
Dust Bones, untuk kesekian kalinya merasa ketakutan. Pusat kota yang damai tampak hening, sunyi dan kosong. Orang-orang banyak yang pindah ke desa lain yang belum terinfeksi Obscure sementara sebagian lagi sudah memenuhi desa-desa yang terinfeksi, mereka yang terinfeksi layaknya manusia dengan hati kosong. Berjalan tanpa arah dengan tatapan mati, mati tubuh dan jiwa.
Hebatnya Valerin Grayii tak dianggap sebagai ancaman untuk mereka yang terinfeksi obscure, berkat Valerin, rombongan berisi Frederitch, William, Alexander dan Leon menjadi lebih mudah melewati jalan yang juga menemui orang-orang terinfeksi.
“Apa kau melakukannya?” Tanya Frederitch yang memacu kuda hitamnya kepada Valerin yang ada disadel belakangnya.
“Kurasa...” Singkat Valerin Grayii sambil menenggelamkan wajahnya pada punggung tegap Frederitch “Pana... apakah dia baik-baik saja?” Cicit Valerin dengan lirih, si surai perak pendek itu bergumam dengan semu kemerahan pada kedua pipinya.
Cantik, menurut Frederitch, suara sayu Valerin sangat menggemaskan “Dia akan baik-baik saja.” Jawab Frederitch dengan singkat “Gawat, Val terlalu menggemaskan.” Gemuruh dalam batin
“Kalian baik-baik saja?” William beserta kudanya menghampiri kedua sejoli ini. Dibelakang William kuda yang ditumpangi Leon dan Alexander.
Frederitch mengangguk singkat “Valerin, apa kau ingin berhenti untuk istirahat?” Tanya Frederitch menoleh sedikit melihat tubuh kecil itu yang masih memeluknya dari belakang, terasa anggukan kecil dari kepalanya yang masih menempel pada punggung Frederitch. Sontak Frederitch menegok kearah William.
“Baiklah, ada desa kecil didepan kita. Setidaknya bisa beristirahat disana.” Ujar William, dia memacu kudanya lebih dahulu kini memimpin jalan.
Kelima pemuda itu berhenti didepan sebuah penginapan, desa itu memang sangat sepi, begitu sepi sampai tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah. Sejauh yang mereka lihat hanya sebuah bar desa dan penginapan kecil yang tampak buka. Kemudian mereka memutuskan untuk bermalam dipenginapan itu.
“Apa masih ada kamar yang kosong?” Tanya William sambil membuka tudung hitamnya.
Diikuti oleh Frederitch dan Valerin, kemudian Leon dan Alexander. Mereka memasuki penginapan itu, disana seorang wanita tua sedang duduk di bangku kayunya “Selamat datang, kalian pelanggan pertama bulan ini.” Ujar sang pemilik penginapan.
“Benar, kami dalam perjalanan jauh.” Ucap Frederitch lagi.
Wanita tua pemilik penginapan itu sempat menatap Valerin Grayii “Ah, ada gadis kecil bersama pria-pria ini ternyata.” Ujar sang wanita tua tersenyum ramah sambil memberikan kunci kamar kepadanya “Satu kamar tidur dengan kamar mandi didalamnya, bergegaslah istirahat setelah membersihkan dirimu, nak...” Kata sang nenek dengan mengulum senyuman.
Valerin Grayii menatap wanita tua itu, benar dia lelah dan merasa tak nyaman pada tubuhnya. Valerin meremat mantel Frederitch yang dibalut dalam tubuhnya, masih dengan gaun tidur kemarin “A-apakah ada pakaian lebih untuk kupinjam?” Valerin tersenyum sekenanya “Karena sudah malam, sulit menemukan toko pakaian yang masih buka.” Ucap Valerin lagi.
“Tentu saja, pakaian anakku pasti cukup denganmu.”
“Kalau begitu terimakasih.”
“Tidak perlu sungkan nona.”
Valerin Grayii menaiki tangga menuju lantai dua lebih dahulu, dia membuka kamar nomor dua. Gagang besi berkarat pada pintu kayu akasia, didalam ruangan itu sebuah kamar dengan dinding kayu, sebuah ranjang kasur dengan satu buah kamar mandi “Lebih baik daripada kamar kos lamaku.” Ujar Valerin seorang diri.
“Apakah kamarnya baik-baik saja untukmu?” Wanita tua dengan lentera ditangannya berucap, dia pun memberikan sebuah pakaian gaun sederhana kepada Valerin Grayii.
“Kamar ini sangat nyaman, terimakasih.” Ucap Valerin Grayii.
“Kau mengingatkanku dengan puteri kecilku, jika ia masih hidup, usianya pasti sepertimu.” Ucap sang wanita tua itu.
Valerin Grayii merasa empati terhadapnya, dia pun mengangguk “Kenapa dengan puterimu?” Tanya Valerin hati-hati.
“Obscure, dia terkena obscure dan terpaksa dibunuh oleh mendiam suamiku agar warga desa tidak terjangkit.”
“Obscure ya?”
“Selain itu, apakah nona kecil ini baik-baik saja bersama para pemuda itu?” Tanya sang wanita tua menelisik dengan serius.
Valerin Grayii tertawa kecil, karena pakaiannya yang kotor dan beberapa terdapat sobekan. Terlebih berpergian dengan para pemuda yang bersamanya, Valerin langsung menggeleng “Mereka keluargaku, pria dengan surai cokelat terang yang paling tinggi namanya William, dia kakak lelaki tertuaku, kemudian pria yang tampak malu-malu namanya Alex dan sahabatnya Leon yang selalu menemaninya, kemudian pria bersurai pirang.” Valerin Grayii tak langsung melanjutkan ucapannya, dia tersenyum lebar terlebih dahulu “Dia kekasihku... Pria yang kucintai.” Lanjut Valerin.
Brak. Suara sebuah gelas yang jatuh, itu Frederitch Drew Raymond yang berdiri dipuncak tangga dengan wajah memerahnya “Va-Val...” Bibirnya bergetar akibat menahan malu.
“Lihat, dia menggemaskan bukan nyonya? Biarpun tampangnya seperti pemain wanita, dia itu sangat mudah malu jika digoda.” Ujar Valerin Grayii.
“Oh, begitu.” Sang wanita tua tersipu “Pantas saja kalian tampak selalu bersama. Kalau begitu silahkan istirahat.” Ujar sang wanita pemilik penginapan sambil berjalan meninggalkan Valerin dan Frederitch.
Frederitch segera mengambil gelas kayu yang jatuh ke lantai itu “A-aku akan mengambilkan yang baru untukmu.” Ujarnya.
“Frederitch...” Panggil Valerin “Tidak perlu.” Lanjutnya sambil mengulum senyuman manis.
“Kemarilah...”
“Kenyataannya, apakah aku salah?”
“T-tidak...”
Valerin langsung memeluk tubuh Frederitch, mendekatnya erat dengan meletakkan kepalanya didada bidang Frederitch “Apakah, jantungmu sudah kembali?” Tanya Valerin.
“Hm, sudah.” Frederitch mengangguk, kemudian mulai membalas pelukan Valerin Grayii “Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Frederitch.
Valerin mengangguk singkat “Lama-lama aku merasa lelah dengan semua ini, kapan Obscure berakhir? Kapan Alphonse membimbing Dust Bones dengan baik? Kapan Crave Rose akan berdamai dengan Dust Bones? Kapan manusia saling bertukar kasih? kapan vampire dan manusia boleh bersama?” Valerin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Frederitch.
“Sebentar lagi, pasti sebentar lagi.” Ucap Frederitch sambil mengusap surai pendek pirang Valerin “Rambutmu yang sependek ini, mengingatkan awal pertama bertemu denganmu.” Kata Frederitch sambil tersenyum “Kau menyebalkan saat itu.”
Valerin menanggahkan wajah manisnya untuk menatap Frederitch “Sungguh?”
Frederitch mengangguk jahil “Sangat sungguh, sungguh menyebalkan.”
“Eh?! Dasar kau saja yang lebih menyebalkan.”
“Haha... Benar, kita berdua menyebalkan.”
Keduanya sahut-sahutan tertawa, seolah berbahagia dengan hal yang manis. Valerin tersenyum amat lebar sementara Frederitch dengan kedua mata biru tuanya menatap Valerin.
“Val...” Panggil Valerin sambil menangkup wajah Valerin.
“Kenapa?” Valerin menatap dengan kedua mata berkedip-kedip.
“Kita, akan terus bersama.” Fredericth tersenyum amat lebar sambil memiringkan kepalanya, wajahnya Frederitch yang tampan tersenyum amat manis.
Valerin mengangguk, sambil menggengam kedua tangan Frederitch “Hm, iya.” Katanya dengan manis.
.
.
.
“... Dimana Valerin Grayii.”
“Aku tidak akan memberitahu keberadannya.”
“Apakah derajat seorang iblis sudah turun menjadi menyedihkan? Kau sudah babak belur, tapi masih enggan mengatakan keberadaan tuanmu.”
Panacea tersenyum dengan ringisan kecilnya “Aku sedang menahan diri, Yang Mulia.” Ujar Panacea yang terkurung didalam jeruji besi dengan kedua tangan dirantai.
“Percuma saja, kau dan aku disini sama. Kita sama menjadi korban Grayii.” Ucap Alphonse menatap Panacea dengan datar.
Panacea menggeleng “Kau salah, Valerin dan Valyria sudah memilih.”
“Tapi kau dan aku bukan pilihannya, benar bukan?” Ujar Alphonse.
“Aku tak masalah, Valerin bahagia dengan pilihannya begitu pula dengan Valyria.”
“Jika saja aku bisa berkata seperti itu, iblis.”
Panacea tersenyum dengan pelan “Rasanya iblis pun masih bisa merasakannya, manusia.” Ujar Panacea tersenyum lebar dengan kedua mata tertutupnya “Kau akan mengerti kelak, kau pasti akan mengerti rasanya.”
Alphonse membalikkan tubuhnya dengan tatapan datar “Terserah, aku hanya mau milikku.” Katanya lagi.
“Percepat eksekusi iblis itu pada malam ini.” Ujar Alphonse kepada kedua penjaga didepan penjara itu.
“Baik, Yang Mulia.”