Avicenna Est Panacea

Avicenna Est Panacea
Season 2 : Episode 58




“Uhuk..” Tubuh Valerin Grayii terpental ke dinding, tubuhnya diselimuti rasa sakit, namun lebam-lebam itu mendadak pulih dengan sendirinya.


Panacea berseru “Valyria!” Serunya berlari kearah Valerin, membawa tubuh tak berdaya itu dalam dekapannya “Bertahan...” Pinta Panacea.


Valerin hanya tertawa kecil “Aku baik-baik saja...” Ucap Valerin lagi.


Saat itu sebuah pedang melesat cepat, menghunus tubuh Lemaire dengan cepat. Disana Alphonse berdiri dengan raut amarahnya “Tidak ada yang boleh melukai persembahan indahku...” Ujar Alphonse, lebih menyeramkan lagi ketika melihatnya melempar tubuh babak belur Louisa ke hadapan Valerin.


“Kau tidak apa-apa bukan? Valerinku?” Alphonse senyum dengan kilatan amarahnya.


Panacea membelalakkan kedua mata kenarinya “Tidak, kau tak bisa melakukan itu! Mereka sudah bebas, tidak ada persembahan itu lagi!” Teriak Panacea histeris sambil mendekap Valerin “Tidak, tidak boleh... Tidak boleh lagi.” Ucap Panacea juga.


Valerin menatap bingung “Kenapa Pana? Aku tak mengerti...”


“Dengar...” Panacea menangkup wajah Valerin “Cepat pergi dari sini dan cari Pangeran Frederitch...” Ujar Panacea dengan senyum pada kedua mata berkaca-kacanya.


“Pana...”


Alphonse mengeryitkan dahinya “Kau yakin iblis? Aku keturunan ksatria suci, moyangku sudah diberi berkah untuk menghabisi iblis-iblis sepertimu.” Ujar Alphonse menarik pedang dari tubuh Lemaire.


“Bergegaslah, Valyria!” Sergah Panacea lagi.


“Aku tak mengerti, kenapa? Hentikan Pana, kita akan bersama bukan?!”


“Tidak bisa tuanku, Tidak ada lagi yang harus berkorban untuk persembahan gerbang kegelapan, tidak ada lagi Gandaria yang harus dikorbankan!” Panacea mengepalkan kedua tangannya “Karena aku, Avaritia, iblis ketamakan sudah menyegel wujud asliku didalam sana.” Panacea mendekati Valerin, mendekatkan dahinya pada dahi Valerin “Aku begitu rakus, sampai ingin kehidupan ini. Aku ingin menjadi saudarimu, Valyria... Sampai jumpa lagi.” Ujar Panacea sambil mendorong Valerin kedalam sebua lorong perpindahan dari rapalan manteranya.


“Tidak... Pana!” Detik selanjutnya Valerin jatuh dari lubang portal itu, berpindah ke sisi lain dari istana.


Brukh. Tubuhnya langsung berada dalam gendongan Frederitch yang reflek merentangkan kedua tangan kekarnya “Valerin!” Seru Frederitch dengan membulatkan kedua mata crimsonnya.


“Pana! Panacea menghadapi Alphonse sendirian... Al, al seorang kastria suci? Apa maksud semua ini?!” Dalam gendongan Frederitch, Valerin berseru dengan panik. Kedua iris violet itu berkaca-kaca “A..aku yang membuatnya menghadapi Alphonse...” Ujar Valerin lagi sambil meremat surai pendeknya dengan frustasi.


“Sttss...” Bujuk Frederitch.


“Kau aman, tenanglah...” Frederitch menduduk dengan tatapan teduhnya, dia tahu maksud dari ucapan Valerin Grayii “Benar, kau terlalu berharga untuk masa depan.” Katanya lagi sambil menggendong tubuh Valerin.


“Hiks... Pana, apa maksudnya?” Isak Valerin.


“Panjang... sangat panjang Val, pada dasarnya semua orang ingin ras gandaria memang ditakdirkan untuk persembahan gerbang kegelapan. Iblis yang menjanjikan kekuasaan semu dan malaikat yang menjanjikan berkah abadi, Val... Rasmu sudah lama turun temurun melakukannya.” Frederitch tak sanggup menatap paras Valerin, namun yang pasti getaran samar pada tubuhya terasa. Tampaknya, isak tangisan gadis itu semakin jadi, semakin dalam dan hening “Yang terpenting, Valerin harus menjauh dari sini, menjauh dari Crave Rose ataupun Dust Bones...” Batin Frederitch.


“Sekarang tidak lagi, tidak akan ada pengorbanan untuk gerbang dan batu itu.” Ucap Frederitch. Setibanya mereka di depan gerbang utama istana Dust Bones, sudah dihadang puluhan prajurit.


Frederitch mengendong erat tubuh Valerin, ia melompat dengan tinggi, terpaksa menjauh dari pada menghadapi para prajurit itu karena tengah membawa Valerin Grayii yang masih tampak terpukul.


.


.


.


Sementara itu...


William Rovana meregangkan tubuhnya, dia melawan penjaga didepan ruangan penasehat kerajaan. Melumpuhkan penjagaan dengan cepat adalah kemampuannya.


“Yang Mulia Alexander, anda bisa masuk sekarang...” Ucap William Rovana.


Alexander Caleum mengangguk kecil, ia menerobos masuk ruangan itu bersama Leon Sirius sang pelayan “Paman! Paman Rugh, kumohon hentikan kegilaan kakak ya? Dia sudah keterlaluan, mencampur adukkan manusia, vampir dan obscure...” Pinta Alexander terhadap pria tua yang tengah menulis gulungan dokumen dimejanya.


“Malam yang riuh, apakah kau tahu kenapa Gandaria harus berkorban demi Dust Bones?” Ujar penasehat itu.


“Manusia... Ras Gandaria berkorban demi manusia.” Sergah William Rovana dengan rahang mengerasnya “Rovana dan Grayii sudah bersahabat sejak moyang-moyang kami, dan aku tahu, sangat tahu pasti demi apa Gandaria berkorban dan demi apa kerajaan busuk ini bergerak?” Ujar William Rovana menarik kerah baju pria tua itu “Keluargaku harus mati demi ambisi busuk kalian dan Keluarga Grayii harus terus berkorban demi kekeliruan kemuliaan kalian, rakus...” William Rovana meledak-ledak dengan emosinya saat itu. Dia pun melepaskan kerah baju sang penasehat kerajaan.


“Kau duduk dengan aman disini, kami Rovana dan Grayii tameng hidup kalian.” Tunjuk William Rovana.


“Viscount Rovana, aku tahu... sangat tahu maksud perkataanmu.” Tanpa diduga sang penasehat berucap dengan lirih “Penasehat ini tidak bisa berbuat apapun, hati Yang Mulia sudah buta dengan dendamnya, ketahuilah Viscount Rovana, Vampir juga pernah menjadi manusia. Crave Rose dan Dust Bones berjalan bersama sejak dulu, peranglah yang memisahkan keduanya. Yang Mulia Dimitritch dan Yang Mulia Alexandria, mereka masih saudara beda ibu...” Ujar sang Penasehat merangkul Alexander dan merengkuhnya “Oh, Pangeran kecil, andai kau tahu masalah ini sangat rumit untuk hatimu yang lembut seperti Yang Mulia Ratu Alexandria...” Ujar penasehat tua itu lagi.


Leon Sirius tampak mendeham “Lantas, kita tak bisa melakukan apapun?”


“Para dewan hanya tunduk dengan Alponse, selain perang lusa nanti sebagai jawaban atas pertanyaanmu pelayan muda, selagi hal itu terjadi bawa Alexander jauh-jauh, jaga dia sebaik mungkin. Kalian harus kabur dan sembunyi, jika Crave Rose menang cepat atau lamban pangeran bungsu mereka akan merebut tahta, jika Dust Bones menang maka Pangeran Alexander harus tetap sembunyi hingga Alphonse jatuh ditangan Crave Rose. Sesuai ramalan, seorang Alchemist...” Jelas panjang lebar penasehat tersebut “Bawalah plakat ini, pergilah jauh keluar dari Crave Rose ke desa para Alchemist. Temui teman lamaku dengan plakat ini, Tobias Cross.” Ujar sang penasehat memberikan pelakat kayu dengan ukiran bunga melati kepada Alexander kepadanya.


William Rovana mengambil kunci itu “Kenapa?” Tanyanya.


“Bergegaslah, waktu kalian tidak lama sebelum kembali tertangkap oleh Yang Mulia Alphonse.” Ujar sang penasehat, membuka pintu rahasia dari balik rak bukunya “Lewat jalan ini, kalian akan langsung tiba di luar pusat kota.” Sang Penasehat membukakan pintu itu, sebelum terdengar gedoran dari luar ruangannya.


“Penasehat Rugh! Buka pintunya! Kami tahu kau didalam!” Seru para prajurit


Ketiga pemuda itu saling menatap satu sama lain, hingga William yang lebih dahulu bergerak “Penasehat Rugh, ikut kami...” Pintanya.


Penasehat itu tersenyum “Kalian masa depan umat manusia, penasehat tua ini sudah selesai dengan tugas ini. Melihat kalian seperti melihat sosok mudaku, Yang Mulia Ozias Caleum, Earl Elios Grayii, Viscount Sebastian Rovana dan Yang Mulia Dimitrich Raymond. Ya, Tuhan... Penasehat tua ini masih mengingat mereka.” Kata sang penasehat kerajaan dengan mata berkaca-kaca “Bergegaslah Pangeran Alex...” Lanjutnya lagi.


Alexander pun mengangguk “Baik paman Rugh, terimakasih... sampai jumpa lagi.”


“Pelayan muda, jaga baik-baik tuanmu...” Pesan penasehat kepada Leon Sirius.


Pemuda itu mengangguk sambil memengang pelita ditangannya. Disusul Alexander masuk kedalam lorong itu bersama Viscount Rovana. Lorong gelap dan lembab, baru seperempat jalan mereka mendengar suara tembakan dari ruangan penasehat.


Leon Sirius menatap Alexander yang tampak menyesal, tubuhnya ikut bergetar akibat menahan isak “Bertahan Yang Mulia, lakukan dengan baik agar semuanya tidak sia-sia.” Ucap Leon Sirius memengang pundak sang pangeran.


“Benar, jangan buat kematiannya sia-sia.” Lanjut William Rovana.


Alexander meremat plakat yang diberikan oleh sang penasehat, mengenggamnya dengan erat “Maafkan aku paman Rugh, maafkan Alex...” Cicit Alexander dengan pelan. Biar bagaimana pun, penasehat tua itu sudah seperti pamannya sejak kecil. Dia mengenalnya dengan baik.


Tepat diakhir lorong tersebut, Alexander beserta William dan Leon melihat hutan belantara yang jauh dari pusat kota. Disana juga ia melihat Frederitch yang duduk dengan Valerin yang berbaring diatas pangkuan pangeran ketiga dari Crave Rose itu, sesekali Frederitch membelai halus puncak kepala Valerin.


“Kalian lumayan lama.” Ucap Frederitch tanpa menoleh.


“Dimana nona Eerie?” Tanya William Rovana, sadar jika Valerin tanpa keberadaan pelayan wanitanya.


Frederitch menggeleng singkat “Dia hanya mengirimkan portal dengan Valerin yang tiba, dari tingkah Valerin yang syok dan terpukul sepertinya pelayannya itu kembali tertangkap oleh Alphonse.” Ucap Frederitch “Dia sampai tertidur karena kelelahan menangis...” Lanjutnya lagi.


Alexander menunduk “Itu salahku, jika aku bisa menyadarkan kakakku pasti Earl Grayii tidak akan sedih seperti itu.” Ujar Alexander.


“Oh, hentikan Alex!” Sergah William Rovana sedikit membentak “Kita hanya perlu menyembunyikan Alexander sebagai raja selanjutnya dari Alphonse dan menyembunyikan Valerin dari kedua kerajaan gila ini.” Ujar William Rovana sedikit frustasi “Hey, bung jangan salah paham soal kata gila.” Lanjutnya lagi.


“Ya, tak masalah, lagipula itu memang benar.” Frederitch mengoyang-goyangkan kakinya “Apa yang kalian temukan didalam?” Tanyanya.


Alexander memperlihatkan plakat dari sang penasehat kerajaan “Paman Rugh bilang memintaku pergi ke desa para Alchemist untuk bertemu Tobias Cross.”


“Pffft...” Frederitch menahan tawanya “Hahaha...” Sekarang tawanya meledak.


“Kau tertawa dengan gila” Celetuk William Rovana.


Frederitch mengangguk “Tobias Cross kau bilang? Dia hanya pria pemabuk yang hobi menggoda wanita, Haha...” Akibat tawa menggelegar Frederitch, Valerin jadi terbangun.


“Engh...” Valerin mengucek matanya. Surai peraknya menjadi pendek kembali, bedanya hanya mengenakan gaun tidur dengan balutan mantel hitam milik Frederitch “Will... Alex... Leon...” Panggil Valerin satu per satu.


“Kau baik, Val?” Tanya William Rovana tersenyum lega.


Valerin mengangguk “Hanya Pana yang masih disana, karena dia ingin aku segera keluar dari Dust Bones, ini salahku...” Ucap Valerin dengan lirih.


Alexander tahu perasaan Valerin, yang sama dialaminya “Earl Grayii, aku paham perasaanmu, kita terlalu sering melibatkan banyak orang tapi jangan lagi okay?” Ujar Alexander mendekati Valerin “Kali ini, kita akan menyelesaikan semua tujuan dengan selamat.”


“Benar, kali ini semuanya harus selamat.” Ujar Valerin sambil tersenyum dengan sendu kepada Alexander “Aku memiliki masa depan Dust Bones dan Crave Rose dipihakku, apakah kalian mau kembali berjalan bersamaku?” Seraya meremat ujung mantel hitam itu, Valerin berucap dengan lirih.


Diangguki oleh keempat pria itu. Valerin pun menggulum senyuman singkat.


“Aku sempat mendengar soal Tobias Cross, jika aku tidak salah, Tobias Cross adalah pamanmu bukan?” Tanya Valerin kepada Frederitch.


“Benar, Jenderal Cross dari Crave Rose, dia yang terbaik dari terbaik di Crave Rose. Tapi sejak ayahku meninggal, dia mengasingkan diri di desa alchemist tepat dikediaman mendiam kakek dan nenekku. Hobinya sekarang hanya mabuk dan wanita, aku tak yakin kenapa penasehat kerajaan ingin perlindungan dari pamanku yang payah itu?”


“Tidak yakin, tapi dia ingin Alex kesana untuk perlindungan sampai Dust Bones dan Crave Rose berakhir dengan perang lusa, oh benar juga... Penasehat tua itu memberikan sebuah kunci untukmu Val.”


William Rovana merogoh saku jubah dalamnya, ia memberikan sebuah kunci dengan permata keunguan itu “Kalau tidak salah katanya, berikan kunci ini kepada Earl Grayii, ia pasti tahu dengan benda peninggalan kedua orang tuanya ini semacamnya.” Ujar William Rovana.


Valerin Grayii mengambil kunci itu dan merematnya, ingatan memang samar namun dulu sekali dia pernah melihat kunci ini sekali. Saat usianya masih kecil “Terimakasih, Will.” Ujar Valerin tanpa mengatakan apapun lagi.