
Happy Reading
.
.
.
Jalan yang terbuat dari bebatuan sihir, ditapaki oleh sepasang sepatu boots hitam mengkilap langsung bercahaya. Menampaki kaki dengan langkah yang pelan, seorang pria muda mengenakan jubah biru tua senada dengan sepasang iris raven blue yang dimilikinya. Berdiri tegap dengan raut wajah datarnya, menatap jengah istana yang ada didepannya.
“Selamat datang, Pangeran...” Penjaga gerbang istana membungkuk hormat kepadanya, sang putera ketiga dari keturunan clan Raymond. Vampir elit dengan segudang bakat kemampuan.
Pria muda itu, memasuki wilayah tak senantiasa gelap ini. Crave Rose, kerajaan para Vampir yang tak pernah menatap cahaya mentari “Apakah kakakku ada didalam?” Dia tiba di depan pintu berukir mawar yang dijaga oleh dua orang prajurit militer istana ini.
“Pangeran Frederitch. Yang Mulia ada didalam.” Salah seorang prajurit membukakan ruang kerja sang raja. Selaku pemimpin kerajaan Crave Rose.
Sang pangeran ketiga, putra bungsu dari Raymond bersaudara ini langsung menatap lurus seorang pria bersurai panjang keemasan yang sedang berdiri di sebuah balkon “Pulang juga ternyata, adikku.” Sang raja menoleh kearah sang adik.
“Jangan basa-basi, Nikolai... Apa kau yang mengirimkan Diablerie?”
“Jika kubilang bukan aku, apakah kau percaya?”
“Tak akan pernah.”
Sang raja menghela nafas begitu panjang, dia memijit pangkal hidungnya. Sang raja Vampir. Putra pertama Raymond hanya bisa menatap sang adik dengan raut wajah tak kuasa “Kapan kau akan rukun dengan Primavera? Kalian selalu berseteru.” Ucap sang raja menghidupkan ujung puntung rokoknya dengan menjentikkan jemarinya.
“Kau membiarkan Primavera terlalu mendominasi pemerintahan kerajaan ini, bagaimana bisa aku rukun dengan wanita iblis itu?” Frederitch Drew Raymond mengeraskan rahangnya, dia begitu kesal. Sikap sang raja atas ucapannya malah terkesan begitu santai “Dia! Sekali lagi mau menlukai Valerin Grayii, aku sudah bilang bukan. Aku akan melindunginya.” Nada bicara Frederitch meninggi.
Sang raja mengangguk “Aku paham, aku paham... Frederitch, sekali saja kau pikirkan masa depan kerajaan ini. Primavera juga tak salah, Valerin Grayii memang berbahaya. Kemampuannya, tujuannya dan ambisinya akan membahayakan kaum vampir dan manusia.” Kepulan asap rokok berhembul menggulung tebal, sang penikmat rokok itu melangkah mendekati pria muda yang masih bersih keras dengan keinginannya.
“Kau salah, Valerin Grayii sudah mati.”
“Memang, tapi tidak dengan tujuannya. Melainkan dia menitipkan tujuan itu kepada saudaranya, bukan?”
“Valyria berbeda...” Celetuk Frederitch aka Friday “Dia berbeda, dia tak menginginkan kekuasaan. Dia hanya ingin hidup sesuai dengan jalan yang dipilihnya, Nikolai sekali saja. Aku tak pernah memintamu sebelumnya, jangan Valyria.”
Tampaknya sang raja mengerti akan sikap sang adik, dia mengulum senyuman kecil “Kau... menyukai gadis itu?” Ucap sang raja menatap si adik.
Frederitch memalingkan tatapannya “Kau mencoba mengalihkan pembicaraan, kakak bodoh.” Setelah berucap Frederitch langsung keluar dari ruangannya dengan membanting pintu itu.
Saat Frederitch keluar dari ruangan itu, sebuah belati melayang nyaris mengenai wajahnya. Namun Frederitch menghindar dengan mudah “Lemparanmu masih amatir...” Komentar Frederitch tanpa menoleh kearah sang pelaku.
“Benar sekali, kenapa kau kembali? Apakah kau sudah bosan bermain peran menjadi seorang pelayan untuk melayani manusia rendahan itu?”
“Aku tak punya waktu meladenimu, Prim...”
Wanita dengan gaun perak itu hanya tersenyum sinis, dia mendelik kepada Frederitch Drew Raymond “Tentu saja, kau sibuk bermain dengan bonekamu bukan?” Gadis muda itu terkekeh mengejek “Kau memalukan, untuk seukuran elit Raymond sepertimu. Frederitch.” Ucap gadis itu sambil berlalu dengan acuh didepan Frederitch.
Pemuda beriris raven blue itu mengepalkan kedua tangannya, dia meredam emosinya dengan kuat disana.
“Pangeran!” Suara seseorang terdengar.
“Theo?” Frederitch menoleh menatap sang ajundan yang berlari tergopoh-gopoh “Kenapa kau kemari?” Frederitch menatap heran, namun yang terpenting ia harus pergi dari istana ini untuk memastikan sesuatu.
“Ah... Iya.” Sang ajundan sempat melirik sang Puteri kedua dari Crave Rose ini sebelum ia memasuki ruangan sang Raja “Kemari, kemari...” Usia sang ajundan yang sebaya dengan pangeran ketiga itu membuatnya bersikap lebih santai, dia menarik sang pangeran ketiga menjauh dari ruangan itu atau menjauhkannya dari sang puteri kedua.
Frederitch dibawa oleh ajundan pribadinya ke sebuah ruangan rapat rahasia istana, hanya para petinggi yang mengetahui ruangan ini “Kau seharusnya menghindari pertikaian dengan Primavera. Sungguh, apa yang kau pikirkan Frederitch?! Kau keluar dari istana selama bertahun-tahun kemudian kembali dengan membawa masalah?” Pria berkulit tan itu menghela nafas begitu panjang.
“Kau seorang pangeran, setidaknya berhenti bermain-main di kerajaan manusia Frederitch.” Nasihat sang ajundan.
Frederitch mengabaikannya “Apa yang harus kubanggakan dari tradisi kuno kerajaan ini? Sihir? Upacara kepada leluhur? Pernikahan sakral? Astaga, bahkan kalian juga mencuri ilmu pengetahuan manusia ke kerajaan ini.” Sebalnya Frederitch melipat kedua tangannya didada sembari mencebik kesal “Asal kau tahu saja, mereka tak lagi memburu para vampir.” Ucap Frederitch lagi.
“Kalau soal itu, karena mereka sibuk membenahi ulah mereka sendiri bukan? Para terinfeksi Obscure itu...” Theo Lemaire membukakan pintu ruang rapat rahasia itu, mereka berdua masuk kedalam sana “Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, ruangan ini satu-satunya yang tak akan tembus oleh sihir Primavera.” Ucap pria itu.
Frederitch Drew Raymond mengangguk “Oh iya, bagaimana Valerin?”
“Ah kalau itu...” Theo Lemaire terkekeh canggung “Dia menolak untuk dibawa ke kediaman Lady Bethan.”
“Tapi dia bilang, akan berada di pusat Kota mengunjungi anak-anak. Kulihat adik Earl Valerin Grayii yang asli itu, dia benar-benar beda.” Ucap Theo Lemaire sambil memilih duduk di sebuah bangku pada meja bundar yang ada diruangan ini.
Frederitch mengangkat kedua bahunya acuh “Frederitch Drew Raymond, keturunan Veles di Raymond. Aprire Fuilech!” Ucap Frederitch merapalkan sihir pengaktif pada ruangan ini, sontak seluruh ruangan terang benderang oleh batu-batu sihir yang menempel dilangit-langit ruangan.
“Apa yang kau temukan di pelabuhan perbatasan?”
“Aku menemukan beberapa pengiriman ilegal Diablerie berbentuk robot namun sudah begitu sempurna layaknya manusia, semua itu berasal dari pengiriman Dust Bones.”
“Diabelerie buatan itu sangat berbahaya, salah satunya sudah diaktifkan untuk menyerang Valerin. Menurutku seseorang dengan otak luar biasa dari Dust Bones diam-diam sudah berkerja sama dengan seseorang dari petinggi kerajaan.”
Theo Lemaire memberikan secarik peta kepada Frederitch “Yang Kulingkari itu, wilayah yang bebas dari wabah Obscure. Coba kau perhatikan apakah ada yang aneh?”
Frederitch memperhatikan arah setiap peta beserta lokasinya “Mengepung kerajaan Crave Rose?” Ucap Frederitch.
“Bisa dibilang begitu, walaupun kita kebal dengan wabah ini. Tetap saja anak-anak Vampir dan orang tua Vampir akan kewalahan, belum lagi para dhampir. Mereka darah campuran tentu saja berbahaya untuk wabah ini.” Theo Lemaire juga memberikan beberapa temuannya “Kau tahu isi botol serum ini?” Ucap Theo Lemaire menunjukkan sebuah ampule berisi cairan violet terang itu.
“Virus Obscure...”
“Aku menemukannya di kebun pribadi Primavera...”
Frederitch memandang dengan tajam “Aku ingin memastikan sesuatu, kau harus ikut denganku sekarang.” Ucap Frederitch sambil melangkah keluar dari ruang rapat rahasia itu.
Frederitch Drew Raymon dan Theo Lemaire berjalan berdampingan. Mereka berdua sedang berjalan di lorong koridor istana Crave Rose, menuju gerbang keluar dari istana. Kedua pria muda dengan jabatan berbeda itu sempat berjalan melintasi ruang aula utama, Frederitch sempat berhenti sejenak.
“Aku penasaran pangeran Frederitch, biarpun dia kerap kali tak berada di istana. Tapi pangeran satu ini tetap menjalankan tugasnya di militer bagian utama.”
“Ternyata pangeran Fredericth juga memata-matai Dust Bones, informasinya memang berguna apalagi mengenai Diablerie itu.”
“Benar, Pangeran Frederitch selalu memiliki strategi perang yang unik. Beberapa bulan kedepan seharusnya dia yang mempin penyerangan terhadap Dust Bones.”
Brakkh— Frederitch setengah membanting pintu aula utama, dia menatap satu persatu tamu sang Raja didalamnya. Mereka para petinggi kerajaan, penasehat dan para adipati kini menatap terkejut sang pangeran yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
“P-pangeran...” Theo Lemaire gelagapan, dia tahu. Frederitch memiliki rasa empati besar terhadap manusia, pasti dia akan menolak rencana dalam perbincangan ini atau bahkan membuat keributan “K-kita akan kembali ke pavilun. Ya?” Bujuk Theo Lemaire.
“Kapan?! Kalian akan menyerang Dust Bones?” Tatap lurus seorang Frederitch ke arah sang raja. Nikolai Raymond.
Sang Raja yang duduk di singasananya menatap Frederitch dengan senyuman yang ramah “Baru kembali bertugas, adikku?” Berkedok sebagai pelayan, misi rahasia ini sudah jelas diberikan oleh sang kakak. Dia yang mengizinkan Frederitch keluar
“Kau menjebakku.” Geram Frederitch.
“Tidak, kita sudah sepakat sejak awal. Kau bisa berada di sisi manusia Gandaria itu sementara kau akan menukar informasi Dust Bones kepada kami, Oh Frederitch kaulah yang sejak kecil bisa bergaul dengan manusia... Apakah aku harus mempertanyakan kesetiaanmu?”
Sekitarnya beberapa orang penjaga menodongkan senjatanya kepada Frederitch “Aku tak menyangka, aku memberiku izin keluar dari Crave Rose tapi seperti ini tujuanmu.” Frederitch menatap dengan melolong.
“Tidak, seharusnya salahkan dirimu yang selalu berbagi cerita dengan sahabatmu sendiri. Bukan begitu Theo Lemaire?”
“Theo... Serius? Kau menyampaikan semua yang kuceritakan selama ini?” Frederitch menatap tak percaya pria berkulit tan itu, mereka memang sering bertemu diam-diam. Frederitch bahkan begitu terbuka akan hidupnya selama bersama Valerin.
“Maaf Frederitch...”
Sang Raja mengulum senyuman “Sebagai Raja Kerajaan Crave Rose, aku mengangkatmu secara tidak resmi menjadi jenderal tinggi Crave Rose. Theo Lemaire, selamat pelantikan resmimu akan bersama kadet lainnya.” Setelah berucap sang Raja turun dari singasana. Dia mendatangi Frederitch “Dan... untukmu adikku, maaf kau akan istirahat didalam Crave Rose untuk waktu yang lama.” Ucap sang Raja sambil menancapkan sebuah belati kecil tepat di jantung Frederitch.
“Akh...k-kau...” Frederitch yang melemah hanya bisa menunduk, kekuatan dan energi tubuhnya pun semakin melemah.
Pandangan Frederitch perlahan-lahan mengabur, dia bisa saja melepaskan diri jika belati ini belum ditanamkan pada jantungnya “Sial..” Frederitch mendecih pelan “Valerin...Valyria... A-ah semo-ga belum terlambat. Cepat pergi dari Dust Bones, Crave Rose akan menyerang Dust Bones.” Sebelum energi Frederitch benar-benar habis. Ia sempat mengirim pesan telepati dengan sihir link yang sudah terjalin antara keduanya. Walaupun dia sendiri tak yakin jika pesan itu akan sampai ataupun tidak. Setelah itu pandangannya menghilang.
.
.
.
Bersambung