Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Episode 15




.


.


.


 


Seorang gadis yang kerap kali tampak dengan pakaian nacis maskulin itu dipanggil tuan muda oleh semua orang yang mengenalnya, kini ia tengah membaca beberapa buku yang disesuaikan oleh beberapa catatan dari buku Clandestine milik sang kakak. Dengan penampilan yang berbeda, pasalnya ia mengenakan piyama tidur kebesaran dengan poni panjangnya yang diikat dengan menggemaskan.


Hari sudah larut malam, namun ia masih duduk dengan santai di ruang kerjanya. Satu-satunya ruangan yang masih memiliki cahaya penerang. Disaat semua ruangan nyaris lelap dengan aktivitasnya.


“Tuan muda, sudah malam. Sebaiknya tidur.” Friday mengetuk pintu dari luar, dia masuk kedalam ruang kerja Valerin Grayii dengan sebuah selimut disampirkan pada lengan kanannya.


Valerin Grayii menatap Friday, dia pun menutup buku agenda sang kakak “Friday... walaupun sudah terbiasa, namun kakiku terasa pegal.” Valerin menumpukkan beberapa buku yang sempat terbuka itu.


Friday tersenyum penuh arti, ia mendekati Valerin kemudian menggendong tubuh kecil itu.


“H-hei... kenapa?!” Valerin memberontak didalam gendongannya


Friday mendelik heran “Membawamu tentu saja tuan muda.” Ucap Friday, dia tahu Valerin sudah melepas kaki prostetiknya. Akan sulit bagi Valerin berjalan jika tak menggunakannya.


Valerin baru sadar, dia pun menunduk malu.


“Engh, maaf...” Valerin tahu, Friday hanya ingin membantunya.


Friday tetap ramah seperti biasanya, dia mengangguk tak masalah bahkan meletakkan tubuh Valerin diatas kasur dengan menyelimutinya “Besok pagi, tuan muda ingin sarapan apa sebelum berangkat?”


“Uhm...” Valerin tampak berpikir dengan lucu “Aha, cheese cake! Dengan teh.” Valerin sudah membayangkan betapa enaknya makanan itu.


Friday hanya bisa menekuk bingung “Cheese cake? Itu lebih seperti hidangan penutup tuan muda.”


Valerin menyelimuti seluruh tubuhnya kemudian berbaring membelakangi Friday “Ya sudah.” Katanya dengan suara yang masam, Valerin merajuk seperti layaknya anak kecil.


“Baiklah tuan muda.” Friday menghela nafas. Ia pun pergi meninggalkan kamar Valerin seraya mematikan penerang disana “Selamat tidur tuan muda.”


Valerin yang terbangun lebih awal, sekitar pukul empat dini hari. Valerin menuruni ranjang kasurnya dengan memengangi tepian ranjang. Kaki prostetiknya ada diruang kerja namun tongkat bantu jalannya ada diatas meja tepat disampingnya.


Valerin pagi-pagi duduk di taman hortensia dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Terlebih lagi ia sudah menyeduh sendiri secangkir kopi hitam buatannya, Valerin menunggu matahari pertama yang akan terbit.


“Tuan muda?”


Panacea terkejut, melihat tuannya sudah bersantai. Pagi-pagi pula, ia baru saja memberesi dapur dan ruang tengah.


“Friday dimana?”


“Friday, memiliki jam lain saat malam. Kau tahu tuan muda, dia vampir memang seperti itu.”


Valerin mengangguk “Benar, dia berbeda dari manusia.”Valerin meneguk kembali secangkir kopi panasnya itu.


Dilihat dari wajah cantik berperawakan tenang seorang Valerin Grayii, membuat Panacea tersenyum. Dia dan tuan terdahulunya sangat berbeda “Kenapa tidak memintaku membantu membuatkan minuman, tuan muda?” Panacea menunduk dengan hormat.


“Tidak ingin.”


“Baik, tuan muda. Nikmati waktumu.” Panacea menunduk hormat sambil membawa sekerajang cucian yang akan dijemurnya itu.


Valerin tak mengubrisnya, atau karena ia tak tahu mesti berkata apapun. Tapi jelas, sebuah selimut lain kembali membalut tubuhnya dikala aroma maskulin Friday menguar diindera penciuman Valerin.


“Tuan muda...” Atensi iris mata merah crimson itu menatap yang lebih kecil.


“Anda bangun teramat pagi, istirahat anda tak akan cukup.”


Valerin terkekeh pelan “Dulunya aku, akan tak tidur seharian.”


“Mau cheese cake? Kebetulan saya membelikannya dari pusat kota.”


Friday menyeringai dari balik tubuh Valerin yang masih enggan menoleh kearahnya itu “Ada sebuah kota yang hidup saat malam hari, tuan muda.” Tanpa ia sadari kedua taring runcing itu tampak ketika sang empunya tersenyum lebar, nyaris mirip seperti seringaian.


“Oh manis sekali darahmu.” Gumamnya membatin menatap leher mulus Valerin Grayii itu.


“Oh, iya pasti seperti 24 jam buka? Diduniaku ada kok kedai-kedai seperti itu. Iya bukan?”


Tak diduga, Valerin mengulum senyuman manisnya saat itu “Oh lihat, itu matahari pagi. Eh kau tidak apa-apa terkena sinar matahari Friday?” Cemasnya raut sang tuan muda bisa ia lihat, Friday menghela nafas “Tuan muda, itu hanya rumor.” Ucap Friday menggeleng pelan.


“Kalau begitu kemari.” Valerin meraih pergelangan tangan Friday untuk duduk dibangku kosong yang ada disebelahnya, jika sudah girang seperti ini Valerin kadang-kadang bersikap polos dengan manis.


“Indah bukan? Kadang aku suka sekali dengan suasana matahari pertama yang terbit.”


Friday tak habis pikir, alih-alih menatap matahari itu. Dia malah sibuk menatap mentarinya sendiri, ia menoleh menatap wajah cantik yang tersenyum bersemu kemerahan itu. Dia berbincang, tersenyum dan tertawa. Manusia tercantik, termisterius dan terindah menurut Fredericth Drew Raymond.


“Ah, iya indah sekali.” Kata Friday menatap Valerin Grayii.


“Ah iya ka—engh... itu... kenapa?” Valerin yang kebetulan menatapnya malah gelagapan, karena Friday hanya sibuk memandanginya dengan wajah yang serius.


Friday tak berbicara lagi, dia menarik tengkuk Valerin dan meremat pinggang rampingnya mendekati tubuh Friday. Sepasang taring runcing itu mengigit leher Valerin, mengisap darahnya dengan rakus.


“Engh... ssstttss.... “Valerin sampai mengeryit sakit, menahan gigitan Friday yang buas ini “Pe-perlahan, Friday...” Tak didengar sama sekali ucapannya, Valerin semakin lemas namun perasaan ini ia mengerti dikala kedua tangan Friday memeluk tubuhnya teramat erat.


“Ha... menyebalkan...” Valerin menatap langit yang temaram itu, dia mengadahkan pandangannya sambil mengusap puncak kepala Friday “Hey, sudahlah. Aku masih butuh energi untuk menyelesaikan misi hari ini. Kau bisa makan lagi nanti setelah aku makan dan istirahat yang banyak.”


Friday menyudahi kegiatannya, dia mengecup leher Valerin. Meninggalkan bekas pada leher jenjangnya kemudian beralih memengangi wajah Valerin Grayii “Tuan muda, maaf... apakah boleh aku menandaimu?”


“Eh?! Maksudmu?”


“Menandaimu, hanya satu-satunya yang dapat kuhisap darahnya kemudian sampai kapanpun kau dan aku akan terus terhubung.”


Valerin mendorong tubuh Friday, namun pria muda itu semakin mengeratkan pelukannya “Kumohon... hanya dengan ini aku dapat melindungimu dari para Vampir bahkan dari siapapun.” Suara Friday terdengar frustasi.


Valerin menghela nafas “Baiklah, lakukan sesukamu.” Valerin bukan orang yang senang berargumen. Ia mengalah, lagipula selama ini Friday hanya menghisap darahnya kemudian sesuatu tak terjadi lagi.


“Benarkah, tuan muda?!”


“Benar, lakukanlah.”


Friday pun menarik punggung tangan Valerin kemudian menciumnya “Terimakasih tuan muda.” Dia kembali menarik ceruk leher kanan Valerin, kembali mengigit leher itu kemudian menegak darahnya “Slurps...” terdengar suara haus yang menjadi-jadi itu.


“Setelah ini, setiap aku meminum darahmu. Luka-luka ini akan hilang, sebagai gantinya tuan muda akan kulindungi dengan seluruh jiwa dan ragaku. Semua hal bahaya yang menimpamu bisa kurasakan.”


Ah, Valerin ingin meleleh ditatap pria setampan Friday biarpun ia hanya seorang pelayan “Engh... terserah saja.” Valerin memerah sambil memalingkan wajahnya, tidak tahu saja ia leher bekas gigitan Friday sudah timbul sebuah tato berbentuk mawar. Simbol vampir elit yang bukan dari kaum biasa-biasa saja.


“Baiklah, ayo sarapan dan bersiap tuan muda.” Valerin sudah dalam gendongan Friday, tangan kanannya pada pangkal paha dan tangan kiri pada punggung briday style belakangan ini sang pelayan senang menggendongnya seperti itu.


Valerin hanya mengangguk pasrah.


Panacea dari kejauhan hanya memandangi keduanya “Syukurlah, berarti Yang Mulia Frederitch tidak berniat membahayakan adikmu. Earl Grayii.” Panacea membawa sekeranjang kosong itu hanya bisa tersenyum kecil. Ia tahu, konsikuensi menandai pada kaum vampir. Sang vampir yang sudah menandai harus melindungi orang yang ditandainya dengan jiwa dan raga. Jika yang ditandai terluka atau mati, itupun akan sama terjadi padanya. Jarang ada Vampir yang mau menandai manusia, kecuali “Jika mereka saling mencintai, ya?” Panacea menunduk dengan tatapan sendu. Ia teringat akan tuan terdahulunya. Perasaan Panacea pun memanas saat itu, ada getaran halus yang perih disana.


.


.


.


 


Iyaps, Panacea suka dengan kakak Valyria... apakah yang terjadi selanjutnya?


hoho, maaf slow up. Sedang Recovery stamina tubuh hehe...