tanpa senjata.” Ucap Valerin meraba-raba pergelangan tangannya.
Panacea mengangguk “Tidak masalah, tuan muda.” Ujar Panacea kembali memberikan sebuah belati dari balik jubahnya “Ini milikku, peganglah untuk berjaga-jaga.” Panacea memberikan belati dengan permata merah pada gagangnya.
“Ah, terburu-buru Val?” Bukan Alphonse, melainkan Louisa. Dokter kerajaan yang sempat membantu pengobatannya dulu. Wanita dengan pangkat yang setara dengan Avicenna terdahulu, Valerin Grayii. Jika Avicenna menyembuhkan dan mempelajari untuk dirinya sendiri, tapi dokter kerajaan lebih pada loyalitalnya terhadap kerajaan “Dengan kata lain, aku dipihak Yang Mulia Alphonse, beliau meminta untuk melihat keadaanmu. Tapi kau jauh lebih baik bukan?” Louisa berkata dengan tenang. Tapi sorot matanya tak bisa ditipu, terdapat kekesalan yang terpendam.
Panacea turut membalas senyum “Tuan muda, baik-baik saja.”
“Lebih baik hentikan pura-puramu, pelayan.” Sergah Louisa “Aku sangat tahu soal obscure sejak bersama Valerin, bukan kau. Tapi, akulah yang Valerin anggap, Aku bukan penyihir iblis sepertimu.” Louisa tampaknya sudah sadar, pengaruh mantera terdahulu seakan lenyap dengan mudah.
“Oh... pasti orang yang terampil, mencabut manteranya.” Telisik Panacea “Bukan sembarang Alchemist...” Katanya lagi.
Helaan nafas Valerin terdengar “Aku paham situasinya, Panacea dan Louisa sama-sama menyukai kakakku? Dasar, sudah mati pun masih playboy” Batin Valerin Grayii, seolah bisa mendengar kekehan sang kakak dari surgawi. Kekehan dan tawa tanpa dosa ala Valerin Darly Kinaru.
“Haruskah aku juga yang membereskan?” Celetuk Valerin “Ck. Kakak bodoh.” Lanjutnya lagi sambil mengarahkan belati pada surai perak panjangnya, memotong asal surai perak itu hingga setelinga “Aku Valerin Grayii, menerima atau tidak. Akulah Valerin Grayii!” Tegas Valerin.
Hal itu mengundang senyuman dari Panacea, ah dia nyaris lupa. Jika tuannya kini adalah seorang gadis yang tangguh.
“Kau dan Panacea, hentikan rasa cintamu dengan orang yang sudah tiada, sungguh obsesimu jelek sekali Dokter Louisa.” Ledek Valerin diakhiri tawa sekenanya “Aku tak ingin menyakitimu atau berseteru, bisakah kau minggir?” Ucap Valerin lagi.
Louisa mendecak kesal “Kau yakin bisa bebas dari bonekaku?” Setidaknya wanita itu memerintahkan prajurit melepaskan sosok, atau seseorang vampir, sudah terinfeksi obscure “Abnormal, oh hati-hati dia buas dan kuat.” Katanya lagi seraya melenggang pergi.
Atas apa yang ditatap Valerin saat ini, dia tertegun. Seketika para prajurit itu pun dibantai habis oleh sosok campuran itu “Pana, prajurit itu... tolong habiskan jasad mereka juga.” Pinta Valerin, ia tahu penularannya. Maka dengan berat hati Valerin meminta “Sementara aku akan mengalihkan perhatian, sosok itu.” Ujar Valerin lagi sambil berlari ke arah berlawanan.
“Aku tetap mengawasimu, tuan muda.” Ucap Panacea sambil berjalan cepat menuju jasad-jasad para prajurit.
Valerin mengangguk “Hey, makanan lezat disini!” Teriak Valerin.
“Errggh...” Sosok vampir bertubuh besar itu berjalan kearah Valerin. Ingin segera menyantap si perak yang terus bergerak dengan gesitnya.
“Vampir, tapi sudah diberi virus obscure. Mereka awalnya disangka kebal, tapi siapa sangka virus Obscure hasil percobaan Emelie Rovana bisa seperti ini?” Valerin mengelak saat tangan besar itu nyaris menghantamnya “Tubuhnya besar, ototnya tampak terlatih, tampaknya dia bukan vampir biasa melainkan pernah menjadi seorang prajurit, tunggu...” Akibat gelap oleh malam, kala rembulan terang. Menyinari malam, tampaklah jelas sosok vampir itu “Tuan Lemaire?” Valerin bergumam dengan tak percaya, seharusnya dia sudah mati oleh Alphonse.
“Tidak mungkin...”
“Val... Valerin...”
Valerin terhenyak, ia dengar suara Frederitch dari benaknya “Frederitch, syukurlah, ah iya Lemaire di taman istana begegas kemari.. karena aku sibuk disini...” Valerin mengelak kembali, beruntung ia tepat waktu. Pasalnya dinding disampingnya sampai hancur akibat tangan vampir itu.
Melintasi lorong bawah istana, Dipandu oleh Leon Sirius. Mereka sudah tiba di istana Dust Bones, keempat pria itu bersembunyi dibalik sebuah dinding.
“Mereka sudah bersiap mengangkut suplai senjata...” Bisik William Rovana memperhatikan para prajurit yang sibuk mengangkat box-box berisi senjata.
Frederitch mendadak diam “Val... Valerin...” Ia mencoba memanggil sang kekasih, berkat link diantara mereka. Seharusnya bisa “Frederitch, syukurlah, ah iya Lemaire di taman istana begegas kemari.. karena aku sibuk disini...” Selanjutnya, ia bisa merasakan Valerin yang terkejut. Pastinya Valerin juga dalam keadaan terancam.
“Aku akan ke taman halaman istana, lebih baik kau temani Leon untuk membawa Alexander.” Ucap Frederitch.
“Kau baik-baik saja?”
“Tentu, aku bisa menjemput Valerin sendiri.”
“Baiklah, pastikan dia baik-baik saja.”
Frederitch mengangguk, ia tahu. Alexander lebih baik dijaga oleh mereka berdua “Kau harus menjaga Alexander, kalian berdua.” Ucap Frederitch memengang pundak William.
“K-kenapa Pangeran?” Alexander bergumam dengan ragu.
“Di masa depan, kau akan menjadi seorang Raja yang berteman dengan Vampir dan manusia. Kelak, kau akan menjadi rekanku dari Dust Bones.” Ujar Frederitch dengan senyum tenangnya “Aku melihatnya darimu.” Katanya lagi.
Leon Sirius memengang kedua pundak Alexander “Yang Mulia, kita harus kembali ke Dust Bones. Setidaknya katakan jika Earl Grayii tidak membelot kepada Alphonse.”
“Benar, biar bagaimana pun kau keluarga kerajaan, yakinkan dirimu kepada para dewan.” Lanjut Frederitch lagi “Kau tahu Valerin Grayii...”
Alexander mengangguk “B-benar, Earl Grayii tidak salah melainkan kakakku yang salah, d-dia sudah kehilangan arah.” Pangeran muda itu ragu-ragu menatap sang pirang dari Dustbones “Terimakasi Pangeran Frederitch, kau sangat tangguh daripada aku, kau bisa berjalan sesuai keinginanmu, Earl Grayii sangat cocok bersamamu ketimbang kakakku yang keras kepala itu.” Ia tersenyum pelan.
“Aku tahu...” Angguk Frederitch seraya memengang pundak William Rovana lagi “Kau, jaga Alexander dengan semampumu. Jika ingin perang ini berakhir.”
William Rovana mengangguk “Pasti, tidak ada lagi yang bisa menentang Alphonse selain Alex.” Ujar William Rovana lagi.
“Leon, kau paham bukan?”
Pelayan muda itu mengangguk balasan pertanyaan Frederitch “Yang Mulia Alex memang lembut dan kekanak-kanakan, tapi kepribadiannya lebih baik untuk masa depan Dust Bones dan manusia.”
“Benar, aku pun ingin menghancurkan tembok perbedaan ini.” Ujar Frederitch seraya memasang tudung jubah hitamnya “Aku akan menemuimu, jadi jangan sampai mati.” Kata Frederitch lagi kepada William.
“Haha, benar, aku harus hidup sampai melihat keponakanku dari Valerin dan kau.” Kekeh William.
“Ck. Dasar...” Ujar Frederitch seraya melesat dengan cepat.