
“Apa-apaan wajah itu? Jelas mirip dengan buronan kita.” Celetuk Angelise.
“Tapi terasa beda bukan?”
Angelise terdiam, tampak menimang-nimang sesuatu hingga ia pun mengangguk “Mata emas dan rambut pirang, kau yakin dia bukan buronan yang kita cari?” Tanya Angelise lagi.
“Untuk saat ini aku belum bisa pastikan, kecuali Pangeran Alexander mencium aroma darahnya.” Auguste yang berjalan tegap disamping Angelise mulai memegang dagunya “Setelah Leon yang tampak memihak Earl Grayii, dilanjutkan Mathias yang tampaknya dekat dengan ajudan baru itu.” Dia memengang dagunya sembari berpikir “Apakah ini ulah alchmeist yang luar biasa cerdik?”
Angelise mendelik “Ha? Apa maksudmu, Auguste?”
“Bisa saja seseorang sengaja mengubahnya bukan? Valerin Grayii menjadi Ellis Francieli”
Angelise tertawa nyaring mendengar penuturan Auguste “Bhahaha, serius?” Dia kembali tertawa lagi sembari menepuk pundak pria itu.
Auguste menggeleng “Angelise, bisa saja bukan kan?”
“Benar bisa, tapi mau sehebat apa alchemist itu? Ha... kau bercanda saja.”
“Itu menurutku...” Auguste memutar bola matanya dengan malas.
.
.
.
Bagi Ellis Francieli bohong jika ia tak kesal dengan sepasang pemburu vampire kelas atas itu, Ellis meletakkan tubuh bocah lelaki kecil itu dengan pelan di ranjang kasurnya. Kemudian Ellis segera menutupkan pintu kamar itu, Ellis sempat menghampiri seorang pengawal yang melintas.
“Selamat malam, apa kalian tahu kemana pengawal pribadi Yang Mulia Victorine?”
“Ksatria Francieli? Sungguh kehormatan bertemu dengan anda, apa yang anda maksud itu Mario?” Pengawal itu malah keheranan.
Ellis mengangguk “Hm... aku sendiri sepertinya kurang tahu hal itu.” Ellis terkekeh hambar.
Pengawal itu mengangguk paham “Tuan Francieli sebaiknya kembali ke ruang Yang Mulia Raja Alphonse, anda ajudannya...” Ujarnya.
“Ellis?” Sang Raja menghampiri Ellis dengan mengenakan jubah tidurnya. Surai cokelat yang tergerai sedikit panjang dari sang raja, menampaki kesan pria dewasa yang berkharisma.
Ellis spontan menggerakkan tubuhnya dengan hormat “Yang Mulia!” Seru Ellis.
“Yang Mulia” Pengawal itu juga ikut memberi hormat kepada Alphonse.
“Victorine?” Tanyanya kepada Ellis.
“Sudah tidur Yang Mulia, hanya seorang pengawal disini tidak ada. Uhm...” Ellis menatap ragu mata tajam emerald sang raja itu “Apakah, Ellis harus menjaga pangeran mahkota?” Lirik Ellis kepada ruangan tertutup tanpa pengawal itu.
Mengerti, Alphonse segera menggeleng “Kau, kupercayakan malam ini anakku padamu.” Perintah Alphonse kepada pengawal itu.
“Siap Yang Mulia!”
Alphonse berjalan lebih dulu “Ayo Ellis...” Ajaknya.
Ellis mengikuti langkah sang raja, sebelum mengangguk terlebih dahulu. Langkah kecil Ellis yang ringan dan tubuhnya yang mungil membuat Ellis menggemaskan. Surai pirangnya yang halus pun sama, menambah kesan manis seorang Ellis Francieli.
Malam itu, Ellis memandangi bulan dari ruang kerja sang raja yang luas. Tumbukan berkas diatas meja sudah selesai ia kerjakan, kini ia bersantai dengan segelas kopi panas.
Kemana sang raja? Mendadak, ia pergi ke kamar ratu sejam lalu setelah salah satu pelayan pribadi sang ratu meminta sang raja atas perintah wanita pencemburu itu tentunya.
Ellis menghela nafas, kemudian beranjak berdiri. Ia keluar dari ruang sang raja.
Disana, ia bertemu dengan Mathias yang sudah lengkap dengan pakaian zirahnya.
“Hai, Ellis...” Sapa pria itu dengan riang.
“Masih dini hari? Kau mau kemana, Math?”
“Kembali ke perbatasan, oh iya, mungkin Yang Mulia belum mengatakannya padamu.”
“Kenapa?”
“Selama aku pergi, jadwalmu menggantikanku mengajari berpedang para ksatria pemula.”
Ellis tampak terdiam, larut dalam pikirannya.
“Ellis? Apa kau keberatan?”
Ellis menggeleng “B-bukan... aku sanggup kok, dengan senang hati.” Ellis mengulum senyuman.
Mathias membalas senyuman juga, kemudian mengusap puncak kepala Ellis “Mereka harus siap, sebelum perang dimulai kembali.”
Ellis menaikkan sebelah alisnya “Aku belum tahu soal ini.”
“Benar, itu firasatku saja.” Mathias tersenyum simpul kemudian menunduk sedikit “Brunia, mungkin saja akan mendeklarasikan perang.” Kemudian pria itu menaikkan tubuhnya seraya tersenyum lagi “Dah... Sampai jumpa lagi nanti.”
Ellis masih mencerna ucapan Mathias, lalu kedua matanya membulat sempurna “Kau tahu Math?!” Saat berseru pria itu sudah berjalan jauh sambil melambai-lambaikan tangannya.
Brukkhh...
Tubuh Ellis ditabrak oleh para pelayan wanita beserta seorang dokter yang tampak berlalu terburu-buru.
“Penasehat Louisa?” Ellis menatap wanita itu, yang terakhir berjalan dari para pelayan.
“Ellis, kau kenapa masih disini?” Herannya.
Ellis memang tidak tahu menahu “Kenapa penasehat Louisa?”
Wanita itu menghela nafas “Permaisuri jatuh sakit, karena mereka semua baru tahu kehamilan kedua permaisuri.” Ujar penasehat Louisa.
Kedua lutut Ellis mendadak lemas, perasaan perihnya sampai menusuk dada “B-baik penasehat Louisa...” Ellis berusaha tegar, pada kedua mata yang kapan saja bisa menumpahkan air matanya itu.
Alih-alih berjalan menuju ruang sang permaisuri, Ellis menaiki tangga menuju atap tertinggi dari salah satu menara istana yang selama ini tampak sepi dari para pelayan dan pengawal.
Ellis hanya ingin menenangkan diri sejenak, setiba di atap tinggi itu dia dengan ringan melompati salah satu bata kemudian duduk disana sambil memeluk tubuhnya sendiri. Sebentar lagi matahari akan terbit, Ellis mematung duduk disana sambil menikmati angin dingin yang semilir meniup dengan lembut.
“Ellis kau bodoh, jelas-jelas Yang Mulia tak akan bisa kau miliki...” Gumam lirih seorang Ellis.
Dalam hening yang menemaninya, Ellis mendiam.
Langkah seseorang pun tak ia dengar, sampai seseorang itu ikut duduk disisi yang berbeda. Tapi sama-sama menatap mentari yang terbit dari cakrawala itu.
“Apakah kau menatap matahari terbit?” Tanya suara lembut seorang pria itu.
“Hm, benar...” Ellis menggumam, kemudian menaikkan bahunya. Buru-buru menoleh.
“Kau siapa?” Tanya Ellis dengan raut yang bingung.
“Alex... Alexander Caleum...” Katanya diiringi senyum sendu yang nanar. Pria bermata merah dengan surai caramel, sekilas mirip sang raja namun bertubuh lebih kecil dan berkulit putih pucat.
“Caleum?” Ellis menggulang, nama keluarga yang mirip dengan sang raja.
Pria itu mengangguk “Benar, Alexander Caleum adiknya sang raja.” Ucapnya kembali tersenyum tak bergairah itu “Sekarang, hanya tahanan istana...” Ujarnya lagi.
Ellis langsung membungkuk hormat “Y-yang mulia Alex...”
Pria itu mengibaskan tangannya, sungkan melihat sikap Ellis “Tidak perlu formal, aku dikurung di istana tanpa kehormatan sebagai anggota kerajaan.”
Hening lagi, dengan mentari yang suda terbit. Cahaya pagi yang dingin, menyinari seluruh Dust Bones.
“Kau mirip seseorang—“
“Valerin Grayii...” Sambar Ellis dengan jengkel “Semua orang menyangkaku sebagai Earl itu, entah... bagaimana aku harus berekspresi Yang Mulia.” Ucap Ellis.
Alexander Caleum mengangguk “Sepertinya kau ksatria tinggi... Pedang itu hanya dimiliki oleh jenderal Branchus Remington, kemudian dia gugur dalam peperangan tiga tahun lalu, selama tiga tahun ini pedang itu seharusnya ada pada Wood Remington anaknya. Kemudian kau ini siapa?” biarpun tersenyum, sang pangeran kedua bertanya dengan serius sambil menunjuk pedang yang tersampir di pinggang ramping Ellis.
Ellis mengulum senyuman, Alexander yang ternyata cerewet ini mirip dengan Lyn “Ellis Francieli dari desa Lotus, anak angkat Wood Remington, ajudan pribadi Yang Mulia Alphonse...” Jelas Ellis.
“Pantas saja...”
“Benar, pantas saja...”
Keduanya sama-sama tertawa kecil, seolah perbincangan singkat mereka memang konyol.
“Apa rasanya selalu dibilang mirip dengan buronan Dust Bones?” Tanya Alexander lebih dulu.
“Tidak ada, lagi pula yang bilang begitu baru Yang Mulia dan penasehat Louisa, oh itu juga, sepasang pemburu iblis serba hitam itu.” Celetuk Ellis.
“Untuk seukuran yang dianggap mirip dengan Earl Grayii, kau banyak bicara dan terlalu jujur.” Komentar Alex.
“Memangnya dia tidak seperti itu?”
Alexander menggeleng “Tapi kau terasa seperti dia...”
“Tak mungkin, aku ingat masa kecilku, aku hanya seorang anak yang lahir dari sepasang petani di desa Lotus.” Ellis terdiam, masa kecilnya bukan hal yang enteng diceritakan.
“Yang Mulia Alexander...” Seorang pria melompat dengan ringan menuju atap itu, dia berdiri dengan seimbang. Sementara tudung hitam dan kain menutupi sebagian wajahnya.
Pria itu melesat menghadang Ellis dengan belati di tangan kanannya “Mundur Yang Mulia..”
Ellis juga mengeluarkan pedangnya, menangkis belati yang nyaris mengenai wajahnya. Ellis mundur sambil melompat salto “Kau ini siapa?!” Ujar Ellis seraya mengacungkan ujung pedangnya.
“Leon, dia ajudan kakakku. Bukan ancaman...” ujar Alexander.
Pria berjubah hitam itu membungkuk sebagian “Maaf atas tindakanku, tuan...” Jelas pria itu terkejut saat menatap Ellis “Earl?!” Katanya sambil membuka kain yang menutupi sebagian wajahnya.
Tampaklah wajah pria muda dengan raut yang haru “Bagaimana kabarmu Earl...”
Ellis menggeleng “Maaf mengecewakan harapanmu tuan, tapi aku Ellis Francieli bukan Valerin Grayii yang kalian kenal.” Ujar Ellis penuh kehati-hatian “Sebenarnya, siapa Valerin Grayii ini? Kenapa semua orang menganggapnya buron, tapi saat menatapku menggunakan tatapan seperti itu...” Ellis membatin, tatapan semua orang yang menyangkanya sebagai Ellis terlalu bercampur aduk. Tapi Ellis tahu, mereka sangat menghormati sosok Valerin Grayii ini sekalipun ia dianggap pengkhianat.
Ellis mengulum senyuman “Sepertinya sang Earl dicintai oleh semua orang, sekalipun dia buron yang mengkhianati Dust Bones.”
Alexander dan Leon mengangguk serentak.
Ellis pun membungkuk hormat “Kalau begitu, Ellis akan pergi Yang Mulia Alexander, hari sudah pagi Yang Mulia Alphonse pasti memiliki agenda rutin. Selamat pagi, permisi.” Ujar Ellis dengan punggung sempitnya yang berbalik itu.
Air yang dibasuh pada wajahnya memang segar, namun isi kepala dan perasaan Ellis masih campur aduk panasnya “Keputusanku ke menara itu sangat salah, ha...” Ellis menghela nafas.
Ellis berganti pakaian, menyisir sebagian surai pirangnya dan terakhir memasang sepasang sarung tangan putih.
“Selamat pagi, tuan Francieli.” Baru saja keluar dari ruangannya, Ellis yang masih memengang knop gagang pintu langsung menoleh.
“Selamat pagi.” Ellis menyahut sapaan Felix Merlian.
“Terimakasih atas seminggu ini, kami dijamu baik ole Dust Bones.”
“Oh, kalian akan kembali ke Brunia?”
“Benar, tuan Francieli...”
Ellis mengangguk, kembali menutup pintu ruangannya “Kalau begitu, semoga selamat sampai tujuan.” Ellis memang mencurigai pria ini, tampangnya yang tampan senantiasa serius itu. Tapi Ellis, memang baik hati. Dia tak betah tanpa tersenyum.
Felix Melian tertegun, dia sampai mendeham “Ehem... tentu. Semoga sehat selalu tuan Francieli.” Katanya sambil berlalu, pria berjubah serba hijau tua itu.
Ellis tiba di gerbang utama istana dengan kuda putihnya yang mengiringi sang raja dalam kereta kudanya. Mereka akan menghantarkan rombongan Brunia setidaknya sampai ke pelabuhan.
Rombongan Brunia diiringi oleh rombongan ksatria dari Dust Bones, kebanyakan ksatria pemula yang masih belia. Ellis sampai gugup sendiri, merasa seperti yang ‘dituakan’ di antara rombongan.
“T-tuan Francieli... M-mohon b-bimbingannya.” Salah seorang ksatria muda menghampiri Ellis.
Nah kan apa, Ellis menjerit dalam batin. Memasang wajah manis dan tersenyum Ellis mengangguk “Selama Mathias belum usai dari misinya, kalian dalam bimbinganku.” Kata Ellis tersenyum hambar.
Sang raja, memperhatikan Ellis dari dalam kereta kuda. Ellis yang menunggangi kuda tepat disebelah keretanya, tampak sibuk berbincang dengan beberapa ksatria muda. Ellis yang tersenyum manis begitu, membuat sang raja tak memalingkan pandangannya.
“Dia, pria yang baik.” Ujar Louisa, penasehat kerajaan saat ini.
Alphonse mengangguk “Dia terlalu ingin kudapatkan.” Ucap Alphonse.
Louisa menggeleng “Pikirkan lagi, kau mengancam satu Dust Bones jika sampai pernikahan kalian kacau.” Celetuk Louisa.
“Kau pikir aku tak tahu, tingkah Luciana dibelakangku?”
Louisa menghela nafas “Setidaknya tahan, sampai bukti terkumpul semua.”
“Sulit dipercaya, Duke of Melian. Tiga bulan Luciana menjalin hubungan gelap bersamanya.” Lanjut Louisa lagi sambil memperhatikan berkas yang dipegangnya “Kerjaan Angelise dan Auguste serba bisa, sulit dipercaya mereka mengikuti Duke of Melian sampai sejauh ini.” Louisa tertawa tipis.
Sementara Alphonse, terus menatap Ellis. Tatapan mereka bahkan sempat beradu satu.
“K-kenapa Yang Mulia?” Tanya Ellis yang mendekati kereta dengan kudanya.
“Jika kau lelah, kau bisa duduk disampingku Ellis.” Ujar Alphonse.
Ellis menggeleng, tentu saja. Tawaran itu terlalu berlebihan untuk seorang ajudan sepertinya “Yang Mulia, Ellis akan disini memantau keamanan rombongan ini...” Elak Ellis sambil tersenyum.
Ellis yang kembali pada posisinya mulai menatap rombongan, ia takjub saat melewati wilayah selepas pusat kota. Jalan panjang berbatuan dengan kiri dan kanan padang ilalang luas, beberapa bangkai bangunan, kendaraan aneh untuk jaman ini.
Terasa tak asing, Ellis memperhatikan bangkai mobil yang berkarat itu “Ini... mobil.” Gumam Ellis.
“Ellis?! Kau tahu alat itu?!” Teriakan Louisa dari dalam.
Ellis mengangguk “Alat mirip kereta kuda yang dijalankan oleh mesin, roda dan rantai didalamnya.” Ucap Ellis dengan polos.
Tapi pandangan Ellis cukup tajam, mengamati cairan yang terus keluar dari salah satu rombongan dibelakangnya, rombongan Brunia.
“Gawat! Ini bensin?” Ellis berucap kemudian menghentikan kudanya “Kau!” Pekik Ellis terhadap salah satu ksatria.
“Baik tuan!”
“Iring kereta Yang Mulia menjauh dari aliran air itu! Sekarang!”
“B-baik Tuan!”
Ellis menghadang rombongan Brunia, mau tak mau rombongan itu berhenti didepan Ellis “Jangan ada yang menghidupkan pematik api! Apapun rencana kalian terhadap sang Raja, Dust Bones tidak akan kalah!” Lantang suara Ellis menggelengar.
Seringai tipis, Felix Melian dari dalam kereta kuda “Hehe... Tatapan melalangmu sangat cantik, sangat cantik! Ellis Francieli!” Felix mendadak kegirangan, didalam kereta kuda itu dia tertawa disamping tubuh Raja Harold yang sudah terbujur kaku. Anak panah, menancap didadanya.
“Duke... Ajudan Raja Alphonse mengetahui rencana kita?” Kusir kereta kuda itu berucap.
“Jangan lepaskan tangkapan manis kita...”
“Baik, Duke...”