Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 3:Episode 82




Semalaman, mulai dari malam hingga menjelang pagi. Bunyi suara dari dapur sebuah penginapan terdengar sibuk, mulai dari denting panci dan spatula. Kedua tangan ramping berkulit putih mulus itu tampaklah sibuk, sementara sang empunya tangan memasang raut datar dengan kedua mata yang jelas-jelas sembab.


“Hey, tuan, kau dengar! Air pemandian tidak keluar!”


“Tuan, kenapa kuda-kudaku tidak diberi makan?!”


Setidaknya tiga orang berdiri untuk protes didepan dapur yang tertutup rapat itu, walaupun didalamnya terdengar aktivitas memasak yang sibuk.


Sabrina Sirius, baru menuruni tangga. Ia menghampiri para tamu penginapan dengan senyum yang menenangkan “Tuan dan nyonya, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Sabrina.


“Apa kau pemilik penginapan ini, nona? Setahuku pemiliknya seorang pria dan pekerjanya juga pria muda?”


Sabrina memberi anggukan penuh hormat dan sopan “Maafkan, atas ketidaknyamanan ini, tuan pemilik sedang memiliki pekerjaan lain.” Sabrina berucap, ia bukannya tidak tahu mengenai Wood Remington dan Lyn Sander yang ditangkap oleh kerajaan Dust Bones. Sesungguhnya, Sabrina diam-diam sudah mengamati itu dari balik pintu kamar penginapannya. Dia pun mengerti dengan sikap dari Ellis Francieli.


“Tampaknya tuan dan nyonya bisa mengatakan keluhannya kepada saya.” Sabrina Sirius pun tersenyum.


Tepat didepan kota Pusat Dust Bones, tiga penunggang kuda jalan berdekatan. Ketiganya mengenakan jubah berwarna hitam. Mereka berhenti didepan penginapan Wood Remington.


“Kau yakin, pangeran Frederitch?” Suara seorang wanita bertanya kepada penunggang kuda hitam itu.


Anggukan singkat sebagai jawaban, pria itu turun dari kudanya “Setelah mendengar kabar dari Sabrina, aku yakin Valerin pasti tidak baik-baik saja.” Ucap Frederitch yang membuka tudung yang menutupi wajahnya. Surai pirang Frederitch pun terbuka, menampaki rambut yang diikat ekor kudanya.


“Oh, hai, hampir saja.” Sosok Sabrina baru keluar dari kandang kuda tepat disebelahnya “Kebetulan, jika kalian bertanya Earl Grayii, dia ada didalam dapur semalaman.” Ucap Sabrina yang memengang sekop untuk rumput itu.


“Bukannya, kau ditugaskan untuk memata-matai Valerin? Kenapa nona Sirius malah bekerja?” Tanya William Rovana sembari menarik kudanya memasuki kuda.


Sabrina mengulum senyuman “Tampaknya, saat ini Earl Grayii berada disituasi yang berat.” Kata Sabrina.


Frederitch hanya mengangguk, ia segera memasuki penginapan itu “Panacea, kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk melindungi tempat ini bukan?” Frederitch berhenti sejenak untuk berbicara dengan panacea.


“Tidak salah lagi, dia alchemist...” Ucap Panacea mengangguki ucapan Frederitch.


“Serahkan wilayah penangkal ini kepadaku, pangeran.”


.


.


Semalaman, mulai dari malam hingga menjelang pagi. Bunyi suara dari dapur sebuah penginapan terdengar sibuk, mulai dari denting panci dan spatula. Kedua tangan ramping berkulit putih mulus itu tampaklah sibuk, sementara sang empunya tangan memasang raut datar dengan kedua mata yang jelas-jelas sembab.


“Lyn, aku tidak membantumu memasak, ah... tidak apa, kali ini aku memasak makan malam setelah kau dan ayah pulang.” Ellis mengaduk adonan, setidaknya sudah ada lima loyang berisi kue mangkuk yang sudah matang.


“Ayah, iya ayah suka dengan kopi panas.” Kemudian ia beralih pada panci yang mendidih, memasukkan bubuk cocoa kemudian mengaduknya dengan spatula.


“Setidaknya kau harus menggunakan biji kopi, dan juga sendok...” Tegur suara pria diambang pintu.



Ellis tersentak kaget “Kau!” Jerit Ellis yang masih memengang spatula seraya membalikkan badan untuk melihat wajah si tampan Frederitch Drew Raymond aka Friday yang memasang seringai jahilnya itu.


“Hai, apakah kau sedang sibuk memasak?” Tanya Friday sambil tersungging senyum.


Ellis mengenakan kemeja putih polos dengan celemek berwarna senada, celananya masih berwarna hitam. Wajahnya tampak lelah dengan kedua mata sembab yang bisa Frederitch lihat “Dengar... kau butuh istirahat, Ellis.” Ucap Frederitch.


Ada nada sendu dari seorang Frederitch menatap Ellis “Kau ditipu, kau hanya berada pada semu, Valerin.” Gumam Frederitch dalam batinnya.


Frederitch mendekati Ellis kemudian menggengam tangan Ellis.


“Eh?” Ellis terperanjat. Sesuatu sudah menyatukannya pada entitas tertentu, dengan memengang tangan Ellis, ruang dan waktunya saat itu berpindah ke sebuah gazebo yang mengapung disebuah danau dengan teratai-teratai putih tumbuh dengan subur.


“Hai.” Seorang wanita jelas duduk dengan santai di gazebo itu, seraya memandangi lurus melintas dari danau jernih itu.


“Kau? Aku masih bersama Friday beberapa detik yang lalu, kenapa aku berada disini sekarang?” Tanya Ellis.


Wanita itu berbalik menghadapnya, rupa dan parasnya mirip dengan Ellis yang beda hanya warna rambut hitam dan warna iris mata violetnya. Ia bergaun putih manis dengan setiap renda dipinggir gaun putih itu “Aku tahu, karena selama ini aku selalu bersamamu dari dalam gerbang Boerhavia.” Ucap gadis itu mengulum senyuman yang manis.


Ellis menggeleng, merasa semuanya sulit diterima oleh dirinya “...tidak mungkin.” Ellis menggeleng kala itu.


Sementara sang gadis yang belum mengenalkan dirinya, mulai memasang wajah yang murung “Apa kau membenciku Ellis? Aku dirimu juga kok, aku bagian dirimu juga.” Ia beranjak berdiri, kemudian mengulurkan tangannya “Selama ini, aku memberimu kekuatan untuk menghadapi rintangan hidup yang kau jalani, aku menerimamu sebagai apapun yang kau pilih. Mau itu Valyria, Valerin hingga Ellis.” Ujarnya dengan kedua mata yang menatap dengan sendu.


Ellis mengatur nafasnya yang tersenggal. Gadis bersurai hitam panjang dengan kedua iris violet yang sendu perih menatapnya, seolahnya mengenal Ellis dengan baik. Mencoba untuk menerima, Ellis memberanikan diri menatap kedua mata gadis itu. Matanya indah seperti batu permata “Siapa kau?” Ellis dengan kedua mata emasnya menatap dengan berani.


“Sekarang... sudah saatnya bangun, karena aku tak sabar menantikan idealis kakakmu yang sebentar lagi terwujud.”


Yang Ellis ingat sebelum ditelan kegelapan, hanya senyum dari gadis itu yang menghantarkan kedua matanya perlahan-lahan menutup “...Li...ri...el” Gumam Ellis pelan.


.


.


.


Frederitch berdiri diambang pintu, mengamati pergerakan Ellis yang sibuk memasak dengan keadaan dapur yang berantakan. Bahkan, gelagat aneh Ellis menyenduh kopi dengan bubuk cocoa dan spatula, jelas ia tampak tidak fokus.


“Setidaknya kau harus menggunakan biji kopi, dan juga sendok...”


“Kau!”


“Hai, apakah kau sedang sibuk memasak?” Tanya Friday sambil tersungging senyum.


Ia sebenarnya gemas menatap Ellis mengenakan kemeja putih polos dengan celemek berwarna senada, celananya masih berwarna hitam.  Tapi Frederitch menyadari raut lelah dari Ellis serta kedua mata sembab itu “Dengar... kau butuh istirahat, Ellis.” Ucap Frederitch.


Ada nada sendu dari seorang Frederitch menatap Ellis “Kau ditipu, kau hanya berada pada semu, Valerin.” Gumam Frederitch dalam batinnya.


Frederitch mendekati Ellis kemudian menggengam tangan Ellis.


Saat itu, Frederitch merasakan energi aneh dari Ellis ketika kedua tangan mereka bersentuhan. Ellis yang membelalakkan kedua matanya menatap langsung Frederitch “Eh...” Ellis melotot heran, tak lama tubuhnya malah ambruk. Beruntung Frederitch dengan sigap untuk menangkap tubuh Ellis yang mendadak pingsan itu.


Kedua mata Ellis yang tertutup, namun bibir mungilnya bergumam tidak jelas “...Li...ri...el” Seperti itu yang didengar oleh Frederitch.


“Ellis... Val... hey bangun.” Panik Frederitch sembari menggendong tubuh Ellis itu.


“Gawat!” Seru Panacea yang tiba dengan langkah terburu-buru, segera ia dekati tubuh tak sadar Ellis yang berada dalam rengkuhan Frederitch.


Tring... Bunyi anting permata hitam yang jatuh dari daun telinga Ellis, tanpa sebab anting tersebut lepas sendiri dari Ellis menyebabkan surai pirang Ellis perlahan-lahan menghitam dan juga tanda mawar pada pundaknya perlahan-lahan tampak.


“Jangan... kumohon jangan bertindak lebih jauh Liriel!” Panacea berseru sambil membuka kancing kemeja Ellis, ia menatap langsung batu permata berwarna violet yang tumbuh tepat dipangkalan leher Ellis diantara dadanya. Panacea menatap dengan kedua matanya yang sulit diartikan.


Frederitch yang merasakan link pada tubuh Ellis, malah bingung. Ia harus senang atau sedih “Memang, jejak Obscure tampak sudah menyatu dengannya, tapi aku tak yakin ini ancaman untuk Val atau bukan.” Ujar Frederitch yang mengangkat tubuh Ellis.


Panacea menggeleng “Anting itu penangkal dari bangkitnya kekuatan Obscure pada diri tuan muda, yang harus pangeran ketahui adalah... Valyria soga Kinaru memang manusia yang ditakdirkan menjadi wadah Liriel, sekeras apapun menahannya. Itu percuma, kurasa Earl Valerin yang asli sendiri menginginkan kebangkitan ini.” Sendu ucap Panacea yang tampak pasrah dengan keadaan.


Frederitch melirik Ellis yang berada dalam dekapannya itu, ia tak perduli dan membawa tubuh Ellis “Aku akan membawanya ke ranjang, dia harus istirahat. Persetanan soal Liriel, Obscure atau apapun. Selama link itu kembali, tubuh dan jiwa gadis ini adalah sebagian dariku.” Ucap Frederitch dengan menatap tajam.


Panacea mengerti, mulai mengangguk dengan pelan “Baik pangeran, kabari jika perlu sesuatu untuk tuan muda.”


“Hm...” Frederitch hanya bergumam singkat.


Bagi Frederitch, ini sulit. Ia hanya mencintai Valyria, biar berubah menjadi pribadi dan sosok apapun itu. Valerin dan Ellis. Tapi Frederitch mengenalinya.


Tubuh Ellis diletakkan dengan pelan diatas ranjang kasur, kemudian diselimuti. Frederitch meraih tangan kiri Ellis dan mengecup puncak tangannya “Val... Ellis... apapun itu, aku tetap mencintaimu. Itu hal yang tak berubah.” Senyum tipis Frederitch terkulum.


Belum beberapa menit, kedua kelopak mata Ellis terbuka menampaki sepasang violet bening yang amat dirindukan oleh Frederitch.


“Frederitch? Kenapa kau bisa disini?” Tanya Ellis.


“Bagaimana perasaanmu?” Sebaliknya, Frederitch duduk ditepian ranjang. Menatap lamat sang Ellis yang sudah memiliki appearance seorang Valerin itu.


Ellis menggeleng “Pusing seperti terbentur, tapi aku samar-samar ingat, kurasa sekarang aku berbenturan dengan ingatan dan pribadi palsu buatan Lyn Sander, Tch...” Decih Ellis yang memengangi kepalanya.


“Jangan dipaksakan.” Ucap Frederitch.


“Ellis dan Valyria, kurasa Ellis adalah kepribadia mudaku saat seluruh keluargaku masih hidup. Aku yang sekarang sulit rasanya harus riang dan ceria seperti itu.”


Mendengar ucapan Ellis yang tak tertahan itu, Frederitch langsung mengecup Ellis, kemudian dibalas oleh Ellis sendiri “Selamat datang, Val...” Ucap Frederitch yang memengangi wajah Ellis.


“Ellis saja, kurasa aku senang memiliki hati sebesar Ellis.” Kedua mata violet Ellis berkaca-kaca haru. Ia kembali memeluk Frederitch dengan erat “Aku takut, aku rindu kepadamu sampai aku begitu takut...” Gumam Ellis.


“Sudah, sekarang kau sudah baik-baik saja.” Balas Frederitch yang juga mendekap Ellis.