Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 Episode 62




“Dearly William... You are done?”


Suara berbisik halus itu mengalun pada indera pendengarnya, William Rovana membuka kedua kelopak matanya. Seketika sadar, rasa basah pada kasur yang ia tiduri. Luka di punggung oleh Alphonse berubah semakin parah. Beberapa malah menyerupai kulit kehitaman.


Pria itu meringis, meredam suaranya sendiri “...Alphonse, kau licik juga ya?”


William Alphonse, menyentuh wajahnya dengan frustasi. Sembari merebahkan diri lagi, tatapannya mulai sendu “Tidak ada yang bisa menghentikanmu, aku pun akan usai. Al...” Ucapnya setengah tersenyum “Valerin, aku hidup untuk menjaga adikmu. Tenang saja kawan, aku terlalu kuat untuk mati.” Ujarnya lagi sambil menerawang jauh.


Pria itu beranjak di keheningan malam, dingin dan mulai bersalju.


Malam, rembulan terang. Menampaki tapak kecil sepasang kaki yang ia kenal, William Rovana usai berganti pakaian dan menyembunyikan luka dengan perban. Mantel cokelat tebal ia rapatkan.


“Ironi, Valerin kakakmu pun sama. Ia akan merenung seorang diri di keheningan malam.” Gumam William Rovana dengan uap panas dari mulutnya, wajar saja. Dingin menusuk kulit amat kuat.


Mengekori sepasang langkah kecil itu, ia mendapati Valerin Grayii yang duduk ditepian danau yang membeku. Bulan tampak begitu terang, disana dia pun melihat Valerin yang duduk memperhatikan sesuatu.


“Kau, baru tahu hal ini?” William Rovana duduk disebelah Valerin.


Gadis berperawakan lelaki manis itu menggeleng, tatapannya penuh simpati seperti Valerin Grayii yang asli “Dia, sudah mati, bukan?” Ucap Valerin Grayii.


“Mahluk hidup memang begitu.” Ucap William Rovana “Itu, orang yang sudah begitu lama terkena obcure. Dia akan membantu, jika dipecahkan tubuhnya seperti kristal.” William Rovana turut memperhatikan manusia yang bersipu.


Manusia bersipu yang sudah ditumbuhi lumut dan dedaunan yang menjalar hampir disekujur tubuhnya. Manusia terinfeksi yang sudah begitu lama, berbeda dengan Obscure saat ini. Mereka mati dan mengabu.


“Obscure pertama, infeksi pertama yang belum bermutasi bukan?” Ucap Valerin.


William Rovana hanya mengangguk “Apakah ingatanmu sudah kembali, Val?”


“Menurutmu?” Valerin Grayii menoleh kearah William Rovana, angin bertiup lembut membiarkan surai perak pendeknya bergelayut ringan. Poni panjang menyapu wajah manisnya yang tersenyum kecil.


William Rovana terperangah, kemudian menggeleng “Begitu ya? Kau sengaja bersandiwara kemarin?” Ucapp William Rovana duduk bersandar pada bahu kecil Valerin “Hey, Val... Kau tahu? Valerin yang asli pasti berbalik mengomeliku jika aku bersandar seperti ini.” Gumam William.


“Sejak berapa lama?”


William Rovana terkekeh kecil, salut mengetahui gadis mungil itu menyadarinya “Tidak penting sekarang, kita sama-sama harus menghentikan Alphonse.” Ujar William Rovana.


“Kau bertahan, demi kematian Emelie Rovana bukan?”


“Haha, pedas sekali ucapanmu Val.” William Rovana kembali duduk dengan tegap, kemudian menatap bulan yang sama saat itu “50% benar, 50 % salah.” Katanya Valerin enggan menatap William.


Valerin membulatkan kedua iris violetnya, ekspresi terkejut itu sangat nyata. Kali ini, ia salah menerka sosok William Rovana “Kau terluka, cukup parah, parahnya lagi itu obscure yang aku sendiri tak tahu kenapa kau masih tampak baik-baik saja?!” Valerin meraih tangan lebar itu, ucapnya amat cepat dalam sekali hembusan nafas.


“Aku Valerin Grayii, bukan? Aku juga sama seperti Valerin Darly Kinaru yang menganggapmu sebagai rekanku, temanku dan keluargaku. Will...”


William Rovana menarik ujung bibirnya membentuk senyuman “Aku tahu, kau pun sama Val. Kau sama terlukanya dengan aku. Kau juga berpura-pura baik-baik saja, karena tujuan kita belum usai bukan? Alphonse dan Obscure ini... Juga bagian dari tujuanku.” Rematan tangan Valerin padanya sama-sama mengerat.


“Kita, sama-sama kehilangan keluarga berharga karena Obscure dan Alphonse.”


Valerin langsung menggeleng “Valerin kakakku yang sesungguhnya, mati ditangan Primavera...” Cicit pelan Valerin.


“...Tapi, kau masih bersama Frederitch.”


“Will...” Panggil Valerin dengan pelan “Masih ada rasa sakit diujung perasaanku, apakah menurutmu Frederitch seperti Primavera?” Kedua mata Valerin berkaca-kaca.


William menghela nafas, meraih tubuh Valerin untuk dipeluknya “Aku tahu, bocah vampire itu pasti menyesalinya, semua orang tahu Valerin kakakmu dan Frederitch bersahabat dengan dekat. Dia lebih akrab bersama kakakmu dibanding saudari aslinya sendiri.” William mengelus-elus pelan puncak kepala Valerin. Dia turut prihatin, atas nasib gadis muda ini. Dia membuang perangai lembut seorang gadis sejati, menuntut jalannya yang terjal menjadi sosok manipulatif yang mahir bersandiwara.


“B-bodoh... hiks... bodoh...”


William Rovana menenggelamkan wajahnya pada puncak kepala Valerin, surai perak yang lembut. Dia pun menatap dengan sendu, jika adiknya Emelie disini. Dia pun pasti merindukannya.


“Saat kembali...”


“Saat kembali, buang semua air matamu Val. Jangan tangisi siapapun lagi, berjanji padaku?” Tanya William menangkup wajah perihnya Valerin.


“Mn, aku sudah lama membuang... sisi menyebalkan seperti itu. Hiks.” Wajah sembab dengan merah yang merona, air mata dan cairan diujung hidungnya.


William Rovana mengelap air mata dan cairan itu dengan ujung lengannya “Haha, berapa usiamu, 10 tahun? atau 5 tahun?” Ejek William Rovana, sambil mengusap-usap kepala Valerin dengan lembut.


Tidak terlalu jauh dari sana, seorang pria pirang tampak memperhatikan gelagat si perak manis yang tengah bersama William Rovana.


“Tidak menghampiri tuan muda, Pangeran Frederitch?” Tanya Panacea yang berdiri dibelakang Frederitch.


Gelengan samar tampak dari pria muda itu “Biarlah, sesuatu yang Willliam bisa lakukan tapi aku tidak.” Ucap Frederitch.


“Terdengar seperti pasrah.”


“Aku tak ingin mendengar pendapat dari iblis.”


“Aku hanya mencoba memberi nasehat kepada seorang vampire.” Kata Panacea menaikkan kedua bahunya, dia berjalan mendahului Frederitch dengan sebuah selimut yang dipegangnya “Oh, aku tahu, kau memikirkan luka Valerin bukan? Tapi jangan cemas, di masa depan kalian akan bersama.” Ujar Panacea sambil kembali berjalan.


Panacea berhenti sejenak lagi, seraya menoleh “Kau tahu, kalian bahkan memiliki putera yang menggemaskan.” Katanya sambil tersenyum.


Frederitch terperangah, kedua matanya mendadak melotot tidak percaya. Yang berkata itu seorang iblis legendaris dengan wewenang besar batu Obscure atas kekacuan dunia saat ini “Jika kau bercanda, aku akan membunuhmu...” Ancam Frederitch dengan senyum yang lebar.


“Silahkan saja, iblis ini berkata dengan sesungguhnya.” Sahut Panacea yang berjalan menjauh untuk mendekati Valerin Grayii.


“...Pana!” Teriak Valerin dari jauh “Kenapa kau kemari”


“Anda kedinginan.” Ujar Panacea tampak menyelimuti tubuh Valerin dengan selimut.


Frederitch hanya diam menatap Valerin “Aku yang sekarang belum mampu mewujudkan semua itu.” Ucapnya membatin dengan pelan.


Valerin dan Panacea melintas melewati Frederitch yang diam berdiri. Mungkin, akibat Valerin tidak betah mendiami Frederitch dia pun mendengkus kesal "Aku bohong..." Ketusnya.


"Huh?" Sebelah alis Frederitch menaik.


"Iya kemarin, yang katanya aku lupa. Itu aku bohong."


"Oh, aku tahu kok."


"Ck, vampire bodoh." Ketus Valerin berjalan dengan menghentak kakinya.


William Rovana menggeleng "Kalian berdua, saling mencintai juga saling bertengkar seperti anak kecil"


"Hm, Hm, benar..." Angguk Panacea.


"Ck, kalian berdua sama saja." Ketus Frederitch sambil menyusul langkah Valeirn "Hey, Val... Tunggu!"